Part 13

1005 Kata
Usai dari toilet, langkah kaki Azizah terhenti di tengah jalan ketika mendengar suara lantunan ayat suci Al-Qur'an. Suara khas anak kecil, tetapi terdengar sangat menenangkan sekali saat Azizah mendengarnya. Azizah menatap sekeliling, tidak ada siapa-siapa. Teman-temannya yang lain sedang ada kegiatan belajar di kelas. Azizah berjalan mendekat ke arah suara yang seperti dikenalinya. Hingga tatapannya menangkap sosok Cahaya yang sedang duduk di gazebo sendirian sembari melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an. Azizah terdiam cukup lama, berjalan mendekat untuk memerhatikan Cahaya. Suara Cahaya saat melantunkan ayat suci Al-Qur'an benar-benar indah. Siapa pun pasti akan terpikat mendengarnya. Entah mengapa hanya dengan mendengarnya saja membuat hati Azizah tersentuh. Suara Cahaya memikat hati Azizah untuk mendekat menghampirinya di gazebo. Cahaya hanya duduk sendirian di sana ditemani oleh tongkat sebagai alat bantu untuk meraba hal-hal di sekitarnya. Azizah terdiam cukup lama, perasaannya mendadak tidak keruan. Seketika dia teringat dengan keinginan ayahnya yang menginginkan Azizah sebagai seorang penghapal Al-Qur'an. Seandainya Azizah bisa mewujudkan keinginan ayahnya itu lebih awal, Azizah tak akan pernah menyesal. Kini ayahnya sudah tidak ada, Azizah benar-benar merasakan kehilangan yang luar biasa. Sungguh, Azizah tak akan bisa melupakan kedua orangtuanya. Bayangan wajah kedua orangtuanya dan senyuman mereka selalu membekas dalam ingatan Azizah. Cahaya menyelesaikan bacaan ayat sucinya ketika menyadari kehadiran seseorang di sekitarnya. Cahaya mengambil tongkat di sebelahnya dengan meraba-raba membuat Azizah dengan cepat membantunya. "Terima kasih." balas Cahaya. "Ini dengan siapa, ya?" tanya Cahaya dengan mata menatap lurus ke depan. "Aku Azizah." Senyum Cahaya mengembang sempurna hingga matanya ikut menyipit. "Kok Kak Azizah bisa ada si sini?" tanya Cahaya ketika menyadari Azizah duduk di sebelahnya. "Aku tadi habis dari kamar mandi, terus nggak sengaja dengar suara kamu lagi ngaji." balas Azizah menatap Cahaya yang melihat ke arah lain. "Suara kamu bagus banget, Cahaya." puji Azizah tulus membuat Cahaya hanya tersenyum. "Terima kasih, Kak Azizah." Azizah hanya mengangguk meski sebenarnya Cahaya tak akan mampu bisa melihatnya saat ini. Azizah menghela napas gusar, mengayunkan kedua kakinya perlahan dan menunduk. Cukup lama Azizah hanya terdiam duduk di sebelah Cahaya, hingga suara Cahaya kembali terdengar. "Kak Azizah kenapa?" tanya Cahaya membuat Azizah terkejut dengan pertanyaan gadis kecil itu. Azizah sangsi Cahaya bisa mengetahui raut wajahnya. Cahaya pasti tak akan bisa melihat bagaimana ekspresi wajahnya saat ini. Namun, entah bagaimana bisa Cahaya melemparkan pertanyaan demikian. "Kak Azizah lagi ada masalah?" tanya Cahaya lagi membuat Azizah tertegun mendengarnya. Dia tidak tahu mengapa Cahaya menanyakan hal seperti itu yang umumnya ditanyakan oleh orang-orang yang bisa melihat ketika melihat wajahnya saat ini. Namun, ini adalah Cahaya, dia tidak mungkin mengetahui perubahan raut wajah Azizah saat ini. "Kenapa kamu nanya gitu? Memangnya wajah aku kelihatan? Maksud aku ... kok kamu bisa tahu ekspresi wajah aku?" tanya Azizah mengerutkan keningnya penasaran. Cahaya tersenyum beberapa saat hingga akhirnya balas berbicara. "Aku cuma nebak aja kok, Kak." Azizah tersenyum kecil. Tebakan Cahaya tepat dengan apa yang Azizah rasakan saat ini. Kehilangan selalu jadi hal paling menakutkan untuk Azizah. "Cahaya, boleh aku tanya sesuatu?" tanya Azizah membuat Cahaya langsung mengangguk antusias. "Kamu ... uhm, apa kamu pernah merasakan kehilangan seseorang yang berarti dalam hidup kamu?" Azizah bisa melihat senyum Cahaya di bibirnya. Azizah tidak tahu apa arti senyuman Cahaya. Azizah juga tidak tahu apa yang dirasakan oleh Cahaya. Selama berada di pesantren, Azizah hanya beberapa kali saja mengobrol dengan Cahaya. Azizah tahu betul bahwa Cahaya anak yang baik, pintar, dan salehah. Kekurangan yang Cahaya miliki tak menghambat dirinya untuk menjadi seorang penghapal Al-Qur'an bahkan di usianya yang baru menginjak delapan tahun. Cahaya bagaikan petunjuk untuk para santriwati lainnya bertahan di pesantren. Seperti namanya, wajah Cahaya selalu bersinar dan terlihat menenangkan. Gadis kecil itu sangat cantik dan memiliki kulit yang putih. Yang Azizah tahu bahwa Cahaya adalah anak satu-satunya Maryam. Setiap kali melihat kedekatan Maryam dan Cahaya membuat Azizah merindukan ibunya. Sangat-sangat merindukan. Cahaya banyak disukai oleh santriwati di pesantren karena kepribadiannya yang baik. Bahkan mereka takjub dengan kemampuan Cahaya menghapal Al-Qur'an tanpa melihat dan membacanya. "Waktu umur Cahaya satu tahun, Abi Cahaya meninggal karena kecelakaan, Kak. Mungkin itu untuk pertama kalinya Cahaya merasakan kehilangan seseorang. Dulu Cahaya nggak tahu apa-apa. Cahaya nggak tahu wajah Abi. Bahkan Cahaya lupa dengan suara Abi karena kami hanya bertemu di saat usia Cahaya satu tahun. Ketika tahu Abi udah pergi, Cahaya pengin banget bisa ngerasain satu pelukan Abi buat Cahaya. Rasanya Cahaya pengin ketemu Abi dan kangen sama Abi. Cahaya pengin denger suara Abi. Cahaya juga pengin diajarin mengaji sama Abi. Kalau Abi masih ada, Cahaya pasti selalu bersama Abi. Sayangnya, Allah lebih sayang sama Abi Cahaya." ujar Cahaya membuat Azizah terdiam mendengarkan. "Umi selalu bilang sama Cahaya kalau sampai kapan pun, Abi akan selalu bersama kami. Abi akan selalu ada di hati Cahaya. Hanya dengan itu bikin Cahaya tenang." Cahaya nggak bisa marah sama siapa pun atas kepergian Abi. Memangnya kenapa Kak Azizah nanya kayak gitu ke Cahaya?" Mendengar cerita Cahaya nembuat Azizah seketika menyadari dan mengingat bahwa Cahaya adalah seorang anak yatim. Azizah lupa bahwa Cahaya sudah lebih dulu merasakan kehilangan seorang ayah daripada dirinya. "Maaf, Cahaya. Aku nggak bermaksud apa-apa kok. Maaf kalau pertanyaan aku jadi bikin kamu inget sama Abi kamu." ujar Azizah merasa bersalah yang dibalas senyuman oleh Cahaya. "Nggak apa-apa, Kak." "Udah mau satu bulan aku ditinggal Ayah aku. Dan rasanya aku benar-benar kehilangan orang-orang di sekitar aku yang selalu support. Aku sedih banget, Cahaya. Aku nggak tahu lagi harus gimana, bahkan untuk melanjutkan hidup juga kayaknya aku udah nggak semangat. Aku kangen Ayahku. Ayah itu udah kayak pahlawan buat aku. Semua hal aku selalu cerita sama Ayah. Setelah kepergian Ibu, Ayah udah jadi Ibu sekaligus buat aku yang sekalu ada. Ayah selalu jadi yang terbaik. Dan waktu kehilangan dia, aku ngerasa dunia aku hancur gitu aja. Ada sayu keinginan Ayah yang ingin aku wujudkan. Aku ingin Ayah dan Ibu bahagia." ujar Azizah panjang lebar. Tanpa terasa Azizah terisak dan menangis di samping Cahaya. Dia tidak tahu mengapa hanya dengan di samping Cahaya bisa melegakan hatinya. Azizah tahu bahwa Cahaya anak yang baik dan tak mungkin berbohong. Azizah tahu anak kecil tidak akan berbohong. Cahaya akan selalu jujur dengan perasaannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN