Reuni (Bagian 1)

398 Kata
Haiiiii author kembali menyapa! Udah lama nih gak update. Ada yang kngen Rafa? Alia? Atau kangen author nih? Ga deh becanda nanti kalian muntah2 wkwk. Abis namatin cerita sebelah, aku udah bisa update lagi nih. Bdw, happy 1k pembaca buat Hidden! Im glad to know that, makasih loh ya yang mau baca, udah gitu vote, ditambah komen lagi, beuhh kurang mulia apalagi klian. Buat yang siders semoga dimuliakan ya wkwk. Jangan lupa vote, terus komen ampe penuh kalau bisa nembus 1k kalau bisa. Amin dulu deh wkwk. Oh ya jangan lupa follow IG author devi_aziana yaa❤ _HIDDEN_ Merenung beberapa kali, mungkin sedikit frustasi sih rasanya. Coba deh bayangkan, menghabiskan hampir setengah hidup untuk menuntut ilmu, dan ketika merasa sudah cukup mampu membagi ilmu yang sudah di timba, kenyataan pahit menampar telak. Salah sih tidak, tapi pandangan yang tidak bisa diubah yang membuat serba salah. Sejujurnya, Alia kesal, dia tidak diterima di rumah sakit manapun. Sempat berfikir untuk melepas cadar, Alia fikir lagi, apa secetek ini iman Alia? Mementingkan dunia daripada akhirat, meski niqab tidak di wajibkan, tapi tetap saja. Alia melalui banyak hal hingga sampai pada tahap ini, memulai dari garis start lagi kalau Alia lepas cadarnya. Rafa bilang Alia tidak perlu bekerja, tidak perlu cari uang, ini bukan soal uang buat Alia. Seorang Rafa pun sudah jelas tidak kesulitan soal finansial. Itu jelas. Dia mapan. Alia menutup pintu oven, mengatur timer , Alia menutup laman website, beberapa menit lalu tengah mengerjakan bolu pandan, melihat resep dari internet, karena Alia tidak punya banyak pekerjaan, jadilah Alia menyibukkan diri di dapur, mencoba menu baru berbekal internet. Mas Rafa Aku bentar lagi pulang. Alia menarik senyum merekah, membaca pesan dari Rafa, singkat, tapi manis menurut Alia, Rafa selalu mengabari kapan ia pulang, menanyakan kegiatan Alia, apa perlu sesuatu atau tidak. Memperhatikan detail kecil. Alia jadi ingat, kegiatan bulan madu mereka di pulau Lombok yang sudah dua hari berlalu, tapi, sungguh itu adalah liburan termanis yang pernah Alia rasakan. Sejak itu pula, mereka benar-benar memulai semua dari awal, selayaknya pasangan suami istri sepenuhnya, walau, Alia belum boleh membuka cadarnya dihadapan Rafa, atau mereka hanya melakukan perhatian kecil-kecil yang mungkin terlihat amat biasa, itu kemajuan menurut mereka. Setidaknya, mereka mencoba bersama. Suara pintu diketuk, itu pasti Rafa, pria itu mengucap salam, Alia segera menyalimi tangan Rafa, meraih tas kerja Rafa, melangkah mengikuti Rafa dari belakang "Mas mau makan dulu apa mandi?" Rafa menghempaskan tubuhnya di sofa, nampak kelelahan, terlalu banyak jadwal hari ini "Capek ya mas?" Rafa menoleh, dia melupakan keberadaan Alia sejenak, "Maaf, kamu bilang apa?" Alia tersenyum maklum "Mas Rafa mandi dulu gih, terus makan." Rafa mengangguk setelahnya bagai orang linglung, indra penciumannya menangkap aroma pandan "Kamu masak kue?" "Kue bolu, bentar lagi mateng, aku baru belajar, liat di internet doang sih." Jelas Alia semangat. "Yaudah mas mandi dulu terus cicipin bolu buatan kamu ya." "Iya mas." Rafa beranjak ke kamarnya setelah mendengar jawaban Alia. Alia mengeluarkan bolu yang sudah matang di oven, mendinginkannya sebentar, cukup bangga karena hasilnya cukup memuaskan, Alia berniat menaburkannya parutan keju, namun urung mengingat belum tentu Rafa suka keju, kalau Alia sih benar-benar suka keju, Alia melirik ke arah tangga, Rafa menghabiskan waktu yang cukup lama ternyata. Akhirnya Alia memilih membereskan dapur dan mencuci piring selagi menunggu Rafa, entah penciuman Alia yang memang terlalu bagus atau aroma sabun yang dipakai Rafa yang memabukan yang jelas sekarang Alia mencium aroma menyegarkan yang ia tandai sebagai aroma Rafa. Alia menoleh kebelakang, menemukan Rafa yang duduk di balik meja pantry, menatap bolu pandan buatan Alia. "Mas suka keju nggak?" "Suka." "Tadi Al mau kasih keju tapi takut mas ga suka." Rafa tersenyum"Mas suka semua jenis makanan Al. Asal enggak ada racunnya." Alia tergelak"Mana mungkin Alia racunin mas Rafa coba." Keadaan Rafa jauh lebih baik ternyata setelah mandi, terbukti Rafa sudah menjadi sosok hangat kembali, ketimbang tadi yang memasang wajah siap menghantam orang. "Oh ya Al, tas kerjaku mana?" "Ada di sofa. Mau Al ambilkan." Alia melepaskan sarung tangan karetnya, meletakaanya ditempat semula. "Tidak, lanjutkan saja kerjaannya, mas bisa ambil sendiri." Alia mengangguk, Rafa berjalan kerah sofs menemukan tas kerjanya disana, mengambil sebuah undangan reuni, dia melirik Alia yang tengah memarut keju diatas bolunya, kemudian memotongnya rapi, meletakannya di piring untuk Rafa cicipi. "Nih mas, cobain." Alia menyerahkan sendok untuk Rafa. Dengan takut Alia melihat ekspresi Rafa, takut Rafa berkomentar tidak enak, syukurnya Rafa tersenyum setelah menelan satu suap kue bolu buatan Alia "Enak kok," Alia tersenyum lebar, membuat garis senyumnya sampai ke mata dan dilihat jelas oleh Rafa. "Tapi kemanisan Al." Rafa terkekeh melihat guratan senyum dimata Alia turun, entah kenapa Rafa bisa membayangkan Alia sedang cemberut dengan bibir yang maju beberapa senti,padahal melihat wajah Alia saja belum. "Apa nanti gulanya kurangin ya." Gumam Alia. "Iya, kan kamu masih belajar. Wajar kalau ada kurangnya." Rafa kembali memasukan sepotong kue kedalam mulutnya, tersenyum kearah Alia agar istrinya tidak kecewa. Alia mengangguk, dia ikut mencicipi bolu buatannya yang memang kemanisan, Alia mangut-mangut mulai memperhitungkan kembali takaran gulanya. "Oh ya, aku dapet undangan reuni dari Sma aku Al. Kamu ikut ya nanti." "SMA Bakti Husada." Alia ingin memukul mulutnya sendiri sekarang, ia juga mendapatkan undangan reuni itu, tapi Alia tidak mau datang karena tidak mau menjelaskan kalau dia berasal dari SMA yang sama dengan Rafa. Melirik wajah Rafa yang terkejut, Alia berdecak dalam hati "Kok kamu tau?" "Nggg, nebak aja Mas." Rafa tidak langsung percaya, namun mungkin saja Fatma yang memberitahu Alia mengingat kedua perempuan itu cukup sering berbincang baik langsung maupun melalui telefon. "Acara tinggal dua hari lagi, mereka gak pakai dress code kok, katanya kekanakan, cuma kumpul biasa, makan-makan, game, udah gitu aja. Kamu mau nemenin mas kan?" Alia mengangguk, lagipula Alia kan memakai cadar, siapa juga yang akan mengenali Aleah atau yang sering di panggil Ale itu, gadia barbar yang dulu berantem sama kakak kelas yang suka membully adik kelas, suka nantangin anak cowok main basket, suka sekali manjat tembok belakang sekolah karena telat. Alia terkekeh. Tidak akan ada yang menyadarinya kan, lagian Rafa mengenalnya sebagai Alia, bukan Aleah. "Jadi, lo mau reuni sama husband lo?" Hana mengunyah burgernya, melahapnya bak orang yang sudah lima hari tidak makan, Alia iri pada Hana, cewek itu punya karir kedokteran yang Alia impikan. "Iya, gitu deh." Hana bukan dari SMA yang sama seperti Rara dan Alia, Hana adalah rekan Alia ketika berkuliah dulu. Lihatkan lulus kuliah Hana sudah dapat pekerjaan. "Gue bingung, kalian tinggal serumah berbulan-bulan. Tapi si Rafa itu bahkan enggak tau muka lo." Hana meminum colanya hingga tersisa setengah, setelah menghabiskan satu burger big size kemudian memanggil pelayan lagi untuk memesan kentang goreng dan paha ayam. Astaga Hana. "Duh Han, kan aku udah bilang cadarnya dibuka kalau dia udah cinta sama aku." Suara Alia mencicit diakhir, malu mengakuinya. Hana berdecak "Kapan coba, lo sama dia tidur dibatasi guling, kayak suami istri sering perang terus bakal mau cerai, dia terlalu baik kan, sampai lo gak tau dia nganggep lo apa? Coba fikir, kalau gitu terus apa bener lo akan lepas cadar lo didepan dia." Hana menarik nafas kesal "Kalau iya, pas umur lo kapan, pas lo jadi nenek-nenek keriputan. Dih." Alia tidak tersinggung sama sekali dengan Hana, dia memang sudah tau watak Hana seperti itu, tapi terlepas dari sikapnya Alia sangat percaya pada Hana setelah Rara, dia bisa menjaga rahasia sahabat-sahabatanya. "Jahat banget sih Han." Alia mengerucutkan bibirnya. "Gue kesel sih, rumit tau gak!" Pelayang menghantar pesanan Hana, cewek dengan rambut diikat kuncir kuda itu kembali melahap paha ayamnya, "Kolestrol tau rasa." Alia menatap ngeri pada Hana, meski Hana dokter, selera akan makanan cepat saji Hana tidak bisa dikurangi. "Gue tau kenapa banyak orang masuk rumah sakit, makanan kayak gini nih, buat dosa." Hana tertawa diikuti Alia, cukup membenarkan ucapan Hana yang kelewat benar. "Hp bunyi tuh," Hana menunjuk ponsel Alia yang bergetar diatas meja, menampilkan nama Rafa disana. Alia segara mengangkat panggilan itu, mengucap salam kemudian dibalas oleh Rafa "Iya Mas," "Kamu di mana?" Alia mengeryit, sepertinya Rafa sedang berada ditempat ramai "Lagi ditempat makan sama Hana." Jawab Alia jujur. "Mas kesana ya, jemput kamu. Temenin Mas belanja baju buat reuni, sekalian beliin baju buat kamu, share lokasi ya," "Oh, iya mas." "Yaudah, mas udah masuk mobil, terus kesana." Rafa mengucapkan salam kemudian dibalas oleh Alia, "Mas Rafa mau kesini," Pekik Alia. Hana mendelik" Heboh amat." "Gue mau liat suami lo kayak apa. Secara gue enggak diundang kemarin." Sindir Hana. Alia nyengir kuda "Ihh, kan kamu yang sok sibuk." Hana terkekeh"Gak ada, salah lo pokoknya."Gurau Hana. Hana meraih tisu basah didalam tasnya membersihkan tangannya, kemudian menghabiskan satu botol kecil air mineral. "Kenyang?" Sindir Alia. Hana menaikan sebelah alisnya"Oh, lo jangan remehin perut gue Al, bentar lagi juga minta diisi." "Serem." Alia bergidik, selera makan Hana cukup menyeramkan, bisa menghabiskan banyak sekali makanan dalam sehari, anehnya Hana seolah diberkati dengan tubuh langsing dan semampainya. Entah kemana semua makanan itu pergi. Alia menatapa kearah pintu masuk ketika melihat sosok tinggi dengan wajah tampannya memasuki tempat makan itu, membiarkan beberapa orang menarik nafas karenanya. Hana mengikuti arah pandang Alia, lalu memekik "Gila, gue gak nyangka suami lo se hot itu." Pekik Hana pelan didepan Alia. "Itu punya Alia tau." Hana terkekeh. "Alia," Rafa berdiri dihadapan Alia. "Kok cepet banget mas?" "Iya, jaraknya lumayan deket." Balas Rafa. Menangkap pelototan dari Hana. Alia berdecak "Mas, ini Hana, temen Al kuliah." Hana mengulurkan tangannya, bermaksud berkenalan, tapi Rafa hanya tersenyum "Rafa Fauzan Kamil." ujarnya tanpa menerima jabatan tangan Alia. Hana menarik tangannya, mendengus pelan, merutuk pada Alia. "Hana, aku pergi dulu ya. Sampai ketemu lagi." Alia memeluk Hana yang nampak cemberut "Udah dibilang punya Alia." Hana makin memberennggut ketika Alia berbisik padanya. "Dasar bucin!" Hana berdecak, sebal setelah kedua pasangan itu pergi. Kini, Alia dan Rafa tengah berada di pusat perbelanjaan terbesar di Jakarta, Rafa menggenggam tangan Alia menyusuri pusat perbelanjaan itu. "Mas rencana mau beli apa?" "Pakaian formal, kata Zikry temanya begitu." "Pakai jas mau?" Alia mengambil satu stel jas formal berwarna silver untuk Rafa, menempelkannya di badan tegap Rafa, sangat tampan. "Cocok mas," Alia mencari kemeja putih untuk dipadukan dengan jas milik Rafa, akan sangat tampan jika Rafa memakainya, fikir Alia "Mas Rafa mah, dipakaian apa aja tetep ganteng." Ucap Alia pelan. "Masa?" Rafa tersneyum menggoda dibelakang Alia, jarak yang sangat dekat. Alia hanya diam menatap kearah lain karena malu. "Kayaknya warna baby blue bagus deh buat kamu Al," Rafa menunjuk setelan ghamis lengkap dengan khimar dan cadar, ada taburan aksesoris kecil berkilau dibagian lengan dan ujung gaun. "Boleh mas?" "Iya, mas suka warnanya, cocok kalau kamu pakai." Akhirnya Alia dan Rafa mengambil baju pilihan mereka, setelah selesai membayar, tiba-tiba Rafa mengajak Alia untuk menonton film. Mereka memilih film romantis, yang mengisahkan pernikahan atas dasar perjodohan. Aneh sekali, sedikit familiar dengan kisah mereka. Anehnya, rencana mereka yang awalnya hanya berniat membeli baju, malah beralih keacara kencan mendadak, bergandengan tangan di area mall, nonton film di bioskop, makan malam romantis, lalu pulang dengan tawa bahagia. Sesederhana itu. Ayooo tebak, direuni bakal ada apa, sampai sini kalian udah bisa nebak apa nih???
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN