Dru Salim menempelkan hidungnya ke sisi wajah Didi. Sebelah tangannya merambat memegang pinggang gadis itu, sedang sebelahnya lagi sedikit mengangkat dagu Didi. Bersiap untuk menikmati bibir ranum sang gadis. Tangan Didi melingkari bahu Dru, mengeratkan dekapannya untuk menarik leher lelaki itu ke bawah. Hanya sekali tarik dengan kekuatan penuh, mengadukan wajah Dru dengan lututnya yang terangkat melesat begitu cepat. “Argh!” pemuda itu memegangi hidungnya yang terasa sakit sambil membungkuk. Selagi pemuda itu lengah, Didi menyengkat sebelah kaki pemuda itu sampai dia terjatuh kemudian dengan sigap gadis itu mengambil kedua tangan Dru dan memelintirnya ke belakang. Mengeluarkan jurus kuncian. “Aaakkhh ... Ja-jangan!” kata pemuda itu sambil meringis karena Didi bisa saja mematahkan

