Gue hama? HAMA???
mendadak raut wajah Anara menjadi muram, namun ia kembali tersenyum tak lupa tangan kanan yang ia gunakan untuk merampas hp zain tadi kembali ia sodorkan di wajah cowo itu.
"nih hp nya zain, oiya lain kali kalo mau nolak ajakan gue bilang aja, gak perlu menghina. Setiap manusia punya perasaan. Gue duluan!"
Zain mengambil hp nya kemudian menatap pungung Anara yang menjauh meningalkan nya, cewe itu berbalik arah menuju area kelas bukan kantin.
Dia marah? -- batin zain.
Zain menaikan kedua bahu nya acuh kemudian melangkah kan kaki nya menuju kantin. Ia merasa sedikit bersalah namun ia memiliki cara tersendiri untuk menghibur cewek itu.
******
Anara menjatuhkan wajah nya di atas meja milik nya. Sebenarnya ia tidak benar-benar marah tadi, ia hanya ingin sedikit di hargai oleh zain. Tapi itu sulit. Sangat sulit.
Ia mendongak dikala melihat satu kantung plastik berada tepat di hadapan nya. Wangi khas seblak pedas tercium di indra penciuman.
Anjerrr laper gue!!!
Anara segera menengakan tubuhnya di kala bangku di samping nya telah di duduki seseorang.
"makan! Gue capek beliin buat lo istri kecil!" Anara menghembuskan nafas nya kasar, lagi-lagi ia dihadap kan oleh tampang si brandalan m***m tukang ngupil.
Fiks! Kena darah rendah gue!
"keluar! Gue gak butuh!" usir Anara.
"gue udah bilang makan, d**a lo semakin gak berisi. Ga enak dong gue liatnya----"
"GIVANO!!!" teriak anara frustasi, bagaiamana tidak harga dirinya kini telah di injak-injak cowo ini.
"iya sayang..." sahut givano mengoda. Anara kehilangan tenaga menghadapi cowo di samping nya ini. Dengan gerakan cepat Anara membuka kantung plastik itu dan memakan apa yang bisa ia makan.
Melihat itu givano tersenyum puas. Terbesit satu ide jail di kepala nya. "eh gue denger istri kecil gue ada sebutan baru ya?"
Anara menaikan sebelah alis nya, kemudian kembali menyuapkan mie seblak kedalam mulut nya.
Makanan gratis gak boleh di tolak mubajir! .
"lo di katain hama sama pangeran pujaan hati lo si zayin"
Uhuk uhuk
Givano kembali tersenyum kemenangan, ia membuka tutup botol le mineral yang ada manis-manis nya, kemudian menyodorkan ke bibir cewe itu.
Mata Anara memerah menahan sesuatu bahkan hidung nya keluar lendir akibat serbak bumbu cabai. Ia menatap tajam Givano yang masih tersenyum.
Sumpah ni cowo sok manis amat!
"lo nguping gue? Sejak kapan seorang brandalan kayak lo suka nguping?" kata Anara sengit.
"sejak gue suka sama lo" jawab Givano enteng.
Stres ni cowo!!!
"Berhenti ikut campur sama masalah pribadi gue vano! Dan ya nama nya zain, itu Z A I N bukan zayin!" ejah Anara penuh penekanan di setiap kata.
"sama aja! Btw udah di tolak sama si zayin keberapa kali nar?" tanya Givano iseng.
Kok nyesek ya? Emang b*****t si givano!
"gausah kepo sama masalah orang! Mending lo balik ke kelas! Hapalin rumus fisika bab pertama!" Givano berdecak namun ia bangkit dari duduk nya, ia menatap jahil Anara yang sedang melahap mie seblak nya.
Tangan kanan givano teralih pada sisi pungung anara dan--
Pletak!
"gue cabut sayang bye haha!!!" ujar Givano kemudian berlari menjauh meningalkan anara dengan air wajah merah memendam malu berserta amarah.
"GIVANO b*****t!" jerik anara keras. Anara menghentakan kaki nya kesal sunguh rasa nya anara ingin mencangkar wajah tampan givano.
Selang beberapa menit kemudian kedua sahabat anara datang penuh tanda tanya.
"nar lo kenapa?" tanya adinda lavina putri dan arinda lavina putri kembaran nya.
Anara hanya mendengus kesal, kemudian mengelengkan kepala nya.
Yakali gue bilang kalo si vano narik tali bra gue! Image sayang image!
Kedua twins itu menganguk lucu, lalu arinda menyodorkan satu kantung plastik di hadapan nya.
"nih... Pujaan hati lo yang ngasih..." anara mengernyitkan dahi nya, kemudian menatap malas kantung plastik itu. Bagaimana pun anara sudah kenyang!
"gue kenyang rin, buat lo aja ya" pinta anara lesu.
"lah tumben? Ini dari zain loh nar... Katanya sebagai ucapan terimaksih karna lo udah ngusir benalu" sahut adinda.
Yakali, gue ngusir benalu. Lah gue hama nya kalian mau ngomong apa?!
Jujur Anara masih kesal, ia mengeleng keras saat Arinda memilih menaruh kantung plastik itu di meja nya.
"terima nar, kalo ga buang aja lah... Gue sama Dinda udah makan tadi. Lagian sih lo pakek brantem sama si vano segala!" omel arinda, kemudian duduk tepat di bangku belakang anara.
"gue jadi guru pembimbing si vano!" beritahu anara malas.
Hening sesaat~~~~
"WHAT???" ucap arinda dan adinda berbarengan. Anara mengaruk kepala belakang nya dan berjalan keluar hendak membuang makanan di meja nya.
"disuruh pak adi!! Lo pada gausah kepo berlebihan gue males jawab!" teriak Anara dari luar.
Saat tengah sibuk membuang sampah, tangan anara di cegah seseorang.
"kenapa di buang?" tanya zain dengan nada kecewa.