Berarti, kamu itu enggak akan pernah suka sama masakan yang aku buat, kalau rasanya enggak kek gini," ucap Keysa, dengan raut wajah yang langsung berubah menjadi sedih.
"Loh, bukan dalam artian kek gitu. Aku itu nanya, kamu bisa enggak masak kek gini, bukan tentang rasa, Sayang," sahut Dion, membenarkan.
Karena, opini yang dikeluarkan oleh Keysa memang sangat salah sekali. Memang, yang namanya manusia itu memiliki pemikiran yang berbeda-beda, sama halnya dengan Keysa dan juga Dion.
Untung saja, Dion bukanlah tipikal laki-laki yang langsung marah dan terbawa emosi. Ia lebih memilih untuk perbanyak sabar dan mengalah untuk tentang hal itu.
"Yaelah, makanya kalau ngomong itu yang jelas, dong!" ucap Keysa, lalu melanjutkan kegiatan makannya yang sempat tertunda tadi.
"Aku itu tadi ngomongnya jelas, Sayang, cuma kamunya aja yang mungkin lagi sensitif," sahut Dion, lalu mengulas senyum. Laki-laki itu pun menggelengkan kepala, lalu ikut melanjutkan kegiatan makannya lagi.
Setelah Dion berucap seperti itu, tak ada perbincangan yang lain lagi, hanya ada suara denting peralatan makan. Baik dari keysa sendiri, maupun Dion.
Namun, tiba-tiba saja tangan kanan milik Dion bergerak dan mengarah ke bibir Keysa. "Kalau makan itu jangan kek anak kecil."
Dion membersihkan sisi bibir Keysa tanpa permisi, apalagi wajah laki-laki itu juga dihiasi dengan senyuman. "Sudah bersih, silahkan lanjut makan lagi."
"Ish! Kenapa enggak tinggal bilang aja? Kenapa harus dibersihin sama kamu?" protes Keysa, karena hatinya saat ini sudah sangat berantakan.
Semua orang juga pasti akan merasakan hal yang sama, jika diberi sikap yang seperti itu. Sama halnya dengan Keysa yang saat ini tengah berusaha menutupi rasa yang sangat bahagia.
"Karena aku masih bisa ngelakuin hal yang kek tadi, kenapa harus ngomong ke kamu dulu?" jawab Dion, seraya mengulas senyum yang sangat lebar sekali.
"Enggak ada yang salah juga, kan aku ngelakuin hal yang tadi?" tanya Dion, tetapi dengan pandangan mata yang tak melihat ke arah Keysa, karena laki-laki itu memilih untuk fokus pada piring di depannya.
"Emang enggak ada yang salah sama sekali, tetapi hati aku itu jadinya bermasalah," sahut Keysa, seraya tangan kanan yang menyentuh tempat di mana hatinya itu berada.
Dion yang belum paham pun langsung menampakkan raut wajah yang sangat terkejut sekali, bahkan tersirat kekhawatiran di sana. "Hati kamu ada yang bermasalah? Kenapa? Mau ke dokter sekarang?"
"Ya ampun, Mas! Maksud aku itu bukan kek gitu, kenapa mukanya enggak biasa aja, sih?" ucap Keysa, sembari mengeluarkan tawa andalannya itu.
"Kalau maksud kamu bukan kek gitu, terus apa? Jangan bercanda, Sayang, kalau emang ada masalah di hati kamu itu adalah masalah yang sangat serius," ujar Dion, kedua matanya menyiratkan rasa bingung yang teramat.
Keysa langsung menggelengkan kepalanya, lalu membalas, "Hati aku emang bermasalah, bahkan jika bisa diliat sekarang itu lagi hancur berantakan."
"Tapi bukan karena masalah penyakit, justru ini diakibatkan karena kamu yang ngasih perlakuan yang tadi itu," sambung Keysa, lalu kembali mengeluarkan tawa.
Setelah mendengar penjelasan dari Keysa, barulah Dion paham dan ternyata reaksi yang ditunjukkan oleh laki-laki itu menghembuskan napasnya saja.
"Aku kira, hati kamu itu benar-benar ada masalah, dan aku enggak tahu sebelumnya. Aku kira juga kamu baru ngasih tau aku hal ini, sekarang. Makanya langsung ngerasa khawatir banget," ucap Dion, lalu menggerakkan tangan kanannya untuk memasukkan satu sendok makan yang terakhir.
"Hihi, makasih banyak loh ya udah khawatir sama aku." Keysa tersenyum dengan sangat sempurna, ia sama sekali tak menyangka jika ada seorang laki-laki bisa memberinya perhatian yang seperti itu.
Masalahnya, yang membuat Keysa sangat merasa bangga pada dirinya sendiri adalah, Dion itu bukan laki-laki biasa, tetapi justru memiliki pangkat dan juga jabatan.
Tidak dapat dipungkiri juga, jika Keysa sebenarnya suka dengan laki-laki yang memiliki banyak sekali assets. Terlepas dari sikap Keysa yang selalu cuek pada kekayaan dari Dion.
"Hey! Cepet diabisin, Sayang, makanannya!" tegur Dion, seraya mengusap puncak kepala Keysa.
Ternyata benar, Keysa memang tengah melamun, dan mendapat teguran yang seperti itu dari sang kekasih membuat Keysa langsung mengerjapkan kedua matanya.
"Eh, iya." Keysa pun segera melanjutkan kegiatannya yang itu.
Selama Keysa yang tengah mengunyah makanan tersebut, Dion dengan sangat setia sekali melihat bagaimana Keysa melahap makanan.
"Huft! Alhamdulillah," ujar Keysa, dengan tangan kanan yang langsung meraih gelas dan juga segera meneguk air minum tersebut.
"Katanya tadi bilang sendiri kalau makannya bakalan lebih hati lagi-lagi, tapi kenapa kenyataannya kok masih enggak rapi?" tanya Dion, dan tanpa permisi sama sekali. Laki-laki tersebut mengusap sudut bibir milik Keysa.
"Eh!" Keysa juga langsung menggerakkan tangan kanan untuk memegang bibirnya, yang tadi itu dipegang oleh Dion.
Dan tanpa berucap apa pun lagi, Keysa berdiri dari posisi duduknya tadi. Kembali membereskan meja makanan, seperti sedia kala. Sebelum dirinya dan juga Dion makan di meja tersebut.
"Biar aku yang nyuci piring aja ya," ucap Dion, yang juga ikut berdiri dan berniat untuk meraih piring kotor tadi.
Namun, Keysa langsung berucap, "Eh, enggak usah! Kamu itu tau di sini."
"Kalau iya emang mau bantu buat hal yang kek gini, nanti aja kalau kita itu udah bangun rumah tangga," ujar Keysa lagi, lalu langsung mengeluarkan tas kecil.
Membalikkan tubuh terlebih dulu, sebelum nanti Dion akan mengeluarkan suara, karena apa yang tadi diucapkan oleh perempuan adalah tak sungguhan sama sekali.
Dan yang dilakukan oleh Dion hanyalah mengulas senyum, ternyata perempuan yang sudah sah menjadi kekasihnya itu bisa juga sangat romantis.
Daripada tak mengerjakan apa pun, maka Dion memutuskan untuk melangkahkan kaki menuju ke ruang tamu, yang sudah ditebak oleh Dion jika di situ terdapat keluarga Keysa.
"Tante," sapa Dion, saat tebakannya itu benar. Di situ terdapat Sulis dan juga Nisa, yang tengah bercengkerama.
"Eh, Nak Dion. Silahkan duduk, Nak. Loh, Keysa mana?" sahut Nisa ramah, dan langsung menanyakan keberadaan anak semata wayangnya itu.
Dion menganggukkan kepalanya terlebih dulu, tak langsung menjawab pertanyaan tersebut. Melangkahkan kaki lagi untuk segera sampai di salah satu kursi yang berada di situ.
"Keysa masih ada di dapur, Tante, katanya mau nyuci piring dulu. Tadinya Dion juga mau bantu, tetapi Keysa malah nolak," ujar Dion, setelah ia sudah duduk pada kursi tersebut.
"Ya ampun, segini lagi ada tamu, kok malah milih buat nyuci piring ya?" gumam Nisa, seraya menggelengkan kepalanya.
"Biar Sulis panggilin Kak Keysa aja ya, Ma," ucap Sulis dan berniat untuk melangkahkan kaki menuju ke dapur.