Diam bukanlah jalan, Alia maklumi Refa dengan semua keterdiamannya yang membuat Alia kebingungan dan sakit hati. Rafa yang bersatatus suaminya itu entah sengaja atau tidak, menghindari Alia, tidak ada percakapan penting selain bertanya sudah makan atau belum, apa Rafa pulang atau tidak hari ini, itupun harus Alia yang memulai. Alia fikir Rafa cukup dewasa untuk tidak main kabur-kaburan seperti ini. Kalau ditanya apa Alia bahagia atau tidak sekarang, Alia bisa menjawab tidak. Alia tidak bahagia. Bukan karena Alia tidak lagi mencintai Rafa, bukan juga karena Alia membenci Rafa. Cara Rafa yang Alia tidak mengerti. Delapan tahun cukup untuk berjuang seorang diri, dan sekarang tidak lagi. Alia menatap laptopnya pasrah, sudah cukup lelah mencari lowongan pekerjaan, mengirim surat wawanc

