Supermarket

1022 Kata
"Ini kita langsung ke rumah aku aja? Enggak ada ngasih kabar ke kelurga aku dulu?" tanya Keysa, sembari menatap wajah Dion dari arah samping. Dan jawaban dari Dion adalah gelengan kepala. "Enggak usah, anggap aja ini adalah surprise." "Rasanya aneh juga sih, kalau masa iya tiba-tiba nongol gitu aja," ujar Keysa, yang masih berpikir akan apa yang saat ini mereka lakukan. Namun, Dion langsung mengibaskan tangan kirinya di depan wajah, lalu berucap, "Ini kan rencananya juga buat surprise. Biar keluarga kamu itu seneng, Sayang." Setelah Dion mengucapkan hal yang seperti itu, tak ada percakapan lain di antara mereka berdua. Hanya ada keheningan saja yang melingkupi. "Kamu bilang, kalau yang melamar kamu itu mantan kamu?" tanya Dion, memecah keheningan yang sedari tadi melanda mereka berdua. Pertanyaan Dion yang seperti itu, membuat Keysa langsung melihat ke arah samping, lalu mengangguk dan bertanya, "Memangnya kenapa?" "Aku harap banget, kalau kamu jangan sampai menerima lamaran itu, atau bahkan sampai cinta lama kembali bersemi," jawab Dion, yang sebenarnya tulus dari dalam hati. "Sembarangan! Ya enggaklah! Bahkan, aku aja minta mama buat nolak lamaran mereka kok," sahut Keysa, dengan dahi yang masih berkerut dan juga dengan nada bicara yang sedikit mengeras. "Aku cuma takut aja, Sayang. Aku enggak mau kehilangan kamu," ujar Dion, dengan tangan kanan yang langsung bergerak untuk mengusap kepala Keysa langsung menghembuskan napas gusar, rasanya heran dan juga masih bingung. Mengapa kehidupan tiba-tiba saja seperti ini? Mengapa waktu dan juga takdir tidak memberi kelonggaran, pada waktu kehidupan untuk baik-baik saja? Mengapa juga selalu ada cobaan di setiap langkah kehidupan? "Jangan terlalu dipikirin, Sayang. Kalau kamu takut, aku siap kok nikahin kamu sekarang ini," ujar Dion, dengan tangan kiri yang mengusap-usap pundak Keysa pelan. "Ish! Itu mah emang udah keinginan kamu banget!" seru Keysa, yang langsung disambut gelak tawa oleh Dion. "Eh, tunggu. Emang kamu enggak mau nikah sama aku? Hm, jadi selama ini cuma aku doang yang mau bangun rumah tangga sama kamu," tanya Dion, raut wajahnya kini sudah berubah menjadi sedih. Pertanyaan Dion yang seperti itu, tentu saja langsung membuat Keysa panik. Sepanik-paniknya orang panik malah. Keysa langsung menggelengkan kepalanya dan menjawab, "Ya ampun, Mas, maksud Keysa bukan gitu!" "Apa terus?" tanya Dion, sebenarnya laki-laki itu hanya ingin menggoda perempuannya saja. Lagipula, dirinya itu sudah tahu dan juga percaya diri sekali. Jika Keysa memang sudah sangat mencintai dirinya. "Kan, kalau Keysa itu masih belum siap buat menikah, tapi emang harus menyelesaikan kuliah Keysa dulu," jawab Keysa, seraya tersenyum. Berharap sekali, jika laki-laki yang berada di sampingnya itu tak akan mengeluarkan amarah. "Iya, Sayang, aku paham kok sama tujuan hidup kamu. Sekarang, kita ke sana buat sekalian minta restu juga sama keluarga kamu," sahut Dion, lalu mengulas senyum dengan sangat manis sekali. Keysa menjawab hanya dengan anggukan kepala saja, lalu mereka kembali sama-sama terdiam. Keheningan menyelimuti ruang lingkup mobil tersebut. Sampai akhirnya Dion membelokkan kendaraan roda empatnya itu. "Kita mau ke mana ini?" tanya Keysa, dengan kedua mata yang langsung mencari jawaban atas pertanyaan dirinya sendiri tadi. Dion tak langsung menjawab pertanyaan tersebut, ia menghentikan laju mobil dan juga menempatkan mobil tersebut di tempat yang sudah disediakan. Menggerakkan tangan kanan untuk mencubit pelan pucuk hidung milik Keysa. "Kamu lupa atau gimana sih, Sayang? Kan aku itu udah bilang, kalau kita mau ke tempat makanan dulu." "Oh iya! Aku lupa, Mas. Hehe," sahut Keysa, langsung menepuk pelan dahinya sendiri. "Lagi mikirin apa sih? Kok sampai bisa lupa kek gitu? Padahal udah dikasih tau sebelumnya loh," tanya Dion, dengan dahi miliknya yang kini sudah berkerut. "Enggak ada kok," sahut Keysa, lalu kedua tangannya bergerak untuk melepas sabuk pengaman, yang masih menempel di tubuhnya itu. Dion menghembuskan napasnya, karena ia juga tahu jika perempuan yang saat ini berada di sampingnya itu tengah berbohong. Namun, karena mungkin mood yang menghampiri Keysa sedang tidak baik, maka Dion memilih untuk diam dan juga membiarkan Keysa begitu saja. "Kamu pilih apa aja sesuai apa yang kamu mau ya," ujar Dion mempersilahkan, setelah mereka sudah masuk ke dalam supermarket tersebut. "Mau ngambil apa pun boleh?" tanya Keysa memastikan, dan Dion dengan semangat dan juga mudah sekali langsung menganggukkan kepala. Itu hanyalah sebuah pertanyaan saja, karena pada aslinya, Keysa hanya mengambil beberapa makanan yang tengah ia inginkan saja. Tidak seperti apa yang tadi perempuan itu tanyakan. "Yuk!" ajak Dion, setelah ia selesai dengan urusan membayar semua barang belanjaan. Tanpa menjawab sepatah kata pun, Keysa langsung mengangguk dan menggandeng lengan Dion. Mencoba untuk mencari rasa nyaman pada apa yang ia lakukan itu. "Lepas dulu, Sayang, kamu silahkan masuk!" titah Dion, mau tak mau Keysa pun mengangguk dan melepas gandengan tangannya itu. Sikap romantis dari Dion itu yang membuat Keysa terus saja jatuh hati, ia mengulas senyum saat Dion membukakan pintu mobil, untuk mempersilahkan dirinya memasuki kendaraan tersebut terlebih dulu. "Ini, makanannya silahkan dinikmati," ucap Dion, seraya menyerahkan plastik yang berasal dari supermarket tersebut. Melihat ke arah plastik itu, lalu menganggukkan kepalanya. Tanpa ada rasa ragu sama sekali, Keysa langsung menerima plastik tersebut. Meraih salah satu botol minum yang sudah ia pilih, dan membukanya secara perlahan. "Kenapa enggak berangkat-berangkat, Mas?" tanya Keysa, setelah ia sudah meneguk minuman tersebut. Dion hanya mengulas senyum saja, lalu mendekatkan tubuhnya. Tangan kanan bergerak untuk memasangkan sealt belt pada tubuh sang kekasih. Namun, setelah sabuk pengaman tersebut sudah terpasang, bukannya Dion segera menarik tubuhnya kembali ke posisi semula. Laki-laki itu justru berhenti tepat di depan wajah keysa. Membuat perempuan itu seakan tak bisa mengambil napas sama sekali. "Kamu cantik, dan saya enggak akan merusak kamu, Sayang," ucap Dion, lalu kali ini ia benar-benar menarik tubuhnya dan memasang sabuk pengaman pada tubuhnya sendiri. Mendapat perlakuan yang seperti itu dari Dion, membuat Keysa seakan tak dapat berpikir jernih sama sekali. Bahkan, ia ingin melakukan apa pun saja, rasanya sangat kikuk. "Dilanjut lagi dong makannya!" titah Dion, dengan tangan kanan yang bergerak untuk mengusap lembut kepala Keysa. "Eum, kamu mau, Mas?" tawar Keysa. "Enggak usah. Aku mau kamu aja yang banyakin makannya, biar nambah berisi," jawab Dion, lalu tersenyum dengan sangat sempurna. "Gak ada penolakan, sebelum memulai perjalanan, kan?" desak Keysa, dengan penuh paksaan. Sehingga, pada akhirnya tetap saja Keysa yang menang, laki-laki itu mengalah dan memilih untuk menerima minuman yang disodorkan oleh Keysa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN