Kabar gembira untuk kita semua, kulit manggis kini ada ekstraknya, apasiii iklan sia nyangkut di otak. Maaf maaf.
Kabar baru, aku nemuin cast buat Alia kita, sesuai penggambaran aku, Alia itu lebih muda dari Rafa, half Indo-Inggris, jadi rada bule ya, matanya coklat kaya Rafa, terus rambut Alia juga coklat.
Ini Mba Alia kita, kalau jaman barbar, ingat ya Alia pernah barbar pas SMA. Kenalin Mawar Eva De Jongh
Image
Image
Alhamdulillah Alia dapet hidayah.
"Panas." Tanpa sadar Alia berucap, hingga bisa didengar Rafa. Memang cukup panas hari ini, mereka sedang berjalan-jalan, menunggu sore, tapi mereka terlalu cepat keluar, Rafa menatap Alia kasihan, pastinya panas Rafa saja kepanasan apalagi Alia yang menutup auratnya dengan cadar.
Rafa meraih tangan Alia, meminta gadis itu duduk di penjual es kelapa, ada payung untuk berteduh disana, tapi Alia gelagapan ketika Rafa meninggalkannya tanpa sepatah kata, apa-apaan Rafa, menitipkan istrinya sendiri pada penjual es kelapa.
Pria itu masuk kedalam toko di pinggir jalan yang tadi mereka lewati, menemukan sebuah topi pantai, mini fan berwarna pink, mengambil yang menurutnya cocok untuk Alia lalu membayarnya di kasir. Rafa sendiri tidak masalah dengan panas, dia sudah membawa kacamata.
Rafa menghampiri Alia, perempuan itu tengah duduk bagai anak hilang dengan matanya yang mengerjap nampak mencari Rafa, lucunya.
Rafa terekekeh "Mas, dua es kelapa ya."
"Oke mas." Penjual itu mengacungkan jempol mulai bekerja, Rafa segera menghampiri Alia, menyodorkan mini fan dan topi pantai berwarna coklat dan pita menghiasinya.
Alia mendongak, menatap bingung pada Rafa.
"Buat kamu." Alia menerimanya memakai topi pantai itu lalu menyalakan mini fan yang dibelikan Rafa, mini fan tanpa charger, Rafa tak mau Alia makin kepanasan nanti.
Alia melirik Rafa sekilas, menatap keringat dipelipis Rafa, ah pasti pria itu juga kepanasan, dengan gugup Alia mengarahkan minifan itu ke wajah Rafa, memberikan angin sejuk disana. Rafa menoleh, menatap Alia yang tidak sanggup menatapnya, Rafa terkekeh,gadis itu pasti gugup.
"Peka banget," Goda Rafa, Alia makin malu, wajahnya terasa lebih panas.
"Silahkan pengantin baru, maaf menunggu lama." Penjual es kelapa itu tersenyum geli.
"Loh, kok tau kita pengantin baru?" Rafa sengaja bertanya, melihat Alia sudah gugup seperti itu sekalian saja.
Seolah mendukung situasi dan mengerti mau Rafa, penjual es kelapa itu makin menjadi, tersenyum menggoda "Iya dong Mas, orang mesra begitu kok." Rafa terkekeh, "Makasi ya Mas."
Setelah penjual es kelapa itu kembali mengurus stannya, Rafa menyodorkan satu kelapa muda dengan dua sedotan itu ketengah "Satu berdua," Astaga, kalau begini sih Alia bisa benar-benar bisa membayangkan ini sebagai bulan madu.
"Mau barengan minumnya, biar lebih enak." Tanpa sadar Alia memukul lengan Rafa, nampak gemas dan kesal sendiri, Alia terkejut dengan tindakannya "Eh maaf mas, kelepasan." Kebiasaan Alia yang baru Rafa tau, gadis itu suka memukul bahu ketika sedang gemas.
"Gapapa, lebih banyak tunjukan diri kamu Al, aku suka." Rafa berencana mengenal Alia lebih dalam, meski terlihat dewasa Rafa bisa lihat kalau Alia itu sebenarnya manja, dan lugu, gampang sekali di goda. Ya, berhubung Alia anak paling kecil di keluarga Atmaja, Rafa tidak mau dibedakan, Jika Alia punya rumah pertama, Alia harus menganggap Rafa rumah keduanya.
"Rafa! Ngapain disini?" Baik Rafa maupun Alia menoleh, pria dengan kaos polo putih dan celana training yang tengah membonceng seorang wanita bergaun putih dibawah lutut dibelakangnya itu berhenti didepan Rafa dan Alia, sepertinya orang itu mengenal Rafa.
"Zikry!" Rafa berdiri, memukul bahu pria bernama Zikry itu pelan "Nari Zumba Zik." Zikry memukul bahu Rafa.
"Gak lucu Raf."
"Yakan, kamu liat saya ngapain." Zikry terkekeh.
"Oh ini alasan atasan kita ngambil cuti seminggu penuh. Bulan madu ya?" Perempuan yang berstatus istri Zikry itu melirik Rafa dan Alia gantian. Alia masih duduk ditempatnya tak tau harus apa.
Tau rasanya sekarang, Alia berhadapan dengan kakak kelasnya dulu, Zikry sahabat Rafa sejak SMA, dengan Tania, pacar sejak Zikry SMA. Mereka tidak banyak berubah, Zikry hanya terlihat lebih dewasa dan matang sementara Tania makin anggun, meski belum berhijab. Keadaan ini membuat Alia bingung, harus pura-pura tidak kenal atau sebaliknya.
Rafa menggenggam tangan Alia, menarik gadis itu berdiri disebelahnya "Kenalin ini Zikry dan istrinya Tania." Alia menundukan seidkit kepalanya pada Zikry, lalu melempar senyum pada Tania meski tak terlihat, namun Tania menyadarinya karena mata Alia menyipit membentuk bulan sabit.
"Mata aja udah cantik banget ya istri kamu Raf," Tania berdecak, sedikit terpaku pada mata Alia.
Zikry merangkul Tania "Eh Raf, mau double date?" Zikry bisa lihat kalau hubungan Rafa dan Alia nampak sedikit membaik, untuk menolong kelancaran hubungan keduanya, Zikry memilih untuk mengajak Rafa dan Alia menghabiskan waktu bersama, "Anggap aja sekarang kalian pacaran dan lagi kencan, kan mimpi kamu itu Raf, pacaran setelah menikah itu lebih enak-" Zikry nampak mendramatisir menirukan wajah serius Rafa.
Rafa meninju bahu Zikry "Oke, boleh."
Anggap saja pacaran- Oh ya, ini adalah hal paling menyenangkan yang bisa Alia rasakan, menganggap Rafa pacarnya, gila. Dulu, Alia selalu membayangkan itu.
Zikry dan Tania saling bergandengan tangan, mereka menelfon pihak penyewa sepeda untuk mengembalikan sepeda mereka, saat urusan sepeda sudah selesai, keempat orang itu menikmati berjalan di pinggir pantai, menikmati keramaian.
Alia dan Rafa tidak sempat menikmati pemandangan kemarin ,Alia seperti di suguhkan pemandangan surga dunia yang nyata. Kombinasi udara segar khas laut, pantai putih yang bersih, air laut yang jernih, dilengkapi dengan Rafa yang sekarang tidak pernah lepas menggandeng tangannya. Pulau ini tidak terlalu luas, jadi mereka bisa mengitarinya dengan berjalan kaki, meski lelah tentunya.
Zikry dan Tania terus mengumbar kemesraan, saling melempar lelucon dan tertawa, Alia tersenyum melihat pasangan populer itu masih awet hingga sekarang "Maaf ya, aku bukan pria humoris yang bisa buat kamu ketawa." Mata Rafa menyendu.
Alia memandang Rafa sejenak "Kapan Al minta mas buat bikin Al ketawa?"
"Oh ya aku punya lelucon." Alia menanti "Telor, telor apa yang sering manggung?" Alia mengernyit berfikir sebentar, sepertinya dia pernah mendengar lelucon garing ini, ah ya di i********:, Alia menggulum senyum, pura-pura tidak tahu "Enggak tau." Rafa tersenyum "Telor Swift." Rafa tertawa, Alia ikut tertawa, bukan, bukan karena lelucon Rafa lucu, itu karena Rafa ternyata punya selera humor yang anjlok parah. Alia jadi tertawa karena itu.
"Lihat deh, mereka udah enggak terlalu kaku kayak kanebo kering lagi." Tania tersenyum, Zikry menoleh kebelakang "Biarkan mereka punya waktu berdua nanti."
"Alia pernah ke Gili?" Zikry bertanya, cukup untuk beramah tamah, gadis itu menggeleng pertanda belum pernah, Tania mangut-mangut "Aku sama Zikry udah tiga kali kesini, yakin deh kalian bakal enjoy. Ngomong-ngomong kita ada urusan di penginapan, jadi kita harus balik duluan."
"Tapi tenang aja, Zikry udah ngirim daftar apa aja yang bisa kalian lakuin sama Rafa." Rafa segera mengecek ponselnya, benar saja Zikry sudah mengirim daftar kegiatan untuk Rafa dan Alia. Dengan note semoga sukses kencannya bro.
Rafa terkekeh, sahabatnya itu benar-benar.
"Ah gitu, semoga urusannya cepet selesai ya kak. Oh ya makasih udah nemenin Al sama Mas Rafa." Alia tersenyum, Tania memeluk Alia sebentar "Kapan-kapan kita ketemu lagi ya." Alia mengangguk.
Setelah Zikry dan Tania pergi, Rafa kembali berjalan bersama Alia, setelah melihat daftar kegiatan yang Zikry kirim Rafa berencana untuk mengajal Alia menuju tempat gelato.
"Kamu mau Gelato?" Alia tersenyum, Tanpa sadar mengangguk antusias, Gelato itu kesukaan Alia "Itu kesukaan Al Mas."
"Oh ya, bagus dong, Mas juga mau coba."
"Iya, dulu pas masih kuliah Al sama Rara suka nongkrong di kedai gelato milik Mr Smith sambil ngerjain tugas, karena keseringan kesana Mr Smith suka ngasih diskon." Alia tertawa kecil, kenangan yang cukup manis.
"Ah Rara, anaknya Ustad Hanan ya. Kamu akrab banget sama dia?"
"Iya, dari SMA." Rafa membukakan pintu kaca untuk Alia, masuk kedalam salah satu toko gelato.
"Mau rasa apa, biar mas pesenin?"
"Vanila." Ah, Alia sudah merindukan rasa vanila itu.
"Es krim kesukaan kamu pasti vanila?" Tebak Rafa, Alia terkekeh, mengangguk.
"Oke, tunggu yang manis disini. Suami kamu bakal balik secepatnya."
Apa, astaga kalimat barusan manis sekali, senyum Alia tidak pernah luntur. Bukankah ini permulaan yang bagus untuk memulai semua dari awal. Alia menatap jalan melalui kaca transparan, menyembunyikan senyumnya yang tak mau luntur.
Di Gili Trawangan, ada banyak jejeran penjual gelato yang bernama Gili Gelato. Harga per scoop-nya adalah Rp20,000. Selain gelato, juga ada crepes, French fries.
"Silahkan tuan putri." Rafa memberikan gelato milik Alia, "Makasih Mas."
"Mas pasti suka rasa coklat." Tebak Alia, Rafa tersenyum "Iya, dari dulu."
"Ngomong-ngomong. Rara enggak pernah ke pernikahan kita ya Al?"
"Iya Mas, dia lagi tugas di luar kota. Agak sibuk sih dia."
Rafa mangut-mangut, Rafa menatap Alia "Kamu kok belum makan gelatonya?"
Alia bingung harus mengatakannya atau tidak "Cadarnya susah."
Rafa tersenyum "Mas peganging cadar kamu biar bisa makan, ya."
"Makasi Mas."
Alia menghabiskan gelatonya dengan Rafa yang terus mengangkat sedikit cadar Alia agar tidak menghalangi gadis itu ketika makan, sementara Rafa dengan santai memakan gelatonya dengan tangan kanannya, karena tangan kirinya digunakan untuk memegang cadar Alia. Meski begitu Rafa nampak menikmatinya dan tidak mengeluh sedikitpun, mereka malah asik mengobrol dan Rafa dengan setia melempar lelucon garing yang terus membuat Alia tertawa.
Image
Mereka memilih diam sebentar di kedai gelato itu, Alia dan Rafa sudah menghabiskan gelato masing-masing
"Ah, sebentar Mas liat daftar dari Zikry dulu." Rafa mengeluarkan ponselnya. "Kamu mau berkuda?" Rafa melirik jam kemudan "Ini sudah jam lima sore, sepertinya pas untuk berkuda, satu jam gimana?"
Alia diam sebentar "Al enggak bisa naik kuda Mas."
"Satu kuda berdua, nanti kamu duduk didepan Mas, biar yang pegang kendalinya Mas aja."
"Emang Mas bisa berkuda?"
Rafa tersenyum bangga "Kuda doang, dulu sering kok, kamu mau keliling motor gede kebut-kebutan keliling Jakarta juga Mas jabanin."
Alia tertawa "Bohong banget, Mana ada mas Rafa naik moge, orang ke sekolah aja naik vespa." Alia bungkam.
Rafa mengernyit "Kamu tau?"
"Muka Mas kayak anak kalem yang suka naik vespa." Jawab Alia cepat, hal itu mengundang gelak tawa Rafa.
"Al, aku dulu cukup nakal." Rafa tersenyum "Yaudah, ayo siap-siap, tempatnya deket sini kok."
Tarif perjamnya kurang lebih Rp 250 ribu, Rafa dan Alia sepakat hanya akan menghabiskan satu jam untuk berkuda, setelahnya mereka harus menemukan tempat sholat, lalu melanjutkan kegiatan mereka.
"Gimana?" Alia benar-benar duduk di depan Rafa, nampak seperti dipeluk dari belakang, Alia menahan nafas sejenak, ini terlalu dekat.
"Indah mas." Rafa benar-benar bisa mengendarai kuda bahkan hampir ahli, meski mereka dijaga seseorang dari belakang, jaga-jaga kalau hal buruk terjadi. Pemandangan yang disuguhkan benar-benar menakjubkan, angin sepoi-sepoi, pemandangan matahari tenggelam dan langit berwarna jingga yang indah, benar-benar memanjakan mata, lebih-lebih semua ini dilakukan dengan Rafa.
"Kamu pertama naik kuda, ke Lombok dan menikamti senja sama aku. Mulai besok, kamu akan melakukan semua hal bersamaku Al."
Alia diam, dia ingin selamanya seperti ini. Meski belum ada cinta untuk Alia dihati Rafa. Sanggupkan Alia menunggu lagi.
Mereka menyelesaikan kegiatan berkuda tepat satu jam, lalu mencari tempat sholat terdekat untuk menunaikan ibadah sholat magrib.
Rafa tidak perduli lagi dengan kegiatan yang diberikan Zikry di Gili, itu cukup banyak, dan Rafa kira dia bisa melakukannya besok lagi, mereka berniat mengisa perut terlebih dahulu, menikmati beberapa hidangan mungkin mengenyangkan.
Mereka singgah disalah satu restoran, menyediakan makanan khas Lombok dan beberapa makanan western.
Alia memilih pasta sedangkan Rafa memilih memakan ayam taliwang, Alia sudah lama tak makan pasta.
"Mau lihat pertunjukan itu?" Rafa dan Alia sudah menyelesaikan makan malam mereka, berniat kembali ke penginapan namun nampaknya sedang ada tontonan menarik.
"Permisi, ini pertunjukan apa ya?" Rafa bertanya pada salah satu orang yang memakai pakaian khas suku sasak.
"Presean namanya Mas."
Presean adalah simbol kejantanan bagi kaum lelaki suku sasak. Dalam presean, dua orang bertarung menggunakan tongkat rotan dan tameng yang terbuat dari kulit kerbau.
Presean dilakukan dalam perayaan kesenian, ataupun dalam upacara meminta hujan yang dilakukan di bulan tujuh kalender sasak.
"Keren banget ya Al." Alia pernah dengar dari Rara, gadis itu punya banyak kenalan dikelas Rafa kan. Rafa itu orang yang cukup tertarik dengan kebudayaan, hal-hal baru pasti membuatnya selalu terkejut, Alia tersenyum.
"Kamu capek?"
"Enggak, hari ini seru banget." Alia tidak bohong, tidak ada rasa lelah sedikitpun, matanya malah terbuka lebar, masih segar.
"Kalau gitu mau nonton open air movie, penginapan kita nyediain open air, kamu mau nonton?"
"Mau, kayaknya seru."
Image
Mereka duduk di barisan ketiga, menikmati udara malam yang sejuk "Makasih untuk hari ini Al." Rafa tersenyum tulus.
Note: Gili Trawangan merupakan pulau kecil (gili) yang ada di sebelah barat laut pulau Lombok. Pulau ini bisa dikatakan pulau terbesar dari gususan tiga gili (pulau kecil) yang ada disini. Pulau lainnya adalah gili meno dan gili air.
Bdw aku dari Lombok, karena lockdown aku yang biasanya jalan nikmatin wisata alam jadi gabisa ngelkuin itu semua skrg, hiks so sad,.