Asing

451 Kata
Jangan lupa vote dan comment. Jangan lupa follow Ig author :devi_aziana Happy reading❤ "Mas, nanti malem ada waktu gak?" Alia meletakan sendoknya di atas piring kosongnya, mereka sedang makan malam. "Saya lembur Al." Saya? Alia mengangguk, Alia tidak mau melebihkan, tidak mau suudzon, tapi rasanya Rafa bersikap asing kepadanya. Bahkan, memandang Alia ketika berbicara pun enggan. "Oh gitu, Ustad Hanan dan Bu Mariyam ngundang kita, hari ini Rara pulang ke rumah." Jelas Alia. "Sampaikan saja salam saya. Saya ke kentor dulu." Rafa berdiri, menyambar tas kerja dan jasnya di meja. Meninggalkan Alia tanpa sepatah kata. Tanpa salam, atau pertanyaan kemana Alia akan pergi hari ini. Alia menatap sendu arah kepergian Rafa, masih diam di meja makan, bahkan ketika suara mobil Rafa keluar dari pekarangan. Ada banyak hal yang ingin Alia tanyakan, kenapa Rafa terasa canggung padanya, membuat mereka lebih asing dari dulu. Semua kembali ke titik awal. Dan Alia tidak tau karena apa. Jika mengandalkan insting, Alia kuat berfikir ini sebab pertemuan Rafa dengan gadis berjilbab pink di tempat reuni. Hari ini jadwal kepulangan Rara, setelah sibuk mengurus kerjasama rancangan baju musim panas bersama salah satu perancang terkenal, akhirnya Rara kembali ke rumahnya, sahabat karibnya itu nampak senang dengan apa yang ia kerjakan, tadinya Alia berencana mengajak Rafa hadir ke rumah keluarga Rara, mereka mengadakan acara makan malam. Ustad Hanan dan Mariyam sendiri yang mengundang Rafa, namun harus Alia sampaikan kalau Rafa tidak bisa hadir sebab sibuk. Alia segera menghapus segala lamunannya, ia harus membersihkan rumah, kemudian pergi ke rumah Sarah dan Maleo, Alia berniat membuat dua loyang kue bolu toping keju, dan satu bolu pandan khusus untung Thomas. Alia berkutat hampir satu jam di dapur, sibuk membuat olahan kue, gadis itu meletakan bolu pandan yang sudah jadi ke kotak, lalu melakukan hal yang sama pada bolu bertoping keju, Alia tersenyum puas, dia semakin jago membaut kue, rasanya pas dan teksturenya lembut sekarang, sayang Rafa tidak mencicipinya. Meletakan dua kotak kue diatas meja makan, Alia beranjak membersihkan dapur, setelah merasa bersih, kini Alia beranjak ke kamar, membersihkan diri kemudian bersiap untuk pergi ke rumah orang tuanya. Rafa punya dua mobil di rumah, satu di pakai untuk bekerja, kata Fatma, dulu Rafa menyewa pembantu dan supir, tapi di berhentikan ketika hanya Rafa sendiri yang tinggal. Alia tidak pernah merasa keberatan mengurus rumah yang cukup besar ini sendirian, malah Alia merasa ini bisa menghilangkan rasa jenuhnya. Alia menghentikan pencariannya pada lowongan pekerjaan sejenak, bukan Alia menyerah, hanya beristirahat sebentar. "Halo little sister." Thomas memeluk Alia sebentar "Mana pesanan ku?" Thomas menyambar kotak kue yang Alia tenteng. Membawanya kabur ke meja makan. Sarah terkekeh "Kapan kamu mau menikah kalau kelakuan mu kayak bocah Thom?" Thomas mencebik, Thomas hanya bermanja ria pada keluarganya saja. "Hai Ma." Alia memeluk Sarah erat, cukup lama, menghilangkan sedikit beban yang Alia pikul seorang diri. "Hai sayang, gimana kabar kamu?" Sarah menggenggam tangan Alia, membawanya ke sofa. "Baik Ma, Papa mana?" "Mck, Papa kamu lagi di belakang, kasih makan burung." Alia tertawa, ternyata benar, sekarab Maleo punya hobi baru, "Burung apa yang Papa pelihara?" "Love bird." Thomas menjawab, pria itu sekarang duduk disamping Alia, masih sibuk dengan kuenya "Ngomong-ngomong, kemana suami kamu Al?" "Lembur, udah beberapa hari." Alia berdiri, memotong beberapa kue bolu buatannya lalu meletakanya dia atas piring "Al mau kasih papa." Rumah Alia adalah rumah bernuansa modern, dengan sedikit sentuhan gaya eropa, ada banyak pilar dan lampu kristal terpasang, ada air mancur buatan di taman depan, dan di taman belakang ada rumah kaca tempat sang mama menanam berbagai macam bunga. Ada bunga mawar putih dan merah, ada bunga tulip dan Daisy, dan beberapa bunga yang tidak Alia ketahui. "Pa," Alia mendudukan diri di kursi kayu, berhadapan pada Maleo yang tengah sibuk bermain dengan burungnya, sekarang rumah kaca milik Sarah tidak hanya diisi bunga, tapi juga satu burung love bird kesayangan Maleo. "Hai, kapan sampai?" Maleo melirik kebalakang "Rafa mana?" "Lembur, sibuk di kantor." Maleo tersenyum, Maleo berjalan ke arah tempat cuci tangan, menyabuni tangannya kemudian menghampiri Alia. "Kasihan, kesepian?" Maleo duduk disamping Alia, melirik kue bolu yang masih menguatkan aroma khas pandan "Buatan kamu?" Alia mengangguk semangat "Enak gak Pa?" Maleo mengangguk semangat "Siapa yang ajarin, perasaan Mama kamu nyentuh dapur aja gak pernah." Alia tertawa "Diajarin google." Keduanya tertawa, memang Sarah jarang menyentuh dapur, Maleo sendiri yang melarang, lebih baik menyewa pembantu rumah tangga daripada membiarkan Sarah menyentuh dapur. "Are you happy?" Alia menunduk, "Of course." Alia berpura-pura, ia tidak sebahagia itu ternyata, ia masih mengira, saat Rafa memintanya memulai dari awal, Alia akan bahagia. Alia salah besar, tidak semudah itu bahagia bersama Rafa. Cinta sendiri tidak cukup. Mereka masih sama-sama tertutup. Maleo menepuk tangan Alia "Dad know your not. " Alia mendongak, menyandarkan kepalanya di bahu Maleo. Tanpa sadar, bahu Maleo membuat Alia makin terhenyak, dia bersuami sekarang tapi Rafa tidak pernah menawarkan bahunya untuk Alia. "Al gak tau Pa." Alia menangis, sesak sekali rasanya, Maleo merengkuh Alia dalam pelukannya. "Kamu bilang kamu cinta dia Al. Apa yang membuat kamu tidak bahagia?" Alia mengusap air matanya, "I love him alone, Pa." Maleo mengusap bahu Alia, tidak tahu ternyata Alia menyimpan semua sendiri selama ini, jika Maleo masih menganggap Alia lemah. Maleo akan menghajar Rafa sekarang, tapi Maleo tau Alia lebih kuat dari yang Maleo duga. "Buat dia cinta sama kamu Al," Maleo menepuk bahu Alia "Papa gak serahin anak Papa cuma untuk disakiti." "Mana, katanya Alia mau datang?" Maryam sibuk celingukan sedari tadi. Mencari keberadaan Alia. "Sabar dong Mi, macet dijalan kayaknya." Balas gadis berhijab coklat yang juga sibuk celingukan di pintu. Silau cahaya mobil membuat keduanya diam, "Itu Alia deh Mi, Iya Mi Alia!" Rara berseru semangat. "Assalamualaikum Ummi, Rara." Alia memeluk Rara kencang, rindu sekali rasanya. "Rarakuu." Alia mengeluarkan nada lebay nya. Mengingatkan mereka pada saat kuliah dulu. "Alkuu!" Rara membalas tak kalah lebay. Ustad Hanan dan Maryam tertawa. Sudah bukan hal baru melihat dua wanita yang sudah dewasa ini berlaku kekanakan jika bertemu. "Ingat umur." Tegur ustad Hanan membaut keduanya tersenyum malu. "Ih Abi, orang kangen juga." Keluh Rara. "Rafa mana Al, beneran gak datang?" "Iya Bi, memang lagi sibuk sejak kemarin." "Cieee Alia udah nikah, sama doi lagi." Alia tertawa, urusan goda menggoda Rara tak perlu di ragukan, gadis itu jagonya. "Yaiya, emang kamu jomblo." Balas Maryam. "Ummi nih,"Keluh Rara karena tidak dibela. "Assalamualaikum." "Kak Adam," Alia mencicit, melihat laki-laki berperawakan tegap dengan kulit putih dan bibir merah itu berjalan ke arah mereka. Muhammad Adam. Dokter psikologi, kakak kandung Rara, sahabat Thomas, sekaligus dokter psikologi Alia beberapa tahun silam. Orang yang tau, masa kelam Alia. "Waalaikumsalam kak Adam," Rara menyalimi Adam, kemudian Adam menyalimi kedua orang tuanya. "Alia?" "Iya Alia. Al masih ingat kak Adam gak?" "Masih kok." "Sudah sini makan dulu, baru ngobrol lagi." Ustad Hanan duduk terlebih dahulu di meja makan. "Laper ya Bi?" Ejek Rara. "Menurut Rara?" Balas Ustad Hanan. "Kelaperan." Ejek Rara lagi. Alia tertawa melihat wajah masam Ustad Hanan, yang tidak pernah menang melawan celotehan Rara. Ada banyak sekali makanan khas Aceh yang terhidang diatas meja. Alia hanya memakan beberapa. "Kamu mau bawain Rafa makanan gak Al? Ummi masak banyak, biar Rafa cicip masakan Ummi." "Wahh boleh Ummi, masakan Ummi kan enak banget." Puji Alia. "Bisa aja kamu, bentar ya Ummi bungkusin." Maryam berlalu ke dapur, meninggalkan Rara dan Alia yang sedang datang bulan di ruang tamu, sementara Adam dan Ustad Hanan tengah melaksanakan sholat isya. "Gimana, coba cerita gimana rasanya nikah sama kak Rafa?" Tanya Rara antusias. "Secara kamu cinta mati sama kak Rafa." Alia mengangkat bahu "Kepo." Rara melotot marah "Ihhh, aku udah nahan dari tadi ya nanya ini." Alia tertawa "Rasanya gak nyangka, tapi kami masih sama-sama tertutup Ra, bahkan dia belum melihat wajahku." "Apa!" "Shhh!" Alia berdecak "Kebiasaan." "Maaf, maaf habisnya aku gak nyangka sampai segitunya." Alia tersenyum" Dia baik sih, tapi ya ada banyak yang aku belum tau soal dia." "Alia, ini makanan buat Rafa, salaimin ya sama suami kamu." Alia berdiri, meraih makanan yang sudah di masukan kedalam tuperware kemudian dibungkus plastik. "Makasih ya Ummi, Mas Rafa pasti suka. Kayaknya Al juga harus pulang deh Ummi. Mas Rafa pasti udah pulang sekarang." "Iya udah, lain kali ajak kesini ya. Hati-hati di jalan." "Iya ummi, Assalamualaikum." Alia memarkirkan mobilnya di garasi, Rafa belum pulang ternyata. Terbukti, lampu rumah belum dinyalakan dan mobil Rafa juga belum ada. Alia melirik ponselnya, memilih menghubungi Rafa. "Assalamualaikum Mas, kamu belum pulang?" "Waalaikumsalam, saya tidak pulang malam ini." Mengesampingkan rasa berdenyut di d**a, Alia tersenyum. "Mas sudah makan." "Sudah, saya sibuk. Kalau begitu aaya tutup. Assalamualaikum." "Waalaikumsalam." Alia menatap ponselnya lesu, tidak mungkin Rafa sesibuk itu, kalaupun iya, biasanya Rafa akan membawa pekerjaannya pulang. Tapi kenapa? Ada apa? Rafa menatap lamat ponselnya, pukul sebelas malam, Rafa tidak sesibuk itu, dia bisa saja pulang. Tapi dia tidak bisa. Dia tidak bisa melihat Alia. Memikirkan siapa yang ada dibalik cadar itu. Rafa frustasi, dia tidak tau siapa yang ia nikahi. Rafa memilih melepas sepatunya, melepas kemejanya yang sudah sangat kusut, menyisakan kaos berwarna putih tipis. Malam ini, Rafa memilih tidur di kantor. Daripada berhadapan dengan Alia yang semakin asing dimatanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN