Gengsi

1013 Kata
Berkali-kali Keysa sudah meneguk ludah, karena melihat Dion yang terlihat seperti sangat menikmati sekali makanan yang ia pesan itu. "Yakin, nih? Enggak pesan makanan sama sekali? Enak banget, loh, seriusan, deh!" tanya Dion lagi, berharap jika perempuan di depannya itu akan menganggukkan kepala dan mau makan bersama dengannya. Namun, yang namanya Keysa aalah perempuan yang sangat menjunjung tinggi sekali sifat gengsi, sehingga ia memilih untu menggelengkan kepalanya, lalu menjawab, "Enggak, ah! Enggak tertarik! Pasti rasanya gitu-gitu aja!" Dion langsung menggelengkan kepalanya, lalu berujar, "Seriusan, ini beda loh! Kalau enggak percaya, tester aja dulu." Tangan kanan milik Dion sudah bergerak dan mendekatkan ke arah Keysa. "Udah, buka mulutnya dulu!" titah Dion, yang sudah sedari tadi mendekatkan tangannya itu pada mulut pacar pura-pura itu, tetapi tak digubris sama sekali oleh Keysa. Bukan karena terpaksa atau apa pun, tetapi karena sebenarnya Keysa memang sudah menginginkan makanan yang tengah disantap oleh laki-laki di depannya itu. "Pemaksaan!" desis Keysa terlebih dulu, sebelum akhirnya ia membuka mulut dan detik itu juga Dion langsung memasukkan makanan tersebut ke dalam mulut Keysa. "Kalau saya maksa, kamu berarti pemalu!" sahut Dion, setelah Keysa sudah mengunyah pelan makanan yang diberikan oleh Dion. Mendengar perkataan seperti itu yang keluar dari mulut Dion, Keysa segera membulatkan matanya dan melempar tatapan sinis, tetapi tak mengucapkan sepatah kata pun, karena apa yang dikatakan oleh Dion tadi memanglah benar. "Tumben enggak protes," ucap Dion, sembari memasukkan satu sendok makanan tersebut ke dalam mulutnya, lalu tangan kanannya mengangkat. Sebagai pertanda jika dirinya itu tengah membutuhkan waiters. Melihat tangan milik Dion yang terangkat, membuat Keysa mengernyitkan dahinya, lalu ia buru-buru bertanya, "Mau udahan? Enggak dilanjut lagi, sayang loh makanannya!" Saat Dion akan menjawab pertanyaan yang keluar dari mulut Keysa, waiters sudah berjalan mendekat ke arah mejanya, membuat Dion memutuskan untuk melempar senyuman saja pada Keysa, lalu menanti kedatangan waiters tersebut. "Bagaimana, Pak, ada yang bisa saya bantu?" tanya waiters tersebut sangat sopan. "Saya pesan makanan ini lagi, ya. Satu," ucap Dion, sembari menunjuk ke arah piring yang berada di depannya itu. Waiters tersebut langsung mencatat pesanan apa yang tadi diucapkan oleh Dion, lalu menganggukkan kepalanya dan berucap, "Baik, Pak, tunggu sebentar ya! Nanti akan saya antarkan ke sini lagi." Tak menunggu jawaban yang dikeluarkan oleh Dion, waiters tersebut langsung membalikkan tubuhnya dan segera melangkahkan kakinya segera pergi dari hadapan orang yang menjadi pelanggan di tempatnya bekerja itu. Seperginya waiters tadi, Keysa masih memasang raut wajah bertanya-tanya,karena pertanyaannya itu memang belum dijawab sama sekali oleh Dion. "Kamu satu piring kurang?" tanya Keysa lagi. Dengan sangat semangat, Dion menganggukkan kepalanya, lalu menjawab, "Iya, soalnya enak banget! Jadi, enggak mungkin banget dong saya ngilangin makanan yang enak banget kek gini." Tanggapan Keysa hanya menggelengkan kepalanya, lalu ia berniat untuk meraih ponsel miliknya yang berada di atas meja, tetapi kalah cepat dengan Dion yang sudah terlebih dulu meraih ponsel tersebut, lalu memasukkannya ke dalam saku jas yang dikenakan. "Enggak ada sopan santunnya banget!" cibir Keysa, sembari melirik ke arah Dion. Namun, laki-laki tersebut memilih untuk diam tak menggubris sama sekali, dengan kedua tanan yang tetap saja bergerak memasukkan makanan ke dalam mulut. Apalagi dengan raut wajah yang terlihat sangat menikmati sekali, membuat rasa ingin merasakan juga kembali hadir di hati Keysa, tetapi ia selalu menepis keinginan tersebut, karena karena rasa gengsinya itu terlalu tinggi sekali. "Alhamdulillah! Akhirnya selesai juga," ucap Dion, lalu meraih tisu yang berada di atas meja, tepat di depannya. Keysa hanya melihat, tanpa ada kata protes sama sekali yang keluar, karena ia memang tengah malas untuk mengeluarkan pertanyaan. "Permisi, Pak, ini pesanannya," ucap waiters tersebut, sembari meletakkan piring yang ia bawa itu di atas meja. Dion menganggukkan kepalanya, lu meraih piring tersebut supaya lebih dekat dengan dirinya, melihat ke arah raut wajah Keysa, lalu mengulas senyum. "Saya pesan makanan ini itu bukan buat saya, tapi kamu," ucap Dion, sembari menahan tawa yang mungkin saja akan keluar, lalu menggeser pelan piring tersebut mendekat ke arah Keysa. Mendengar ucapan yang keluar dari mulut Dion, tentu membuat Keysa langsung mengernyitkan dahinya heran dan bertanya, "Maksudnya apa coba? orang saya enggak mau makan kok!" "Tapi tadi itu kamu mau makan tester dari saya?" tanya Dion balik, yang membuat Keysa tak menjawab apa pun. Sehingga membuat Dion langsung menggelengkan kepalanya pelan, lalu mendekatkan piring tersebut ke arah Keysa dan berucap, "Nih, dimakan!" "Jangan sampai jadi mubazir!" sambung Dion, yang lebih tepatnya itu menjadi sebuah ancaman, supaya perempuan di depannya itu beneran memakan makanan yang baru saja ia pesan tadi. Untuk menutupi rasa malu, Keysa menunjukkan raut wajah kesal terlebih dulu, lalu kedua tangannya meraih piring tersebut dan mengambil peralatan yang digunakan untuk makan. "Selamat makan, semoga aja kenyang ya!" ucap Dion, sembari tersenyum, lalu merogoh kantong jas yang ia kenakan, untuk meraih ponsel milik perempuan yang ada di depannya itu. "Mau ngapain? Kok ngambil ponsel punya saya?" tanya Keysa, saat baru saja memasukkan satu sendok makanan tersebut ke dalam mulut. Mendapat pertanyaan seperti itu, membuat Dion langsung melihat ke arah Keysa dan tersenyum, lalu ia pun menjawab, "Kamu kana itu kekasih saya, wajar dong kalau saya ngeliat isi ponsel kamu." "Padahal waktu itu kamu bilang sendiri, kalau ada orang di depan atau di samping, usahakan jangan mainan ponsel," sindir Keysa, sembari membuat bibirnya itu terlihat sangat jelek. "Loh, kan saya itu mau mengecek ponsel punya kamu ini, bukan mainan ponsel seperti melihat-lihat sosial media," jawab Don, yang sangat bisa jika dalam hal mengeluarkan alibi. "Alesan aja terus sana! Enggak mau banget disalahin!" ujar Keysa, yang membuat Dion memilih untuk memasukkan ponsel milik perempuan di depannya itu kembali ke alam kantong jas yang ia kenakan. Setelah itu, Dion memilih untuk menunjukkan wajahnya di depan Keysa, dengan cara kedua tangan dilipat dan diletakkan di atas meja, itu dilakukan supaya dapat menumpu dagu miliknya. Mendapati Dion yang seperti itu, membuat Keysa sedikit kikuk untuk melanjutkan kegiatan makannya, apalagi melihat Dion yang sedari tadi mengulas senyum, sembari menatap Keysa terus menerus. Namun, Dion selalu saja sangat peka, tentang apa yang tengah dirasakan oleh perempuan di depannya itu. "Udah enggak usah kikuk kek gitu, santai!" Keysa hanya melempar tatapan sinis pada Dion, tetapi ia tak menghentikan gerakan yang sedari tadi dilakukan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN