Cukup lama Dion mengendarai kendaraan roda empatnya itu, sampai akhirnya mereka berdua itu sampai di depan halaman rumah milik Keysa.
Dan semua keluarga Keysa pun langsung melihat ke arah luar, saat mendengar suara mesin mobil yang berhenti tepat di depan halaman rumah.
"Loh, Nak?" seru Nisa, saat ia mendapati Keysa yang baru saja keluar dari dalam mobil, dengan seulas senyum yang langsung tampil di wajah.
"Ma!" Keysa langsung melangkahkan kaki mendekat ke arah Nisa, lalu memeluk orang tuanya itu tanpa meminta izin sama sekali.
Lagipula, apa yang dilakukan oleh Keysa adalah suatu kebanggan tersendiri bagi Nisa.
"Sayang, kamu kok bisa ada di sini? Dan itu siapa?" tanya Nisa, dengan raut wajah yang menunjukkan jika dirinya itu tengah bertanya-tanya.
"Bentar dulu ya, Ma, Keysa masih kangen banget sama Mama," sahut Keysa, yang tak mau melepas pelukannya itu.
Nisa hanya menganggukkan kepala saja, karena ia juga menyadari perasaan yang ia miliki itu. Bagaimana rasanya sudah cukup lama tidak bertemu dengan anak kandung.
Itu cukup menyesakkan sekali, tetapi itu dilakukan tentu saja karena Keysa yang ingin mengejar cita-cita.
Sampai akhirnya cukup lama melakukan kegiatan berpelukan seperti itu, kini saatnya untuk Keysa perlahan mengendurkan pelukan tersebut.
"Masuk aja dulu, yuk!" ajak Nisa, yang tentu saja langsung dijawab anggukan kepala oleh Keysa.
Namun, sebelum Keysa masuk ke dalam rumah, ia terlebih dulu melihat ke arah Dion yang masih berada di depan mobi, lalu berucap, "Ayo, Mas! Kamu juga masuk ke rumah aku!"
"Iya," jawab Dion, membenarkan rambut miliknya terlebih dulu.
Baru setelah itu Dion pun ikut melangkahkan kaki mendekat ke arah Keysa, keduanya masuk ke dalam rumah dengan Keysa yang berada di depan.
Sedangkan Nisa tentu saja sudah terlebih dulu asuk ke dalam. Untuk segera membuatkan minum, karena yang datang ke rumahnya bukan hanya Keysa, tetapi ada satu tamu yang masih sangat asing sekali.
"Eh, ya ampun! Anak Mama pinter banget, sih?" tegur Nisa, saat ia mendapati Sulis yang tengah membuat minuman.
"Mama mah gitu aja terus, padahal Sulis itu udah biasa loh buat kek gini. bahkan, Sulis itu emang pinter dari dulu," sahut Sulis, dengan raut wajah yang dibuat seakan dirinya tengah kecewa.
Mendengar sahutan yang seperti itu dari mulut Susi, dan juga raut wajah tak mengenakkan, membuat Nisa langsung mengulas senyum.
Meraih kepala milik anak yang terakhir, lalu mencium puncak kepala Sulis dengan penuh rasa kasih sayang.
"Dek, kamu tahu enggak sih, laki-laki yang ke sini sama kakak kamu itu?" tanya Nisa, dengan raut wajah yang mengharapkan sekali untuk mendapat jawaban.
"Enggak tau tuh, Ma. Kak Keysa aja akhir-akhir ini udah jarang banget buat ngasih kabar ke kita, kan?" jawab Sulis apa adanya.
Karena memang keseharian dari Keysa itu sudah sibuk sekali, tak ada waktu walau sebentar untuk menghubungi keluarga.
Bahkan, ponsel yang Keysa punya saja jarang sekali untuk disentuh. Sehingga, wajar saja jika Sulis berkata seperti itu, memang itu adalah kenyataannya.
"Ya udah, yuk! jangan kelamaan di sini, kasian tuh kakak kamu udah nunggu di ruang tamu," ucap Nisa, setelah ia sadar jika apa yang sedari tadi ia lakukan itu tidak terlalu penting.
Dan Sulis juga langsung menyetujui ucapan yang dikeluarkan oleh orang tuanya.
"Dek, gimana kabarnya?" tanya Keysa, yang langsung berdiri dan memeluk adik yang sangat ia sayangi itu.
Mendapat pelukan hangat dari perempuan yang menjadi tempat semua keluh kesah, membuat Sulis juga langsung membalas pelukan itu tanpa ragu.
"Sulis baik-baik aja kok, Kak. Harusnya Sulis yang nanya gimana keadaan Kakak sekarang?" jawab Sulis, lalu langsung memberi pertanyaan lagi di akhir jawabannya itu.
Mereka berdua sama-sama duduk di kursi yang memang ada di situ, lalu Keysa pun menjawab, "Ya, seperti apa yang kamu liat, Dek. Kakak baik-baik aja kok."
Pandangan Sulis langsung mengarah ke Dion, lalu adik dari keysa itu mendekatkan tubuhnya dan berbisik, "Kak, kalau laki-laki yang sama Kakak itu siapa?"
Dan detik itu juga Keysa langsung teringat. Ia menepuk pelan dahinya dan menjawab, "Ya ampun, iya Kakak lupa ngasih tau ke kalian semua!"
"Ini itu, Dion. Dia laki-laki yang selalu ada di samping Keysa sampai saat ini, ya ... meskipun kadang nyebelin juga, sih!" ujar Keysa, membuat Dion langsung mendekat ke arah Nisa, lalu mencium punggung tangan.
Sedangkan jika dengan Sulis, keadaannya itu hanya saling menjabat tangan saja dan juga melempar senyuman.
"Pacarnya Kak Keysa, ya?" celetuk Sulis, yang langsung mendapat cubitan dari Keysa tepat di pinggang Sulis.
"Aww! Ish, kok Kak Keysa jahat banget, sih? Sulis kan cuma nanya aja," protes Sulis, dengan tangan kanan yang langsung mengusap-usap pinggang tersebut.
"Ya lagian, masih kecil aja udah mikirin urusan orang lain!" ujar Keysa mencari kebenaran di antara mereka berdua.
Bibir Sulis langsung mengerucut, lalu perempuan itu kembali berucap, "Loh, Kak Keysa kan bukan orang lain, tapi kakak Sulis sendiri."
"Bahkan, Kak Keysa itu Kakak kandung, loh!" sambung Sulis.
Jika raut wajah Sulis sudah seperti itu, maka Keysa sebagai Kakak harus mengalah. Perempuan itu langsung mengusap pelan kepala sang adik.
"Kalau jadi anak yang terakhir, selalu aja pengen menang," ucap Keysa, seraya mengusap dan mencium kepala Sulis.
"Oh iya, Ma. Apa yang tadi Mama bilang itu bener? Keysa takut dan langsung diajak pulang ke rumah dulu sama Mas Dion," tanya Keysa, dan berlanjut memberi keterangan pada orang tuanya itu.
Nisa langsung menganggukkan kepala, karena apa yang menjadi pertanyaan Keysa memanglah benar. "Tapi tenang, Nak. Mama itu udah secara tegas banget nolak permintaan mereka, lagipula kamu juga masih harus ngelanjutin kuliah dulu."
"Maaf, Tante. Di sini, saya sebagai kekasih juga mau tau gimana sampai bisa dia ngelakuin hal yang kek gitu," timpal Dion, karena sedari tadi ia sudah menyimpan perasaan yang sangat tak tenang sekali.
Nisa langsung menunjukkan raut wajah yang sangat terkejut, lalu beralih untuk menatap ke arah anak pertamanya itu. "Dia kekasih kamu, Nak?"
Mendapat pertanyaan seperti itu, membuat Keysa langsung merasa sangat tak enak. Melihat ke arah Dion terlebih dulu, baru setelah itu ia menganggukkan kepala dan menjawab, "Iya, Ma."
"Kalau di sana kamu itu udah punya kekasih, terus gimana sama kegiatan kuliah kamu?" tanya Nisa. Raut wajah perempuan tersebut terlihat sangat khawatir, sekaligus tak tenang sama sekali.
Kali ini, giliran Dion yang menjawab, "Saya juga paham sama kegiatan Keysa, Tante."