"Biarin aja kakak kamu itu sibuk sama urusannya sendiri, dan lagian Mama juga mau ngobrol sama Nak Dion dulu," jelas Nisa, yang langsung dijawab dengan anggukan kepala oleh Sulis.
Dan adik dari Keysa itu pun memutuskan untuk kembali duduk manis di kursi, yang tadi ia tempati.
"Tante, ngomong-ngomong soal bicara, Dion boleh nanya sesuatu enggak sama Tante?" tanya Dion, memecah keheningan.
Meskipun dengan perasaan yang ragu dan juga takut, jika apa yang akan ia tanyakan itu justru salah, tetapi jika ia tidak kunjung bertanya maka lebih tidak enak lagi rasanya.
"Boleh, dong, mau nanya apaan emangnya? Kok wajahnya itu enggak biasa aja?" sahut Nisa, dengan wajah yang kini mulai serius.
"Maaf banget Tante sebelumnya, Dion mau nanya sekaligus minta pendapat sama Tante. Tentang hubungannya Dion sama Keysa," ujar Dion, lalu sebisa mungkin laki-laki itu langsung mengulas senyum.
"Sebenarnya, Tante itu enggak masalah sama sekali tentang apa yang menjadi pilihan Keysa, tetapi kita sebagai orang tua tentu aja bakalan cari tau dulu gimana baiknya," sahut Nisa, penuh arti.
Menarik napas terlebih dulu, berhenti berucap sebentar, dan juga menolehkan kepala ke arah anak bungsunya itu.
Kembali melihat ke arah Dion, lalu kembali berucap, "Lagian, Nak Dion juga baru kali ini datang ke rumah Keysa."
"Udah berapa lama sih hubungan kalian berdua?" KIni giliran Nisa yang mengeluarkan pertanyaan.
"Cukup lama, Bu, tetapi seperti apa yang diutarakan oleh Keysa sebelumnya. Kalau kita itu sempat menjalin hubungan pura-pura, sampai akhirnya yang namanya hati itu enggak bisa dibohongi," jawab Dion, berusaha untuk mengingat.
"Memangnya kamu itu udah yakin sama Keysa, anak Tante?" tanya Nisa lagi, dan sangat tak disangka sekali, jika Dion langsung menganggukkan kepala.
"Lalu, siapa yang memberi usul untuk kalian datang ke rumah asli Keysa? Nak Dion, atau anak Tante sendiri?" tanya Nisa lagi, karena ia memang tengah berada dalam tahap mencari informasi.
"Tentu ide itu adalah dari saya sendri, hehe. Karena memang saya sebagai kekasih dari anak Tante tidak akan rela, jika sampai ada laki-laki lain yang menginginkan kekasih saya sendiri," jawab Dion langsung.
Nisa akan kembali menyahuti jawaban Dion yang seperti itu, tetapi hal itu tidak jadi, karena kedatangan Keysa, yang diiringi dengan berdeham.
"Hayo! Lagi bahas apaan? Pasti tentang Keysa, kan?" tanya Keysa, dengan kedua mata yang langsung melempar tatapan penuh curiga.
"Ih! Udah datangnya tiba-tiba, malah langsung ngasih pertanyaan yang sok tau kek gitu!" sahut Sulis, seraya melempar tatapan yang sangat hean.
"Loh, kan tadi itu cuma nanya, emang salah kalau nanya?" protes Keysa, lalu kedua kakinya itu tetap melangkah dan berhenti tepat di depan kursi yang berada di samping Sulis.
Dion yang menyaksikan pembicaraan seperti itu, hanya menggelengkan kepala aja, tak tertinggal juga dengan senyuman yang terukir di wajah. Terlihat sangat tampan sekali.
"Udah selesai sama kegiatan kamu yang tadi itu?" tanya Dion, yang langsung mendapat jawaban anggukan di kepala perempuan tersebut.
"Keysa, Mama mau ngomong serius sama kamu," ucap Nisa, lalu menatap wajah anak pertamanya dengan sungguh-sungguh.
Keysa yang mendengar ucapan orang tuanya itu, langsung menoleh dan mengangkat satu alis miliknya. "Mau nanya apaan, Ma?"
"Ini itu tentang hubungan kamu sama Nak Dion," jawab Nisa, seraya melihat sekilas ke arah Dion.
Melihat orang tuanya yang menyempatkan diri melihat ke arah sang kekasih, membuat Keysa juga memiliki inisiatif untuk melihat ke arah Dion juga.
"Kamu sudah yakin menjalin hubungan dengan Nak Dion? Lalu, bagaimana dengan urusan cita-cita kamu itu?" tanya Nisa.
Jika dilihat dengan lebih seksama dan juga teliti lagi, maka ada perasaan sedih dan juga putus asa di balik wajah tersebut.
Dan perasaan itu langsung dapat dilihat oleh Keysa. "Dek, duduknya pindah ke sini dulu, gih! Kita tukeran dulu!" pinta Keysa, dengan nada yang sedikit memaksa.
Sebenarnya, apa yang saat ini dilakukan oleh Keysa ada arti tersendiri, karena perempuan itu memang ingin lebih dekat lagi dengan orang tua.
Apalagi, apa yang diucapkan oleh Nisa itu tidak satu arah dengan dirinya. Setelah posisi duduk kaka beradik itu sudah berubah, Keysa langsung menggenggam pelan telapak tangan milik orang tuanya.
"Ma, dengerin Keysa dulu ya. Keysa itu tau kok, dan Keysa juga paham banget tentang apa yang saat ini dirasakan oleh Mama. Keysa juga punya tujuan hidup yang bener-bener terarah."
"Dengan Keysa yang memiliki kekasih, bukan berarti Keysa lupa tentang cita-cita dan juga harapan kita waktu itu, Mama tau? Karena adanya Mas Dion, saat ini Keysa juga lagi belajar bagi waktu biar lebih produktif lagi," sambung Keysa, dengan kedua mata yang sudah siap untuk menumpahkan air mata.
Ucapan Keysa yang seperti itu, sedikit membuat hati Nisa sangat-sangat bersalah, tetapi masalahnya memang harapan keluarga tengah berada di bahu Keysa.
Dan jika Keysa saja sudah memiliki impian yang dulu mereka bangun, mungkin Nisa juga akan kehilangan impian tersebut.
Impian dari mulai membangun dan juga merenovasi rumah, sampai semua hal yang sudah sama-sama mereka susun. "Seperti apa yang Keysa bilang sebelumnya, Ma, kalau hubungan Keysa sama Mas Dion itu mengarah ke hal yang positif."
"Keysa banyak banget belajar tentang kerjaan asisten, pokoknya semua yang Keysa lakuin sama Mas Dion itu enggak ada hal yang aneh-aneh kok. Iya kan, Mas?" jelas Keysa, lalu di akhir kalimatnya langsung meminta pendapat pada sang kekasih.
Dion yang diminta jawaban, tentu saja langsung menganggukkan kepala, lalu menjawab, "Bener banget, Tante. Lagian, Dion juga tahu banget kalau orang kuliah itu enggak setiap hari juga berangkatnya."
"Dan Dion memanfaatkan hal itu, untuk memberi ilmu pada kekasih Dion sendiri, enggak ada penekanan dan juga paksaan. Iya kan, Sayang?" Detik itu juga Keysa langsung menganggukkan kepala, membenarkan apa yang diutarakan oleh sang kekasih. Namun, panggilan yang ditujukan untuk dirinya itu benar-benar di luar dugaan Keysa.
Di dalam hati Keysa itu selalu saja berharap, jika orang tuanya itu tidak akan marah, karena dirinya yang diberi panggilan seperti itu.
"Mama enggak ada hak untuk melarang hubungan kalian berdua, karena Mama juga dulunya itu pernah mengalami masa muda. Di mana suka sama laki-laki."
"Yang terpenting, kalian itu bisa saling menjaga. Mengarahkan hubungan kalian itu menuju ke hal yang lebih positif lagi, okey?" sambung Nisa, dengan nada bicara yang terdengar sangat bijaksana sekali.
Tentu saja Keysa dan juga Dion sangat kompak sekali untuk menganggukkan kepala. "Siap, Ma! Kita juga paham akan batasan-batasan kok."
Nisa langsung mengulas senyum setelah mendengar ucapan anak pertamanya yang seperti itu.