“Itu tadi istri lu?” tanya Natasha sembari membuka sabuk pengamannya. “Iya.” Biren tersenyum kecut. Bukan karena tidak ingin Natasha tahu, tapi karena pertanyaan Natasha tadi mengingatkan dirinya kalau sudah beristri. “Kok gak aku kamu sih bahasanya?” “Gue sama istri udah kayak bestfriend, jadi gak usah kaku lah.” “Wah, asik juga ya kalau punya pasangan bisa kayak temen.” Biren hanya mengernyih. Huft, sebetulnya karena belum ada rasa ketertarikan lelaki pada wanita yang membuat dirinya menjadikan Didi sebagai teman. Dia juga bingung bagaimana status pernikahan ini akan terus berjalan. Lelaki itu tak mau ambil pusing, dengan menyerahkannya pada Tuhan, mengikuti sebagai mana waktu berjalan. “Gue masuk dulu ya? Thanks ya udah nganter.” Natasha melambaikan tangan. Sejujurnya Biren

