Sudah jatuh cinta?

1012 Kata
Setelah berpikir cukup keras mengenai keputusannya, apakah harus menerima permintaan maaf dari Dion, atau tidak. Akhirnya, Keysa memilih untuk menganggukkan kepalanya dan menjawab, "Ya udah, saya maafin kamu untuk kali ini." Mendengar jawaban sederhana seperti itu dari Keysa, sudah membuat Dion cukup lega. Rasa yang jarang sekali untuk hadir dalam dirinya, dan tiba-tiba saja hadir setelah mengenal dengan perempuan yang ada di depannya itu. Tanpa izin sama sekali, Keysa langsung meraih helm yang berada di pergelangan tangan sebelah kanan milik Dion, lalu memakainya di kepala. Berusaha untuk kembali naik lagi ke atas motor milik Dion. 'Apa saya benar-benar sudah jatuh cinta dengan perempuan itu?' tanya Dion di dalam hatinya, karena apa yang akhir-akhir ini hadir di dalam hatinya itu memang bukanlah rasa yang biasa. Keysa yang heran dengan apa yang terjadi pada Dion akhirnya memilih untuk menepuk pundak laki-laki tersebut, karena dirinya itu sedari tadi sudah naik ke atas motor miliknya dan sudah duduk dengan sangat santai, tetapi Dion justru tidak segera menggerakkan motor yang ia naikin itu. "Dion! Kamu bengong?" tegur Keysa, dengan suara yang sengaja ia tinggikan itu. Mendapat teguran seperti itu, juga tepukan di pundaknya, membuat Dion langsung mengedipkan kedua matanya itu dan menolehkan kepala untuk melihat ke belakang. "Kamu bengong, Bim? Mikirin apaan?" Pertanyaan yang sebelumnya sudah diutarakan oleh Keysa, kini kembali diulang oleh perempuan tersebut. "Kamu udah dari tadi?" tanya Bimo, yang memilih untuk tak menjawab pertanyaan dari Keysa tadi. Paham akan keinginan Bimo yang tak ingin menjawab pertanyaannya yang tadi, membuat Keysa yang memilih untuk mengalah dan menganggukkan kepalanya saja. Tak ada sahutan lagi yang keluar dari mulut Bimo, laki-laki tersebut memilih untuk menjalankan motornya itu. Kali ini dengan sangat pelan, karena ia juga sudah berjanji untuk tak membawa motor dengan kecepatan tinggi. "Key, saya mau nanya sesuatu," ucap Dion, saat beberapa menit mereka sudah melakukan perjalanan. Mendengar ucapan seperti itu, membuat Keysa langsung mengernyitkan dahi terlebih dulu, baru ia pun menjawab, "Boleh, mau nanya apaan memang?" "Menurut kamu, kita lebih baik ke kantor, atau ke salah satu tempat yang bakalan saya rekomendasiin?" tanya Dion, sembari memelankan laju motornya itu, supaya lawan bicaranya dapat mendengar apa yang ia ucapkan. "Ya, masih mending ke kantor," jawab Keysa dengan sangat cepat. "Males banget kalau harus berduaan sama kamu di tempat khusus!" sambungnya lagi. "Astaghfirullah, kagak enak banget didengernya," sahut Dion, dengan suara yang sedikit ia tinggikan, lalu pada detik berikutnya ia menaikkan kecepatan. "Loh, kan saya jawabnya bener kek gitu," ucap Keysa, yang merasa sedikit tak terima saat mendengar sahutan Dion yang seperti itu. Kali ni, Dion memilih untuk tak menyahuti ucapan dari Keysa, ia lebih memilih untuk fokus pada lalu lintas yang sangat menyegarkan pandangan. Sama halnya dengan Keysa yang merasa sangat kontras sekali perbedaannya, kalau berada di mobil, pasti ia tidak akan pernah merasakan bagaimana udara dingin yang sangat menyejukkan seperti ini. Wajah yang terkena terpaan angin, karena kaca dari helm yang dikenakan oleh Keysa memang sengaja tak ia tutup. Berbeda halnya dengan saat ia berada di dalam mobil, hanya ada angin yang berasal dari pendingin mobil, dan itu membuat rasa malas selalu saja menghampiri. "Jangan pakai helm, boleh enggak, sih?" tanya Keysa, sembari mendekatkan kepalanya itu pada telinga Bimo. "Jangan, yang namanya helm itu menjaga kita dari sesuatu yang mungkin saja akan terjadi," jawab Bimo, yang hanya membuat Keysa langsung menganggukkan kepalanya saja. Setelah pertanyaan yang seperti itu, kini mereka berdua sibuk dengan kegiatan masing-masing, Dion yang masih tetap fokus pada rute jalan, sedangkan Keysa yang menatap indahnya pemandangan sekitar. Beriringan dengan beberapa pengendara lainya, bahkan Keysa mendapat senyum dari beberapa laki-laki yang sebenarnya tak ia kenal. Sampai akhirnya, Dion memberhentikan kendaraannya itu, tetapi bukan di kantor tempat mereka bekerja, melainkan di salah satu restoran yang pernah ia kunjungi bersama dengan Dion juga. "Loh, kan tadi saya itu usulnya ke kantor, kok malah ke sini?" tanya Keysa, tetapi ia tetap saja memilih untuk segera turun dari atas motor milik Dion tersebut. Dion memilih untuk membuka helm yang ia kenakan, lalu menatap kedua mata milik Keysa sangat lekat. "Kan yang ngendarain motor itu saya, jadi bebas dong mau kek gimana juga." "Yaelah! Kalau tau keputusan akhirnya terserah kamu, ngapain minta pendapatnya sama saya?" tanya Keysa, dengan tatapan yang sangat kesal. Bahkan, mereka sudah tak menyadari jika masing-masing menyebut nama panggilannya dengan saya dan juga kamu. "Yuk, masuk!" ajak Dion, yang langsung meraih tangan milik Keysa dan menggenggamnya. Bahkan, tak ada kata protes sama sekali yang keluar dari mulut Keysa, perempuan tersebut pertamanya hanya membiarkan saja Dion menggenggam tangan miliknya itu, tapi semakin lama Keysa memutuskan untuk membalas genggaman tangan tersebut. Mendapat respon positif seperti itu yang ditunjukkan oleh Keysa, membuat Dion langsung mengulas senyum. Merasa lega, lalu melirik ke arah Keysa yang berada di samping kiri. "Enggak usah liatin terus, nanti jadi beneran suka, loh!" tegur Keysa, sembari menahan tawanya, tetapi tangannya tak lepas dari genggaman milik Dion. Mendengar teguran yang seperti itu, membuat Dion seakan memiliki kesempatan untuk berucap, "Kalau saya beneran suka sama kamu, gimana?" Keysa diam, ia tak melanjutkan langkahnya lagi, sedikit terkejut dengan ucapan Dion barusan. Ada rasa yang sangat sulit untuk dijabarkan, tetapi sebenarnya lebih dominan dengan rasa senang. Mendapati Keysa yang justru diam dan tak melangkahkan kakinya sama sekai, membuat Dion heran dan segera ia kembali berucap, "Udah, jangan terlalu dipikirin, nanti jadi suka, loh!" "Ish! Ngeselin banget sih kalau sekalinya ngomong!" protes Keysa, dengan tangan kanan yang berniat untuk mencubit salah satu bagian dari tubuh Dion. Namun, untung saja Dion bergerak lebih cepat untuk mendapatkan tangan milik Keysa, sehingga ia tak jadi mendapat cubitan yang akan melayang tersebut. Sampai akhirnya, Dion dan Keysa sama-sama duduk di meja yang sama, hanya saja kursinya yang berbeda. "Mau makan apa?" tanya Dion terlebih dulu, sembari tetap menahan ketawa. "Enggak, ah! Saya enggak mau makan sama sekali!" jawab Keysa, yang membuat Dion melempar tatapan yang sangat tajam. "Yakin? Seriusan enggak mau makan? Jadi, maunya ngeliat saya makan aja, gitu?" tanya Dion lagi, sembari mengedipkan sebelah matanya, yang justru membuat Keysa bergidik ngeri. "Enggak! Pokoknya saya enggak mau makan, masih mending juga mainan ponsel," jawab Keysa, dengan raut wajah yang terlihat sangat yakin sekali.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN