"Ya ampun, Sayang, kok malah nambah nangis, sih?" ucap Reta, yang terus saja menggerakkan tangan kanan untuk mengusap di bawah mata Keysa.
Karena perempuan itu memang masih merasa sangat sedih sekali. Rasanya sangat sakit sekali, padahal apa yang saat ini dilakukan oleh Keysa bukanlah keinginannya.
"Sayang, hey! Nanti Tante sendiri aja yang ngasih tau ke Dion," ucap Reta lagi, perempuan tersebut masih tetap kekeh untuk menenangkan calon menantunya itu.
Namun, ternyata Keysa sudah terlalu merasa sangat sakit, sehingga perempuan itu lebih memilih untuk menggelengkan kepalanya. "Enggak usah, Tante. Enggak usah repot-repot."
Keysa langsung berdiri dari posisinya yang seperti itu, lalu meraih tas dan juga semua barang yang ia bawa itu, dan berniat untuk melangkahkan kaki pergi dari rumah milik laki-laki yang sebenarnya itu menjadi sang kekasih.
"Loh, kamu mau ke mana sih, Nak?" tanya Reta, langsung menahan pergelangan tangan kiri milik Keysa.
"Keysa mau balik ke kosan aja, Tante. Di sini juga Keysa enggak ada harapan sama sekali," jawab Keysa, suaranya kini melemah.
Mendengar jawaban seperti itu yang keluar dari mulut perempuan yang berada di depannya saat ini.
membuat reta langsung ikut berdiri dan memegang pundak Keysa dengan cukup erat. "Dengerin apa yang Tante mau omongin ya!"
"Jangan buat keputusan, di saat hati kamu itu lagi enggak baik, Sayang! Soalnya Tante takut banget kalau nanti kamu yang bakal nyesel sendiri sama keputusan kamu itu."
"Selagi semuanya masih bisa dibicarain sama baik-baik, maka lebih baik dibicarakan dulu aja."
"Apalagi, kamu sama Dion itu masih punya rasa yang saling suka, kan? Tante yakin banget, kalau kalian berdua emang masih sama-sama suka," ujar Reta, dengan sangat panjang.
Berharap sekali, jika perempuan yang ia sukai itu akan merubah pikirannya, entah hasil akhirnya akan bagaimana. Namun, yang terpenting Reta sudah berusaha untuk melakukan yang terbaik.
"Tapi, Tante itu tahu sendiri, kan, kalau Dion tadi udah berani buat bawa perempuan lain ke sini? Itu berarti Dion emang udah mengharapkan Keysa ada di sini," sahut Keysa, mengutarakan pendapat yang berada di dalam otaknya itu.
"Sayang, percaya enggak? Kalau Dion ngelakuin hal yang kek gitu itu cuma karena dia iri sama kamu!" ujar Reta, kembali mencoba untuk berbicara baik-baik dengan Keysa.
Tangan kanan Keysa bergerak untuk menghapus sisa air mata yang berada du bawah pipi, lalau pada ujungnya perempuan itu kembali bertanya, "Maksudnya apa, Tante?"
"Karena kamu waktu itu sempet bilang kalau lagi sama laki-laki yang ganteng, makanya Dion bisa sampai ngelakuin hal yang kek gitu," jawab Reta.
'Apa yang harus saya lakukan? Percaya sama apa yang diucapin sama calon mertuanya itu, atau justru lebih percaya terhadap apa yang tadi ia dengar itu?' tanya Keysa di dalam hatinya.
Suasana hati Keysa saat ini memang benar-benar sangat kacau. Apalagi, ini tengah bersangkutan dengan perasaan.
"Tetap ada di sini ya, yuk acaranya dimulai lagi!" pinta Reta, lalu mengeluarkan perintah untuk perempuan yang berada di depannya saat ini.
Namun, Keysa justru masih tetap pada keputusannya yang pertama. Yaitu, ingin segera pergi dar rumah yang saat ini ia tempati.
"Enggak, Tante. Maaf, Keysa tetep sama pilihan Keysa yang tadi, Keysa mau pergi dari sini sekarang," jawab Keysa pada akhirnya.
"Nak, ini sebenarnya bisa dibicarakan dengan baik-baik kok," ujar Reta, yang mengerti arti dari ucapan yang tadi diucapkan oleh Keysa.
"Enggak Tante, Keysa sadar. Bahkan sangat sadar banget, siapa Keysa, siapa Dion. Mas Dion pasti enggak akan pernah betah sama Keysa," jawab Keysa, raut wajahnya langsung berubah menjadi sendu.
Dan tanpa menunggu persetujuan sama sekali dari Reta, Keysa memutuskan berniat untuk segera melangkahkan kakinya ke luar dari dalam kamar, yang selama satu malam ini ia tempati.
"Kata siapa saya gak betah sama kamu? Kata siapa juga, semua opini kamu itu dibenarkan?" tanya Dion, yang tiba-tiba saja berada di depan Keysa.
Kedua tangan laki-laki tersebut dilipat dan juga diletakkan di depan d**a. Tak tertinggal juga dengan kedua alis yang ia satukan.
"Kenapa bisa ada di sini? Bukannya tadi itu ada di atas?" tanya Keysa, memilih untuk tak menggubris pertanyaan dari Dion tadi.
"Memangnya kenapa? Saya ada di sini salah? Saya hanya mau meluruskan semua apa yang ada di pikiran kamu itu!" jawab Dion, lalu tanpa permisi sama sekali laki-laki itu langsung meraih tangan kanan Keysa.
"Ikut saya sebentar," ucap Dion, dan Keysa hanya bisa menuruti apa yang diutarakan oleh laki-laki tersebut.
Saat Keysa tak menunjukkan adanya penolakan sama sekali, Dion melirik ke belakang, lalu berucap, "Kejutan buat Dion, dan tentang pesta itu, silahkan Mama mulai aja!"
"Dion ada urusan sama Keysa, yang mengharuskan pergi ke salah satu tempat," sambung Dion.
Reta yang menjadi orang tuanya itu hanya dapat menganggukkan kepalanya saja, tak ada jawaban yang keluar dari mulut. Karena ia juga ikut merasakan senang, dirinya tak jadi untuk kehilangan Keysa.
Pada dasarnya, di zaman sekarang untuk mencari perempuan yang tak selalu melihat keadaan harta, tidaklah mudah sama sekali.
Dan dari beberapa perempuan yang selalu Dion ajak untuk menuju ke rumahnya, tak ada satu pun yang menarik di mata Reta. Hanya Keysa saja, salah satu perempuan pertama yang langsung disetujui oleh dirinya.
"Mau ngapain sih? Enggak usah sampai pegang-pegang tangan segala, deh!" protes Keysa, lalu langsung menghempaskan tangan kanannya itu.
"Saya itu mau ngomongin sesuatu sama kamu," sahut Dion, tetapi Keysa justru melempar pandangan yang sama sekali tak ditebak apa arti dari pandangan tersebut.
"Kalau emang cuma mau ngomong, silahkan ngomong aja di sini!" titah Keysa, tetapi laki-laki itu justru menggelengkan kepalanya.
Tak peduli dengan ucapan Keysa yang seperti itu, membuat keduanya langsung berhenti di tengah jalan. Dan kali ini Dion memutuskan untuk kembali melanjutkan langkah kakinya lagi.
Hingga sampai akhirnya Dion membawa Keysa tepat berada di samping mobil miliknya itu, lalu ia pun berucap, "Sekarang silahkan masuk!"
"Masuk? Kita sebenarnya mau ke mana, sih?" tanya Keysa lagi, rasanya sangat heran sekali jika ia sama sekali tak tahu tujuannya itu akan menuju ke mana.
Apalagi, saat ini itu masih sangat pagi sekali, rasanya sangat tak mungkin sekali jika Dion mengajak dirinya menuju ke salah satu cafe yang berada di kota tersebut.
"Masuk ke dalam mobil aja dulu! Perihal ke mana mah urusan nanti!" sahut Dion, lalu ia memilih untuk membiarkan pintu mobil tersebut terbuka dengan Keysa yang masih merasa sangat ragu pada dirinya itu.