Hari sabtu tiba, itu artinya aku berangkat untuk mengikuti acara Malam Ta’aruf BEM di pantai. Aku membawa gitar dan cajon. Awalnya kupikir bakal pergi naik mobil atau kendaraan masing-masing juga tidak masalah. Ternyata, setelah semua datang dan berkumpul di depan kampus yang muncul adalah bus tua sewaan kampus.
Selama di perjalanan aku hanya menikmati pemandangan. Selama ini aku cuma tahu di Yogya itu Pantai Parangtritis. Baru kali ini aku tahu ada pantai di daerah lain Yogyakarta, daerah Gunung Kidul.
Sesampainya di pantai, kami langsung membangun tenda-tenda. Tapi untuk tas dan barang-barang besar lainnya dititipkan di salah satu rumah kecil yang di sewa oleh panitia. Lagian, orang baru pertama nge-camp di pantai ngapain juga tidur di dalam rumah, mending di tenda.
Ternyata pantai di daerah Gunung Kidul lebih indah dibandingkan Pantai Parangtritis. Pantas aja banyak orang yang kalau ingin camp di pantai lebih memilih pantai yang ada di Gunung Kidul. Meskipun sakralnya Pantai Parangtritis tidak akan bisa tergantikan.
Malamnya setelah tenda sudah siap dan setelah makan malam, panitia mengadakan acara pensi (main musik/nyanyi) dan melepas lampion. Entah ini kejadian lucu atau mengerikan, saat mulai melepas satu lampion, lampion-nya gagal terbang. Baru beberapa meter terbang, tiba-tiba lampionnya turun lagi, karena apinya mati, dan jatuh di salah satu gazebo milik warga. Gazebo-gazebo di pantai semua atapnya terbuat dari jerami. Kebayangkan apa yang terjadi selanjutnya? Sebagian atap gazebonya terbakar dan kami dimarahi warga.
Walaupun baru beberapa bulan kuliah dan aku belum mengenal teman-teman di kampus, tapi kebersamaannya bisa terasa selama makan malam dan acara pensi. Maklum, kalau di fakultas kesehatan kebanyakan isinya adalah perempuan, jadi sulit untuk mengenal lebih dekat. Di angkatan ku jumlah laki-lakinya hanya 50 dari 400 mahasiswa baru.
Setelah semua acara selesai dan urusan dengan warga pun sudah ditangani oleh panitia, sebelum tidur, aku menyempatkan duduk sebentar di pinggiran pantai. Darwin dan teman-teman maba (mahasa baru) lainnya sudah di tenda masing-masing.
Aku membaringkan badanku di pasir tepi pantai sambil melihat langit malam. Terlihat bintang-bintang sangat jelas disini, beda seperti di kota penuh dengan gemerlap cahaya lampu dan polusi. Aku pernah baca di salah satu buku tentang tata surya, dulu sebelum ada pabrik dan segala macam teknologi listrik isi tata surya dapat terlihat sangat jelas.
Saat sedang asik larut dalam pandangan ke langit malam, tiba-tiba bang Johan duduk di sebelahku.
“Awas kesurupan, ntar nyebur kamu.”
“Gak lah bang.” balas ku sambil tertawa kecil dan mengubah posisi dudukku.
“Eh aku mau tanya dong.”
“Tanya apa bang?”
“Itu, si Sania, teman mu dari SMA ya?”
Aku sedikit tersentak. “iya bang, dari SMA kelas 2 pas penjurusan itu.”
“Hmmm,,..” ujar Johan mengangguk kepalanya. “Anaknya gimana sih?”
Ketebak, si Johan pasti naksir dengan Sania.
“Ya baik bang, keluarganya juga baik-baik, temennya juga baik aja.”
“Aku mau deketin dia ini soalnya, jadi nanya-nanya kau lah ni.” ujar Johan sambil tertawa kecil. “Tapi diem-diem aja ya, gak enak nanti sama yang lain.”
Sania temanku di SMA. Kami kenal sebenarnya sejak kelas 1 SMA, karena setiap sore Sania dan regu nasyidnya latihan untuk lomba nasyid tingkat Provinsi di rumahku.
“Disini enak ya bang, tenang, gak berisik.” aku memejamkan mata dan menghirup udara pantai dalam-dalam.
“Sebenarnya bukan enak, kalaupun disini berhari-hari, bertahun-tahun pasti bosan juga, kita Cuma terlalu sering di kota, jenuh dengan tempat pertama, ketika ada tempat lain yang berbeda, rasanya lebih baik atau menarik.”
Aku hanya mengangguk meresapi setiap kalimat yang disampaikan Johan.
“Udah yah, aku tidur duluan, jangan kemalaman, besok selepas subuh ada kegiatan lagi.” Johan menepuk pundakku dan segera menuju tendanya.
Hampir jam 12 malam, aku masuk ke tenda. Aku satu tenda dengan Darwin dan salah seorang pengurus BEM, namanya Fatur.
Sebelum tidur aku berniat ingin menghubungi Luna, ternyata di pantai susah sinyal. Pasti besok pagi sepulang dari pantai sudah banyak pesan menumpuk dari Luna. Gemuruh ombak dan hembusan angin malam perlahan membawaku ke alam mimpi.
Esok paginya kami sarapan, senam, dan ada game kecil. Nah, di permainan inilah yang awalnya aku mendaftar hanya untuk ikut kegiatan mataf dan nge-camp di pantai, ternyata di akhir game, salah satu pengurus BEM yaitu Johan menyampaikan bahwa kami semua sudah menjadi bagian kader di organisasi BEM.
Awalnya aku kaget dan ingin protes karena sebelumnya aku tidak pernah tertarik untuk gabung dengan organisasi. Tapi setelah aku pikir-pikir kalau kegiatannya ke pantai dan makan-makan asik juga.
Siang sebelum pulang, Sania menghampiri saat aku sedang duduk di kursi kayu tepi pantai. Dia duduk tanpa berkata apa-apa.
“San? udah beres-beres?” tanya ku melihat ke arah tenda-tenda BEM.
“Sudah tadi, Ram.” sesaat suasana kembali hening. “Eh, semalam Johan ada ngobrol dengan kamu?”
“Ada, kenapa?”
“Gak papa, malu aku jadinya.” Sania sedikit menutup wajahnya.
“Malu kenapa coba?” balasku dengan tertawa kecil.
“Ya malu aja, kan kamu tau sendiri dulu kita kaya gimana.” Sania semakin menutup wajahnya dengan jilbab yang dikenakannya.
“Oh, santai, aku biasa aja, santai. Kamu suka sama tu orang?”
“He-eh.” jawab Sania dengan anggukan.
“Yaudah, jalanin aja, kayanya orangnya baik kok. udah lebih dewasa dari kita juga.”
Dari kejauhan terdengar panggilan untuk semua rombongan BEM berkumpul bersiap untuk pulang.
“Eh, Ram, jangan bilang siapa-siapa ya tentang kita yang dulu. malu aku nanti.”
Aku tersenyum kecil. “santai, aku gak pernah cerita kok.”
Aku dulu sempat dekat dengan perempuan yang bernama Nur Annisa. Hampir setiap malam aku main ke rumah Nur. Bahkan, dari rumah izin ke orang tua berangkat les tapi berujung di rumah Nur. Satu malam, aku sedang asik ngobrol berdua di rumah Nur. Tiba-tiba ada pesan sms masuk dan Nur mengambil handphone ku. Sms itu dari Sania. Nur baca pesan itu dan kemudian menunjukkan isi pesan ke arah ku. Isinya “Rama aku suka sama kamu”. Aku meminta Nur tidak usah membalas pesan sms dari Sania.
Mungkin kenangan itu yang membuat Sania malu andai kata Johan sampai tahu. Kan lucu semisal Johan minta tolong aku sedangkan Sania pernah bilang perasaannya ke aku.