"Gimana rasanya? Enak, kan?" tanya Dion setelah piring yang tadi ia berikan untuk Keysa itu sudah habis tak tersisa.
Mendapat pertanyaan seperti itu dari Dion, membuat Keysa sedikit malu, tetapi kali ini ia menekankan rasa bodo amat. Sehingga lebih memilih untuk menulikan pendengarannya dan mengambil tisu untuk mengusap sudut bibirnya itu.
"Enggak apa-apa, tinggal jawab aja, enak kok. Enggak usah malu-malu kayak gitu, lagian saya juga tahu kok kalau kamu suka sama makanannya," ujar Dion lagi, yang kembali membuat Keysa sedikit kesal pada laki-laki tersebut, tetapi ia memilih untuk menahan rasa kesalnya itu.
"Berisik tau gak! Enggak usah banyak omong, saya lagi males ngomong sama kamu!" protes Keysa, sembari mengarahkan tatapan sinis, tetapi tak digubris oleh Dion.
"Bilang aja kalau kamu itu lagi malu, karena tadi kamu gak mau makan, eh pas saya pesanin kok malah habis nggak tersisa," ujar Dion lagi, yang membuat Keysa benar-benar kesal dengan laki-laki itu.
"Diam, atau saya pulang sekarang!" ancam Keysa, yang sudah mulai malas dengan laki-laki di depannya itu.
"Ya ampun, Sayang kek gitu aja udah marah-marah, jangan gitu dong. nanti cepet tua loh!!" Dion terus saja menggoda perempuan tersebut, karena kalau ia mendapati wajah Keysa yang tengah menampilkan rasa kesalnya menurut Dion itu justru sangat lucu.
"Apaan, sih! Malas loh kalau gini beneran yakin, saya pulang aja lah!" ancam Keysa lagi, yang kini dirinya itu berdiri dan benar-benar berniat untuk pergi meninggalkan restoran tersebut.
"Kalau emang niatnya mau pergi, mau pulang, ya udah pulang! Gak usah ngancem kayak gitu lagi, kentara banget bohongnya," ujar Dion, sembari menahan tawa melihat tingkah laku Keysa yang seperti itu.
"Oh, jadi beneran ingin saya buat pergi dari sini? Yaudah okey! Makasih buat makanannya!" Keysa benar-benar mengambil tas miliknya, lalu berdiri dan melangkahkan kaki keluar dari restoran tersebut, tanpa menoleh ke belakang sama sekali untuk melihat bagaimana reaksi dari laki-laki menyebalkan itu.
Saat Keysa sudah keluar melewati pintu, barulah Dion yakin jika Keysa memang tidak berpura-pura. Perempuan itu memang tengah kesal pada dirinya, sehingga ia langsung berdiri dan menuju ke tempat kasir, untuk membayar semua makanan yang telah habis dimakan olehnya dan juga sang kekasih, pura-pura.
"Key, yaelah! Baru kayak gitu aja udah langsung ngambek! Baperan banget sih!" seru Dion, sembari melangkahkan kakinya untuk mengejar langkah kaki milik Keysa.
Tak ada sahutan sama sekali yang dikeluarkan dari mulut Keysa, karena perempuan tersebut terus aja melangkahkan kakinya dan berjalan menjauh dari restoran itu hingga ke tepi jalan, berniat untuk mencari angkot yang akan membawanya pulang ke indekos.
"Jadi bener marah, nih! Cuma gara-gara itu doang? Kan bisa kali saya minta maaf," ucap Dion, sembari mengedipkan kedua matanya itu, tetapi Keysa bukannya luluh, ia justru merasa kesal dengan laki-laki tersebut.
Malas untuk menunggu sahutan yang keluar dari mulut Keysa, maka dari itu ia memilih untuk menggerakkan tangan kanannya yang meraih tangan sebelah kiri Keysa dan mengajak perempuan tersebut untuk menghampiri motornya yang terletak di parkiran milik restoran tersebut.
"Dih pemaksa!" protes Keysa, tetapi kedua kakinya itu tetap saja melangkah, mengikuti gerakan kaki milik Dion.
"Saya maksa juga kamu mau kok, gimana saya enggak maksa?" sahut Dion, sembari mengulas senyum genit, yang justru membuat Keysa semakin muak melihatnya.
