Meminta penjelasan

1017 Kata
"Bisa jelasin gimana cerita sebenarnya?" Dion mengawali pembicaraan, dengan satu pertanyaan terlebih dulu. "Cerita apaan, sih?" tanya Keysa balik, memilih untuk berpura-pura tidak paham akan apa yang menjadi pertanyaan Dion tadi. "Saya tau, kalau kamu itu cuma pura-pura. Saya percaya banget, kalau kamu itu enggak bodoh! Bukan perempuan yang enggak ngerti apa-apa," sahut Dion, kedua matanya itu melirik ke arah Keysa sebentar. Sebelum Keysa menjawab pertanyaan yang keluar dari mulut Dion tadi, Keysa terlebih dulu menarik napas dalam-dalam dan mengeembuskan secara perlahan. "Ini itu sebenarnya rencana dari Tante Reta, mama kamu!" ujar Keysa, pelan-pelan. Dion hanya mendengarkan, ia memang sengaja untuk tak memotong sama sekali apa yang tengah menjadi pembicaraan mereka berdua. "Dan maaf, kalau apa yang kemarin saya ucapin itu bohong, cuma saya itu pengen buat kamu marah banget aja," sambung Keysa, kedua bola matanya itu sudah berkaca-kaca. Sebentar lagi saja sudah dapat dipastikan sekali, jika air mata akan turun dan jatuh melewati kedua pipi Keysa. "Saya enggak nyalahin kamu sama sekali, saya juga enggak akan marahin kamu kok. Enggak," ucap Dion, dengan tangan kanan yang langsung bergerak untuk mengusap rambut Keysa. "Cuma, saya itu cemburu sama kamu, soalnya kamu itu selalu aja bahas tentang laki-laki saat saya telepon," jelas Dion, sebenarnya sedikit membuat menggelitik hati Keysa. Namun, perempuan tersebut langsung teringat akan kekesalannya tentang Dion, perihal perempuan yang dibawa oleh sang kekasihnya itu. "Eits, tunggu! Jangan-jangan, yang waktu itu kamu angkat telepon, dan kamu bilang itu dari kakak kelas kampus kamu?" tanya Dion, kedua matanya langsung ia sipitkan. Curiga. "Iya, itu dari calon mertua," jawab Keysa, lalu langsung mengulas senyum dan menggerakkan tangan kanannya untuk menggaruk kepala bagian belakang. "Ya ampun, kamu tahu? Sejak saat itu saya sebenarnya udah ngerasain cemburu banget," ujar Dion, mengutarakan perasaannya saat itu. Namun, tanggapan dari Keysa justru hanya mengulas senyum saja, tetapi jauh di dalam hati perempuan itu juga merasa sangat tak enak sekali. "Maaf, saya kira semuanya bakalan lancar, eh malah kek gini. Semua ini sebenarnya gara-gara kamu," ucap Keysa, nadanya melemah saat berada di kalimat yang terakhir. "Loh, kok gara-gara saya? Memangnya saya itu kenapa?" protes Dion, dahinya sudah mulai berkerut. Laki-laki itu memang tidak paham sama sekali, dengan apa yang diucapkan oleh Keysa. "Seriusan enggak tahu kesalahan kamu itu apa?" tanya Keysa, kini perempuan tersebut menatap dengan wajah yang sangat sangar. Sebenarnya Dion itu paham akan apa yang diutarakan oleh Keysa, tetapi yang namanya laki-laki, tidak mengeluarkan sebuah candaan sangatlah tidak afdal sekali. "Itu tuh, cuma perempuan yang enggak sengaja saya temui di taman. Waktu tadi saya lari pagi," ujar Dion, mulai untuk menjelaskan apa yang ia alami sebenarnya. "Percaya deh sama saya, kalau saya itu enggak ada hubungan apa pun sama perempuan itu," sambung Dion. Berusaha untuk membuat Keysa dapat percaya pada apa yang diucapkan olehnya. Keysa menatap tajam laki-laki yang berada di sampingnya saat ini, meskipun hanya dapat melihat wajah Dion dari samping, tetapi menurut Keysa itu sudah cukup untuk meredam rasa kesal yang berada di dalam hatinya. "Kalau emang bukan siapa-siapanya kamu, terus kenapa bisa sampai diajak ke rumah?" Pertanyaan yang seperti itu langsung keluar dari mulut Keysa, dan terlepas seakan tak ada beban sama sekali. "Karena kita itu tadi jalan kaki berdua dan sampai enggak kenal waktu sama sekali, tau-tau udah ada di depan rumah. Gitu," jawab Dion, kembali menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. "Ya ampun, masih belum percaya lagi, kah? Saya serius kok, enggak ada apa-apa sama perempuan itu," jelas Dion lagi, karena saat melihat raut wajah Kiara yang belum berubah sama sekali. Masih tetap menunjukkan raut wajah yang penuh dengan rasa curiga, meskipun pada aslinya itu Keysa sudah sepenuhnya percaya dengan Dion. "Eh, bentar! Kamu itu ada ngerasa yang beda enggak sih?" tanya Keysa, memutuskan untuk tak membahas hal yang seperti itu lagi. "Ngerasa beda yang kek gimana?" tanya Dion balik, dengan dahi yang juga langsung berkerut. "Bukannya waktu itu kita pernah sepakat buat manggilnya pakai aku kamu?" tanya Keysa, yang langsung menjelaskan apa yang tadi ingin diutarakan. Secara sangat refleks sekali, Dion langsung menepuk pelan dahinya itu, lalau pada akhirnya laki-laki itu pun berucap, "Oh iya! Saya itu baru inget tentang hal itu!" "Eh, maksudnya aku, hehe," koreksi Dion, saat ia sadar jika apa yang tadi diucapkannya itu memanglah salah. "Dasar, padahal tadi baru aja disadarin! Eh, beberapa detik aja langsung enggak inget!" protes Keysa, dengan tatapan yang sebenarnya sama sekali tak bersahabat. "Loh, ya maaf ya! Kan biasanya juga enggak kek gitu cara ngomongnya. Baru pertama kali ini aja aku bilang pakai cara yang kek gini sama kamu," sahut Dion, meluruskan tanggapan dari Keysa yang seperti itu. Sahutan dari Dion yang seperti itu, hanya mendapat lirikan saja dari Keysa, tak ada tanggapan sama sekali. Namun, pada beberapa menit berikutnya Keysa akhirnya memutuskan untuk kembali bertanya, "Sebenarnya kita itu mau ke mana sih?" "Ke mana aja, bebas, kan?" jawab Dion, dan langsung mengulas senyum. "Jangan senyum terus, dong!" protes Keysa, tetapi tak langsung dapat dipahami oleh Dion. "Memangnya kenapa kalau senyum?" Keysa menaikkan satu alis miliknya. "Senyuman kamu itu berasa sama kek coklat, bisa mengembalikan mood yang lagi jelek," jawab Keysa, yang membuat Dion justru semakin menunjukkan senyuman yang ia punya itu. Sama halnya dengan Dion yang sedari tadi mengulas senyum, Keysa juga terus saja menunjukkan senyumannya. Namun, berbeda arti di antara keduanya itu. Jika Dion adalah senyuman yang mencirikan jika dirinya itu memang tengah sangat gembira sekali, tetapi berbeda dengan senyuman Keysa yang memiliki arti tengah merasa malu. "Kamu kok jadi bisa seromantis itu, sih?" tanya Dion, lalu kembali tersenyum terus menerus. "Memangnya enggak boleh yang namanya ngeluarin kata-kata yang kek gitu? Apalagi, apa yang tadi aku omongin itu beneran nyata," sahut Keysa, dan menatap wajah kekasihnya dari samping. "Loh, kan aku cuma nanya, Sayang. Bukan berarti kalau aku itu ngelarang kamu buat ngeluarin ucapan yang kek gitu," jelas Dion, dengan tangan kiri yang digerakkan untuk mengusap pelan kepala sang kekasih. "Bentar deh, kalau kamu enggak ada di rumah, terus yang ngadain acara ulang tahun di sana. Siapa, dong?" tanya Keysa, dengan dahi yang berkerut karena heran. Dion menarik napas dalam-dalam, lalu menjawab, "Kan tadi sebelum pergi dari rumah aku bilang, kalau acara itu silahkan dilanjutin sama Mama."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN