Prolog
Katanya, orang sukses itu kalo lu sudah berhasil bahagia-in ke dua orang tua lu, ada juga yang bilang sukses itu ketika lu sudah mencapai tingkat paling tinggi dari hasil jerih payah lu. Atau yang paling mudahnya ... Sukses itu, ya kalo lu sudah “kaya”. Tapi bagi Didi apa sih arti sukses?
Gue rasa isi kepalanya hanya ada ke haluan yang melalang buana dari Uni Soviet sampai ke Artantikah. Sepertinya paku yang tertancap tepat di ubun-ubunnya perlu dicabut agar dia kembali ke jalan yang lurus, tidak terjerembap ke dalam ruang fatamorgana.
"Ya Allah, kamar berantakan! Ini anak kerjanya liatin hape melulu! Matamu tuh sudah minus, mau katarak sekalian!" teriak Mama Didi serupa ibu kiler kostan yang lagi nagih uang setoran.
“Lagi kerja Ma ...” Jawab Didi yang masih asyik mengetik keypad ponsel.
Ibunya tahu kalau anaknya punya bakat menulis luar biasa, jemarinya saja begitu lihai saat bergerak. Ooo ... o***g kalau gak salah jenis pekerjaannya, pikir Ibu Didi dalam benak.
Salah Ma! namanya Author!
Memang terkadang pekerjaan ini bisa menghasilkan uang, tapi tetap saja tidak masuk dalam hitungan matematika ibu-ibu kelas pasar impres. Apalagi masuk kamus kriteria profesi sukses.
"Kerja? Kerja apa? Dapet uang juga enggak seberapa. Mending kamu melamar kerja di rumah sakit atau enggak, kamu kan bisa bantu Bidan Dewi. Percuma sekolah mahal-mahal, ijazah Cuma jadi pajangan." Dengkus wanita paruh baya yang bernama Esih Sukaesih pada anaknya sambil berlalu ke depan.
Itu lagi, itu lagi yang di bahas Mama begitulah pikir Didi. Apa mau dikata punya ijazah perawat memang nasibnya, nasib yang akan terus Mama ungkit-ungkit sepanjang jalanan kenangan. Kecuali, kalau Didi berhasil menikah dengan lelaki kaya. Sungguh Ilusi yang ketinggian. Setinggi imajinasi perempuan berusia 25 tahun ini bersama Birendra Padmana, idolanya.
Saat itu kabut turun, hawa begitu dingin ketika mereka berada di lembang sedang menikmat bajigur. Didi merasa angin menusuk kulitnya, ia pun mengusap kedua telapak tangan, sedang di sebelah, Biren membuka jaketnya memakaikan pada Didi. Lelaki itu menggenggam kedua tangan Didi untuk sekedar menghangatkan. Manik mata mereka saling memantik, juga wajah yang saling berdekatan, semakin mendekat ... Seperti ingin merasakan manisnya sisa-sisa bajigur pada bibir mereka. Didi menutup mata saat Biren memiringkan kepalanya untuk ...
Ah, sial! Buyar semua lamunan saat ponsel bergetar. Rupanya teman dekatnya, Ares mengirim chat .
Ares: Lihat tuh undiannya udah keluar. Ada nama lu di situ?
Me: Yang bener?!
Ares: Lu cek aja sendiri.
“Kyaaaa!!! Iya bener!!!“
Didi melompat-lompat di atas kasur tak tentu arah, terus mengangkat kedua sisi bibirnya hingga giginya terasa kering. Begitu bahagia namanya terpampang di daftar pemenang undian minuman dalam kemasan bermerek Congo Cola, yang ia ikuti untuk mengadu nasib mencari keberuntungan.
Hadiahnya bukan dapat mobil atau uang, melainkan kencan sehari bersama sang idola. Itu saja cukup membuat Didi merasa menjadi orang sukses. Yes, definisi sukses buat Didi hanya berjarak 274 kilometer per jam dari Impuls saraf ke otak lalu lari ke jantung. Jika berhasil mendapatkan sesuatu yang di inginkannya, even ketemu gulali rambut nenek di jalan. Itu sudah sukses, menurut perempuan bernama lengkap Didia Adaku binti Cecep Iskandar.
Sementara di ujung belahan dunia sana, eh salah kejauhan. 74 mil atau setara 151,1 kilometer dari Bandung menuju sebuah penthouse di atas gedung pencakar langit. Seorang pemuda menikmati kopi sambil menghisap rokok. Jemarinya bergerak pada keyboard lalu sesekali terdiam, berharap inspirasi datang.
Ah, parah ... Pikirannya masih saja kalut, ia menekan dahinya dengan Ibu jari sedangkan sebelah tangannya mengambil kartu undangan berwarna biru safir. Tatapannya kian nanar, terdapat kesedihan mendalam pada pacaran kedua bola mata itu.
Monalisa & Richard
Sial! Dilemparnya kartu undangan sembari menghempaskan punggung ke kursi. Sesaat mencoba fokus untuk menulis. Tetap beberapa detik kemudian hilang konsentrasi. Hatinya terasa nyeri ketika teringat kembali kenangan terakhir bersama Lisa.
Saat itu matahari tenggelam ditelan senja temaram. Angin pantai menerpa rambut bak sutra yang melambai milik Monalisa. Begitu indah, bahkan hanya sekedar memandangi siluet wajahnya. Lelaki itu mendekap tubuh kekasihnya, menghirup aroma Feersia yang lekat pada tubuh Monalisa.
“Aku mau bicara serius Bi.” Monalisa melepaskan pelukan Biren. Terlihat wajahnya tidak secerah biasanya.
“He hem, bicara apa?” tanya Biren masih tersenyum namun detik kemudian ...
“Aku ingin kita ... Putus.”
Bagai tertancap anak panah, begitu cepat melesat menghunjam jantung, menyisakan nyeri. “Jangan bercanda kamu Lis! kamu ngomong kayak gitu karena kamu masih cemburu sama Bella kan?”
“Engga, bukan begitu. Aku rasa kita udah gak cocok.”
“Gak cocok? Kita udah lima tahun pacaran. Gimana bisa kamu bilang kita udah gak cocok?!”
“Aku ... aku rasa, aku mencintai pria lain.”
Cinta ... Deritanya sungguh tiada akhir, begitulah kata Cu Pat Kai Kawannya Kera Sakti. Sebetulnya hati Biren menjerit di dalam, bagaimana tidak syok tiba-tiba ditinggal nikah pas lagi sayang-sayangnya. Gambaran hatinya kini persis seperti sinetron ikan terbang. Maunya sih bisa nangis, tapi ini persoalan harga diri seorang lelaki, biar matanya berkaca-kaca, dengan sekuat tenaga ia tahan biar gak ambyar nelangsa.
Gawai Biren berdering, dia kupingi gawai itu menjawabnya dengan lesu.
“Ya Bim, ada apa?” Biren menyeka celah matanya yang basah.
“Besok jangan lupa Shooting di Bandung.”
“Shooting ? Shooting apaan?!”
“Undian Congo Cola, masa lu lupa.”
“Beneran gue lupa. Siapa yang menang?”
“Namanya Didia Adaku.”
“Orang Jepang?”
“Gue juga gak tau, yang jelas dia tinggal di Bandung. Nanti gue kirim nomor kontaknya.”
“Gak usah, buat apa. Lu aja yang hubungi dia. Jangan lupa Share lock lokasinya”
“Besok jam delapan pagi ya.”
“Iye, iye ...”
Biren mendesah, pikirannya begitu lelah. Secangkir kopi dan sebungkus rokok tidak bisa menenangkan kesedihannya. Ia memilih menyandarkan keningnya pada sisi meja, menenggelamkan kepala ke dalam tangan yang terlipat. Tidak ada satu Kata pun yang bisa di tulisnya. Inspirasinya hilang semenjak Lisa meninggalkan.
Sungguh naas nasib pria yang ketampanannya melebihi Rapih Mahmad dan Reza Gaharnian, bahkan banyak orang yang menyamakan ratakan ketampanannya serupa opa Lee-Lee gedong Wook.
Ah, Ternyata ketampanan dan kemapanannya tidak bisa membuat Monalisa tetap tinggal juga.
Ya, dia frustrasi, dia benci kehampaan dalam hati, dia ingin berteriak tapi takut dikira tarzan. Bukan lagi tarzan mungkin malah dikira teriakan satwa siamang. Sungguh menderitanya perasaan pria berusia 28 tahun ini.
Dialah seorang Novelis, pujangga seromantis Rangga, dialah Selebriti berhati melankolis yang sekarang sedang meringis. Dialah Birendra Padmana bin Parjo Marjojo tetangganya Ibu Samijo dan Bapak Widodo.