Taktik

1043 Kata
"Ya ampun, Dion, siapa juga sih yang mau jatuh cinta sama kamu? Bahkan, hantu aja keknya enggak akan pernah deh jatuh cinta sama kamu!" balas Keysa sangat yakin, membuat Dion sedikit terkejut dan ia memilih untuk memikirkan kata-kata apa yang akan membalas perempuan dibelakangnya itu. "Oh, berarti kalau hantu aja nggak suka sama saya, itu syukuran dong! Karena, kan berarti saya itu orangnya ganteng, kamu tahu kan gimana rupanya hantu? Mereka semua itu jelek-jelek!" ujar Dion, dengan sangat percaya dirinya. "Kamu ngomong kayak gitu ya, belum tahu aja nanti kalau kamu sendiri yang ngerasain jatuh cinta sama saya, baru nanti gimana rasanya!" ancam Dion, dengan pandangan yang tetap saja fokus pada lalu lintas. "Enggak! Saya enggak akan pernah jatuh cinta sama kamu! Walaupun mungkin nanti di antara kita ada cinta, atay rasa sayang. Itu adalah kamu duluan pasti," ucap Keysa, dengan sangat yakin sekali jika ucapannya itu emang benar. "Ya udah, kita lihat aja siapa yang bakalan jatuh cinta duluan dan siapa yang nggak pernah jatuh cinta!" ujar DIon, seperti tengah menantang Keysa yang tengah memikirkan sesuatu. Mendengar ucapan Dion yang seperti itu, bernada seperti laki-laki di depannya itu menantang tentang takdir kehidupan kedepannya itu seperti apa, maka dari itu Keysa berpikir jika ia harus menunjukkan perhatian yang ia miliki pada laki-laki tersebut. Supaya laki-laki itu bisa merasakan apa itu yang namanya cinta kepada dirinya. "Katanya ke salah satu tempat, yang kata kamu itu istimewa. Sekarang ke kantor, gimana sih kamu tuh?" protes Keysa, sembari dirinya turun dari atas motor dan berusaha untuk melepas helm yang masih menempel pada kepalanya itu. "Loh kan tadi kamu itu bilangnya mau ke kantor aja, nggak mau ke sana apalagi berduaan sama saya. Gimana sih kamu tuh! Harusnya konsisten dong kalau jawab!" sahut Dion, yang sama sekali tak mau mengalah, ia ingin jika dirinya itu yang selalu saja benar. "Tau ah! Gak jelas, saya duluan aja masuknya!" Setelah berucap seperti itu, perempuan tersebut benar-benar melangkahkan kaki terlebih dahulu dan meninggalkan Dion, yang tengah menggelengkan kepala. Tanpa sepengetahuan dari Keysa, laki-laki itu mengulas senyum geli, karena mendapati sikap perempuan seperti Keysa yang seperti itu. Sepanjang jalan saat Keysa masuk ke dalam kantor, ia memikirkan bagaimana cara dirinya itu memberi perhatian pada laki-laki yang berstatus sebagai tunangannya, meskipun hal itu hanyalah pura-pura, tetapi di mata keluarga Dion mereka memang benar-benar menjalin hubungan. Tanpa diberi aba-aba lagi, Keysaa langsung duduk di meja miliknya yang berada di depan ruangan Dion, lalu mulai berkutat pada komputer yang tersedia di situ. "Loh, jam segini baru dateng? Memangnya boleh ya?" tanya salah satu karyawan yang melintas di depan meja yang ditempati oleh Keysa, dan melihat Keysa baru saja menyalakan komputer dengan sangat santainya. "Oh, halo! Saya tadi ada urusan dengan Pak Dion, makanya saya ke sini sedikit telat," sahut Keysa, sembari tersenyum ramah, sedangkan orang tersebut hanya mengalihkan kepalanya dan terlihat bodo amat dengan jawaban yang dilontarkan oleh Keysa tadi. "Jadi ini namanya asisten pribadi? Bekerja menurut sendiri, tanpa menunggu atasannya untuk memerintahkan apa yang harus dikerjakan?" tanya Dion, setelah ia sudah berada tepat di depan meja milik Keysa itu. "Loh, bukannya waktu pertama kali, itu Bapak sudah memberitahu saya ya, Pak? Tentang bagaimana pekerjaan saya dan saya sedang mengerjakan hal itu, Pak," jawab Keysa, sembari mengarahkan tangan kanannya itu ke arah komputer. "Kamu tahu nggak, yang namanya bawahan itu selalu nurut sama atasan? Sedangkan kamu, atasannya aja belum ngasih perintah apa pun sama kamu!" ujar Dion, yang sama sekali tak mau mengalah. Keysa menganggukkan kepalanya dan berucap, "Ya udah, saya salah, saya minta maaf! Sekarang apa yang harus saya kerjakan, supaya Bapak tidak bersikap seperti itu lagi?" "Maksud kamu bersikap seperti itu lagi? Dalam artian?" tanya Dion, dengan melempar tatapan sinis. Lelah dengan kegiatan sehari-hari yang terus saja berantem dengan laki-laki didepannya ini, maka Keysa memilih untuk kembali duduk dan melanjutkan pekerjaannya lagi, karena ia juga tahu apa yang dilakukan oleh Dion itu hanyalah bercanda semata. Lagipula, dari pertama kali dirinya bekerja di perusahaan milik Dion, memang diperintahkan untuk mengerjakan rekapan hasil penjualan perusahaan dan kalaupun ada meeting, baru Keysa akan berpindah kerja untuk mempelajari semua tentang materi-materi yangg akan dipresentasikan. Paham jika sekretaris pribadinya itu lumayan pintar, maka dari itu Dion memilih untuk segera membuka ruangannya dan masuk ke dalam ruangan tersebut. "Dasar atasan aneh! Orang diciptakan kok membuat bikin orang darah tinggi aja, heran banget! Kalau jadi atasan nyebelin, kalau jadi orang biasa juga nyebelin, kenapa sih harus hidup!" ujar Keysa, yang sekarang kembali lagi menatap komputer dan melaksanakan pekerjaan yang sama sekali belum selesai itu. Sampai akhirnya, di saat Keysa tengah sibuk melihat dan merekap data penjualan perusahaan. Tiba-tiba saja telepon yang berada di sampingnya itu berdering dan membuat dirinya langsung mengangkat telepon tersebut. "Masuk ke ruangan saya!" Suara Dion terlebih dahulu terdengar di telinga, sebelum Keysa mengutarakan apa pun. "Kok diem? Saya tuh lagi ngobrol sama kamu! Saya lagi bicara sama kamu, kok enggak ada sahutan sama sekali, enggak sopan banget!" Baru saja Keysa ingin mengutarakan sahutan, suara Dion justru terdengar lagi di pendengaran. "Oh iya, iya, Pak. Nanti saya akan masuk segera ya, Pak!" Setelah mendapat jawaban seperti itu, Dion langsung mengakhiri panggilan teleponnya secara sepihak. Membuat Keysa harus mengusap dadanya dan melatih kesabaran. Sebelum masuk ke ruangan atasan, yang berada di belakang meja milik Keysa, terlebih dahulu ia menghembuskan napas dengan berkali-kali mengucapkan kata sabar, karena menghadapi orang yang keras kepala tersebut, memang butuh kesabaran yang luar biasa. Saat ia sudah siap, Keysa pun mengetuk pintu pelan. Hingga terdengar suara 'masuk', Keysa pun segera masuk ke dalam ruangan milik Dion. "Ada apa ya? Kok bapak manggil saya? Apa ada yang perlu saya kerjakan?" tanya Keysa, setelah ia sudah berada di depan meja milik Dion itu. Dion memberikan lembaran makalah yang cukup tebal, dan berucap, "Ini kamu pelajari semua materi yang ada di sini, karena besok bakalan ada meeting sama kolega baru dan kamu harus presentasi sebagus mungkin dengan produk yang dimiliki perusahaan ini!" Dengan sangat sopan Keysa menerima makalah tersebut dan membaca judulnya saja, setelah ia menganggukkan kepalanya, lalu menjawab, "Baik, saya akan pelajari ini sekarang, berarti saya pekerjaannya untuk menghafalkan ini atau ini akan saya hafalkan di rumah saja, Pak?" "Itu kamu hafalkan di rumah dan untuk kalau masih di kantor, silahkan kamu kerja untuk merekap semua hasil penjualan," jawab Dion, lalu kembali fokus pada komputer.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN