Untuk menunggu waktu pembelajaran lain yang dilaksanakan pada jam satu siang, Keysa lebih memilih untuk duduk di taman, mengulang kembali materi yang tadi disampaikan, sekaligus mengerjakan tugas yang diberikan oleh dosen tersebut.
Percayalah, materi yang baru saja diterima itu akan lebih mudah untuk mengerjakan tugas. Dari pada diundur, dan alhasil bingung dengan tugas yang belum dikerjakan. Karena, seorang mahasiswi sangat tak baik memiliki sifat yang terlalu santai.
"Halo, Key!" sapa Delon, yang tiba-tiba duduk di samping Keysa, sambil merapihkan rambutnya itu.
Keysa menatap laki-laki yang barusan menyapanya. "Oh. Halo, Kak."
Delon melihat buku-buku yang ada di meja, lalu berucap, "Rajin banget sih, kamu enggak nyari makan siang?"
Keysa tersenyum menanggapinya, lalu menutup buku yang tadi ia baca, dan menjawab, "Enggak, Kak. Keysa belum laper."
Oh iya, taman yang ada di taman milik kampus ini, sudah di-desain untuk para mahasiswa yang ingin me-refresh pikirannya, dengan cara melihat rumput dan pepohonan yang masih hijau asri. Dan juga bisa untuk mengerjakan tugas, karena di setiap tempat duduk pasti disediakan meja.
"Mau nyari makan siang bareng nantinya?" tawar Delon, sambil tersenyum.
Keysa langsung menggelengkan kepalanya. "Enggak usah, Kak. Lagian, nanti jam satu juga Keysa masih ada jam."
Delon mengangguk paham dengan apa yang diucapkan oleh Keysa.
Tiba-tiba saja ponsel milik Keysa berbunyi, pertanda bahwa ada telepon yang masuk. Dan saat layar ponsel menampilkan nama Dion, dengan sangat malas Keysa mengangkat panggilan tersebut.
"Iya, kenapa?" tanya Keysa langsung, tentunya dengan nada yang sangat ketus.
Delon yang mendengar gaya bicara Keysa yang seperti itu sedikit terkejut, karena biasanya Keysa tak pernah berbicara dengan nada ketus.
"Lo cepetan ke gerbang kampus. Sekarang!" Setelah berucap seperti itu. Dion langsung memutuskan sambungan teleponnya. Membuat Keysa bertanya-tanya di dalam hati.
Dengan segera, Keysa mengemasi buku-bukunya, dan berucap, "Kak, Keysa permisi duluan ya. Tadi tiba-tiba ada urusan."
Delon mengangguk menyetujui, setelah itu Keysa pergi melangkah meninggalkan Delon dan juga taman tersebut, menuju ke depan gerbang. Seperti apa yang diperintahkan Delon tadi.
"Ada apa?" tanya Keysa to the point, saat dirinya sudah berhadapan dengan Dion yang tengah menekuk kedua tangannya itu.
"Jangan deket-deket sama Delon. Dia itu playboy. Keliatan banget dari mukanya," ujar Dion yang membuat Keysa bingung dan juga heran.
Keysa tertawa renyah mendengar ucapan Dion. "Lo siapa sih? Inget ya, kita itu cuma pasangan pura-pura. Pura-pura!" Keysa menekankan kata 'pura-pura', supaya lebih terdengar jelas di telinga Dion.
"Enggak usah ada kata penekanan lagi. Gue tau status kita, dan gue cuma simpati aja sama lo, gue tau banget gimana cewek kalo udah sakit hati," ucap Dion, lalu meninggalkan Keysa di gerbang tersebut.
Jujur saja, Keysa jadi takut dengan Delon, tetapi jika dilihat-lihat tak ada tampang playboy dari muka Delon. Dia terlihat seperti laki-laki yang baik dan juga rajin.
Keysa mengibaskan tangan kanannya di depan muka, ia lebih memilih untuk berjalan menuju ke masjid yang ada di sebelah kampus, karena sebentar lagi akan masuk waktu zuhur.
Tanpa disadari Keysa, dari kejauhan Dion memperhatikan gerak-gerik Keysa. Karena, entah mengapa ada yang berbeda dengan wanita yang lainnya. Rasa tertarik itu muncul sejak pertama kali ia bertemu.
Apalagi, saat pertemuan di dalam kampus tadi, dengan begitu ia tahu di mana dan bagaimana keseharian kekasih pura-pura tersebut. Padahal, Dion ke kampus tersebut hanya ingin bertemu dengan Ayahnya, yang sedang berkunjung dan bercengkerama dengan teman lamanya, di mana ia adalah pemilik kampus.
"Sayang! Anterin aku belanja, yuk! Di sana lagi ada diskon loh! Mana barangnya bagus banget, kalo enggak dibeli itu sayang banget," ucap Farah di seberang telepon.
Entah kenapa, mulai hari ini ia sangat muak dengan semua sikap yang ditunjukkan oleh kekasihnya itu. Mungkin, memang benar apa yang diucapkan oleh Reta--mamanya, bahwa Farah bukanlah yang terbaik untuk kehidupannya.
Dengan rasa bosan, Dion menjawab, "Iya. Nanti aku jemput kamu. Share lock ya."
Terdengar nada yang sangat happy dari seberang sana. Namun, hembusan napas kasar justru terdengar di sini. Aneh memang. Setelah sambungan telepon terputus, Dion segera mengemudikan mobilnya menuju ke tempat yang sudah dikirimkan oleh kekasihnya itu.
"Sayang!" teriak Farah dari kejauhan. Dion berpura-pura tersenyum manis saat berhadapan dengan kekasihnya itu.
"Kita langsung masuk, yuk!" ajak Farah dengan tangan yang tiba-tiba menggandeng tangan Dion.
Sesampainya di dalam pusat perbelanjaan yang cukup besar, Farah langsung membawa Dion menuju ke tempat di mana ia akan membeli barang-barang yang diinginkannya.
"Sayang, aku mau beli ini ya." Farah mengambil tas berwarna pink yang menurut Dion itu biasa saja, lalu kembali meraih tas yang lainnya dan berucap, "Sama yang ini juga. Boleh, kan?"
Dion menganggukkan kepalanya, lalu menjawab, "Ambil aja apa yang kamu suka, aku tunggu di cafe biasa ya. Kalau udah, telepon aku aja."
Tanpa menunggu jawaban dari Farah, Dion langsung meninggalkan kekasihnya itu sendirian berbelanja barang-barang yang sama sekali tak penting.
Hampir dua jam Dion menunggu kekasihnya berbelanja, dan juga sudah kopi keempat yang ia pesan. Namun, sama sekali tak ada telepon yang masuk ke dalam ponselnya.
Muak dengan semua ini dan juga waktu yang terbuang sia-sia, Dion lebih memilih untuk menjemput kekasihnya dan memastikan bahwa Farah masih setia memilih barang-barang yang ia suka.
Dugaan Dion meleset, perasaannya hancur saat itu juga. Bagaimana tidak, perempuan yang digadang-gadang akan setia dengan dirinya, ternyata tega untuk menggaet laki-laki lain, di saat dirinya tengah menunggu.
Dengan langkah pasti, Dion menghampiri dua orang yang layaknya pasangan itu, tanpa berdosa Farah merangkul lengan pria tersebut dan tertawa lepas tanpa beban sama sekali. Apakah ini bukan kali pertama Farah melakukan hal ini?
"Oh! Bagus! Seneng jalan-jalan sama dia?" tanya Dion dengan nada membentak. Farah yang mendengar nada seperti itu langsung takut, karena selama ini Dion sama sekali tak pernah mengeluarkan nada bicara yang seperti itu.
"Kenapa diem? Hah! Tadi ketawa lepas? Lanjutin aja!" sentak Dion, sambil menahan amarahnya.
"Lo juga! Enggak ada cewek lain di luaran sana? Hah!"
Satu pukulan yang sangat keras tepat mendarat di perut laki-laki yang tanpa berdosa jalan berdua dengan Alya.
"Santai dong, Bro! Gak usah main kasar," ucap laki-laki yang bernama Faisal itu, lalu mencoba untuk bangkit dan menahan sakit di perutnya.
Bukannya berhenti, Dion justru kembali memberi pukulan lagi pada perut Faisal. Pukulan yang dilayangkan oleh Dion bukan apa-apa dan tidak berarti juga.
Ketimbang perasaan Dion saat ini, yang sudah sangat hancur berkeping-keping.