Episode 1 Salam Rindu Dari Yogya

1764 Kata
Yogyakarta, Adzan subuh berkumandang. Aku membuka pintu kamar kost, udara sejuk pagi segera menerpa tubuhku dengan lembut membuat sebagian bulu merinding saking dinginnya. Suara kicau burung menyambut fajar pertama. Aku segera mengambil wudhu dan melaksanakan shalat subuh. Setelah shalat subuh, aku mengambil handphone dan keluar kamar untuk mengambil beberapa foto Gunung Merapi di utara Yogya. Mungkin, bagi sebagian orang yang pernah berkuliah atau tinggal di Yogyakarta pasti pernah memperhatikan betapa gagahnya Gunung Merapi pagi hari dengan langit yang bercahaya samar dan tentunya masih bersih dari polusi. Aku mengirimkan satu gambar Gunung Merapi ke pacarku, namanya Luna. Hubungan kami sudah berjalan kurang lebih 9 bulan. Luna merupakan adik tingkat ku di SMA. Sudah lama kami berkenalan, kira-kira dari SMP, tapi ya gaya-gaya anak SMA lah, tidak punya nyali untuk bilang suka, akhirnya di menit-menit terakhir daripada tidak sama sekali akhirnya aku berani menyatakan perasaan terhadap Luna, dan untungnya diterima. “Ada salam dari Yogya nih, kapan kesini?” aku mengirim pesan gambar ke Luna. Jadi, setelah perpisahan itu, aku dan Luna sudah tidak bertemu kurang lebih selama 2 bulan. Mungkin, bagi sebagian orang itu sebentar ya, tapi untuk orang yang baru pertama kali menjalani LDR, rasanya kayak lama banget. “Ya ampun, bagus banget, sayang. Aku suka.” “Cepet kesini yah, kangen nih.” “Adek kan sekolah, tunggu libur baru kesana. Adek siap-siap dulu ya, mau sekolah, love you.” “iya, aku sayang kamu.” Aku mengambil kunci motor, menuju parkiran. Karena hari ini masuk siang, jadi ada waktu untuk bersantai. Biasanya, kalau jam kosong pagi, aku cari sarapan yang jauh, sambil keliling kota Yogya. Supaya kalau ada teman datang ke Yogya terus minta diajak jalan-jalan aku sudah hafal Yogya dan bisa jadi guide mereka. Aku singgah di warung makan emperan di sekitar Alun-alun utara. Kalau di Yogya atau di Semarang aku paling suka sarapan soto ayam. Patokannya kalau orang ramai mengantri itu tandanya enak, sesimpel itu. Sambil sarapan, sambil ku lihat masyarakat Yogya olahraga pagi. Ada yang bersepeda mengitari alun-alun, ada yang jalan kaki dengan keluarganya, ada yang senam, dan ada juga yang cuma duduk sambil foto-foto dan bikin story, padahal pakaiannya paling lengkap bergaya olahraga, terus kemungkinan caption-nya di media sosial kurang lebih “olahraga dulu gaesss…..”. Setelah sarapan, aku pulang ke kost, mandi dan bersiap ke kontrakan teman sambil menunggu waktu kuliah siang. Kontrakan teman satu daerah. Awalnya, aku tidak tahu kalau mereka-teman satu daerah ku itu kuliah di kampus yang sama dengan ku, jadi aku cari kost sendiri, persis komplek rumah warga depan kampus. Kontrakan mereka tidak jauh dari kampus. Mereka satu rumah berempat orang. Lana, Hendi, Nando, dan Sandro. Kalau lagi malas pulang kost, aku biasanya tidur di kontrakan. Kalau sudah waktunya mandi baru pulang, terus balik ke kontrakan lagi. Kadang ada teman satu fakultas yang menginap di kost, namanya Andi. Jadi, mau nggak mau kalau Andi numpang bermalam harus stay di kost. Dia tinggal dengan tante nya di perumahan daerah Tamantirto, Bantul. Kalau ada kelas pagi, Andi pasti numpang menginap, takut terlambat. Namanya mahasiswa tingkat pertama, banyak kuliah paginya dan kampus swasta tidak ada libur di hari sabtu. Selagi menunggu jam masuk, aku bersantai di kontrakan sambil bermain musik. Kalau sore atau malam setelah semua pulang kuliah, kontrakan berasa mirip studio musik. Aku main gitar, Hendi main gitar punya dia sendiri, Lana main cajon, Nando dan Sandro yang nyanyi, karena suara mereka paling bagus diantara kami berlima. Tapi kalau sudah tengah malam, kontrakan ini berubah jadi mirip lokasi uji nyali. Hampir jam 1 siang, aku dan Hendi berangkat ke kampus. Kebetulan aku dan Hendi ini satu fakultas, yaitu Fakultas Kesehatan Masyarakat. Mereka yang lain di kampus 1 atau kampus utama, Fakultas Ekonomi. Seperti biasa, kalau masuk siang, susah cari parkiran motor. Ujung-ujungnya parkir di belakang kampus, dan bayar Rp.1000, tapi ya seringnya bayar Rp.2000 karena pecahan paling kecil cuma segitu. Kami hampir terlambat. Aku lihat dari depan pintu, dosennya sudah ada di kelas. Aku masuk kelas seperti biasa. Tiba-tiba aku dipanggil dosen. “Rama!” panggil bu Vita dengan melambaikan tangannya. Bu Vita merupakan salah satu tim dosen mata kuliah Kesehatan Reproduksi. Aku yang masih menggendong tas ransel di bahu sebelah kanan berjalan pelan ke arah bu Vita yang berada di depan kelas. “Iya bu, ada apa bu?” tanya ku dengan nada yang ku rasa paling pelan dan lembut. “Masuk lagi minggu depan aja ya.” “Maksudnya, bu?” “Iya, itu celanamu, masuk lagi aja minggu depan, minggu ini pulang aja dulu.”, ujar bu Vita sambil menunjuk celana yang kukenakan. Seketika aku baru ingat, mata kuliah bu Vita khusus laki-laki wajib mengenakan celana kain hitam. Aku segera meminta maaf dan langsung keluar kelas. Ku lihat Hendi dan beberapa teman lainnya menunjukkan raut wajah heran. Aku duduk di kursi panjang depan kelas. Bingung mau kemana. Mau balik ke kontrakan tapi Hendi berangkat bareng aku tadi. Terpaksa aku menunggu di depan kelas sampai kelasnya selesai. “Kenapa, Ram?” tanya Hendi di chat. “Aku pake celana jeans.” “Astaga, tunggu yo, nyantai aja di depan.” Ku lihat kanan-kiri lorong kampus sepi. Di pojokan lantai 2, ada dua orang perempuan pakai baju warna merah marun sedang duduk, semacam sedang jaga stand. Aku coba mendekat, niatnya ingin lihat-lihat lagi ada acara pensi atau apa gitu. Ternyata itu stand organisasi fakultas kami. Mereka bikin acara malam ta’aruf (mataf). Dulu, sebelum berangkat kuliah ke Yogya aku sudah dipesan kalau kuliah harus aktif di organisasi. Aku orangnya kurang tertarik dengan organisasi. Sewaktu SMA juga tidak pernah terobsesi jadi pengurus OSIS. “Dek, daftar dek, ini organisasinya keren loh de. Kebetulan kita ada acara masa ta’arufnya di pantai ngajak mahasisw baru, kita nge-camp rame-rame, seru dek, ayo, daftar.” ujar salah satu perempuan di stand menjelaskan. Aku membaca nama di bajunya, bertuliskan Yani R. Padahal aku cuma mau lihat-lihat. Tanya juga belum, tapi sudah dijelaskan panjang. Aku masih berdiri di depan stand, membaca-baca leaflet kegiatan. Teman ku keluar dari kelas yang persis di depan stand, namanya Darwin. “Apa tu, Ram?” “Oh, ini, BEM, gabung gak?” “Ayo, dek, gabung dek, biar berdua tuh, ada temannya kita nge-camp rame-rame.” “Yang daftar udah berapa, Ram?” “Ya tanya mba nya, aku baru lihat juga ni.” “Yang baru daftar ada 7 orang dek.” mbaknya melihatkan kami isi formulir pendaftaran. Aku dan Darwin melihat list nama-nama yang sudah mendaftar. Isinya perempuan semua. “Perempuan semua mba?” tanya ku. “Iya, dek, gak papa kok, pengurusnya banyak cowok juga, kayak bang Johan, bang Wawan, ada Akil juga.” “Nah, ada Johan sama Akil tuh, Rama, ikut aja.” “Ayolah berdua, lumayan nih, nge-camp di awal kuliah ni aku. yok, ikut.” Awalnya Darwin tidak mau ikut. Karena dia juga orang asli Yogya, mungkin sudah bosan ke pantai. Tapi setelah ku ajak berkali-kali, akhirnya Darwin mau juga daftar ikut acara mataf itu. Sepulang dari kampus, aku masuk ke kamar Hendi dan niat ingin tidur. Saat sedang nyenyaknya tidur siang, handphone ku berdering. Telepon dari Luna. “Hallo?” Terdengar suara Luna tertawa kecil. “Lagi tidur yah?” terdengar lembut suara Luna. “Maaf yah, adek baru pulang soalnya, terus pingin nelfon kakak deh.” “Gak papa de. Baru pulang sore? Bimbel yah?” “Iya kak, nanti sore adek mau keluar lagi sama Rini.” “Kemana? Gak capek apa?” “Acara ulang tahun teman adek. Boleh kan?” “Ya boleh aja, dek. Hati-hati aja kalo di jalan.” “Yaudah deh, adek matiin dulu yah, kasian suaranya masih ngantuk gitu, bye.” “Iya de, bye.” “Hmm, bilang apa dulu?” “Love you, sayang.” “Iya, adek sayang kakak.” Telepon pun terputus. Karena sudah tidak bisa tidur, aku pamit dengan teman-teman pulang ke kost. Malam harinya, Reza sudah sampai di kost ku. Reza ini teman ku dari SMA. Dia kuliah di Instiper, Institut Pertanian. Tapi ada kisah lucu tentang Reza dan kampusnya itu. Dulu dia pernah PDKT sama perempuan, malah dikira dia kuliah di keperawatan, Institut Perawat. Reza tinggal di asrama daerah kami, asrama daerah Pangkalan Bun. Kalau bosan cari makan sendiri, dia pasti ngajak aku makan pecel lele di dekat kampusku. Kadang-kadang, siang hari jam kuliah pun Reza bisa tiba-tiba telepon cuma buat kasih tahu dia ada di depan kampus. Alasannya sih beli kentang sama cimol, tapi sebenarnya mau lihat-lihat mahasiswi kampus. Kebetulan kampus 3 ini isinya fakultas Kesehatan Masyarakat, Farmasi, dan MIPA. Jadi, sudah pasti banyak perempuan dan cantik-cantik. Btw, universitas tempat ku kuliah memiliki 6 kampus yang terpisah. “Makan mana kita?” tanya ku sambil sisiran depan cermin. “Biasalah, masih tanya aja.” Kami jalan menuju parkiran. “Mana helm kamu, Za?” tanyaku. “Yaelah, dekat aja disitu.” “Ambil, cepet ambil, kaya orang kampung aja.” Aku memang paling tidak biasa kalau naik motor tanpa mengenakan helm. Apalagi sudah berstatus mahasiswa, harusnya jadi contoh, harus rapi. Sesampainya kami di warung pecel lele, kami duduk lesehan dengan kondisi pencahayaan terbatas, karena tempat duduk yang disediakan sedikit dan penuh. Namanya juga mahasiswa, semapan-mapannya di daerah sendiri, kalau sudah jadi mahasiswa ya harus apa adanya. “Chat Luci?” tanya Reza. Luci itu adalah singkatan Luna Cintya. Di sekolah Luna dikenalnya Luci. “He-eh.” jawabku masih asik balas chat Luna. “Lucu memang. Hoki kamu besar juga, Ram.” “Apanya?” “Ya coba aja ingat-ingat lagi, dulu Luna ku deketin, sekarang kamu yang pacarin. Waktu SMP, Leo deketin Bintang, ujungnya kamu juga yang pacaran sama Bintang.” jelas Reza sambil merapikan rambutnya menggunakan cermin layar handphone. “Ohiyaya, haha.” jawab ku. “Tapi kan belum pernah ada yang jadi pacar orang, jadi gak masalah dong. Hahaha…” “Apaan gak ngambil pacar orang? Waktu kamu sama Nur? Kan dia masih pacaran sama Keenan, kamu dekatin jua di SMA.” Aku menaruh handphone di tikar alas tempat kami duduk. “Analisa kamu yang salah, Nur sudah putus, baru ku deketin lagi. Sewaktu aku tau dia pacaran sama Keenan dulu ya gak ku deketin.” “Terus, jadinya kamu pacarin apa gak sih?” “Enggak, haha… Kurang gaul.” “Eh tapi sekarang dia calon dokter gigi tu, coba aja deketin lagi, ntar Luna buat ku aja, hahahaha.” “Gak lah, aku mau beneran dengan yang ini, Za. Aku maunya lanjut terus. Tobat dah deketin cewek-cewek lain lagi.” Reza hanya mengangguk kepalanya dan tidak lama makanan kami datang. “Eh, malam ini aku tidur tempat kamu ya.” “Okeoke.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN