Hai udah lama gak menyapa nih, gimana, pada nungguin gak?
Ah iya aku udah cast buat Rafa, aku gambarin Rafa kan half Indo-Turki,
Image
Nah, menurutku Rizky Nazar emang yang paling cocok, plus kalian bisa menghalu sebebas-bebasnya karna dia produk dalam negeri, haha bercanda.
Salam dari Alia juga, katanya jangan halu. Hahaha. Dah Alia mau makan dulu bye bye.
Image
Ohya, jangan lupa vote dan coment.
Selamat membaca.
Lombok-Gili Trawangan.
Disinilah pasangan suami istri itu berada, menikmati angin malam yang cukup menenangkan, mereka sampai siang tadi. Mengambil waktu sore untuk istirahat. Alia menyerahkan keputusan sepenuhnya pada Rafa ketika Mario-papanya menawarkan hadiah pernikahan, awalnya Alia kira Rafa akan menolak, bukannya berprasangka buruk, urusan kantor Rafa tentu tak bisa ditinggal begitu saja.
Tiga hari setelah Sarah menawarkan paket bulan madu dan membebaskan keduanya memilih destinasi, entah kenapa Rafa langsung mengambil tiket ke Lombok, Alia belum pernah ke Lombok, Alia fikir tempatnya biasa-biasa saja, paling tidak jauh beda dengan bali, ternyata Lombok tidak sepadat Bali.
Sekarang keduanya tengah menghabiskan waktu makan malam, memakan seafood dan sate bulayak khas Lombok. Ini memang tidak terasa seperti bulan madu karena mereka tidak menunjukan kemesraan apapun. Memang apa yang diharapkan.
"Habis ini mau jalan-jalan di tepi pantai Al?" Rafa menawarkan, pria itu meneguk jus lemonnya, menatap Alia hangat, Alia tidak paham, apa pandangan Rafa memang selalu sehangat itu, pada semua orang?
"Boleh Mas." Alia tentu tidak bisa menolak, mana tega, dalam benak Alia mungkin Rafa butuh liburan sejenak, mungkin penat karena urusan kantor.
Lain dengan Rafa, alasannya memilih Lombok adalah tentu tempat itu lebih tenang dari Bali, Rafa awalnya akan menolak hadiah dari Mario, tapi ingatannya berputar pada saat Alia menangis di kamar, sampai hari ini Rafa tidak tau karena apa, dia tidak berani bertanya dan sepertinya Alia juga tidak mau menjelaskan. Tapi, Rafa tebak itu ada hubungannya dengan kerjaan Alia di rumah sakit, perempuan itu bahkan berwajah sendu ketika Rafa bertanya soal ijin cuti selama seminggu, alhasil, merasa kemungkinan itu ada benarnya, Rafa diam, tidak pernah membahasnya lagi. Rafa lebih memilih menenangkan Alia dengan liburan.
****
Bayangan pasangan suami istri yang berbulan madu itu tidak ada, keadaan ketika mereka menyusuri pantai, dengan suara deburan ombak, udara malam yang sejuk dan pemandangan langit yang indah terasa hampa, buktinya baik Rafa maupun Alia diam, membisu. Bagai orang asing.
Rafa membawa Alia duduk di pinggir pantai, duduk di tempat duduk yang berjejer di pinggir pantai.
"Al," Rafa memanggil pelan, keduanya saling pandang, mata coklat madu itu beradu, mereka baru sadar warna bola mata mereka ternyata sama"Maaf ya." Dari sekian lama kebisuan ini, akhirnya kalimat pertama yang Rafa ucapkan adalah kata maaf.
Alia mengernyit, tidak mengerti kenapa Rafa meminta maaf "Maaf soal apa Mas?"
Rafa diam, membasahi tenggorokannya, sumpah dia merasa bersalah, amat sangat "Karena belum bisa menerima kamu sepenuhnya." Akhirnya Rafa bisa jujur, setelah pergolakan hati yang lama.
Alia tersentak, akhirnya Rafa membahasnya, Alia tersenyum kecil "Tidak masalah, Al tau itu sulit."
Keduanya diam lagi, Rafa berdehem, tangannya menjalar mencari tangan Alia dengan gugup, ini tangan kedua yang Rafa genggam selain tangan Amira, "Mau memulai dari awal?"
Jangan tanya keadaan jantung Alia sekarang, debarannya menggila "Maksudnya?"
"Berusaha saling mengenal, berusaha saling menerima, mungkin berusaha saling mencintai?"
Alia makin gamang, perasaan ini menyeruak, menghangat "Mas yakin?"
Rafa terkekeh "Kenapa tidak, kita dalam ikatan pernikahan sekarang."
Alia ikut terkekeh, lucu sekali keadaan mereka ini, Alia mengangguk malu, Rafa tersenyum, dalam hati ia meminta maaf sedalam-dalamnya pada Amira, mungkin Rafa memang harus melepaskan Amira. Menggantinya dengan Alia.
Mungkin akan sulit, sebab sulit pula mencintai Amira dulunya.
Jujur, Rafa yang hangat susah jatuh cinta.
"Kamu segan ya sama Mas?"
"Hah, kok segan?"
"Kamu masih canggung sih, Mas nyeremin ya?"
Alia tertawa "Mana ada Mas Rafa nyeremin, Mas Rafa tuh orang paling hangat yang pernah Al tau."
"Masa, abisnya muka kamu tegang banget kalau sama Mas."
"Aku gugup Mas," Jawab Alia jujur.
Rafa mangut-mangut "Mas boleh tanya sesuatu?"
Alia mengangguk cepat "Thomas pernah bilang, kamu pindah agama karena menyukai teman SMA kamu?"
Benar-benar memang kakaknya itu, kenapa memberitau Rafa hal sepribadi itu "Iya Mas," Jawab Alia gugup, menunggu reaksi Rafa, namun pria itu diam, tidak menunjukan ekspresi berarti.
"Kamu masih mengharapkannya?" Alia harus jawab apa? Tentu masih, pria itu berdiri didepannya sekarang, dia Rafa. Cinta pertamanya.
"Masih." Hanya itu jawaban yang bisa Alia berikan, Rafa tidak mungkin cemburu kan, apasih, mustahil. Alia menolak mentah kemungkinan itu.
Terdengar hembusan nafas pelan Rafa "Lupakan dia, aku juga akan melupakan Amira, sekarang bisakan kita memulai semuanya dari awal?"
Alia mengangguk, meski dia tidak yakin apakah semua bisa berjalan mudah atau tidak, urusan hati tidak ada yang tau kan?
"Mas," Alia meremas jarinya, mereka sekarang sedang berjalan kembali ke penginapan, "Mas punya cinta pertama, waktu SMA mungkin?"
Rafa nampak mengingat-ingat, tersenyum tipis kemudian "Ada, tapi aku tidak tau keadaannya sejak hari kelulusan."
"Tidak pernah pacaran?" Siapa orang beruntung yang jadi cinta pertama Rafa?
Rafa menggeleng "Kami beda, kita tidak seagama. Tapi yang aku ingat adalah, dia gadis paling berani, baik, dan bahagia."
Sungguh aneh, Rafa menyukai gadis yang tidak seagama dengannya "Mas tau namanya?"
Rafa menggeleng sendu "Aku tidak berusaha mencari tahu lebih, takut makin sering terjebak nantinya, dia menarik sekali soalnya."
Alia mangut-mangut. Jadi ketika Alia menghabiskan waktu mencintai Rafa, pria itu malah sibuk mengagumi perempuan lain, ah miris sekali.
"Syukur kak Rafa ketemu kak Amira ya." Alia berdoa semoga ia bisa seberuntung Amira, yang bisa mengambil hati Rafa.
Rafa tersenyum, mereka masuk kedalam penginapan, Rafa menyalakan lampu, "Mau tau sesuatu?"
"Apa?"
"Awalnya kami tidak saling mencintai, tepatnya aku yang tidak mencintai Amira. Setelah satu tahun pernikahan, baru aku mencintai Amira."
Alia tercekat, selama itu? Mendapatkan hati Rafa, bagaimana dengan Alia.
"Kenapa?"
"Cinta pertamaku, sulit dilupakan." Rafa tersenyum tipis "Kalau aku tau namanya, mungkin aku sudah nekat mencarinya."
Alia diam, hatinya berdenyut sakit, bagaimana kalau cinta pertama Rafa nanti hadir, semudah itu dia akan mengambil Rafa. Kapan sebenarnya Alia bisa memikiki Rafa seutuhnya. Apa waktu delapan tahun masih kurang? Apa Alia harus menunggu dan berusaha lagi, padahal Rafa sudah menjadi suaminya. Tapi kenapa,Rafa masih tetap jauh.
Rafa meraih tangan Alia, "Bukan maksud aku menceritakan ini untuk menyakiti kamu lagi Al, aku cuma kamu tau sedikit rahasiaku."
Sedikit? Jadi rahasia Rafa banyak?
Alia mengangguk "Boleh Al minta sesuatu?"
Rafa mengangguk "Jangan bayangkan Alia sebagai Amira ya Mas." Alia tersenyum pedih, mungkin Rafa tidak akan memgira Alia akan mengatakan hal paling menyakitian, tapi Alia tidak tahan. Alia tidak mau lagi, menjadi pengganti Amira, Alia tau Rafa sering membayangkan Amira, kondisi Alia yang bercadar mengakibatkan Rafa bisa dengan mudah membayangkan Alia sebagai Amira, terlebih bukan sekali dua kalo Rafa sering menyebut nama Amira dalam tidurnya, sungguh Alia tidak sekuat itu.
Jika memang Rafa memintanya memulai dari awal.
Maka Rafa harus melihat Alia sebaga Alia.
See you in the next chapter.