Masak makanan

1011 Kata
"Kenapa memangnya, Ma? Masalah ya kalau emang Mas Dion itu anak pertama?" tanya Keysa, dengan dahi yang berkerut. Pertanyaan dari anaknya yang seperti itu, membuat Nisa memutuskan untuk langsung menggelengkan kepalanya, lalu menjawab, "Enggak kok, Mama cuma trauma sama masa lalu Mama aja." Terdengar hembusan yang sangat kentara sekali dari Nisa, lalu pada detik berikutnya wanita tersebut langsung kembali berucap, "Tapi, Mama berharap banget kalau kekasih kamu itu enggak kek masa lalu Mama ya!" Ucapan Nisa yang seperti itu, langsung dijawab anggukan kepala oleh Keysa dan juga Dion. Bahkan, dengan sangat kompak sekali. "Siap, Tante, Dion pasti enggak akan pernah ngelakuin hal yang negatif kok," ucap Dion, dengan wajah yang menampilkan penuh keyakinan sekali. Sebenarnya, saat pertama kali Nisa melihat wajah Dion, ia sudah melihat hal-hal yang baik dari wajahnya, tetapi untuk anak tentu saja harus lebih jeli dan juga selektif lagi. Perlu diketahui, di mana-mana yang namanya kegagalan tentu saja akan selalu berdampingan dengan rasa takut, entah dengan cara apa kegagalan tersebut. Dan Nisa sama sekali tak menginginkan hal itu, semua orang tua di belahan dunia sekalipun, selalu menginginkan hal yang terbaik untuk seorang anak. "Okey, dipegang ya ucapan kamu tadi itu," ucap Nisa, penuh penegasan. Kembali dengan raut wajah yang penuh keyakinan sekali, Dion langsung menganggukkan kepala. "Eum ... oh iya, Ma, kita ke sini itu sebenarnya mau tahu dan Dion juga mau menegaskan sama keluarga mantan aku itu. Biar enggak ada harapan, sama kebencian di hati mereka," ucap Keysa, berusaha untuk memberitahu tujuan dirinya dan juga sang kekasih, pulang ke kampung halaman. "Oh, jadi pulang ke sini itu bukan karena kangen sama Mama? Malahan ada tujuan yang lain lagi, gitu?" tanya Nisa, suaranya sengaja untuk dibuat seolah dirinya itu tengah merasa sangat kecewa. Benar saja, setelah mendengar pertanyaan seperti itu dari Nisa, wajah Keysa langsung merasa sangat bersalah. Buru-buru perempuan itu pun berucap, "Loh, bukan kek gitu juga, Ma." "Terus apaan? Sulis juga enggak nyangka banget, Kak," sahut Sulis, yang tadinya hanya diam saja dan kini mulai ikut mengeluarkan suara. "Dek, Kakak kangen sama kalian dan ingin bertemu itu adalah tujuan utama banget, tapi ada sesuatu yang lebih gawat dari hal itu. Dion mau ngasih tau ke mereka, kalau Keysa emang sudah punya kekasih," jelas Keysa, dengan langsung sekali panjang. Padahal, Nisa dan juga Sulis hanya berucap penuh kata-kata bercanda, tetapi mungkin setiap orang itu selalu saja berbeda. "Udah, enggak usah mikirin tentang hal itu, Mama udah pastiin banget kok, kalau mereka itu pasti bakalan paham dan juga percaya 100%. Apalagi, dia itu adalah seseorang yang pernah ninggalin kamu," ucap Nisa, dengan suara yang selembut mungkin. Karena, jika bukan dirinya yang menangani semua permasalahan yng berada di dalam ruang lingkup rumah, maka siapa lagi? Tentu tidak ada sama sekali, bukan? Itulah mengapa gunanya ada kehadiran orang tua di samping sang anak. Tempat berkeluh kesah, menceritakan masalah, mencari solusi bersama, dan lain sebagainya. "Jangan dibuat pusing dong, Sayang. Kan seperti apa yang tadi Mama kamu bilang itu, semuanya udah diatasi," ucap Dion, saat mendapati raut wajah Keysa yang terlihat sangat khawatir sekali. "Kak Keysa hari ini udah makan belum? Pasti belum, kan? Kalau gitu, yuk makan sama Sulis!" ajak Sulis, bahkan adik dari Keysa juga ikut andil untuk menenangkan hati sang kakak. Dan ternyata apa yang diusahakan oleh Sulis itu membuahkan hasil, Keysa langsung mengulas senyum dan menjawab, "Dasar kamu tuh, Dek! Selalu aja semua yang ada di dalam otak kamu tentang makanan!" "Bukan gitu, Kak, tapi Sulis itu tahu wajah-wajah mana yang belum nyentuh makanan sama sekali, dan juga yang udah kenyang tentang makanan," sahut Sulis, lalu langsung mengulas senyum. "Ayo, Mas! Kita makan dulu!" ajak Keysa, dengan tangan kanan yang langsung bergerak untuk meraih pergelangan tangan Dion. Laki-laki itu juga tak mengeluarkan kata penolakan atau protes sama sekali, ia langsung menganggukkan kepala dan mulai untuk berdiri dari posisi yang tadi. Sedangkan Nisa, ia sudah terlebih dulu melangkahkan kaki menuju ke ruangan dapur, karena memang ia yang akan menyiapkan semuanya. Setelah Sulis baru saja menawarkan untuk makan pada Keysa. "Wuih! Ini kok semua makanan yang Keysa suka, ya?" tanya Keysa, yang langsung menarik kursi yang tersedia di ruang makan tersebut. Meneguk ludah berkali-kali, sedangkan Dion masih merasa sangat canggung, dengan keadaan yang seperti ini. Sampai akhirnya Keysa yang kembali berucap, "Ayo, Mas, duduk di sini, dong!" Dan setelah mendengar ucapan dari Keysa, barulah Dion menganggukkan kepala, lalu menggerakkan tangan kanan untuk menggeser kursi yang berada di depannya. "Silahkan dinikmati ya! Maaf banget, kalau lauknya ala kadar seperti ini," ucap Nisa, seraya membuka beberapa makana yang masih ia tutup itu. Benar apa yang diucapkan oleh Keysa, jika apa yang saat ini dimasak oleh Nisa memang makanan kesukaan dari anak pertamanya itu. Bukan karena apa-apa, tetapi itu adalah salah satu cara untuk melebur rasa rindu yang hadir di dalam relung hati Nisa. "Terima kasih banyak, Tante, dikasih suguhan dan juga ditawarin makanan aja udah seneng banget," sahut Dion, lalu mulai memasukkan satu sendok nasi ke dalam mulut. Saat Keysa dan Dion sudah mulai untuk melakukan kegiatan makan, Nisa dan juga Sulis kompak untuk melangkahkan kaki menuju ke ruang tamu lagi. Membiarkan kedua orang tamu yang baru saja datang itu untuk melahap makanan. "Masakannya siapa ini, Sayang?" tanya Dion, di sela-sela kegiatan makan. Mendengar pertanyaan seperti itu, membuat Keysa langsung melihat ke arah Dion dan menjawab, "Kalau dari rasanya sih, ini itu masakan Mama deh, Mas." "Memangnya kenapa?" tanya Keysa, saat dirinya mendapat anggukan kepala saja dari Dion. "Masakannya itu enak banget, bahkan restoran aja sampai kalah tau!" jawab Dion, dengan tangan kanan yang sama sekali tak berhenti bergerak. Keysa langsung mengulas senyum, bagaimanapun juga ia tetap bangga atas pujian yang dilontarkan oleh sang kekasih. Meskipun, yang dipuji bukanlah karya dari dirinya. "Eum ... kamu bisa enggak masak makanan yang kek gini?" tanya Dion, seraya melihat ke arah Keysa dengan sangat serius. "Eh, kenapa jadi nanyanya itu ke aku, sih?" protes Keysa, tangan kanannya langsung bergerak untuk mengusap tengkuk yang sama sekali tak gatal itu. "Kan kamu itu calon istri aku, masa iya aku enggak boleh nanya kek gitu?" ujar Dion, yang langsung membuat Keysa mengangguk pelan dan merasa tak enak.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN