Episode 3 Kontrakan Horor

1016 Kata
Memasuki bulan ketiga aku kuliah di Yogya dan Luna yang masih SMA sibuk dengan urusan sekolahnya. Rasanya  semakin berat menahan rindu. Tapi aku sangat yakin dengan hubungan kami ini. Aku yakin juga Luna bisa menjaga hati disana. Aku yakin dengan Luna karena menurutku suatu hubungan bisa aman berjalan jika orang tua saling kenal. Ibu ku dan ibu Luna merupakan teman semenjak mereka SMA. Sejauh ini juga hubungan kami melalui handphone baik-baik aja. Hari sudah sore, aku duduk di kursi depan ruang dosen menunggu Hendi keluar kelas terakhir sambil main game di handphone. Tiba-tiba, “Oy, Ram!” teriak seseorang memanggil dari jauh. Itu Agus, teman satu fakultas ku. “Kenapa?” tanyaku. “Eh, kamu nge-kost depan kampus ni ya?” tanyanya dengan gaya bicara melayu. Agus ini asli Kepulauan Riau. “Iya, kenapa?” “Kami kan nyari kontrakan nih, dah dapat di belakang kampus. Kurang 1 orang, kamu mau ikut gak?” “Lah, kost ku gimana? Dah bayar 1 tahun, emang siapa aja?” “Aku, Gilang teman ku dari kepri, boy (Madia), Rahmat, sama Abiq temannya Rahmat anak Fakultas Teknik.” “Berapaan?” “Setaunnya tu 20 juta, jadi kita bagi lah tu berapa orang. Kamarnya ada 5, sama 1 kamar kecil buat shalat lah, 2 kamar mandi, 2 lantai.” “Mau sih, tapi kost ku gimana ya? Coba ntar ku tanya orang tua ku dulu aja. 3 hari lah ya, tunggu kabarku. Aku mau ngontrak aja enak rame kayaknya.” Di kontrakan, selesai mandi dan shalat, aku rebahan di kamar Sandro. Baru tiga bulan kuliah, hampir semua mahasiswa Fakultas Ekonomi kenal dengan Sandro. Dia juga sering mengajak teman-teman perempuannya ke kontrakan. Apalagi mahasiswi ekonomi cantik-cantik tampilannya. Gokil memang. “San, anak FEB cantik-cantik ya.” ujar ku sambil buka-buka i********: di handphone Sandro. “Iyalah, mau satu?” godanya sambil mengoleskan cream pelembut di wajahnya. “Gak lah, San, kasian Luna ntar.” “Kasihan sih kasihan, sampe gak berani stalking ig cewek di handphone sendiri ketakutan yang berlebih sih itu. Makannya ganti tu password.” “Yah, repot ntar urusannya, San. hahahaha.” “Calon suami-suami takut istri ni dua saudara!” terdengar teriakan Nando dari kamar sebelah yang mendengar obrolan aku dan Sandro. Aku dan Lana bersaudara. Lana juga punya pacar, dan karena instagramnya pernah login di handphone pacarnya, jadi susah juga kalau ingin stalking i********: perempuan lain. Pacar Lana namanya Yoka, mahasiswa pendidikan matematika di universitas yang sama dengan kami. Saat tengah malam, aku pindah tidur di kamar Hendi. Terdengar suara seperti ada yang melempar kerikil ke motor di tengah rumah. Jadi, kami semua kalau sudah ingin tidur semua motor dimasukan ke tengah rumah kontrakan. Khawatir diambil atau diganggu orang kalau taruh di halaman rumah. Aku dan Hendi bangun. Ternyata dia juga mendengar suara lemparan itu. Kami berdua berjalan pelan ke tengah rumah. Tapi saat sampai di tengah rumah, tidak ada orang. Masing-masing kamar pun tertutup rapat. Bulu kuduk ku berdiri, merinding. Bunyi itu tetap konstan. Memang bunyi seperti kerikil yang dilempar ke motor dan terdengar bunyi pantulan semacam kerikil di lantai setelahnya. Tapi tidak lama bunyi itu berhenti. Aku dan Hendi yang ketakutan segera kembali ke kamar. Baru kami sampai kamar, bunyi itu terdengar lagi. Bulu kuduk kami kembali merinding dan terganggu untuk tidur malam itu. Esok paginya, sebelum pulang ke kost untuk mandi, aku bertanya ke Lana perihal bunyi aneh tadi malam. Karena kamar Lana paling dekat dengan tempat kami memarkir motor di tengah rumah. "Lan, semalam dengar suara di tengah rumah gak?" "Kamu dengar juga?" balas Lana dengan ekspresi wajah terkejut dan menarik rokok dari mulutnya. "Kamu dengar juga kan berarti? Aku dan Hendi ngeliatin ke tengah rumah, tapi gak ada siapa siapa Lan." jelas ku. "Nah itu Ram, aku sudah beberapa malam ini denger bunyi orang ngelempar kerikil ke motor, tapi aku gak berani keluar, aku baca do’a aja, gak mungkin ada manusia yang iseng tengah malam lemparin kerikil ke motor." Aku tidak melanjutkan obrolan dengan Lana dan segera pulang ke kost. Sampai di kost, aku mengambil alat mandi, Andi datang ke kamar dengan pakaian rapi. "Baru mandi?" tanya Andi. "Iya, baru balik dari kontrakan Hendi. Masuk aja, aku mandi bentar." Selesai mandi, Andi sedang asik main gitar. Sewaktu penutupan ospek, Andi merupakan penampil pensi dari FKM. Badannya kecil tapi skillnya keren, bisa main musik, main basket juga jago. "Ini album foto mu dengan Luna ya?" tanya Andi memegang buku album foto di atas meja belajarku. "Bukan." "Hah? Terus ini siapa?" Andi membuka-buka buku album itu, "Nur Annisa. Loh, cewek lain lagi ni Ram? Hahahaha." "Bukan, itu foto album jaman SMA, ku bawa aja kesini, kan pemberian orang, gak enak kalau di tinggal." "Sekarang dia kuliah dimana?" "Nur? Di Semarang, kuliah dokter gigi." "Kenapa gak sama itu aja? Dari pada sama anak SMA?" "Gak, gak pernah kesampean hatinya, lagian orangnya gak gaul, Ndi." "Tapi ni ya, kalau lihat dari foto si memang cantik Luna ya, kalau dari foto loh ya, aku belum pernah ketemu dua duanya. Hahahaha." "Yoklah, berangkat kita. Sarapan dulu?" "Mana?" "Burjo samping kampus aja, biar cepat." Sampai di burjo samping kampus, kami ketemu dengan bang Wawan. Dia mengajak kami gabung satu meja. Bang Rizki ini salah satu pengurus BEM FKM. "Ndi, ayok gabung BEM. Seru! kita kemarin nge-camp dengan Rama dan yang lain juga." ujar bang Wawan. "Aku masih belum tertarik sama organisasi bang." "Ah, gampang itu, nanti dikenalin, nanti datang ke stand ya di lantai 2 depan ruangan 216." "Kegiatannya apa aja tu bang?" "Seru pokoknya, kita bikin acara untuk mahasiswa, nge-camp, makan-makan, nongkrong sambil diskusi di sekretriat, ngaji juga, nanti ada banyak program kita di BEM." Panjang ngobrol tentang organisasi kampus, bang Wawan pun pamit pergi. Terlihat dari respon Andi selama mengobrol dengan bang Wawan dia belum tertarik untuk masuk organisasi kampus. Di depan kelas, sambil menunggu dosen masuk, Agus kembali menghampiri aku. "Gimana? Udah ada kabar?" tanya Agus. "Belum, Gus. Belum juga ku tanyain." "Tanya lah cepat ya, kami dah mau pindah ni, kasian tempat tinggal kami jauh-jauh, kurang satu orang lagi ni." "Kirim kan foto rumahnya, biar ntar gampang aku jelasin ke orang tua ku."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN