"Iya, Ma, Keysa masih ingat. Ada apa sama dia?" tanya Keysa. Raut wajahnya kini berubah menjadi sangat serius sekali.
"Dia datang ke sini, dan dia itu nekat buat bawa semua keluarganya," jelas Nisa, tetapi itu belum selesai sama sekali.
"Ngapain ngelakuin hal yang kek gitu?" tanya Keysa, yang sudah sangat tak sabaran sekali.
Bukannya menjawab, Nisa justru menghembuskan napas terlebih dulu. Berpikir kata-kata apa yang harus ia utarakan pada anak pertamanya itu, supaya semuanya tidak menjadi suatu keterkejutan.
"Ma? Masih ada di situ, kan?" tanya Keysa, setelah tak ada sahutan apa pun lagi yang keluar dari mulut Nisa.
"Hah? Iya, Nak. Iya. Mama masih ada di sini kok," jawab Nisa. kembali terdiam beberapa detik, sampai akhirnya orang tua dari Keysa pun kembali berucap, "Angga mau melamar kamu, Nak."
Keysa langsung menggelengkan kepala, ia sama sekali tak menyangka dengan hal ini. Laki-laki yang sudah mati-matian ia lupakan, mengapa justru kembali lagi dan masuk ke dalam kehidupan Keysa?
"Nak? Kamu baik-baik aja, kan?" tanya Nisa, dari suaranya terdengar sekali jika ia tengah khawatir sekali.
Bagaimanapun juga, ia adalah orang tua dari Keysa. Nisa tahu semua tentang kisah percintaan yang dialami oleh anak pertamanya.
"Iya, Ma. Keysa baik-baik aja. Oh iya, buat niatan yang diutarakan sama Angga, sebisa mungkin Mama tolak ya," pinta Keysa, lalu menggigit bibir bawahnya.
Bukan tanpa alasan sama sekali Keysa menggigit bibir bawahnya, tetapi karena memang perempuan itu tengah menetralkan rasa yang tiba-tiba saja kembali hadir.
"Iya, Nak. Mama tahu bagaimana perasaan kamu waktu itu, dan tentu saja Mama akan menolak mereka tentang kejadian ini," sahut Nisa. Membuat Keysa langsung menghembuskan napas dengan sangat lega sekali.
"Makasih, Ma. Makasih banyak ya udah paham sama perasaan Keysa sekarang," ucap Keysa, suaranya kali ini melemah.
"Ya udah, kalau gitu Mama udah dulu ya neleponnya, ini mau ketemu sama mereka lagi," ujar Nisa, yang langsung disetujui oleh Keysa, dan sambungan telepon pun langsung terputus.
Dion yang menyaksikan Keysa menelepon dengan sangat serius sekali, ia hanya bisa menebak dan juga menerka.
"Siapa?" tanya Dion langsung, setelah Keysa sudah berada di sampingnya.
Mendapat pertanyaan seperti itu, Keysa langsung mengulas senyum dan menjawab, "Mama." Dengan tangan kanan yang memainkan ponsel.
Dion sengaja untuk tak mengeluarkan pertanyaan sama sekali, karena memang ia tahu jika situasi saat ini sepertinya tengah tak mengenakkan.
Namun, tanpa aba-aba sama sekali Keysa justru menubruk tubuh Dion, dan mendekap erat tubuh sang kekasih.
Masih tetap tak ada pertanyaan apa pun yang dikeluarkan oleh Dion, laki-laki itu tahu dan juga paham saat-saat di mana ia harus mengeluarkan pertanyaan, atau menjadi penenang.
Sehingga Dion memutuskan untuk menggerakkan tangan kanannya, mengusap lembut punggung kekasihnya itu, seraya berucap, "Mau minum air kelapa?"
"Atau mau duduk di sini aja?" tanya Dion lagi, tangannya tetap bergerak untuk mengusap lembut punggung sang kekasih.
Cukup lama dalam keadaan seperti itu, tetapi Dion sama sekali tak mengeluh atau menggerutu. Bahkan sangat bangga sekali jika Keysa melakukan hal itu.
Berarti, dirinya memang sudah dianggap sepenuhnya oleh Keysa. Perlahan, perempuan itu menegakkan tubuhnya, dan tangan kanan yang mengusap area mata.
"Kenapa? Mau minum? Kalau iya, kita ke sana, yuk!" tanya Dion, yang langsung memberi ajakan pada sang kekasih.
Tak ada ucapan apa pun yang keluar dari mulut Keysa, hanya saja kedua kaki perempuan itu bergerak mengikuti langkah kaki dari Dion.
"Kenapa? Udah sedia buat cerita enggak, Sayang?" tanya Dion pelan-pelan.
Sebelum menjawab pertanyaan yang keluar dari mulut Dion, Keysa terlebih dulu mengulas senyum. "Ada yang mau lamar aku di rumah."
"Hah? Siapa? Kamu itu milik aku, enggak boleh ada laki-laki lain yang ngajak kamu buat nikah, selain aku!" sahut Dion, dengan nada bicara yang sama sekali tak tenang.
"Dia itu mantan kekasih aku, Mas," jawab Keysa, lalu ia kembali menyeruput air kelapa yang sudah berada di genggaman tangan.
"Mau ke rumah kamu sama aku sekarang?" tawar Dion, tatapannya sangat serius sekali.
Menandakan jika apa yang tadi ia ucapkan itu memang sungguh-sungguh, tetapi hal itu tak mudah untuk membuat Keysa langsung percaya.
"Kenapa, Sayang? Kamu enggak percaya sama aku? Kalau memang niat, aku siap kok nemuin keluarga kamu sekarang," tanya Dion, seraya dua tangan yang memegang bahu Keysa.
"Enggak. Apa semua ini enggak terlalu cepat? Secara keluarga aku aja enggak tahu sama sekali, kalau aku itu sebenarnya udah jalin hubungan sama laki-laki," jelas Keysa. Mengutarakan alasan yang membuat dirinya itu merasa sangat tak tenang.
"Kita jujur semuanya aja, dimulai dari pertemuan kita bagaimana, perjalanan kita berdua. Sampai akhirnya mutusin buat menuju ke jenjang yang lebih serius lagi," sahut Dion.
Tatapan yang ditunjukkan laki-laki itu memang seakan membuat Keysa langsung yakin sekali. Jika apa yang diutarakan oleh Dion memang benar, tetapi apa yang harus diucapkan pertama kali. Keysa bingung memikirkan semua itu.
"Kenapa? Semuanya nanti aku yang jawab, kamu cuma nemenin aku aja di samping aku. Toh, kita selama ini enggak melakukan apa pun, kan?"
"Emang kita enggak ngelakuin apa-apa! Sembarangan aja kalau ngomong!" sahut Keysa, sedikit menaikkan nada bicaranya itu.
Justru membuat Dion langsung mengeluarkan senyuman, dan mengusap-usap puncak kepala Keysa. "Setuju atau enggak? Kalau iya kamu setuju, sekarang kita ke sana!"
"Enggak apa-apa kalau sekarang ke sana? Orang tua kamu bakalan nyariin kamu enggak, Mas?" tanya Keysa, wajahnya terlihat sangat tak tenang sekali.
"Enggak. Santai aja, kalau iya nyari juga mereka bakalan menghubungi aku pakai ponsel," jawab Dion.
Hingga pada akhirnya Keysa pun memutuskan untuk menyetujui ajakan seperti itu, mereka pun segera melangkahkan kaki kembali menuju ke parkiran.
Di mana mobil milik Dion itu terparkir dengan snagat rapi, sesuai dengan aturan yang berlaku.
"Kamu enggak terpaksa sama sekali kan milih keputusan ini? Kamu cinta sama aku, kan?" tanya Dion untuk memastikan. Supaya nanti saat sudah tiba di rumah Keysa, maka ia akan lebih mudah menjawab semua pertanyaan yang keluar.
"Ya iyalah! Keysa emang cinta sama kamu, Mas," jawab Keysa, dengan suara yang terdengar sangat yakin sekali, dan juga tentu tak ada paksaan sama sekali.
Dion menganggukkan kepalanya. "Jangan lupa pakai sabuk pengaman dulu, nanti kita bakalan mulai perjalanan yang cukup lama."
"Jadi, nanti mampir dulu buat beli makanan, biar enggak ngantuk," jelas Dion, sedangkan sedari tadi Keysa hanya menganggukkan kepala.
Pertanda jika perempuan itu memang setuju dengan apa yang diusulkan oleh Dion, toh semua uang juga yang keluar milik Dion.