Delon

1016 Kata
Saat telah masuk ke dalam indekosnya, Keysa menaruh tas di sisi tempat tidurnya, lalu ia menghempaskan tubuhnya dengan kasar. Menghembuskan napas perlahan, sembari memejamkan mata. Menerawang kejadian tadi yang seolah-olah mimpi, bertemu seseorang yang sangat aneh dan menyebalkan. Keysa terperanjat kaget saat ia mengingat bahwa tugasnya belum selesai dieksekusi. Ia buru-buru meraih tasnya dan mengeluarkan laptop, serta buku kecil. Setelah itu, segera menyelesaikan tugasnya terlebih dahulu, barulah ia memikirkan kondisi tubuhnya yang sudah sangat bau karena keringat itu. Tidak lebih dari setengah jam Keysa berada di kamar mandi, dengan cepat ia meraih pakaian yang sudah disiapkannya tadi, lalu memakai pakaian tersebut. Setelah itu, ia bergegas keluar indekos untuk mencari makan malam. "Lo! Ngapain ada di depan kamar gue?" tanya Keysa yang terkejut melihat kehadiran Dion yang sedang duduk santai di kursi depan indekosnya. Dion melirik Keysa dengan tatapan yang sulit dimengerti. "Gue lupa belum minta nomor ponsel lo," jawab Dion sambil berdiri dan merapihkan pakaiannya. Keysa mengernyit dan bertanya, "Buat?" Dion menghela napasnya kasar. "Kan, lo mulai sekarang itu jadi pasangan pura-pura gue! Masa iya gue gak punya nomor ponsel lo," jelas Dion dengan tatapan kesalnya. Tanpa banyak basa-basi lagi, Keysa menyodorkan tangan kanannya. Dion yang tak mengerti isyarat itu pun hanya mengangkat sebelah alisnya dan menatap bingung pada Keysa. "Haduh! Mana ponsel lo!" Dion mengangguk, lalu merogoh saku celana dan mengeluarkan ponsel miliknya. Keysa menerima ponsel milik Dion, lalu segera mengetikkan nomornya. "Nih!" ucap Keysa, seraya menyodorkan kembali ponsel Dion. "Oke! Nanti kalo ada apa-apa, gue hubungin lo," ucap Dion setelah mengetikkan nama pada nomor milik Keysa. Setelah itu, ia kembali masuk ke dalam mobil dan keluar dari halaman indekos Keysa. Melihat hal itu, Keysa hanya menggelengkan kepalanya dan melanjutkan langkahnya lagi untuk mencari makan. Langkahnya terhenti saat ia melihat seseorang yang sangat ia kenali. Dan saat orang tersebut menengok ke arah Keysa, dengan sekuat tenaga Keysa mengendalikan rasa malu di depan orang tersebut. "Hai, Key!" Keysa tersenyum dan mengangguk, lalu kembali menyapa, "Eh, halo Kak Delon!" "Kamu tinggal di sekitar sini juga?" tanya Delon--kakak kelas Keysa, sembari celingukan mencari di mana tempat Keysa berada. "Iya, Kak. Keysa tinggal di sana," jawab Keysa sambil menunjuk tempatnya. Delon melihat arah yang dituju Keysa, lalu menganggukkan kepala saat ia sudah mengetahui tempat yang dimaksud. "Terus, sekarang mau ke mana?" tanya Delon, lalu berdiri di depan Keysa. Keysa yang mendapati pergerakan Delon, tak bisa bergerak. Dan dengan suara sedikit gemetar, ia menjawab, "Keysa mau nyari makanan, Kak. Buat nanti malam." "Oh gitu? Ya udah bareng sama aku aja, yuk! Kebetulan mau nyari makan juga," ajak Delon yang berhasil membuat jantung Keysa lebih cepat berdetak. "Boleh, Kak," jawab Keysa asal. Namun, dengan hati yang sangat senang tentunya. "Bentar ya, mau ambil uang dulu ke dalem," pamit Delon yang langsung masuk ke dalam indekosnya, tanpa menunggu jawaban dari Keysa. Sangat aneh sekali. Kok bisa ya, Keysa baru tahu bahwa tempat tinggal laki-laki yang disukainya berada sangat dekat dengan dirinya. Dan untuk hari ini, Keysa tak mengerti apa yang sedang dirasakannya. Mungkin nano-nano, karena tadi dibuat kesal oleh Dion, dan sekarang sangat bahagia karena kehadiran Delon yang tiba-tiba. "Ayo, Key!" seru Delon saat kembali menampakkan kembali batang hidungnya. "Udah, Kak?" tanya Keysa. Delon mengangguk, lalu memakai sandal jepit miliknya dan keluar dari pekarangan indekos, mencari makanan dengan Keysa. "Udah dari dulu tinggal di tempat kos itu?" tanya Delon yang memecah keheningan. "Gak terlalu lama juga sih, Kak. Dimulai dari aku kuliah di situ aja," jawab Keysa apa adanya. Delon menganggukkan kepalanya lagi dan saat ia menatap Keysa, tak sengaja Keysa juga tengah menatap Delon. Keduanya saling salah tingkah, apalagi Keysa yang langsung menunduk dalam-dalam. Padahal, aslinya Keysa adalah orang yang sangat tidak punya malu, tetapi ketika di depan Delon ia benar-benar tidak merasa percaya diri. "Eum! Oh iya, kita mau makan di mana nih?" tanya Delon mencoba membuka pembicaraan. Keysa berpikir sejenak, ia bimbang apa harus berpura-pura kaya, atau jujur dalam keadaan sederhana. "Keysa biasa makan di depan situ, Kak." Keysa memilih untuk mengutarakan tempat makan yang sudah menjadi langganannya. "Di sana masakannya enak, harganya juga ramah banget di kantong," sambung Keysa karena belum ada jawaban dari Delon. "Aku suka cewek kek kamu, Key. Gak nutupin kepribadian asli kamu, pas lagi sama cowok," ujar Delon sambil menatap Keysa penuh arti. Keysa yang ditatap seperti itu hanya memalingkan wajahnya dan kembali melihat-lihat sekitar, yang hanya ada motor dan mobil yang melintas. "Aku juga suka banget sama tempat itu. Ramai juga," sambung Delon. "Ya ... namanya juga anak rantau, Kak. Harus pinter-pinter ngatur uang lah. Belum lagi, harus transfer ke keluarga di kampung," tutur Keysa. "Iya bener, Key," sahut Delon. Keysa hanya menganggukkan kepala, lalu kembali menatap kendaraan yang ramai berlalu lalang. "Di situ kan tempatnya?" tanya Delon memastikan, saat tempat yang dimaksud sudah terlihat dan hanya beberapa langkah lagi mereka tiba di sana. Keysa mengangguk membenarkan ucapan Delon. "Aku juga sering banget makan di situ, Key," tutur Delon. "Oh ya? Keysa kira, Kakak cuma tau tempatnya aja." Delon menggeleng, lalu menjawab, "Kan kita sama-sama anak rantau Key. Jadi, ya ... nasib sama perjalanan hidupnya gak jauh beda lah." Setelah berucap seperti itu, Delon sedikit mengeluarkan senyumannya. Keysa mencuri pandang ke arah Delon yang tengah tersenyum, ia sama sekali tak menyangka jika saat ini ia sedang bersamanya. Bersama dengan orang yang dicintai. Ah! Rasanya seperti mimpi. "Key," panggil Delon saat mendapati Keysa yang tengah menatapnya. "Eh!" Keysa langsung gelagapan dan membuang muka ke arah jalan. Berharap supaya ia dapat menetralisir rasa malunya itu. Delon yang mengerti akan gerak-gerik Keysa hanya tersenyum senang saja. Ia sebagai laki-laki sangat paham akan perempuan yang menyimpan rasa untuknya. Dan Delon memiliki rencana untuk memberikan harapan pada Keysa, tetapi hanya untuk diminta uangnya saja. Pertama-tama, ia melirik ke arah tangan kiri Keysa, lalu dengan sangat berani ia menggenggam tangan tersebut. Membuat Keysa tersentak kaget, dan Delon hanya menunjukkan senyumannya. Delon menggandeng tangan Keysa hingga masuk ke dalam rumah makan sederhana tersebut, tentunya dengan senyuman yang sama sekali belum luntur dari bibirnya. Berbeda dengan Keysa, ia sama sekali tak bisa tersenyum. Karena jantung yang berdetak sangat kencang dan fokusnya hilang, saat merasakan kehangatan dari tangan yang berbeda jenis kelamin.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN