"Ma, hubungan kita itu positif kok," ucap Keysa mencoba untuk meyakinkan. Meskipun ia sendiri juga sama sekali tak yakin, jika orang tuanya itu akan paham.
"Contoh dari hubungan kalian itu positif, gimana?" tanya Nisa, nada bicaranya sama sekali tak bersahabat.
Kali ini Dion kembali berucap, "Saya tidak akan pernah merusak anak Tante."
"Kita juga enggak melakukan hal apa pun, kecuali Keysa yang memang ingin belajar menjadi asisten pribadi," sambung Dion.
Sebenarnya, apa yang diucapkan oleh Dion barusan tidak sepenuhnya adalah kebenaran, karena memang banyak sekali yang tidak nyata.
"Loh, Mas, awalnya bukan kek gitu!" protes Keysa mengeluarkan suara, setelah sedari tadi perempuan itu hanya diam saja.
Dan mendengar kata protes yang keluar dari mulut Keysa, membuat Dion langsung mengernyitkan dahinya. Yaitu, pertanda jika ia memang tengah merasa sangat heran.
"Memangnya salah, ya? Perasaan bener kek gitu, deh," sahut Dion, seraya tangan kanan yang langsung menggaruk kepala bagian belakang.
"Ye, bukan kek gitu, masa iya kamu enggak inget sama sekali sih, Mas?" ujar Keysa, lalu kembali memberi pertanyaan pada sang kekasihnya itu.
Karena memang Keysa merasa sangat tak berarti sekali, jika kisah pertama kali mereka bertemu itu sama sekali tak diingat oleh Dion.
harap-harap cemas, dan juga berharap di dalam hati. Supaya Dion akan segera paham, atau justru ingat bagaimana kisah cinta mereka berdua dulu.
"Oh iya! Sayang, maaf baru ingat," ujar Dion tiba-tiba, yang membuat Keysa langsung menaikkan satu alis.
"Ingat? Yakin banget kalau kamu emang udah inget?" tanya Keysa, tatapan kedua mata dari perempuan itu menyiratkan sekali tentang keraguan.
Dan Dion langsung menganggukkan kepala dengan sangat semangat sekali, mencirikan jika ia memang sudah benar-benar ingat perihal kisah cintanya dulu.
"Kita itu dulunya karena keterpaksaan, kan?" ujar Dion, tetapi seraya meminta persetujuan dari Keysa.
"Eits! Tapi lebih tepatnya adalah kamu yang maksa aku buat ngelakuin hal yang kek gitu," koreksi Keysa, yang justru membuat Dion langsung mengulas senyum.
Tangan kiri milik Dion itu langsung bergerak untuk mengusap puncak kepala dari Keysa. "Hehe, enggak usah diperjelas kek gitu dong, Sayang."
"Loh, malahan lebih bagus kan ya, Ma?" jawab Keysa, dan disambung meminta pendapat pada Nisa.
Karena antara Nisa dan juga Sulis sedari tadi hanya diam saja dan tak menyahut sama sekali, menjadi pendengar yang sangat setia.
"Tunggu, deh! Ada yang Mama bingung sama kalian berdua. Katanya itu kalian udah jadi sepasang kekasih, terus kenapa kok cuma pura-pura?"
"Sebuah hubungan itu enggak boleh loh ya dibuat mainan kek gitu," ujar Nisa, yang sama sekali tak paham pada cerita yang diutarakan oleh anak pertama dan juga Dion.
Dengan sangat kompak sekali, Keysa dan juga Dion langsung saling berpandangan, lalu mengulas senyum secara bersamaan.
"Gini loh, Ma. Keysa sama Mas Dion waktu pertama kali ketemu dan jalin hubungan itu emang pertamanya karena terpaksa."
"Eum ... tapi kata-katanya itu bukan terpaksa, lebih tepatnya ke Keysa itu bantu merealisasikan keinginan Mas Dion buat jadi kekasih pura-pura," sambung Keysa, lalu perempuan itu langsung menggigit bibir bawahnya.
Karena, ia juga sangat takut sekali, jika apa yang baru saja diucapkan itu adalah suatu kesalahan. Melihat ke arah Nisa, tetapi justru raut wajah orang tuanya itu sama sekali tak mengenakkan.
Sehingga Keysa memilih untuk melihat ke arah Dion. "Karena gini, Tante. Sedari tadi dulu banget, orang tua saya itu selalu aja enggak setuju sama beberapa perempuan yang saya pilih buat jalin hubungan bersama-sama," tutur Dion, tetapi hal itu tentu saja sama sekali belum selesai.
Baik Keysa, Nisa, dan Sulis, sama-sama mendengarkan apa yang akan terucap oleh Dion dengan sangat seksama sekali.
Bahkan, Keysa yang sebenarnya sudah tahu bagaimana kejadiannya saja masih tetap ingin tahu dan juga mendengarkan. Perempuan tersebut memasang pendengaran, dan memfokuskan pikirannya itu hanya pada Dion.
"Sebenernya, apa yang menjadi alasan orang tua saya itu masuk akal banget, makanya kenapa setelah saya bawa perempuan buat dateng ke rumah saya. Ketemu sama kedua orang tua saya, setelah saya pulang langsung deh saya nanya-nanya."
"Kebanyakan alasan yang mereka keluarkan itu, karena etika, sopan santun, dan juga sifat," ujar Dion panjang, membuat Nisa langsung mengernyitkan dahi pertanda memang tengah merasa sangat heran sekali.
Setelah tak ada ucapan apa pun lagi yang keluar dari mulut Dion, maka kini saatnya untuk Nisa yang bertanya, "Tunggu sebentar, kalau kejadian dan juga ceritanya kek gini. Saya nanya deh, kenapa kamu malah milih anak saya? Kenapa enggak yang lainnya aja?"
"Ma, kok ngomongnya gitu, sih?" protes Keysa, yang entah mengapa ia langsung merasa sangat tak enak dengan Dion.
"Mama bukan lagi ngomong ini tuh, Sayang, tapi Mama emang lagi nanya ke cowok kamu," sahut Nisa, dengan wajah yang sama sekali tak ingin bersalah.
Dion hanya mengulas senyum saja melihat dua perempuan di depannya ini tengah berdebat.
Sampai akhirnya Sulis memutuskan untuk menengahi, lalu berucap, "Udah, Kak. Silahkan dilanjut, jangan dengerin apa yang lagi dibicarain sama Kak Keysa dan Mama."
Dan detik itu juga Keysa langsung berhenti untuk berucap, menatap wajah Dion sangat serius. Kedua telinga juga sudah dipasang dengan sangat sempurna.
"Saya milih anak Tante, enggak ada alasan apa pun yang saya punya sebenarnya, tapi emang dorongan hati dan juga mungkin ini emang udah jalan takdir," ucap Dion, yang langsung membuat Nisa menganggukkan kepala.
Sebenarnya bisa melakukan hal yang seperti itu, bukan karena dirinya jahat atau apa pun, tetapi memang Nisa tak ingin anak pertamanya itu sampai salah memiliki pasangan.
"Ada niatan buat ninggalin Keysa?" tanya Nisa, kedua matanya langsung menatap tajam ke arah Dion.
Namun, anehnya itu di sini. Dion sama sekali tak merasa deg-degan sama sekali, sedangkan di beberapa rumah mantan lainnya. Dion selalu saja gugup dan juga nerveous.
"Enggak ada sama sekali, Tante. Saya kalau sekalinya mengajak seseorang untuk serius. Maka ke sananya juga saya akan mempertahankan keseriusan saya itu," jawab Dion, lalu langsung mengulas senyum.
Tanpa ragu sama sekali, Keysa menggerakkan tangan kanan untuk mengusap dan juga merapikan rambut Dion.
"Kamu itu, kalau Tante liat, dari golongan orang yang berada, ya?" tanya Nisa, setelah ia berpikir cukup lama untuk mencari pertanyaan yang seperti itu.
Bukannya mengangguk, Dion justru menggelengkan kepala saja. "Itu adalah mobil pribadi milik saya, tetapi saya tidak akan jadi apa-apa. Kalau tanpa kedua orang tua dan juga dukungan dari mereka."
"Kamu anak semata wayang?" tanya Nisa, yang membuat Dion dan juga sama-sama masih tetap berpegangan tangan.