Sepulang kuliah, aku mengajak Andi keliling-keliling kota Yogya. Jalanan ramai dengan kendaraan orang-orang pulang kantor. Apalagi kalau lewat lapangan Kridosono, macetnya minta ampun.
Kami singgah di Soping. Soping ini tempat orang Yogya atau mahasiswa Yogya beli buku yang harganya terjangkau. Memang kualitas bukunya tidak seperti buku di toko-toko besar, kebanyakan juga buku bajakan. Tapi yang membuatnya ramai didatangi mahasiswa adalah harganya yang murah. Toko-toko buku besar juga bagus-bagus bukunya, tapi mereka tidak bisa menyediakan harga sesuai harga mahasiswa.
Setelah memilih beberapa buku, aku tidak sengaja buka-buka i********: teman ku. Dia buat postingan gelang dan kalung jualannya. Kalau aku DM pasti ketahuan Luna, jadi akhirnya aku chat melalui Line.
“Risia tanya dong, ini kalung sama gelang kamu buat sendiri?”
“Iya, Ram. Mau order kah?”
“Berapaan tuh?”
“Kalau gelang 200, kalau kalung 350. Kamu mau order? buat Luna oke kok, ntar ku pilihin warna gelap aja, kan kulitnya putih tuh.”
Baru tanya-tanya malah jawabannya panjang.
“Oke deh, aku beli 1 gelang sama 1 kalung yah. Warna nya kamu yang sesuain aja. Berapa hari tu, Ris?”
“Bisa semingguan udah sampe tempat. Minta alamat Luna, Ram.”
“Oke, ntar ku kirim.”
Setelah hadiah ulang tahun Luna yang ku buat di Punthuk Setumbu, aku belum sempat memberi Luna kado lagi. Kebetulan ada teman yang jualan, sekalian bantu teman jualan. Tapi Clarisia kan di Surabaya dan teman-temannya rata-rata orang yang menganut paham Hedonisme semua, ku pikir pasti laku aja sih.
Sampai di kost, aku bersih-bersih, shalat dan istirahat. Baru beberapa menit rebahan ada pesan chat masuk dari Luna.
“Sayang, lagi apa? Aku kangen.”
Kalau Luna sudah bilang kayak gitu, artinya minta di telepon.
“Hallo? Lun?”
“Iya, kak. Kenapa?”
“Loh malah kenapa, tadi katanya kangen.”
Terdengar suara tawa kecil Luna dari balik teleponnya.
“Gak papa, pingin ngobrol aja. Udah lama kita gak ngobrol berdua gitu ya.”
“Ya, gimana lagi, kakak kan masih belum libur, tapi ini udah Desember, akhir taun ada libur kayaknya.”
“Beneran? Kalau libur, pulang yah, adek kangen banget kak. Oh iya, adek tadi dari rumah kakak, ada acara, ngantar mamah sih.”
“Ohiya? Ketemu mamah ku dong?”
“Iya, tapi bentar aja, adek kan cuma ngantar sama jemput aja.”
Lama kami mengobrol via telepon. Rasa rindu itu memang selalu muncul tidak tahu waktu. Rasanya ingin pulang saat itu juga. Tapi, aku janji harus pulang setiap semesternya dan tidak remidi, hanya supaya bisa cepat pulang.
Mungkin siapapun yang mengalami hubungi jarak jauh juga pernah merasakan ketika ketemu dengan perempuan yang menurut kalian perempuan itu adalah sosok yang tepat dengan berbagai macam alasannya, kemudian menjalin hubungan jarak jauh, dan ketika rasa rindu itu hadir, sesaknya amat sangat terasa. Tapi dengan sedikit obrolan canda dan tawa dari kekasih yang kita sayangi di jauh sana sudah cukup mengobati sesaknya hati, yang pastinya kita tahu akan muncul tiba-tiba lagi nantinya.
Selesai mengobrol dengan Luna via telepon, baru saja aku baca beberapa lembar buku yang ku beli di Soping, terdengar suara ketukan di pintu kamar sambil memanggil nama ku. Suaranya tidak asing.
“Kenapa, Dan?” itu Dandi, teman kampusku, asal Palembang, kami dekat semenjak ospek karena satu kelompok.
“Ikut aku yok?”
“Kemana?”
“Legend, ketemu Cindi, teman mu itu.”
“Legend? Sekarang banget nih? Cindi nya udah di sana?”
“Belum, nanti aku jemput dulu.”
“Lah, terus? Aku sendiri gitu maksudnya?”
“Enggak, tu di depan dah ada Andi, tadi kami sama-sama kuliah sore. Baru kelar. Nih, aku titip tas sekalian lah ya.”
“Hmm,.. okelah, aku siap-siap dulu sekalian belum magriban. Kamu duluan aja tu jemput Cindi. Rumahnya kan jauh di belakang UMY sana. Ntar gampang aku sama Andi.”
Dandi kemudian pergi dan Andi datang duduk di teras kamar ku. Kamar kost ku itu bangunan sendiri, jadi ada teras, kursi, jemuran sendiri, walaupun nggak pernah jemur pakaian sih, kan ada laundry.
“Kamu gak ada kelas sore Ram?” tanya Andi dari teras depan.
“Gak ada, aku sampai siang aja. Cuma praktikum, untung gak inhal.”
“Eh, Cindi ini teman mu di Kalimantan ya?”
“Iya, teman SD sih, cuman kan rumahnya kita seberangan jadi teman seumur hidup kali jadinya ya.”
“Loh? Luna dikemanain? Hahahaha.”
“Bukan itu maksudnya. Teman ya tetanggaan seumur hidup, gitu kan.”
Selesai berpakaian kami langsung berangkat menuju Legend Caffe. Legend Caffe ini salah satu caffe di Yogya yang setiap malam pasti ramai pengunjungnya. Memang sih kalau untuk story i********:, desainnya instagramable banget.
Yogya memang banyak warung kopi atau cafe. Dari mulai harga tinggi sampai yang sangat-sangat sederhana. Lesehan pun tidak semuanya berharga sederhana. Contohnya di Kopi Joss, bergaya angkringan dan lesehan, tapi harganya sama kayak beli kopi di cafe-café, mahal.
Sampai di Legend Caffe, ternyata bersamaan juga Dandi dan Cindi sampai di parkiran. Cindi malu-malu ketika melihat aku juga ikut nongkrong.
Dandi ini baru PDKT dengan Cindi. Baru malam ini juga ketemu dengan Cindi. Kenalan lewat chat Line. Awalnya, Cindi terdaftar jadi mahasiswa kesehatan masyarakat di kampus ku. Tapi tidak tahu kenapa, ternyata dia kuliah di kampus yang lain ambil jurusan pertanian.
Dulu awal ospek semua mahasiswa baru dikumpulkan dalam satu grup Line. Nah, disitulah Dandi mulai “berselancar” mencari mangsa nya. Orangnya keren sih, tapi untuk perempuan seperti Cindi sepertinya meragukan.
Kami asik ngobrol di satu meja. Cerita tentang kuliah masing-masing dan pengalaman-pengalaman lainnya. Dandi mulai mencoba akrab, tapi masih terlihat kaku. Lebih sering aku dan Cindi yang cerita. Dandi dan Andi malah Cuma jadi pendengar yang baik.
Hampir jam 10 malam, aku memberi isyarat ke Dandi untuk mengantar Cindi pulang. Aku tahu Cindi anaknya juga biasanya keluar sampai tengah malam. Tapi untuk pertemuan pertama buat ku sebagai seorang laki-laki harus menunjukkan bahwa kalau memang sungguh-sungguh dengan perempuan berperilaku lah yang baik contoh sederhananya mengantar pulang sebelum jam 10 malam.
Aku dengan Andi masih bertahan, menikmati suasana malam Yogya. Jarang-jarang di awal kuliah nongkrong dengan teman. Karena masih belum terlalu akrab dan masih asik dengan urusan masing-masing. Kayak Andi, kalau diajak nongkrong rumahnya jauh di Tamantirto, Dandi juga rumah tantenya di Godean. Ujungnya ya aku main di kontrakan teman-teman daerah.
Baru beberapa menit Dandi dan Cindi pergi pulang, aku dapat pesan chat Line dari Cindi. Perasaan ku mulai tidak enak. Mungkin Cindi ingin komplain kencan pertamanya dengan Dandi?
“Rama.”
“Ya Cin, kenapa?”
“Malu aku. Ku kira gak ada ikam tadi.”
“Yah, kenapa? Haha, santai aja. Gimana Dandi?”
“Kalau tau tadi ada kamu mending ku ajak kamu jalan aja Ram.”
“Jangan gitu Cin. Gak enak sama Dandi ntar.”
“Biarin aja, kan gak papa habis ini gak ketemu lagi. Orangnya kaku banget.”
“Udah gila kali ya. Wajar baru pertama.”
“Oh iya, Ram, besok mamah ku datang, kamu ke rumah yah. Harus pokoknya!”
Aku menunjukkan chat itu ke Andi. Andi langsung tarik nafas.
“Hahaha, Dan, Dan, kasihan kamu Dandi.”
Kemudian tiba-tiba aja masuk chat dari Luna.
“Kok masih online? Belum tidur?”
Andi makin ketawa lepas melihat pop-up chat dari Luna.
“Nah, kan, perang dingin siap-siap dimulai tuh. Hahahahaha.”
Aku dengan cepat membalas chat Luna. “Iya, belum tidur nih, diajak ke cafe tadi sama teman-teman. Adek tidur yah, ni aku juga pulang bentar lagi, ntar langsung tidur aja.”
“Iya, hati-hati ya kak, ada hati yang harus dijaga disini. Love you sayang.”
“Iya, kakak sayang adek.”
Aku tidak tahu apa yang dirasakan Luna pada saat mengirimi ku chat, tapi mungkin setiap perempuan memiliki semacam perasaan jika pasangannya atau hubungannya sedang dalam keadaan tidak baik-baik aja. Bisa seketika itu, seolah-olah Luna tahu apa yang terjadi di chat handphone ku.