Bertemu di kampus?

1018 Kata
"Ya udah, kalo gitu aku balik ke kosan ya, Key," pamit Delon, setelah mengantarkan Keysa sampai tepat di depan indekos. Keysa mengangguk mempersilahkan Delon untuk meninggalkannya sendiri di indekos. "Terima kasih ya, Kak." Dion mengangguk, lalu melangkahkan kaki meninggalkan indekos Keysa. "Aaa! Gue seneng banget sumpah!" Keysa berteriak sekuat tenaga, saat dirinya sudah masuk ke dalam indekos dan menutup pintunya rapat-rapat. Siapa juga sih yang enggak ngerasa bahagia, saat jalan sama seseorang yang disuka? Sama kek yang Keysa alami sekarang ini. Bahkan, selera makannya pun kini telah hilang, sedahsyat itu kah rasa bahagia yang dirasakan oleh Keysa? Suara azan berkumandang membuat Keysa terbangun dari posisi tidurnya, lalu beranjak keluar dari indekos untuk menuju ke masjid yang berada tak jauh dari tempat tinggalnya itu. Setelah salat, segala beban pikiran yang meliputi pun seketika hilang dengan sendirinya. Keysa segera keluar dari dalam masjid, memakai kembali sandalnya, lalu berjalan menuju ke indekosnya. Sesampainya di indekos, Keysa memilih untuk membuka buku pelajaran yang nanti akan dipelajari besok. Untuk makanan yang ia beli tadi sore, biarlah itu untuk malam saja. Supaya bisa tahan lapar hingga siang, kan lumayan untuk menghemat uang, tidak selalu membeli makanan. Karena uang bulanan miliknya pun sudah cukup menipis. Berkutat dengan buku pelajaran, membuat Keysa lupa dengan waktu. Tiba-tiba saja ada suara azan yang berkumandang, pertanda bahwa sudah masuk waktu Isya. Keysa menutup buku yang tengah dibacanya, lalu melangkah keluar menuju ke masjid dan menunaikan kembali kewajibannya. Selesai salat, Keysa langsung pulang ke indekosnya dan mengambil bungkus makanan yang berada di cantolan. Rasa laparnya langsung hilang, saat perut ini sudah terisi dengan nasi yang dibelinya tadi sore. "Alhamdulillah! Akhirnya kenyang juga," ucap Keysa, setelah makanannya selesai dimakan. Keysa melipat bungkus makanannya dan membuang ke tempat sampah yang berada di depan indekos. Kembali masuk ke dalam dan mengambil gelas plastik miliknya, lalu mengambil air yang berasal dari galon. Ia sengaja memilih galon untuk alternatif minum sehari-harinya, selain murah, galon juga memiliki isi yang sangat banyak. Satu bulan ia hanya perlu mengisi dua kali, yang mana harganya hanya 5000 di kota Jakarta. Untuk galonnya sendiri sudah disediakan oleh si pemilik usaha. Selesai melahap makanan, Keysa memilih untuk bermain dengan ponsel pintarnya. Membuka aplikasi w******p dan membuka pesan yang berasal dari adik satu-satunya, Sulis namanya. Baru saja Keysa ingin melajukan panggilan telepon dengan Sulis, tetapi ia justru kalah cepat. Sulis terlebih dulu menelepon Keysa. "Assalamu'alaikum, Kak!" sapa Sulis di seberang sana, dengan senyuman yang mengembang sempurna. "Wa'alaikumussalam, Dek! Kita ganti video call, yuk!" Sulis menurut dengan apa yang diperintahkan oleh Keysa. Ia pun mengalihkan panggilan, dari panggilan telepon menjadi video. "Mama sama Ayah mana, Dek?" tanya Keysa, saat dirinya tak mendapati Nisa dan juga Galang. "Mereka lagi ada di dalam kamar, Kak," jawab Sulis, yang hanya diberi anggukan oleh Keysa. "Kakak di sana gimana kabarnya?" tanya Sulis, yang berlanjut dengan obrolan-obrolan ringan antara adik dan kakak. Sulis bukan menganggap Keysa sebagai kakaknya, melainkan sebagai sahabat yang selalu ada jika ia sedang mengalami apapun. Karena, tipikal Keysa memang seperti itu. Lebih mengutamakan kepentingan orang yang ia sayangi. Selesai bertelepon dengan Sulis, Keysa lebih memilih untuk langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Rasanya sangat nyaman, karena hari ini rasanya sangat menguras tenaga. Sebelum matahari menampakkan sinarnya, dan sebelum azan Subuh berkumandang, Keysa terlebih dulu bangun dari tidur yang sangat nyenyak itu, ia terduduk dan diam terlebih dulu sambil mengumpulkan kesadarannya. Perlahan, ia mulai membuka matanya, lalu menguap. Meregangkan otot-otot terlebih dulu, barulah ia berjalan menuju ke kamar mandi. Membuang air kencing, lalu mencuci mukanya dan menyempatkan untuk melaksanakan salat malam. Meskipun, salat malam itu bukanlah salat yang diwajibkan, tetapi sangat dianjurkan. Karena itu, sebisa mungkin Keysa selalu melaksanakannya. Godaan terbesarnya adalah, saat semua tubuh terasa sangat lelah, dan tidur adalah solusi yang tepat, alhasil salat malam pun bisa saja terlewat. Tak menunggu lama, setelah Keysa selesai membasuh tubuhnya dengan air pagi, azan Subuh berkumandang. Keysa pun langsung keluar dari indekosnya dan menuju ke masjid yang biasa ia datangi. Sepulang dari salat Subuh, Keysa lebih memilih untuk menyapu seluruh sudut ruangan indekosnya, dan juga menyiram beberapa bungan yang tak lama ia beli dari kakek-kakek yang lewat di depan indekosnya. Meskipun, ia tinggal di sini hanya sementara, tetapi menjaga kebersihan itu penting bukan? Maka dari itu, Keysa selalu menjaga lingkungannya. Tepat jam menunjukkan pukul tujuh pagi, Keysa menyisir rambutnya dan memoles sedikit wajahnya dengan makeup. Jadwal kuliahnya untuk hari ini memang lebih pagi dari biasanya, setelah dirasa sudah siap, Keysa keluar dari indekos tak lupa dengan beberapa buku yang berada di tangan kanannya dan tas yang ada di punggung. Berjalan beberapa meter, hingga bertemu dengan jalan besar yang biasa dilewati oleh angkot. Tak butuh waktu yang cukup lama, salah satu angkot berhenti tepat di depan Keysa, saat melihat jurusan angkot yang sudah benar, Keysa segera masuk ke dalam angkot tersebut. Sesampainya di kampus, jam menunjukkan pukul 7.50, yang artinya 10 menit lagi pelajaran akan dimulai. Dengan langkah yang terburu-buru, Keysa memasuki kampusnya. Tak sengaja ia menubruk tubuh seseorang yang membuat semua buku-buku yang ada di tangannya itu berjatuhan ke lantai. Keysa ingin meminta maaf dengan orang yang tak sengaja ia tabrak tersebut. Namun, setelah ia tahu siapa orangnya, kata maaf yang ingin diucapkan langsung hilang begitu saja. "Lo! Ngapain ada di sini?" tanya Dion sinis. Ya, orang tersebut adalah Dion--pacar pura-pura Keysa. Keysa mengernyit, lalu menjawab, "Gue juga kuliah di sini kali." Lalu ia berjongkok dan segera membereskan semua buku yang berserakan di lantai. Dion acuh dengan Keysa yang tengah sibuk mengambil buku-bukunya yang ada di lantai, ia justru meninggalkan Keysa tanpa sepatah kata pun. Kalian tahu? Menahan amarah itu sulit, sama halnya dengan apa yang dirasakan Keysa saat ini. Ia berusaha mati-matian untuk mengontrol rasa kesalnya. "Awas aja lo, Dion! Gue akan manfaatin lo. Tunggu waktu mainnya aja," gumam Keysa, lalu mengeluarkan senyum licik. Keysa kembali melanjutkan langkahnya untuk segera sampai di ruangannya. Untung saja, saat ia sampai, dosen yang dijadwalkan akan mengajar belum datang. Jadi, Keysa masih bisa mengikuti pembelajaran seperti halnya mahasiswa yang lain. Tak lama setelah Keysa duduk, dosen yang sedang ditunggu pun menampakkan dirinya, pembelajaran pun dimulai ... ruangan seketika berubah menjadi sepi, hanya ada suara dosen yang menjelaskan materi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN