Takut

1018 Kata
"Maaf ya, Mas, karena aku kamu sampai enggak tenang banget tadi malem," ucap Keysa, saat mereka masih saja dalam perjalanan. Sebenarnya tak ada tujuan sama sekali yang berada di dalam otak Dion, hanya saja dirinya itu ingin melewati hari berdua dengan sang kekasih. Mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh Keysa, membuat Dion langsung mengulas senyum dan merasa sangat tenang sekali. "Santai aja, Sayang. Meskipun tadinya aku itu udah kesel banget sama kamu, tapi kalau udah dapet penjelasan yang gamblang kek gini, jadi tenang kok," ujar Dion, dengan tangan kiri yang bergerak untuk mengusap lembut kepala Keysa. "Makasih ya, sebenarnya aku itu udah menghayal kalau kamu bakalan kaget, sampai nangis gitu. Eh, enggak taunya malah aku yang nangis," tutur Keysa, lalu mengulas senyum. Tangan kiri Dion yang tadinya mengusap kepala Keysa, tetapi kali ini laki-laki itu tak hanya melakukan yang seperti itu, tetapi juga menarik pelan kepala Keysa. Mencium dengan sangat lembut sekali. Kegiatan itu Dion lakukan hanya beberapa detik saja, lalu ia pun segera kembali pada fokus ke arah lalu lintas. "Gimana kalau kita itu ke pantai? Keknya seru, deh!" "Lagian, kita juga enggak pernah ke pantai, kan?" tanya Dion lagi. Keysa diam sejenak, ia berpikir tentang tawaran yang keluar dari mulut sang kekasihnya itu. Selang beberapa detik, Keysa pun akhirnya menganggukkan kepala dengan sangat yakin. "Boleh, deh! Keysa juga enggak pernah sama sekali ke pantai," jawab Keysa, dengan wajah yang berseri-seri. Menurut apa yang pernah Keysa dengar, jika pantai itu memiliki pemandangan yang sangat indah, dan juga udara yangs sejuk. Namun, Keysa sama sekali tak pernah diberi izin oleh kedua orangtuanya, karena memang mereka berdua takut akan ombak yang dimiliki oleh pantai. "Kamu sama sekali enggak pernah ke pantai? Seriusan?" tanya Dion, seakan tak percaya dengan apa yang ia dengar saat ini. "Iya. Aku seriusan, orangtua aku itu selalu aja enggak pernah buat ngasih izin ke pantai, meskipun beberapa teman aku sampai rela buat dateng ke rumah, tetapi ya tetep aja gak boleh," jawab Keysa, lalu menghembuskan napas. "Udah, santai aja. Karena sekarang, kita bakalan ke pantai dan menikmati waktu berduaan!" sahut Dion, suaranya terdengar sangat semangat sekali. Keysa suka dengan suara itu, karena menandakan jika dirinya memang berharga di dalam hidup Dion. "Tapi, kalau di pantai itu ada ombak enggak sih?" Mendapat pertanyaan yang seperti itu, tentu saja membuat Dion langsung menganggukkan kepalanya. Kalau didengar dari pertanyaan yang dilontarkan, maka jawaban dari Dion memang sangatlah tepat. "Ih, enggak usah ke pantai lagi, deh! Enggak jadi," sahut Keysa, rasa takut dan juga larangan orangtuanya itu kembali muncul. "Loh, kenapa? Takut sama ombak?" tanya Dion, untuk memastikan apa yang tengah dibicarakan oleh sang kekasih. Sebenarnya sangat ragu sekali untuk Keysa mengakuinya, tetapi mau tak mau suatu perbuatan bohong itu sangat tak dibolehkan. Sehingga, Keysa pun pada akhirnya menganggukkan kepala dan menjawab, "Iya. Kata orangtua aku waktu dulu, ombak itu ganas. Bahkan, bisa sampai buat manusia itu kehilangan nyawa." Mendengar jawaban yang keluar dari mulut Keysa, membuat Dion langsung tertawa. "Manusia bisa aja kehilangan nyawa karena ombak, tetapi semua itu juga kesalahan dari manusia itu sendiri." "Maksudnya apa?" "Ya, karena manusia itu nantang bahaya. Ada acara mendekat ke arah ombak segala, jadi ya gitu. Tanpa ada persiapan sama sekali, bisa jadi manusia itu langsung kemakan sama ombak." "Dan, kalau udah kek gitu, harapan buat selamet itu tipis banget," sambung Dion menjelaskan. Mendengar apa yang sedari tadi dibahas oleh Dion, membuat Keysa merasa sangat merinding. "Udah ah! Jangan bahas kek gitu terus." "Kenapa?" "Takut," jawab Keysa, karena pikiran perempuan itu memang sudah berkelana tentang kejadian yang Dion ceritakan. "Kita enggak usah ke sana lagi deh, Mas," usul Keysa, berharap sekali jika usulannya itu akan langsung diterima dan juga disetujui oleh Dion. Namun, ternyata harapan dari perempuan itu seketika langsung pupus. "Loh, kalau takut ya enggak apa-apa, tapi enggak usah dibatalin juga rencana kita itu." "Tapi, takut!" "Kita enggak akan mendekat ke arah ombak, Sayang. Kita cuma jalan-jalan di tepi pantai aja, nyambut angin yang biasanya itu bener-bener segar banget!" jelas Dion. Mencoba dan juga berusaha untuk menenangkan perasaan Keysa. "Jadi enggak masalah sama sekali?" tanya Keysa lagi, untuk memastikan. Hanya anggukan kepala saja yang ditunjukkan oleh Dion, karena laki-laki itu memang tengah buru-buru supaya segera tiba di pantai tersebut. Memberitahu bagaimana keadaan pantai yang sebenarnya pada sang kekasih, menyingkirkan semua rasa takut yang dimiliki oleh Keysa. Karena apa yang berada di dalam hati Keysa, tidak seperti apa yang terjadi sebenarnya. "Semoga aja enggak apa-apa, deh!" gumam Keysa, dengan kedua tangan yang disatukan, dan juga dimainkan. "Santai aja, Sayang. Kita itu enggak akan mendekat ke arah ombak sama sekali kok, cuma di tepi pantai aja," ujar Dion kembali menjelaskan. Keysa menganggukkan kepalanya, karena ia juga tengah berusaha untuk menenangkan pikirannya yang tengah kacau balau, dan juga sangat tak tenang. Dan ternyata, Dion saat ini sudah menghentikan kendaraan roda empat miliknya itu, berarti mereka memang sudah sampai di tempat tujuan. "Yuk, kita keluar dari sini!" ajak Dion, yang kini sudah menggerakkan tangan kanannya untuk membuka sabuk pengaman. Dengan hati yang sebenarnya itu masih merasa khawatir dan juga takut, Keysa tetap memutuskan untuk membuka sabuk pengaman tersebut. "Selamat datang di pantai yang sangat indah ini!" seru Dion, lalu merentangkan kedua tangannya. Menyambut kedatangan angin yang langsung menerpa seluruh tubuhnya itu. Lain halnya dengan Dion yang menunjukkan raut wajah sangat gembira, Keysa justru memilih untuk masuk ke dalam pelukan Dion. Seraya berucap, "Kamu jangan ninggalin aku ya! Tetap ada di samping aku!" "Enggak ah, aku mau ninggalin kamu aja!" sahut Dion, setelah tangan laki-laki itu berhasil melepaskan pelukan yang dilakukan oleh Keysa. Dan pada detik berikutnya, Dion justru menggerakkan kakinya untuk melangkah menuju ke arah yang berlawanan. Sehingga, mau tak mau Keysa pun harus ikut mengejar langkah kaki Dion. "Dion! Ih, kamu mah jahat banget!" "Udah tau aku takut kalau sendirian, eh ini kok malah aku ditinggal, sih!" teriak Keysa, dengan kedua kaki yang terus saja berlari. Bukannya merasa bersalah, Dion justru dengan sangat leganya melepas tawa dan juga bermanja-manja ria. Sampai akhirnya laki-laki itu memiliki kesadaran untuk berhenti dan juga mengatur napas. "Gitu aja takut, heran deh aku sama kamu!" cibir Dion, membuat Keysa langsung menggerakkan tangan kanannya untuk mencubit perut Dion.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN