Lirikan

1023 Kata
Mendapati sikap Keysa seperti tak biasanya, bahkan perempuan tersebut justru bertolak belakang dengan opini, yang sebelum masuk ke sini, tapi saat melihat satu mata milik Keysa yang dikedipkan, membuat Dion langsung paham jika perempuan tersebut memang tengah mengatur rencana, untuk membuat orang tua dari Dion itu merasa senang. "Oh iya, untung ada kamu, Sayang! Ya udah deh, Ma, gak apa-apa kok kita tunangannya sekarang. InsyaAllah kita bisa lewatin ini semuanya iya enggak, Sayang?" sahut Dion, yang mulai untuk berpura-pura menyetujui semua yang sudah dilakukan oleh orangtuanya itu. Mendapat tanggapan yang seperti itu dari anak dan juga calon menantunya, membuat Reta langsung mengulas senyum sangat lebar dan menganggukkan kepalanya. "Ya udah, kalau gitu Mama juga ikut senang ya! Oh iya, Dari pada ngobrol di sini, masih mending kita ke bawah aja. Biar bibi yang bakalan bersihin semuanya." Dengan sangat senang hati Keysa dan Dion melangkahkan kaki, untuk segera keluar dari rooftop. Kembali turun dari tangga untuk sampai di ruang utama. "Ma, siapa sih yang punya ide buat ngasih kejutan itu di rooftop? Padahal kan buat kejutan kayak gitu itu butuh waktu yang lama banget, Ma, apalagi tadi itu benar-benar meriah banget?" tanya Dion, setelah mereka berdua berada di ruang keluarga. Tanpa ayah dari Dion, karena memang tengah memiliki urusan tersendiri tentang bisnis, sehingga tak bisa hadir dalam acara tersebut. "Kalau buat nanyain ide, itu benar-benar pure ide dari Mama, tapi Mama juga minta bantuan sama keluarga besar kita buat bantuin Mama. Tentang pelaksanaan ide yang kayak gitu dan juga gimana caranya, biar kamu gak tahu semuanya," jawab Reta, dengan sangat bangganya. Membuat Keysa hanya dapat menyunggingkan senyum sekilas saja. "Kenapa enggak ngelaksanain kek gini nunggu ayah ada di rumah aja sih, Ma?" tanya Dion, saat mereka tengah berada di ruang keluarga, sedangkan keluarga besar mereka tengah menikmati sajian di rooftop yang perlahan dipindah menuju ke ruang makan. Mendapat pertanyaan yang seperti itu dari anak semata wayangnya, membuat Reta hanya mengedikkan bahunya itu, lalu menjawab, "Nungguin ayah kamu? sampai kapan juga gak pernah bisa nganggur, Nak. Kalau pulang juga pasti tengah malem." Dion langsung menganggukkan kepalanya, sebenarnya ia juga paham tentang bagaimana sibuknya jadwal dari ayahnya itu. "Tante mau makan enggak? Atau mau ngerasain bolu yang tadi?" tawar Keysa, mencoba untuk mengalihkan pembicaraan, karena keadaan yang memang seperti sudah tidak bersahabat sekali. "Boleh, deh!" sahut Reta, dengan sangat semangat, membuat Keysa langsung berdiri dan berniat untuk menuju ke ruang makan, mengambil tiga potong kue yang akan ia berikan untuk Dion, dirinya, dan juga Reta. Seperginya Keysa menuju ke ruang makan, membuat Dion langsung berpindah tempat duduk, supaya lebih dekat lagi pada Reta, lalu bertanya, "Mama beneran ngerestuin hubungan Dion sama Keysa?" Mendengar pertanyaan yang seperti itu dari Dion, membuat Reta langsung mengernyitkan dahinya, serta satu alis yang sengaja ia naikkan. "Memangnya kenapa nanyain kek gitu?" Dion mengulas senyum terlebih dulu, baru ia menjawab, "Enggak apa-apa sih, Ma, cuma aneh aja. Dari sekian banyaknya perempuan yang Dion bawa, masa iya cuma Keysa doang yang disetujui, sih?" Kali ini, giliran Reta yang langsung mengulas senyum. "Pandangan orang tua itu selau aja bener loh, Nak, menurut Mama, Keysa itu anak baik, dan beda sama perempuan-perempuan lainnya." "Beda dari segi apa, Ma?" tanya Dion lagi, sembari menatap wajah Reta penuh dengan keseriusan. "Semuanya, Nak, dari mulai sopan santun, cara bicara, menghormati orang yang lebih berumur juga. Pokoknya semuanya deh, tapi yang pasti Keysa itu enggak sombong sama sekali. Makanya Mama langsung setuju sama dia," jelas Reta, dengan sangat panjang dan juga lebar. Namun, saat pandangan mata Dion menangkap sosok Keysa, membuat Dion buru-buru berucap, "Nanti Dion nanya-nanya lagi ya, Ma, sekarang soalnya dah ada Keysa." Reta pun langsung menganggukkan kepalanya, karena ia juga paham jika pembicaraan yang tadi itu bersifat pribadi. Meskipun, Reta itu tergolong wanita karir, tetapi sebisa mungkin ia akan menyempatkan waktu untuk anak semata wayangnya itu. Apalagi, sudah sangat lama sekali dirinya itu ingin melihat kekasih yang dipilih oleh anak semata wayangnya. Saat, Dion sudah membawa Keysa, maka dari itu Reta sangat semangat sekali untuk segera menghalalkan pasangan tersebut. "Ini, Tante kuenya," ucap Keysa, sembari meletakkan piring kecil yang berisi kue di meja yang berada di depan mereka. Keysa datang ke sini itu cukup lama, karen kue yang berada di ruang makan memang belum dipotong seluruhnya, hingga membuat Keysa memilih untuk memotong kue itu dengan pisau yang ia ambil dari peralatan yang berada di dapur. "Kuenya motong sendiri?" tanya Reta, saat ia mengamati jika potongan kue biasanya itu tidak cukup setebal yang disandingkan oleh Keysa. Mendapat pertanyaan yang seperti itu, membuat Keysa langsung mengeluarkan senyumannya, lalu menganggukkan kepalanya ragu, karena takut jika yang ia lakukan itu ternyata salah. "Iya, Tante, memangnya kenapa? Keysa salah motong, kah?" Reta langsung mengulas senyum, lalu menggelengkan kepalanya, lalu menjawab, "Enggak. Sama sekali enggak salah, cuma ini itu mencirikan kalau kamu itu pribadi yang sama sekali enggak pelit." Mendengar jawaban yang diutarakan oleh Reta, membuat Dion berpikir dan menatap wajah Keysa dengan saksama, sembari hatinya itu bertanya, 'Apa emang perempuan itu yang bakal jadi jodoh gue?' Mendapati anaknya yang sedari tadi menatap Keysa, membuat Reta langsung menyenggol pelan lengan milik Dion, lalu berdeham dan berucap, "Ya ampun, Dion! Jangan ngeliatin Keysa terus, dong! Itu ada kue yang harus kamu makan!" "Eh! Enggak kok, Ma!" Dion langsung gelagapan, dan beralibi dengan kedua tangan yang mengambil satu piring kecil berada di atas meja, yang berisi kue itu. Sedangkan Reta hanya bisa mengeluarkan tawa, karena memang merasa sangat lucu dengan sikap yang ditunjukkan oleh anak semata wayangnya itu. "Memangnya tadi Mas Dion liatin Keysa kah, Tante?" tanya Keysa, yang memiilih untuk pura-pura tak tahu, meskipun pada kenyataannya Keysa memang tahu betul jika sedari tadi Dion emang memperhatikannya. Namun, Keysa tak ingin langsung dimasukkan ke dalam hati, karena jika seseorang sudah merasakan apa yang dinamakan dengan cinta, maka orang tersebut harus menanggung konsekuensinya. Yaitu, patah hati. "Iya, Sayang, bahkan Dion itu liatin kamu dari tadi, loh!" jawab Reta, dengan tawa yang masi saja keluar dari mulutnya itu, tetapi Keysa hanya memilih untuk mengulas senyumnya tipis. Detik berikutnya, Keysa melirik ke arah Dion, ternyata laki-laki tersebut juga tengah menatap ke arahnya, segera Keysa memutuskan pandangan tersebut dan memilih untuk memasukkan kue yang sudah ia ambil tadi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN