Wali Untuk Alia

1563 Kata
Rafa diam ditempatnya. Membatu, tidak bisa berkata apapun. Orang yang sekarang berdiri dihadapannya adalah orang yang tak pernah Rafa duga akan datang ke kediamannya, dengan senyum rapuh seorang ibu yang hanya mengharapkan ketenangan dan kebahagiaan di masa tuanya. Sarah, orangtua dari Alia datang setelah satu minggu berlalu, sejak kedatangan Rafa kekediaman Atmaja. Penolakan tegas dari Maleo. Sang kepala keluarga. Hal itu tak menyurutkan Rafa untuk mendapatkan restu dari orangtua Alia. Rafa tidak mau memaksa, Rafa hanya memberi waktu. Rafa tidak pernah bertemu dengan Alia sejak hari itu, sesekali Rafa bertemu dengan Thomas, menanyakan kondisi keluarga Thomas. Dan sekarang Sarah datang menemui Rafa. "Rafa. Siapa yang datang?" Fatma Nampak berjalan tergopoh-gopoh. Dengan sendok sup yang ada ditangannya. Fatma tak kalah terkejutnya dengan Rafa. "Boleh saya masuk?" Sarah tersenyum tipis. Masih nampak, garis keanggunan itu dari wajah Sarah. Fatma tersentak, mendorong Rafa yang masih menghalangi pintu. "Silahkan masuk." Fatma tersenyum. Rafa nampak menyadarkan diri mengekor dari belakang ketika Fatma membawa Sarah ke ruang makan, waktu masih sore, Rafa memilih pulang sejenak meninggalkan pekerjaan kantor yang setengahnya sudah ia selesaikan. Memilih makan malam bersama Fatma. Rafa memang memperkerjakan seorang pembantu rumah tangga. Bi Minah namanya, satu tukang kebun bernama Pak Yayat dan Satpam bernama Pak Bimo. Bi Minah diperkerjakan untuk membantu Amira dulu dimasa kehamilannya. Namun sekarang Bi Minah akan datang bekerja hanya jika Fatma meminta Bi Minah untuk datang, memasak makanan untuk Rafa dan membersihkan rumah ketika Fatma tidak bisa memasak untuk Rafa Bagi Fatma, Rafa sudah di anggap seperti anaknya. Rafa adalah seorang yatim piatu ketika menikahi anaknya Amira, namun sikap Rafa yang sangat baik pada Fatma membuat Fatma menyayangi Rafa lebih dari anaknya sendiri. Tidak perduli bahwa Amira, anaknya sendiri telah meninggal. Dan gilanya Fatma malah menyetujui Rafa menikah dengan sahabat Amira yang sangat dikenal Fatma. Bagi Fatma, semuanya adalah takdir. Bagaimana itu datang dan berlalu. Semuanya sudah tersusun. Memiliki makna masing-masing. Jika Amira meninggal ketika menjadi Istri Rafa. Mungkin hanya sampai itu batas jodoh antara Rafa dan Amira. Dan mungkin melalui Amira, Rafa akan menemukan jodohnya yang sesungguhnya. Yang akan bersama Rafa hingga ajal menjemput. Alia adalah jawabannya. Fatma berfikir begitu. Mereka berkumpul di ruang tamu, setelah melaksanakan ibadah sholat magrib dan makan bersama. Sarah ditemani Bi Aminah, bukan maksud lancang. Rafa tidak membedakakn pembantu dan atasan. Baginya Bi Aminah sudah menjadi anggota keluarga ini. Sarah juga tak keberatan ketika Bi Aminah menemaninya, menunggu Fatma dan Rafa yang pergi ke masjid untuk melaksanakan ibadahanya. Kini tinggal Rafa, Fatma dan Sarah yang berada di ruang tamu. Berbincang soal kabar dan bercerita beberapa masalah yang didominan oleh Fatma. Rafa menerka-nerka alasan Sarah datang. Pasti menyangkut masalah kemarin. "Maaf tante. Boleh saya tau maksud kedatangan tante" Fatma tau Rafa adalah orang yang tak bisa berbasa-basi. Namun, Fatma cukup kesal pada Rafa yang langsung menanyakan maksud kedatangan Sarah. Padahal sudah lama Fatma tak menemukan teman mengobrol yang se asik Sarah. Sarah tersenyum. Dari awal Sarah tau kalau calon menantunya itu memang bukan tipe pria yang bisa berbasa basi. Sarah tau dari Thomas bahwa Rafa adalah duda, mantan istrinya meninggal karena terlalu lemah untuk melahirkan calon anak pertama mereka. Entah kenapa Sarah sama sekali tak masalah soal status Rafa. Bagi Sarah kebahagiaan Alia adalah yang terpenting sekarang. "Soal khitbah, kami merestuinya." Fatma tersenyum senang langsung memeluk Sarah dengan begitu erat. Sementara Rafa terdiam ditempatnya, entah kenapa batu yang terasa menghimpit dadanya sejak kemarin terasa disingkirkan begitu mudah. Entah kenapa Rafa begitu lega sekaligus senang. "Alhamdulillah." Rafa tersenyum merekah. Sarah terdiam, memikirkan sesuatu "Tapi, bukankah suami saya tidak bisa menjadi wali dalam pernikahan Alia?" Rafa tersenyum menenangkan "Selalu ada jalan untuk kebaikan." Meski Sarah dan Fatma tak tau apa maksud dari Rafa "Saya yang akan mengurusnya." Alia tengah menemui dokter Hana, seorang dokter bedah yang bekerja disalah satu rumah sakit terbesar di Jakarta. Salah satu sahabat Alia ketika di Oxford dulu. Perempuan dengan gaya berbusananya yang selalu terkesan santai. Dari dulu, Hana terkenal dengan kemeja dan sepetu conversenya. Bahkan sampai sekarangpun Hana masih hobi mengenakan kemeja kebesaran dengan celana jeansnya. Tapi Hana tak diperbolehkan untuk mengenakan sepetu converse. Karena itu terkesan tidak layak bagi pekerja rumah sakit apalagi seorang dokter. Alhasil Hana harus mengenakan high heels. Mau tak mau Alia harus mendengarkan omelan Hana soal heels. Hana menatap Alia sekejap. Setelah Alia bercerita soal Rafa yang mengkhitbahnya Hana dapat menarik kesimpulan. "Al, dengar. Gue kalau jadi lo pasti seneng banget. Secara cowok yang gue suka dari bertahun-tahun lalu bakal jadi suami gue. Lo pasti senang dong Al. Jujur deh." "Senang sih. Tapi kan aku ibaratnya senang diatas kematian almarhum kak Amira." "Jelas enggak dong. Justru Amira yang mengiklaskan suaminya nikahin lo. Kalau kata gue. Itu takdir." Alia terkekeh "Tidak tau lah Han." Hanna berdecak "Duh Al. Gue enggak tau ya gimana bisa lo betah banget nahan rasa suka lo sama si Rafa itu. Yang jelas kalau gue jadi lo, ketika kesempata ini datang. Gue bakal bahagia banget." Jelas Alia senang, melebihi apapun. Alia hampir melewati semuanya karena satu nama. Rafa. Mencintai Rafa sekian lama tak pernah menjadi beban bagi Alia. Alia hanya mengikuti alurnnya. Alia pernah berdoa pada Allah. Jika Rafa benar jodohnya, maka dekatkanlah Alia dengan Rafa. Tapi jika bukan, jauhkanlah dan hilangkanlah perasaan Alia sepenuhnya tanpa tersisa untuk Rafa. Nyatanya, perasaan itu tetap sama, tak ada yang berubah. Alia pasrah. Dan tiba-tiba. Kesempatan itu datang, Rafa mengkhitbahnya. Meski Alia sempat kecewa karena alasannya hanya karena Amira yang meminta. Alia meletakan tasnya di meja, menarik nafas pelan. Rasanya, hari Alia begitu berat akhir-akhir ini. Gadis itu mengambil satu botol air dingin di kulkas lalu menuangnya pada sebuah gelas. Rasa sejuk mengalir ke tenggorokan Alia. Suara bel apartemen Alia membuat gadis itu bertanya. Apa Alia punya janji temu hari ini. Rasanya tidak. "Thomas?" Thomas tersenyum senang, Alia tak tau apa yang membuat Thomas sesenang ini. Seri diwajah Thomas tak bisa dipungkiri, senyum Thomas mengembang sempurna, bola matanya memancarkan kebahagian luar biasa. "Kau tampak bahagia sekali Thom." Alia menutup pintu, membiarkan kakaknya masuk. "Kau tau Al. Aku punya kabar bahagia untukmu." Alia menaikan sebelah alisnya "Untukku?" "Orang tua kita menyetujui pernikahanmu dengan Rafa." Alia tersenyum tanpa sadar. Matanya terasa perih. Bagaimana bisa, bagaimana bisa pernikahan yang begitu ditentang Maleo dan Sarah disetujui begitu saja. Alia kira, semuanya akan hancur. Impian Alia selama ini akan pupus. "Bagaimana bisa Thom." Suara Alia bergetar, antara haru dan juga terkejut. "Kau tidak boleh menangis. Oke. Rafa sendiri yang datang satu minggu lalu untuk meminta restu Papa dan Mama. Dia sangat gantleman dia datang dengan sangat sopan dan berwibawa bersama Tante Fatma. Mengutarakan maksud kedatangannya untuk menikahimu. Dia tidak memaksa sama sekali, aku bisa lihat dari mata Mama yang terpukau akan kesabaran dan kedewasaan Rafa. Kau memilih laki-laki yang tepat Al." "Mama tau kalau kak Rafa duda?" Thomas mengangguk, tersenyum sekali lagi. "Aku tak mau ada kesalah pahaman apapun lagi Alia, kuberitahu semuannya. Aku bilang kau sudah mencintai Rafa selama bertahun-tahun. Rafa adalah satu-satunya tujuanmu." Alia menangis, Thomas sangat mengerti Alia, bahkan Alia saja tak tau bagaimana cara menjelaskan semua. Bagaimana cara agar Alia bisa kembali ke rumah. Tapi Rafa, melunturkan semua ego Maleo dan Sarah. Menerima keputusan Alia kali ini. Thomas benar. Alia sudah menunggu untuk bersanding dengan Rafa. Mengetahui semua yang Rafa suka dan tidak. Alia akan jadi bagian hidup Rafa. Sebagai orang yang Rafa lihat dengan nyata. Bukan lagi fatamorgama dan delusi Alia semata. Itu bukan sebuah rumah, melainkan sebuah pondok pesantren. Rafa menatap sekali lagi alamat yang Thomas berikan, entahlah Thomas dapat darimana. "Assalamualaikum." Satpam itu tersenyum, lalu menjawab salam Rafa. Gerbang dibuka. "Ada yang bisa saya bantu Mas." "Saya datang mencari Ustad Hanan dan Ibu Maryam. Apa beliau ada?" Satpam itu mengangguk "Ada Mas, sedang di Musola, Ustad Hanan mengajar mengaji disana, sedang Ibu Maryam tengah ikut pengajian keluar." "Alhamdulillah, boleh saya bertemu Ustad Hanan." "Oh boleh, silahkan tunggu di ruangan beliau ya. Saya panggilkan dulu." Rafa mengangguk, Pak Satpam itu mengajak Rafa ke ruangan ustad Hanan, ada kursi dan meja dengan tumpukan berbagai file disana, satu rak berisi koleksi kitab milik ustad Hanan, beberapa kaligrafi yang dipajang, serta figura foto keluarga mereka. Rafa mengamati. Dalam figura itu ada ustad Hanan yang mengenakan peci berwarna putih dengan baju koko berwarna sama. Senyumnya begitu teduh, tubuhnya masih tinggi tegap, disampingnya ada Ibu Maryam yang mengenakan jilbab besar berwarna putih dengan gamis yang sama, Ustad Hanan dan Ibu Maryam duduk berdaampingan disebuah kursi. Sementara kedua anaknya berdiri dibelakang, tersenyum manis. Rafa tebak perempuan yang nampak lebih muda adalah Rara. Umurnya pasti sama dengan Alia, mengingat kalau mereka pernah satu Sma, satu lagi seorang laki-laki yang mewarisi wajah teduh dan senyum menenangkan milik ustdad Hanan. Mereka nampak seperti keluarga bahagia. "Assalamualaikum." Rafa menoleh, menemukan ustad Hana tersenyum padanya. "Waalaikumsalam Ustad." Rafa berdiri menyalami ustad Hanan. "Silahkan duduk," Rafa kembali duduk ditempatnya, sementara ustad Hanan duduk dihadapan Rafa "Ada yang bisa saya bantu nak-" "Rafa Ustad, Rafa Fauzan Kamil." Ustad Hanan diam sesaat, ada rasa terkejut yang tak bisa disembunyikan. "Apa yang bisa saya bantu nak Rafa?" "Maaf Ustad sebelumnya, apa Ustad mengenal Alia, atau Aleah Putri Atmaja?" Ustad Hanan tersenyum "Alia. Kami mengenalnya." "Begini Ustad, saya dengar Ustad dan Ibu Maryam yang menemani hijrah Alia. Ustad pasti tau kalau Alia adalah satu-satunya orang yang beragama Islam di keluarga Atmaja." Rafa menarik nafas pelan "Saya dan Alia akan menikah. Papa Alia, tidak bisa menjadi wali, begitupun Thomas kakaknya. Anda adalah orang tua kedua bagi Alia." "Saya ingin anda menjadi wali dalam pernikahan kami."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN