Reuni (Bagian 2)

376 Kata
Dear my lovely readers, author baru sadar kalian belum nambahin HIDDEN ke library kalian. Hiks. Tambahin skuy Ayo komen di semua line yang menarik, biar author makin semangat updatenya yah .... Oh iya, jangan lupa follow ig author devi_aziana Oke deh, selamat membaca❤ _HIDDEN_ Sejujurnya, acara reuni ini tidak terlalu penting bagi Rafa, alasannya, tidak ada orang spesial yang harus Rafa temui, teman-temannya semasa SMA dulu, kebanyakan tidak datang, beberapa diluar negeri, sisanya hanya ada kabar dari Zikry, Fathan, dan Juan. Zikry sih memang sejak lulus selalu berkabar dengan Rafa, malah Zikry sekarang bekerja dibawah naungan perusahan Rafa, perusahaan yang cukup sukses. Fathan, cowok tinggi dengan kulit tan, dan selalu maskulin itu sekarang bekerja sebagai photografer, membangun studio kecil-kecilan yang sesuai dengan hobinya dulu. Sahabat karib Rafa yang dulu tergabung kedalam klub photography, digandrungi kaum hawa karena suka tebar pesona. Nampaknya sekarang masih belum taubat karena sekarangpun Fathan sibuk mengedipkan mata pada kaum hawa. "Gak berubah nih playboy satu." Juan menggeleng prihatin. "Kalau ganteng itu, harus dimanfaatin Pak." Fathan mengedipkan mata, bangga menyampaikan petuah yang sangat bermanfaat. Menurutnya. Juan menggeleng, "Kapan nikahnya Than, kalau begitu mulu." Juan, sosok suami yang lagi bucin sama istrinya, Ayunda, cewek asal Jawa Barat,yang cukup ayu. Perangai lemah lembut dan pelan dalam berucap, nampaknya sudah berhasil meluluh lantakan hati seorang Juan, cowok yang semasa sekolah dulu dikenal terlalu ramah, sampai banyak perempuan kebingungan karena sikapnya itu. Biar Rafa jelaskan dimana para istri berkumpul, mereka telah dihadapkan pada satu game, dimana para wanita dikumpulkan di meja panjang dan saling berhadapan, dibiarkan saling berkenalan, dan saling bernostalgia. Begitupun dengan laki-laki, beberapa masih menjomblo, termasuk Fathan. Sisanya kebanyakan sudah menikah. Rafa sesekali melirik Alia, posisinya meja panjang dengan kain putih polos, dijejerkan kursi saling berhadapan, Rafa duduk disamping Zikry, didepannya ada Fathan dan Juan yang duduk bersebalahan, Alia duduk bersama Tania disampingnya, ada Ayunda didepan mereka, sisanya hanya alumni yang tidak terlalu Rafa ingat. Bukannya Rafa kurang bergaul, hanya saja, Rafa mengingat yang terpenting saja. Nampaknya Alia tidak terlalu sulit berbaur karena ada Tania dan Ayunda yang menemani, jadi Rafa sedikit bernafas lega. "Maaf, pria disana, itu Rafa Fauzan Kamil kan?" Alia mengernyit menatap gadis dengan jilbab berwarna pink, mata hazel, nampak super anggun dimata Alia, ditambah wajah ayu yang menenangkan. Sungguh memikat. Alia menoleh, mendapati Rafa yang mengobrol bersama sahabat-sahabatnya, lalu kembali menatap perempuan dihadapannya "Iya, dia Rafa Fauzan Kamil," Alia menjawab, menemukan gurat rindu dan senyum tertahan dari si perempuan, entah mengapa membuat Alia sedikit tidak suka. Apalagi si perempuan sibuk menatap Rafa. Sepertinya Ayunda dan Tania sibuk mengobrol hingga meninggalkan Alia dalam kebingungan menghadapi si perempuan berjilbab pink. "Selamat malam semua, acara reuni malam ini kelihatannya seru sekali ya, pasti kelian sibuk bernostalgia. Tapi, karena acara ngobrol-ngobrol kita sudah selesai, kini saya persilahkan kalian semua untuk beralih ke acara selanjutnya, yaitu berdansa." Sorakan terdenger riuh, mungkin paling setuju dengan acara dansa ini. Alia segera pamit pada Ayunda dan Tania, mencari keberadaan Rafa. "Mau berdansa?" Rafa menyodorkan tangannya ketika Alia masih sibuk mencari, melihat ke segala arah. Alia tersenyum "Ya." Secepat itu, Rafa menarik Alia ke tengah kerumunan yang sedang berdansa, alunan lagu klasik terdengar, ini adalah jenis reuni yang diadakan di tempat terbuka, mirip garden party, dengan kursi dan meja dihias secantik mungkin lalu ditata rapi, ada meja penuh makanan dan minuman di ujung, panggung sedang didepan mereka. Meja panjang tadi sudah disingkirkan secepat kilat. Alia tersenyum ketika mereka berpegangan dengan canggung, mereka sudah menikah, tapi Rafa tak pernah memegang bagian lain dari tubuh Alia selain tangan. Dan itu saja, sudah berhasil membuat keduanya kelimpungan sendiri. "Kamu suka acaranya?" Alia mengangguk"Lumayan seru." Rafa tersenyum "Tidak terlalu banyak teman-temanku yang datang." Rafa mendengus melihat Fathan sudah menggandeng perempuan dengan dress merah ketengah area dansa. "Dasar Fathan," Rafa terkekeh. "Dari tadi dia godain cewek." Alia mengikuti arah pandang Rafa, menemukan Fathan dan sigadis gaun merah disana. "Memang begitu, mas gak mau munafik, mas gak hidup di circle orang yang isinya orang bener semua." Rafa menarik pinggan Alia makin dekat, tak merasa secanggung tadi kalau mengingat Alia itu istrinya. "Dulu aku juga pernah nakal kok," Rafa tersenyum, "Pernah ngelakuin kenakalan remaja diam-diam. Kamu tahu Al, waktu Abi masih hidu, beliau pernah hampir mukul aku karena kathuan mau ikut-ikutan tawuran, udah gitu kadang merokok diam-diam di warung belakang sekolah." "Iya? Beneran?" Alia tidak pernah tau Rafa yang dia puja sempat semelenceng itu, mengingat Rafa sering ke mushola sekolah, beribadah disana, sering mergokin Rafa nolongin orang, bahkan Rafa terkenal sangat sopan kesemua orang. "Iya, sampai abi meninggal, aku benar-benar berubah." Ah, Alia mengangguk,kini menyadari meski ia sebegitu seringnya memperhatikan Rafa, tetap saja, ada banyak hal yang Alia tidak tau tentang Rafa. "Mas sedikit haus, kamu mau minum?" Alia mengangguk, melepaskan tangannya dari pundak Rafa, membiarkan Rafa mengambil minuman, Alia memilih duduk, melihat Rafa dari tempatnya, Rafa mengambil dua gelas jus jeruk, berniat kembali sebelum ada perempuan yang Alia panggil perempuan jilbab pink yang tadi menanyakan tentang Rafa. Jantung Alia bertalu-talu, perasaan aneh yang tiba-tiba menyeruak. Ini sangat tidak nyaman, rasanya Alia tidak suka melihat keduanya berdiri berhadapan, pandangan perempuan itu pada Rafa mengganggunya. Apalagi ketika mulut perempuan itu terbuka entah mengucapkan apa, Alia menangkap gestur tubuh Rafa yang menegang, raut wajahnya menegang, menatap lamat perempuan itu. Alia berdiri, berjalan kearah mereka, namun Rafa segera berbalik, menarik Alia menjauh dari si perempuan, seolah tak mau Alia tau apapun, "Raf, sini!" Juan menepuk kursi kosong disebelahnya, Rafa manut. Memilih duduk disamping Juan. "Nih kenalin ini Rafa, anaknya Abi Hamid, dulu mah kita kalau kerumah Rafa diomelin mulu sama Abisnya." Ucapan Fathan mengundang gelak tawa. Rafa berusaha merileks kan tubuhnya, Alia masih mencoba menebak apa yang terjadi antara si perempuan jilbab pink dan Rafa. "Kalau sholat isya di rumah si Rafa, gabisa gak dengerin ceramahnya Abi Hamid, haram hukumnya!" Tambah Fathan. Rafa terkekeh, mengingat masa itu. "Kalian tadi mau kemana? Mau pulang?" Ayunda melirik Alia, tadi Ayunda melihat Rafa menarik tangan Alia, Ayunda kira mereka akan pulang. "Iya, bentar lagi balik." Jawab Rafa. "Dih, cepet banget!" Keluh Zikry. "Udah malem," "Ya tau Raf, yang bilang pagi siapa." Kesal Juan. "Emang Alia udah capek?" Tania bertanya. "Lumayan." Alia nyengir. "Yahh, udah lama nih gak ketemu, cepet banget pada baliknya." Juan melebih-lebihkan. "Kalian yang sok sibuk, kan bisa nanti ketemu kapan-kapan. Yang penting kalau diajak ketemu jangan sok sibuk." Ujar Zikry sok judes. "Udah tenang, nanti ngumpul pas acara nikahan Fathan." Juan tertawa lebar, raut wajah Fathan berubah masam membahas pernikahan. Bukan rahasia umum, Fathan orang yang tidak terlalu memikirkan pernikahan. "Cariin aja calonnya." Ketua Fathan. "Mau yang kayak gimana coba Than, coba sebutkan?" Juan mengintrogasi. Fathan duduk tegak, nampak semangat "Pokoknya yang nurut, sopan, terus menerima apaadanya." Ada nada serius terselip disana. "Yang kayak siapa contohnya?" Juan makin serius. Fathan melirik Alia "Yang kayak Alia tuh, nurut banget sama Rafa." Rafa mendelik "Cari sendiri!" Jawaban ketus Rafa mengundang gelak tawa. "Galak! Cuma nyontohin!" Balas Fathan geli. Rafa melirik jam tangannya, pukul sepuluh malam, "Saya balik dulu ya, besok ada rapat." "Yaah, yaudah deh, sibuk pak bos!" Juan menepuk bahu Rafa. Rafa berdiri diikuti Alia. Mereka keluar dari area pesta reuni setelah mengucap salam perpisahan pada para sahabatnya. Sejujurnya Alia ingin sekali menghampiri sahabat-sahabatnya tadi, tapi kalau begitu, Rafa akan tau, kalau Alia dari sekolah yang sama dengannya, ada dorongan dari mana Alia tidak ingin Rafa mengetahui itu. Didalam mobil, Rafa hanya diam, entah terlalu lelah, atau ingin fokua menyetir. Alia tidak menemukan jawaban yang tepat, biasanya Rafa akan bertanya sepatah dua patah kata ketika mereka didalam mobil. Kali ini Rafa bahkan tidak melakukannya. Ketika sampai dirumah, Rafa segera keluar dari mobil, meninggalkan Alia dalam kebingungan, "Alia." Rafa berdiri ditengah ruang tamu, nampak ngos-ngosan? Atau panik? "Ya?" "Bisa beri saya waktu 30 menit dikamar sendiri." Rafa menatap Alia serius, Alia hanya mengangguk "Kamu bisa istirahat di ruang tamu sebentar." Setelah mengatakan itu, Rafa berlari menaiki tangga, membanting pintu dengan cukup keras sampai Alia terlonjak. Sebenarnya ada apa dengan Rafa? Didalam kamar, Rafa duduk merosot, kepalanya pusing sekali, dia memegang buku Diary milik Amira. Kamu selalu memimpikan gadis bernama Ale, hanya itu. Lalu aku menemukan perempuan itu yang ternyata sahabat masa kecilku. Aleah. Dia sekolah ditempat yang sama denganmu. Rafa membalik lembar selanjutnya. Aleah, dia sering menceritakan tentangmu, melalui e-mail. Meski dia sudah pindah rumah, tapi kami masih berhubungan. Dipernikahan kita, aku tidak tau kamu sudah mencintaiku atau belum, karena kamu hanya menikah denganku atas perintah Abimu. Maka, aku mengambil keputusan untuk menikahkan suamiku sendiri dengan sahabatku, karena kalian saling mencintai. Ini adalah satu alasana, kenapa Rafa mencoba mencintai Alia, namun ketika Rafa sadar Alia bukan Aleandra si cinta pertama, Rafa kehilangan alasan itu. Meski sekarang Rafa tau, Alia mencintainya seorang diri, bahkan sejak lama. Rafa, membiarkan Alia tidak mengaku asal sekolahnya, bagi Rafa itu tak penting. Rafa meremas kertas itu kasar. Amira salah paham. Bukan Ale yang sekarang menikah dengannya yang Rafa maksud. Tapi Aleandra. Gadis berjilbab pink yang baru saja Rafa temui, yang sudah lama Rafa cari. Amira salah menjodohkannya dengan orang lain. Bukan Aleah, tapi Aleandra. Takdir macam apa yang Rafa alami sebenarnya?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN