"Mau pulang sekarang, Sayang?" tanya Dion, sembari mengulas senyumnya, setelah mereka sudah cukup lama berbincang-bincang.
Mendengar pertanyaan seperti itu dari Dion, tentu membuat Keysa langsung menganggukkan kepalanya, lalu menjawab, "Boleh, deh!"
"Ya ampun, seriusan kalian mau pulang sekarang? Kenapa cepet-cepet banget sih? Baru aja jam satu siang," tanya Reta, setelah Dion dan juga Keysa sudah meminta izin padanya yang tengah memainkan laptop.
"Iya, Ma, soalnya habis ini Dion mau bawa Keysa ke salah satu tempat," sahut Dion, yang tiba-tiba saja tangan kanan miliknya itu bergerak untuk memeluk pinggang milik Keysa.
"Eh!" Hanya itu saja yang keluar dari mulut Keysa, karena ia juga paham tentang maksud dari Dion. Sehingga ia lebih memilih untuk mendekatkan tubuhnya lebih dekat dengan Dion.
Melihat sikap romantis dua sejoli yang berada di depannya, membuat Reta hanya tersenyum saja, lalu perlahan ia menganggukkan kepalanya dan menjawab, "Iya, kalian boleh kok. Ingat waktu ya!"
Dengan sangat senang hati, Keysa langsung menganggukkan kepalanya dan menjawab, "Siap, Tante!"
Dion yang melihat kelakuan perempuan di sampingnya hanya mampu menggelengkan kepala saja. "Ya udah, Ma, kita pergi dulu ya."
Setelah itu, Dion dan Keysa mencium punggung tangan kanan milik Reta secara bergantian. Melangkahkan kaki mereka untuk segera keluar dari rumah milik Dion.
"Loh, kok pakainya?" tanya Keysa, tetapi ia memilih untuk tak melanjutkan apa yang tadi diucapkan itu.
Dion langsung mengulas senyum, sebenarnya ia hanya ingin menguji reaksi dan tanggapan dari Keysa tentang apa yang tengah ia bawa tersebut. Jika biasanya mereka pergi ke mana-mana menggunakan mobil, tetapi kali ini berbeda, karena Dion lebih memilih untuk mengenakan motor yang ia suka dari dulu dan masih terawat sampai sekarang.
"Kenapa?" tanya Dion, setelah dirinya itu sudah berada tepat di depan Keysa, sembari tangannya yang tengah setia memegang setir motor tersebut.
Keysa langsung mengulas senyum, lalu menggelengkan kepalanya, lalu ia pun menjawab, "Enggak kok, saya kira itu lo enggak punya motor, tapi ternyata punya."
"Naik motor enggak masalah, kan?" tanya Dion, yang mulai pada percobaan pertama, karena seperti perempuan-perempuan lainnya, jika mereka jalan menggunakan motor, maka langsung ngambek.
"Ya enggaklah! Bahkan, lebih seru pakai motor daripada mobil, bisa liat pemandangan langsung dan juga bebas. Enggak kek naik mobil, yang mau liat pemandangan aja terbatas," jawab Keysa, yang membuat Dion menganggukkan kepalanya paham.
"Terus, sama make up yang kamu pakai, itu enggak apa-apa? Eum ... maksudnya enggak jadi masalah kalau naik motor?" tanya Dion, sembari menatap wajah perempuan di depannya itu dengan sangat serius.
Untung saja Keysa tak sebodoh itu, ia paham ke mana arah pembicaraan ini berlanjut, sehingga ia segera menggerakkan tangan kanan miliknya untuk mengusap pelan pundak milik Dion.
Tersenyum sebentar untuk menahan rasa lucu, barulah ia berucap, "Gini loh ya, Dion, enggak semua perempuan itu sama. Kamu boleh kok punya masa lalu yang mungkin terbilang sangat buruk, tetapi kalau bertemu dengan orang baru, jangan malah menganggap semuanya itu sama."
"Ngomong apaan, sih? Kan saya itu nanya!" elak Dion, sembari memilih untuk bergerak naik ke atas motor.
"Nih, helm buat kamu!" Kal ini Dion menyerahkan helm miliknya, yang tentu saja langsung ditanggapi oleh Keysa.
Perempuan itu juga lebih memilih untuk bungkam dan mengenakan helm yang tai diberikan oleh Dion padanya.
"Bisa enggak ya naiknya? Lagian punya motor kok tinggi banget!" gumam Keysa, yang tengah menyusun rencana bagaimana caranya ia naik ke atas motor tersebut, sembari mengeluarkan sedikit protes.
"Kamunya aja yang kependekan kali!" sahut Dion, yang kini sudah siap, dengan kedua tangan yang masing-masing menggenggam setir motor.
Keysa memilih untuk tak menyahuti perkataan dari Dion sama sekali, ia justru langsung menggerakkan kaki kanannya untuk naik ke atas motor tersebut, tetapi dengan cara duduk yang menyamping.
Setelah merasakan Keysa yang sudah duduk di atas motor miliknya itu, Dion memiliki pikiran jahil, sehingga tanpa aba-aba sama sekali langsung menaikkan gas, sehingga Kesya secara refleks menggerakkan kedua tangan untuk memeluk pinggang milik Dion.
Merasa puas melihat perempuan tersebut memeluk dirinya, Dion memutuskan untuk berhenti, sembari menatap wajah Keysa dari kaca spion.
Sangat tak disangka sama sekali, Keysa justru langsung turun dari atas motor dan melepas helm yang ia kenakan, sembari menampilkan wajah yang sangat tak bersahabat sama sekali.
"Loh, kok malah turun, sih?" protes Dion, sembari membuka kaca helmnya dan melempar tatapan bertanya-tanya pada perempuan di sampingnya.
"Mau buat saya meninggal sekaang? Kalau emang enggak ada niatan buat ngantar saya balik ke rumah, enggak apa-apa! Saya enggak masalah sama sekali!" seru Keysa, lalu meletakkan helm yang tadi ia kenakan pada tempat duduk yang berada di belakang Dion.
Tanpa ada ucapan apa pun lagi yang keluar dari mulut, Keysa memilih untuk langsung melangkahkan kakinya menuju ke gerbang rumah milik Dion, yang ternyata masih lumayan jauh.
Dion belum ada niatan sama sekali untuk mengejar Keysa, karena ia masih bengong dengan apa yang ia dapat barusan. "Ternyata kamu emang bener-bener beda,Key," gumam Dion, lalu kembali menutup kaca helm tersebut dan menggerakkan motor miliknya itu, untuk mengejar Keysa.
Di saat perempuan-perempuan yang lain justru merasa sangat asik, ketika diberi kejutan yang seperti tadi. Namun,, tidak dengan Keysa, perempuan tersebut justru langsung kesal dan tak terima.
Saat motor milik Dion sudah berada tepat di samping Keysa yang tengah berjalan, Dion pun membunyikan klakson satu kali. Mencekal pergelangan tangan milik Keysa, sembari berucap, "Ayo, naik!"
Detik itu juga, Keysa langsung menghempaskan tangan Dion yang tengah mencekal itu, lalu menjawab, "Ogah banget! Mendingan saya jalan kaki aja!"
"Yaelah! Ya udah saya minta maaf," ujar Dion dengan raut wajah yang penuh dengan rasa penyesalan.
"Semudah itu buat minta maaf?" tanya Keysa, sembari memandang rendah Dion, ia benar-benar merasa kesal dengan apa yang dilakukan laki-laki itu pada dirinya.
Dion mengembukan napasnya terlebih dulu. "Kan sekarang kamu juga enggak kenapa-napa? Lagian, ngapain sih gara-gara kek gitu aja dipermasalahkan?"
"Terlalu ngerendahin sesuatu, sih!" protes Keysa, lalu ia memilih untuk kembali melanjutkan langkah kakinya lagi, supaya cepat untuk menjauh dari laki-laki menyebalkan itu.
Dion memang tak mengejar Keysa, ia lebih memilih untuk memikirkan kesalahannya itu, tetapi ya tetap saja. Dion tak merasa bersalah sama sekali.
Namun, tak ingin menyerah sama sekali, Dion kembali berusaha untuk mendekati Keysa lagi, lalu berucap, "Ya udah, saya minta maaf sama kamu, janji enggak bakal mengulang hal itu lagi. Maafin saya ya!"