Banyak sekali hal-hal yang dilakukan oleh mereka berdua, dari mulai ngobrol dengan keluarga, sampai tertidur di ruang televisi.
Tentu saja hal itu terjadi karena rasa lelah yang menyelimuti, dan saat mereka bangun dari tidur sudah ada ayah dari Keysa.
Itu yang menyebabkan mereka berdua kembali bercengkerama. Terutama Keysa yang sudah sangat lama sekali tidak bertatap muka.
Namun, kegiatan yang seperti itu tak berlangsung lama. Ya, karena nanti pada hari selanjutnya Keysa itu akan menjalani kehidupan yang semestinya.
Jadi, setelah banyak sekali obrolan yang dilontarkan antara mereka semua, dan kini harus menghadapi perpisahan.
"Keluarga kamu itu asik, aku suka bercengkerama sama mereka," ucap Dion, saat mereka baru beberapa menit memulai perjalanan.
Keysa menolehkan pandangan ke arah Dion, lalu mengulas senyum. Senyuman yang sangat manis sekali, bahkan mampu membuat hipnotis, sehingga Dion pun ikut tersenyum.
"Sama kek keluarga kamu juga, Mas. Aku nyaman sama mereka," sahut Keysa, lalu pandangannya itu kembali fokus ke depan.
"Semoga aja kita berdua emang beneran jodoh ya, Sayang," ucap Dion, dan langsung dijawab anggukan kepala dengan semangat oleh Keysa.
Siapa yang tidak merasa senang, jika sedang membahas tentang jodoh dengan seseorang yang sangat dicintai?
Tentu saja semua orang akan merasa sangat senang, bahkan semua pasangan juga kan mengharapkan hal yang seperti itu.
"Semisal nih ya, Mas, kita berdua itu enggak berjodoh. Terus, gimana?" tanya Keysa, lalu langsung menggigit bibir bawahnya. Karena perempuan itu sangat takut sekali, jika pertanyaan yang terlontar dari mulutnya memang sangat sensitif.
Namun, percayalah jika pertanyaan yang dikeluarkan Keysa bukan bertujuan untuk menimbulkan masalah, tetapi perempuan itu memang tengah menguji.
Setiap orang akan memiliki jawaban masing-masing untuk pertanyaan yang seperti itu, dan kini Keysa ingin mendengar jawaban yang dikeluarkan oleh sang kekasih.
Bukan jawaban yang keluar dari mulut Dion, tetapi justru hembusan napas yang sedikit terdengar seperti kecewa.
Dan beberapa detik kemudian, laki-laki itu pun akhirnya berucap, "Kalau memang iya kita enggak berjodoh, seenggaknya kita itu pernah mengukir kenangan yang mengasyikkan."
"Dan, kalau sampai hal itu terjadi, saya harap kamu tidak akan pernah membenci saya. Begitu juga dengan saya."
"Kita masih bisa menjadi sahabat, meskipun tidak menjadi pasangan, tetapi setidaknya aku juga pernah merasakan bahagia sama kamu," ujar Dion, sangat panjang.
Keysa menganggukkan kepalanya, karena apa yang menjadi jawaban Dion memang itu adalah harapan yang diinginkan oleh dirinya.
"Udah, jangan dibahas lagi ya tentang hal itu, karena aku cuma sekedar nanya aja," ucap Keysa seraya mengulas senyum.
Untung saja, Dion tak sampai mengeluarkan kata-kata kasar, atau bahkan membentak, karen ada saja beberapa orang yang sampai melakukan hal itu.
Sebenarnya, apa yang mereka lakukan itu benar. Pertanyaan yang tadi memang sangat sensitif sekali, apalagi tentang jodoh seperti itu.
"Sayang, kamu enggak ada niatan sama sekali buat ninggalin aku, kan?" tanya Dion, dengan pandangan yang sangat mengharapkan jawaban positif dari sang kekasih.
"Sembarangan aja, aku itu enggak ada niatan sama sekali buat ninggalin kamu," jawab Keysa, dengan sangat pasti sekali.
"Terus, kalau semisal nih ya, Delon itu ngedeketin kamu lagi. Reaksi kamu itu gimana?" tanya Dion lagi.
Keysa langsung menggelengkan kepalanya dan menjawab, "Enggak akan kek gitu kok, Mas. Sekalinya aku udah sayang sama kamu, pasti enggak bakalan pindah ke lain hat."
"Kecuali kamu itu ada main sama perempuan lain lagi, itu enggak bakalan aku biarin, dan dapat dipastikan kalau aku juga bakal ngelakuin hal yang sama. Yaitu nyari cowok yang lain lagi," sambung Keysa.
"Eh, enak aja. Aku juga enggak bakalan kek gitu kok. Aku itu tipe orang yang setia banget," ujar Dion, meyakinkan.
Dan tanggapan dari Keysa hanya menganggukkan kepala saja, tak ada jawaban apa pun yang keluar dari mulut perempuan itu.
"Aku nyalain radio ya, Mas," izin Keysa, setelah beberapa menit dilalui dengan keheningan, dan kantuk pun mulai merajalela.
"Enggak apa-apa, Sayang, tinggal nyalain aja kok," jawab Dion mempersilahkan.
Tentu dengan sangat senang hati sekali Keysa melakukan hal yang ia inginkan, dengan segera tangan kanan perempuan itu bergerak untuk menyalakan radio yang berada di dalam mobil.
"Halo! Selamat sore, kembali lagi dengan saya Azka Tazkia! Bagaimana kabar kalian semua yang masih stay tune, pasti baik-baik aja, kan?"
"Haha, apalagi bentar lagi adalah hari valentine. Mungkin para pasangan kekasih akan menyiapkan sesuatu yang sangat romantis, benar bukan?"
Persetan dengan suara radio yang masih saja menyala dan sebenarnya terdengar di telinga Kedua orang tersebut, tetapi sepasang kekasih itu memilih untuk saling berpandangan.
Namun, hal itu tidak dilakukan dengan durasi waktu yang cukup lama. Karena Dion memang harus kembali fokus pada jalan.
"Ada kemauan, atau rencana gitu?" tanya Dion terlebih dulu.
Ini adalah kesempatan bagi Keysa, tetapi entah mengapa otak perempuan itu mendadak tak bisa berpikir sama sekali.
"Kamu tahu tentang hari valentine, kan?" tanya Dion, sembari menatap sekilas ke arah sang kekasih.
"Ya tau dong, masa iya hari valentine enggak tau, sih!" jawab Keysa, dengan nada yang sedikit kesal.
Tetapi tak ada rasa kesal yang sungguhan di dalam hati perempuan itu, apalagi otaknya yang tengah berpikir keras untuk memikirkan tentang perayaan hari valentine tersebut.
"Kita juga mau ngerayain hari valentine?" tanya Keysa, meminta persetujuan.
"Eum ... kalau emang iya bisa, enggak apa-apa sih, enggak ada masalah sama sekali kok, dan aku juga pasti punya waktu untuk hal itu," jawab Keysa, dengan sangat cepat.
Tak ada satu pasangan pun yang mau melewatkan hal ini, sama halnya dengan Dion dan juga Keysa.
Setelah jawaban yang terlontar dari keysa seperti itu, tentu saja membuat Dion langsung berpikir keras untuk melaksanakan perayaan hari valentine tersebut.
Pada tahun-tahun biasanya, Dion juga sama sekali tak pernah merayakan hal yang seperti ini. Hanya dengan Keysa saja, Dion sampai memiliki niat seperti itu.
"Memangnya kamu pernah ngerayain hari valentine sebelumnya?" tanya Dion, pada Keysa.
Dan jawaban dari Keysa ternyata langsung menggelengkan kepala, seraya mengedikkan bahunya itu.
"Jangankan ngerayain hari kek gitu, sama mantan aku aja enggak pernah akur. Selalu aja bertengkar," ucap Keysa, dengan nada bicara yang berubah menjadi sendu.
Dion bungkam, laki-laki itu memilih untuk tak mengutarakan apa pun. Bukan tanpa alasan sama sekali ia melakukan hal itu, karena memang membahas masa lalu adalah kegiatan yang menyakitkan.
Dion saja sudah tak ingin sama sekali membahas masa lalu, karena semua yang namanya masa lalu pasti saja memiliki rasa yang sangat pahit.