“Kamu sudah datang?” tanya ayah saat aku masuk ke ruang kerjanya. Sebelumnya aku sudah mengabari ayah tentang kunjunganku ke tempat kerjanya. Ia terlihat tampan dengan stelan jas rapi walau usianya tidak muda lagi. “Duduklah.” Ayah mempersilakan aku duduk di sofa. Kami duduk berhadapan. Ayah melonggarkan dasinya sembari menyenderkan tubuh ke sofa. Ia terlihat kelelahan. “Apa yang ingin kamu tanyakan?” Aku menyiapkan diri untuk bicara dengan ayah. Bagaimana pun juga aku tidak ingin ayah tersinggung dan marah. “Apa ayah terlibat dalam kasus itu?” tanyaku to the point. Tidak ada basa-basi karena aku tahu ayah tidak menyukainya. “Apa seperti itu caramu bertanya dengan narasumber? Kau harus professional, Sasya,” kata ayah. “Ayah, kau tahu aku tidak bisa bicara formal dengamu. Jawab saja

