"Mau ke mana, Ma? Kok jalannya buru-buru banget. Terus, katanya kan tadi itu acaranya di rooftop, nah sekarang Mama sendiri mau ke mana?" tanya Prawira, saat dirinya akan melangkahkan kaki menuju ke rooftop.
Namun, ia justru mendapati sang istri yang tengah turun dari atas rooftop. Sampai akhirnya Reta pun menjawab, "Itu, katanya si Dion sekarang lagi ada di luar rumah."
"Tapi masalahnya itu, anak kita lagi sama cewek lain, dan itu buat Mama sama sekali enggak tenang, Yah," sambung Reta, yang mengutarakan dengan sangat jujur sekali.
"Loh, kok cewek lain sih, Ma? Bukannya kekasih Dion itu perempuan yang udah ada di rooftop ya?" sahut Prawira. Raut wajah yang laki-laki itu tunjukkan, benar-benar menggambarkan jika dirinya itu memang tengah merasa sangat heran.
Reta langsung menganggukkan kepala dan menjawab, "Iya, Yah. Kekasih Dion emang itu. Makanya Mama mau nyamperin Dion, mau minta kepastian dan juga penjelasan."
"Mau Ayah temani enggak?" tawar Prawira, tetapi langsung dijawab gelengan kepala oleh Reta.
Melihat langkah kaki sang istri yang perlahan sedikit menjauh, membuat Prawira hanya dapat melihat saja. Karena memang itu adalah keinginan murni dari Reta.
"Dion, kok ada di luar? Kenapa enggak masuk?" tanya Reta, dengan raut wajah yang menampilkan jika dirinya berpura-pura heran.
"Eh, ini siapa?" tanya Reta lagi, saat pandangannya melihat ke arah perempuan yang berada di samping Dion itu.
Mendengar suara yang sangat familier sekali, membuat Dion langsung melihat ke arah sumber suara tersebut. Langsung berdiri, saat tahu siapa pemilik suara tersebut.
"Eh, Mama. Kenalin, ini Febri. Temen dari Dion," ucap Dion, langsung memperkenalkan perempuan yang berada di sampingnya itu dengan Reta.
Namun, sama halnya seperti perempuan-perempuan yang lainnya, Reta sama sekali tak suka dengan apa yang ia lihat saat ini.
"Masuk yuk, Nak!" ajak Reta, yang langsung meraih pergelangan tangan kanan anak semata wayangnya itu, tetapi Dion justru sedikit menolak atas ajakan orang tuanya itu.
Sampai akhirnya Dion pun memilih untuk berucap, "Ayo, Feb! Kamu juga ikut masuk!"
"Loh, kata siapa?" protes Reta, yang langsung dengan sangat terang-terangan sekali, jika orang tua dari Dion itu melarang dan juga menentang.
"Ma, kok bilangnya kek gitu, sih?" tanya Dion, kini dahinya juga ikut berkerut.
"Kenapa memangnya? Kan apa yang Mama ucapin tadi emang bener! Mama sama sekali enggak ngizinin dia buat masuk ke dalam rumah kita," jawab Reta, lalu kembali menarik pelan pergelangan tangan kanan milik anak semata wayangnya itu.
Dion hanya bisa meraih napasnya dalam-dalam, lalu ia pun melambaikan tangan pada perempuan tersebut. Sebagai tanda jika ia tak bisa melakukan apa pun, selain memang harus membalikkan tubuhnya.
"Kamu itu udah punya pasangan, terus kenapa masih mau deketin perempuan lain, sih?" sentak Reta, karena bagaimanapun juga dirinya adalah seorang perempuan.
Reta sama sekali tak dapat membayangkan bagaimana jadinya, jika Keysa sampai tahu kalau Dion tadi itu menyempatkan dirinya untuk jalan berduaan dengan seorang perempuan.
"Siapa pasangan Dion, Ma? Keysa? Dia aja jalan sama cowok lain enggak apa-apa kok, santai-santai aja," ujar Dion, nada bicara yang dikeluarkan oleh laki-laki itu, terdengar sangat menantang sekali.
Namun, tak ada sahutan apa pun yang keluar dari mulut Reta, hanya saja kepala perempuan itu memilih untuk menggelengkan kepalanya saja.
Tak akan mungkin sekali, jika saat ini ia langsung mengutarakan semuanya. Yang berada di dalam pikiran Reta adalah, biarkan Keysa yang akan menjelaskan semuanya pada Dion.
"Ada sesuatu yang kamu harus tahu," ujar Reta, lalu tangan kanannya langsung merogoh kantong celana yang memang tengah dikenakan.
"Sesuatu apaan sih, Ma? Dion mau mandi dulu, tubuhnya udah bau banget," tanya Dion, tetapi tatapannya sama sekali tak fokus pada dirinya sendiri.
"Tapi ada syaratnya, kamu itu harus makai ini dulu!" titah Reta, lalu langsung mengeluarkan kain berwarna merah, yang memang sudah disiapkan untuk menatap kedua mata dari Dion.
mendapat perlakuan seperti itu dari Reta, membuat Dion merasa sangat heran, tetapi mau bagaimana lagi? Itu adalah perintah dari orang tuanya, sehingga Dion hanya bisa menuruti keinginan Reta.
Setelah kedua mata Dion sudah selesai diikat dengan kain merah yang sudah disediakan, kini saatnya untuk Reta menuntun anak semata wayangnya itu menuju ke rooftop.
Tepat di mana semua kejutan itu terjadi, tetapi ternyata tak ada yang namanya Keysa sama sekali.
"Kamu tunggu bentar ya di sini!" pesan Reta, lalu tanpa menunggu persetujuan sama sekali.
Reta langsung melangkahkan kaki menuju ke salah satu orang dari keluarga besarnya, yang cukup dekat dengan dirinya.
"Liat calon menantu saya enggak?" tanya Reta, dengan tatapan yang cukup menggambarkan jika dirinya itu memang merasa sedikit risau dan juga khawatir.
"Yang perempuan cantik itu, kan?" sahut orang tersebut untuk memastikan opini yang ia punya sendiri.
Dan tanpa pikir panjang sama sekali, Reta langsung menganggukkan kepala dan menjawab, "Iya, kamu liat dia ada di mana?"
"Kalau enggak salah, tadi itu dia kalau enggak salah turun dari sini, deh!" jawab orang tersebut, yang membuat Reta langsung kelabakan.
Karena memang sangat tak mungkin sekali, jika Keysa tidak mendengar apa yang tadi dibicarakan dirinya dengan anak semata wayang tersebut.
"Semua rencana yang sudah kita susun itu gagal, Dion! Hanya karena kamu yang bawa perempuan sesuka hati!" ujar Reta, lalu langkah kaki perempuan itu terus berlanjut.
Hingga sampai menuju ke kamar yang ditempati oleh Keysa, dan ternyata perempuan yang tengah ia cari itu ada di situ.
"Key, kamu kenapa ada di sini? Bukannya malah ada di rooftop?" tanya Reta, seraya merangkul pundak Keysa.
Namun, setelah Reta itu sudah duduk beriringan dengan calon menantunya itu, ia baru tahu jika Keysa tengah mengeluarkan air mata.
"Loh, kamu kok nangis sih, Nak?" tanya Reta, sebenarnya ia tahu alasan dari Keysa bisa sampai mengeluarkan air mata.
Menyadari jika ada Reta yang berada di sampingnya saat ini, membuat Keysa langsung melirik ke arah calon mertuanya itu.
Tak segan untuk menggerakkan tubuh supaya lebih dekat ke arah Reta. "Keysa sakit, Tante."
"Kamu itu salah paham, ini semua bukan tentang apa yang ada di pikiran kamu. Kamu bisa ngomongin hal ini dulu sama Dion, ya!" ujar Reta, dengan tangan kanan yang bergerak untuk mengusap rambut Keysa.
Tak ada sahutan sama sekali yang keluar dari mulut Keysa, hanya saja air mata terus saja menetes dari sudut kedua mata milik Keysa.
Hatinya itu sudah terlanjur sangat sakit, apalagi mendengar apa yang diutarakan oleh Dion tadi.