"Kamu tau enggak kenapa aku ngajak kamu ke pantai?" tanya Dion memecah keheningan di antara mereka berdua.
"Kenapa memangnya?" Keysa justru mengeluarkan pertanyaan lagi.
"Oh iya! Aku tau!" seru Keysa, setelah beberapa detik yang lalu perempuan itu sudah mengeluarkan pertanyaan.
Dion pun langsung melempar tatapan yang penuh dengan pertanyaan, tetapi mulutnya itu sama sekali tak berucap. Memilih untuk tetap diam memperhatikan Keysa.
"Kamu ngajak aku ke sini, pasti karena belum ada tempat lain yang udah buka, kan? Secara ini terhitung masih pagi loh!" jawab Keysa, mengutarakan pendapatnya.
Dan tentu saja Dion langsung menggelengkan kepalanya, karena apa yang tadi diucapkan oleh Keysa memanglah salah.
"Jawabannya enggak sepanjang itu, Sayang!"
"Loh, kalau bukan itu alasannya, terus kenapa kamu ngajak aku ke sini?" tanya Keysa, dengan dahi yang berkerut.
"Ya, karena aku emang belum pernah ngajak kamu ke sini sama sekali," jawab Dion, yang membuat Keysa langsung menggerakkan tangan kanannya itu untuk mencubit pinggang sang kekasih.
"Ih kok malah dicubit sih? Emangnya aku salah kalau jawabnya kek gitu?" protes Dion, dengan tubuh yang terus saja berkilah.
Keysa tak menjawab, hanya saja melempar tatapan yang mencirikan jika dirinya itu memang tengah merasa sangat kesal.
"Kenapa? Jangan bilang kalau kamu itu lagi kesel sama aku," tebak Dion, dan teryata apa yang diucapkan laki-laki itu memanglah sangat benar sekali.
"Kalau emang ya kamu itu nyebelin, gimana?" tanya Keysa, tetapi setelah berucap seperti itu, perempuan tersebut justru menyenderkan kepalanya pada bahu Dion.
"Enggak apa-apa juga sih kalau kamu bilang aku itu nyebelin, karena biasanya itu kalau orang nyebelin adalah orang yang bakal paling dikangenin," ujar Dion, tangan kanannya bergerak mengusap lembut kepala Keysa.
Tak ada jawaban yang keluar dari mulut Keysa, dan Dion juga tidak mencari obrolan sama sekali.
Mereka berdua memang tengah sibuk sendiri-sendiri, dengan pikiran yang tiba-tiba saja menghampiri.
"Kamu beneran mau serius sama kau kan, Sayang?" tanya Dion, perasaanya itu sedikit merasa takut dengan apa yang nanti akan dilakukan oleh Keysa.
"Aku percaya sama perasaan yang kamu punya, tapi aku juga takut kalau nanti perasaan kamu itu bakalan berubah," jelas Dion.
Keysa langsung menatap wajah Dion dengan sangat serius. "Dengerin aku ya, Mas. PIlihan aku itu udah jatuh sama kamu, rasanya enggak mungkin banget kalau aku sampai ninggalin kamu."
Kedua tangan Keysa bergerak untuk memeluk tubuh Dion, sehingga pada saat ini mereka tengah berpelukan, dengan sangat tenang sekali.
"Kalau nanti aku punya salah sama kamu, tolong bilang aja ya. Biar enggak ada kesalahpahaman sama sekali yang ada di antara kita berdua," ujar Dion, lalu kedua tangannya juga memeluk tubuh Keysa.
Jawaban dari Keysa tentu saja langsung menganggukkan kepalanya, tanpa ada suatu perkataan apa pun yang keluar dari mulutnya.
Pada detik berikutnya, Keysa mendongakkan kepalanya, tentu saja untuk menatap wajah sang kekasih.
"Kenapa?" tanya Dion, wajahnya juga digerakkan supaya lebih dekat lagi dengan Keysa.
"Ternyata, kamu itu ganteng ya!" ungkap Keysa, yang membuat Dion justru merasa sangat gemas dan berakhir mencium dahi Keysa dengan sangat lama sekali.
"Kamu juga cantik, tapi kalau enggak lagi marah," balas Dion, membuat Keysa langsung menegakkan tubuhnya itu.
"Sembarangan aja kalau ngomong! Aku itu enggak pernah loh marah tuh!" protes Keysa, membela dirinya sendiri.
"Pernah, Sayang! Karena kamu yang ngelakuin hal itu, makanya kamu itu enggak ngerasa sama sekali," sahut Dion, lalu mencubit pelan hidung Keysa.
Angin berhembus dan langsung menerpa tubuh kedua orang yang menjadi pasangan kekasih itu. Selintas ide pun langsung mampir ke otak milik Dion.
Sebelum mengungkapkan ide yang ia miliki, Dion memilih untuk mengulas senyum, seraya melihat ke arah Keysa, lalu barulah ia berucap, "Kita keliling ke arah pantai, yuk!"
"Gunanya buat apa?" tanya Keysa, sembari menatap wajah laki-laki yang berada di sampingnya itu.
"Supaya, kita itu punya kenangan saat pergi di pantai, enggak hanya duduk dan berdebat," jawab Dion, lalu beberapa detik kemudian laki-laki itu langsung menjulurkan lidahnya.
"Gas!" seru Keysa, yang membuat Dion langsung tertawa dan juga ikut berdiri, seperti apa yang dilakukan oleh Keysa.
"Mau jalan dari arah mana dulu?" tanya Keysa, seraya membersihkan celana pendek yang saat ini tengah ia kenakan.
Dion berpikir sebentar, mencari dan memposisikan tempat yang tepat untuk mereka berdua lewati terlebih dulu.
"Dari sana aja, yuk!"
"Dari sana aja, yuk!" Keduanya sama-sama mengutarakan pendapat. Bahkan, sama saja.
Bukannya Keysa sabar menunggu jawaban yang pasti akan dikeluarkan oleh Dion, perempuan itu justru ikut menyuarakan pendapatnya.
"Ya ampun, Sayang! Kamu juga ternyata mau ikut andil? Jadi, mau dari arah mana dulu, nih?" tanya Dion, lebih memilih untuk mengalah dan meminta jawaban dari sang kekasih.
"Biar adil, kita suit aja gimana?" tawar Keysa, dengan tangan yang sudah terulur ke depan.
"Suit? Seriusan?" tanya Dion untuk memastikan, karena apa yang menjadi penawaran dari perempuan di sampingnya itu sangat aneh sekali.
Dan Keysa pun langsung menganggukkan kepalanya, karena memang itu adalah salah satu cara yang harus dilakukan supaya adil.
Pada akhirnya, Dion pun ikut setuju dan segera menyodorkan tangan kanannya juga. Sehingga, mereka berdua pun melaksanakan rencana yang tadinya itu disusun.
Sampai beberapa kali dilakukan kegiatan itu , sampai akhirnya Dion yang menang dalam kegiatan suit tersebut.
"Yuk, kita ke sana!" titah Dion, dengan tangan kanan laki-laki itu langsung menggenggam telapak tangan Keysa.
"Rasanya adem banget, kalau kita itu enggak sama-sama berantem, kek gini nih," ucap Dion, lalu memainkan telapak tangan Keysa.
Saat tengah asik melakukan perjalanan berdua di pinggir pantai, tiba-tiba saja ponsel milik Keysa itu berbunyi. "Sebentar ya, aku mau ngangkat telepon dulu."
Dion menganggukkan kepala dan menghadapkan tubuhnya ke arah pantai, sedangkan Keysa melangkahkan kaki sedikit menjauh dari Dion.
"Halo, Dek? Ada apa?" tanya Keysa, mengeluarkan suara terlebih dulu.
"Halo, Nak. Ini Mama, kamu lagi ada di mana sekarang?" tanya Nisa, dengan suara yang sedikit terdengar sangat khawatir sekali.
"Eum, Keysa lagi ada di cafe, Ma. Sama temen Keysa, memangnya ada apa, Ma?" jawab Keysa, yang langsung disambung menggunakan pertanyaan pada akhir ucapan.
Terdengar hembusan napas di seberang sana, tetapi entah mengapa hembusan napas itu berefek pada perasaan Keysa.
Perempuan itu menjadi sangat tak enak dan juga tak tenang, entah apa yang menjadi penyebab hal itu.
"Kamu masih ingat sama Angga?" tanya Nisa lagi.
Membuat Keysa langsung diam dan juga mengingat-ingat nama itu, dan saat ia sudah ingat. Raut wajah Keysa langsung terkejut, lalu menggelengkan kepala.