"Hanya mata kamu yang terlihat Al. Tapi bagaimana bisa kamu terlihat begitu cantik." Sarah mengenggam tangan Alia penuh haru. Tak sadar air matanya menetes. Alia menatap dirinya di cermin untuk kesekian kali. Mungkin benar, entah mengapa aura kecantikan Alia tidak bisa disembunyikan, apa karena Alia begitu bahagia sekaligus takut secara tiba-tiba. Dibalik sarung tangan putih yang membungkus tangan lentiknya, Alia berkeringat, mata bulat dengan netra coklat itu bersinar memancarkan semua perasaan Alia.
"Al, tetap anak kecil Mama kan?" Pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulut Alia, Sarah terkekeh "Kamu satu-satunya putri kecil Mama Al. Selalu." Alia tersenyum, memeluk Sarah dengan erat. Satu bulan ini, Alia belum merasa puas dimanjakan Sarah, Alia rasanya ingin kembali kemasa kecilnya. Bakti Alia pada Sarah dan Maleo masih sangat jauh dari kata cukup. Alia malah merasa, sumber kesedihan keluarga Atmaja berasal dari dirinya.
Ruangan itu terasa sesak seketika, Alia menahan diri untuk tidak menangis, meski dia ingin.
Fatma dan Sarah menemaninya melakukan fiting gaun pengantin. Sementara Rafa memilih datang bersama Fatma, mereka tidak bertemu, Fatma hanya akan menginformasikan gaunyang Alia pilih, kemudian Rafa akan mencocokannya sendiri.
"Sampaikan maaf Alia untuk Papa ya Ma. Alia sangat ingin bertemu Papa." Sarah mengusap kepala Alia "Papa kamu masih gengsi. Kamu tau kan bagaimana keturunan Atmaja itu." Sarah memutar bola matanya malas.
Alia tertawa kecil mendengarnya "Kenapa Mama mau menikah dengan Papa?"
Sarah tak bisa menyembunyikan senyum malu-malu itu "Walapun Mama sering sekali menjelek-jelekan Papa kamu. Nyatanya, setiap hari rasa cinta Mama makin besar. Meski begitu Papa Kamu adalah Pria yang paling bisa mengerti dan melengkapi Mama."
"Setiap Mama memandang Papa kamu. Mama merasa beruntung. Mama adalah perempuan yang dia pilih untuk menjadi pendampingnya. Kamu nanti akan merasakannya."
"Semoga." Suara Alia hampir tertelan, hampir-hampir tak terdengar.
"Mama mau ke toilet sebentar."
Alia mengangguk, dari sini Alia bisa mendengar Rafa melantunkan salah satu ayat suci Al- Qur'an. Alia ingat sekali dulu. Rara memaksanya masuk ke dalam Musola di sekolah mereka dulu, meminta Alia untuk menemani Rara untuk solat. Disana untuk pertama kalinya Alia dibuat begitu nyaman hanya karena mendengar seorang Rafa melantunkan ayat suci.
Rasasanya, ketika Alia mendengar lantunan ayat suci Rafa semuanya masih berefek sama bagi Alia, menyejukan hati Alia.
Alia menarik nafasnya dalam-dalam, sungguh Alia merasa jantungnya bisa saja keluar dari tempatnya saat ini, Ustad Hanan, entah bagaimana bisa menjadi Wali Alia. Gadis itu memikirkan sejak lama, resah tak terkira. Namun Thomas berkata, Rafa yang akan mengurus semuanya. Dan hari ini dengan ajaib, Rafa kembali membuat Alia terkesima. Bagaimana pria itu tau soal Ustad Hanan, dan Ibu Maryam. Alia menyalami Ibu Maryam tadi ketika wanita paruh baya itu datang mengucapkan selamat pada Alia, memeluk Alia dengan erat. Mengatakan kalau Rara tak bisa datang karena masih di luar kota. Meski begitu, Ibu Maryam bercerita tentang betapa antusisnya Rara ketika mendengar bahwa calon mempelai prianya adalah Rafa. Seorang Rafa Fauzan Kamil. Pria yang selalu Alia banggakan sejak dulu.
Alia tercekat, Rafa dengan lantang mengucap Ijab Qobul dalam satu tarikan nafas, suara pria itu lantang tanpa terdengar keraguan, membuat Alia merinding. Lafas hamdalah terdengar nyaring. Para undangan yang hadir di masjid itu cukup banyak, semuanya kebanyakan tamu dari keluarga Fatma, rekan kerja Rafa, teman kampus Rafa dan Alia. Dari keluarga Alia sendiri. Tidak ada yang hadir kecuali, Thomas, dan Sarah. Ustad Hanan yang sekarang menjadi wali Alia.
"Papa." Air mata Alia lolos begitu saja, melihat Maleo datang dengan jas berwarna putih miliknya. Gadis itu menyerbu tubuh Maleo, memeluknya begitu erat. Menangis hebat didalam pelukan Maleo.
"Hei, jangan nangis. Make up kamu nanti luntur. Anak Papa harus jadi yang paling cantik hari ini."
Alia tertawa, "Papa liat Rafa melakukan ijab qobul?"
"Dia hebat sekali. Berani menikahi kamu."
"Papa merestui kami kan?"
Maleo menatap Alia, tersenyum hangat "Papa datang untuk melihat hari bahagia anak Papa. Jelas Papa merestui kalian."
"Maaf Papa tidak bisa jadi wali untuk kamu."
Alia menggeleng "Tidak masalah, oh ya. Yang menggantikan Papa itu Ustad Hanan, Abinya Rara."
Maleo mengernyit "Teman Sma kamu yang suka bertengkar dengan Thomas dulu?"
Alia mengangguk.
"Kalian." Sarah datang dengan wajah kesalnya "Berpelukan tanpa Mama." Maleo tertawa, mengecup pelipis Sarah dengan sayang, sudah lama sekali Maleo tidak mendengar omelan Sarah.
"Thomas yang malang terlupakan." Thomas nampak gagah dengan setelan jas yang sama dengan Maleo berdiri dengan ekspresi yang dibuat menyedihkan, Sarah mendelik. Sementara Maleo menepuk bahu Thomas pelan lalu mengusap kepala Thomas dengan s***s, sengaja merusak tatanan rambut Thomas.
"Pa, don't touch my hair yo." Alia amat bersyukur ia bisa melihat Maleo dan Thomas saling menjahili seperti dulu lagi.
Sarah memukul bahu Thomas dan Maleo bergantian, Alia mendesis. Ia tau pukulan tangan Sarah cukup pedas.
"Ma."
"Shut up Thom. Al, ayo temui suamimu."
Suami.
Rafa adalah suaminya.
Dada alia menghangat, senyumnya tak bisa disembunyikan dibalik cadarnya. Sarah menggandeng tangan Alia membawanya diantara kerumunan para tamu undangan.
Jantung Alia berdetak cepat, wajahnya memerah tanpa bisa ia cegah. Ia melihat Rafa berdiri disana, menatapnya lamat. Matanya yang begitu teduh dan wajah seriusnya itu membuat Alia gugup, namun sedetik kemudian Alia kembali harus menahan sesak, Rafa menarik senyum menampar Alia telak. Membuat wajah Alia memanas.
Rafa nampak gagah dengan kemeja berwarna putih dan jas berwarna biru tua, ketika mereka berhadapan, mereka nampak begitu serasi. Alia yang mengenakan gaun berwarna putih dengan wajah yang tertutup cadar dengan warna senada. Tak bisa membuat semua orang tak memuji aura yang Alia pancarkan.
Fatma menyerahkan 20 maryam emas kepada Rafa yang kemudian diterima Alia. Alia menarik nafas sejenak ketika Rafa maju, meletakan tangannnya di ubun-ubun Alia kemudian memanjatkan doa. Alia merasa sangat beruntung detik itu juga. Alia mengulurkan tangannya untuk menyalimi Rafa, namun dengan malu Alia tarik kembali tangannya. Selama ini Alia tidak pernah bersentuhan sedikitpun dengan Rafa, ia takut pria itu tidak suka jika Alia menyalaminya.
Namun hal itu melah mengundang tawa karena pergerakan Alia yang malu-malu. Rafa sendiri tak bisa menyembunyikan senyum kecilnya. Sekali lagi Alia menyodorkan tangannya, kali ini Rafa membiarkan Alia menyaliminya, gadis itu melakukannya cukup lama.
Bismillah, atas nama Allah. Alia akan bertemu dan berpisah dengan Kak Rafa atas takdir Allah juga.
Acara pernikahan itu selesai, Alia tidak tau harus melakukan apa, ia masih menyadarkan dirinya atas pernikahan yang baru saja berlangsung. Di kediaman Rafa, ada Fatma dan Sarah yang baru saja kembali, Fatma kembali ke Bandung, mengatakan ingin mengurus rumah yang disana. Lalu Sarah kembali setelah mengantar barang milik Alia yang baru dipindahkan sedikit. Alia sudah mandi di kamar mandi ruang tamu, sementara Rafa mandi di kamarnya. Alia bisa saja menunggu tapi ia sudah sangat ingin mandi sejak tadi. Tubuhnya cukup pegal.
Alia sudah mengganti bajunya dengan gamis berwarna peach dan niqab berwarna senada.
Rafa turun dari kamarnya setelah menghabiskan waktu cukup lama di kamarnya. Mengenakan baju santai berupa kaos berwarna abu dan celana training berwarna hitam. Alia tidak melihat Rafa yang menggunakan seragam lagi, baju formal berupa kemeja dan celana panjang saat acara sekolah, tapi hari ini Alia melihat Rafa dengan baju rumahannya. Alia siap melihat pemandangan ini setiap hari.
"Kak Rafa mau kopi, atau teh?" Alia masih duduk di meja pantry, menawarkan minuman pada Rafa, tidak mau terlihat begitu canggung dan kaku.
Rafa menggeleng "Air putih hangat saja Al." Alia mangut-mangut, satu lagi yang Alia tau. Jadi Rafa akan meminum air putih hangat sebelum tidur, tipe yang perduli kesehatan.
Alia meletakan satu gelas air putih hangat untuk Rafa. "Ini kak."
"Terimakasih." Alia mengangguk, keduanya diam setelahnya, Rafa sudah duduk dihadapannya. Alia sibuk mengalihkan pandangannya ketika tak sengaja bersitatap dengan Rafa.
"Kamu lelah?" Akhirnya, Rafa mengeluarkan suara. Diam-diam Alia menarik nafas lega. Terbebas dari kecanggungan tadi.
"Lumayan."
"Tidur duluan saja, Saya masih harus menyelesaikan pekerjaan sebentar."
Alia diam sesaat, kembali menganggukan kepala tanpa sadar.
Jadi, sehabis menikah Kak Rafa akan bekerja.
Alia mencatat itu dalam ingatannya. "Mau Al temani?"
Rafa tersenyum tipis "Kamu butuh istirahat Al."
"Memangnya Kak Rafa tidak capek?"
"Sedikit, tapi pekerjaan ini sudah tertunda cukup lama. Jadi, saya tidak bisa menunda lebih lama lagi."
"Kalau begitu Al ke atas dulu. Al tidur dimana?"
"Di kamar atas, dikamarku."
Alia meremas tangannya, dia akan tidur dikamar Rafa. Alia akan tidur di kamar Rafa. Gadis itu hampir menjerit, jiwa bar-bar saat masa Sma nya hampir keluar. Alia berdehem.
"Baiklah, Al naik dulu ya."
Rafa mengangguk, pada anak tangga kedua suara Rafa terdengar memanggil Alia. Detik berikutnya Rafa diam cukup lama. Memandang Alia dengan pandangan yang tak Alia pahami.
"Al, boleh saya minta sesuatu?"
"Mi-minta apa?"
"Maaf, tapi. Jangan lepas cadarmu."