"Najis!!" Itu adalah satu perkataan, sebelum Keysa benar-benar naik ke atas motor milik laki-laki yang sangat menyebalkan itu.
Beberapa menit setelah Dion melajukan motor miliknya itu, tak ada pembicaraan sama sekali yang terlontar dari kedua belah pihak. Baik dari Dion, maupun Keysa keduanya sama-sama terdiam, bahkan cukup lama mereka saling bungkam.
Sampai akhirnya Keysa memilih untuk kembali bertanya, "Habis ini kita mau ke mana sih?"
"Hei! Ternyata mau tahu juga ya kamu? Saya kira kamu enggak peduli mau kemana saya bawa kamu," ujar Dion, yang membuat Keysa harus benar-benar bersabar menghadapi laki-laki yang seperti itu.
"Saya nanya beneran loh, jadi jawabnya juga yang benar! Jangan ngelantur dong! Soalnya ngeluarin pertanyaan juga butuh tenaga, jadi kalau jawabannya nggak sesuai sama apa yang saya tanyain, itu namanya sia-sia!"
"Saya itu mau ngajak kamu ke suatu tempat, yang menurut saya itu spesial," jelas Dion, sembari menekankan di setiap katanya.
"Enggak ah! Kita ke kantor aja!" tolak Keysa secara langsung, yang membuat Dion mengernyitkan dahi tanpa sepengetahuan dari Keysa, tetapi kalau yang mengendarai Dion dan Dion memiliki niat untuk menuju ke tempat tersebut, yang berada di belakang bisa apa.
"Kalau kamu gak setuju, kenapa naik ke atas motor saya? Harusnya kamu itu nanyanya sebelum berangkat!" Dion kembali mengeluarkan alibi yang ia punya.
"Kamu itu kalau ngeluarin alibi, pasti aja nggak bisa buat dilawan, kenapa sih kamu itu nggak bisa banget buat ngalah? Ya udah gitu kita ke kantor! Kan enak didengernya," ucap Keysa, dengan suara yang dilembutkan, supaya laki-laki yang ada di depannya juga bisa untuk melakukan hal tersebut.
"Ya ampun, kalau itu ya tipikal kamu, kalau saya beda lagi. Yang namanya laki-laki itu harus bisa memiliki tujuan, dan kalau punya tujuan itu harus konsisten. Enggak bakal bisa dirayu pakai apa pun," sahut Dion, yang kembali tak ingin mengalah sama sekali.
"Dasar jomblo, jadi kayak gitu deh!" desis Keysa, yang membuat Dion memilih untuk memelankan laju motor miliknya itu.
Kepala milik Dion sedikit ia miringkan, supaya dapat melihat wajah perempuan yang ada di belakangnya itu, lalu bertanya, "Seriusan kamu ngatain saya jomblo? Sedangkan kamu aja masih jomblo? Enggak punya kaca kamu?"
"Yeah! Saya itu jomblo, karena belum pas buat melangkah ke ranah pacaran, sedangkan kamu itu umurnya udah matang. Tinggal punya cewek, serius, nikah deh! Tapi sampai sekarang kamu belum punya cewek sama sekali, tuh!" bales Keysa yang sama sekali tak mau kalah dari laki-laki menyebalkan menurutnya itu.
"Sebenarnya saya itu jomblo karena bukan tidak laku, tetapi lebih selektif gitu, karena yang namanya pasangan hidup itu nggak harus langsung dan cepat! Kita itu harus memilih di antara yang terbaik, sampai akhirnya mendapatkan paling terbaik."
"Kebanyakan alibi kalau saya ngomong sama kamu, capek! Ngomong ini dikasih alibi yang ini, ngomong itu dikasih alibi yang itu, nggak selesai-selesai!" ujar Keysa, yang sedikit jengah dengan tingkah laku laki-laki di depannya itu, meski memiliki status sebagai kekasih pura-pura.
"Jangan terus nyindir saya, nanti kalau jatuh cinta sama saya, enggak akan ada yang mau tanggung jawab, loh! Nanti bisa-bisa kamu itu bakal kelabakan sendiri!" ujar Dion yang membuat Keysa langsung terdiam dan sama sekali tak menyahuti apa yang diucapkan laki-laki tersebut.