"Kita itu ada di mana sih dan itu pintu apa?" tanya Keysa, saat mereka berdua sudah tiba di tangga paling atas dan di samping Dion, terdapat satu pintu yang entah digunakan untuk apa.
"Ini itu, pintu. Nanti kalau dibuka bakal masuk ke yang namanya atap. Atap itu bagian yang paling tertinggi dari sebuah rumah bertingkat, jadi sesuai petunjuk di kertas yang tadi kamu temuin, kita itu harus ke atap. Maka dari itu, gue bakal buka pintu ini," jawab Dion, dengan sangat detail sekali.
Karena Keysa memang sudah paham, jadi perempuan tersebut hanya menganggukkan kepalanya dan memberikan waktu untuk Dion segera membuka pintu tersebut.
Betapa terkejutnya, saat Dion melihat suasana yang sangat meriah, dengan banyaknya hiasan yang tersebar di sana ataupun di sini. Tak lupa juga dengan seluruh keluarga besar Dion yang sudah menatap mereka itu sangat bersemangat sekali.
"Wuih, ada acara apa nih? Kok sampai rame-rame banget?" tanya Dion, lalu menggandeng tangan kiri milik Keysa dan mendekat ke arah perkumpulan keluarga besarnya itu.
"Ini itu kejutan buat kamu, Dion, karena kamu itu hari ini bakalan tunangan sama kekasih kamu yang itu," ujar bibi dari Dion, yang membuat keduanya itu saling terkejut dan langsung melempar tatapan satu sama lain.
"Mama mana, mama?" tanya Dion, yang langsung mencari keberadaan mama tercintanya itu. Mengapa bisa tiba-tiba saja ada rencana pertunangan? Sedangkan dirinya saja tidak tahu menahu tentang hal itu.
"Mama kamu itu lagi nyiapin semuanya, yang ada di samping kue itu!" jawab bibi Dion yang tadi, sembari menunjuk ke arah Reta yang memang benar sedang sibuk dengan kue berukuran cukup besar itu.
"Mah," panggil Dion, yang langsung membuat Reta menoleh dan mengulas senyum sangat bangga.
"Eh! Sayang, akhirnya sampai juga, dari tadi mama itu nungguin kalian lo! Datangnya kenapa sih lama banget?" tanya Reta, dengan tanpa rasa bersalah sama sekali, lalu mengulurkan tangannya untuk dicium punggung tangan miliknya oleh Keysa.
Tentu dengan sangat senang hati, Keysa mencium punggung tangan milih Reta, karena sesuai apa yang ia dapat dari kedua orang tuanya, yang namanya sopan kepada orang lebih tua itu haruslah dipelihara.
"Ma, kok itu tadi bibi bilang kalau Dion bakalan laksanakan acara pertunangan, itu bener?" tanya Dion, dengan pandangan yang bertanya-tanya, karena ia sama sekali tak memiliki persiapan terlebih dahulu, untuk melakukan hal itu.
Dengan sangat ringan sekali, Reta langsung menganggukkan kepalanya, membenarkan apa yang menjadi pertanyaan Dion barusan, lalu menjawab, "Benar, karena apa? Karena Mama udah enggak sabar banget liat kalian berdua itu menuju ke jenjang yang serius lagi."
Setelah mendapat jawaban seperti itu, dari perempuan yang ada di depannya. Keysa langsung menggelengkan kepalanya pelan, lalu berbicara, "Tapi, Tante, Keysa kan masih kuliah. Jadi nggak akan mungkin banget dong kalau tiba-tiba tunangan, abis itu langsung ke jenjang pernikahan."
"Loh, kenapa nggak mungkin? Semuanya itu mungkin, Sayang, kalau emang udah ada niat. Banyak kok yang masih kuliah, meskipun dia itu udah bersuami apalagi berbadan dua," sahut Reta, yang membuat Keysa hanya bisa diam dan juga bungkam, karena memang benar apa yang diucapkan oleh mama dari Dion tersebut.
Tangan kanan Reta langsung bergerak untuk menepuk pundak milik anak semata wayangnya, lalu berucap, "Udah, tenang aja! Apa yang dilakukan sama Mama itu pasti benar kok, karena sama Mama itu udah diperhitungkan baik-baik, apa yang jadi dampak baik buruknya."
"Tapi, Ma, Dion itu belum ada persiapan sama sekali. Apalagi yang namanya pertunangan itu pasti butuh cincin, dan Dion gak punya cincin sama sekali. Apa harus beli cincin dulu? Tapi gak mungkin juga, sekarang langsung ke toko mas untuk beli cincin," ujar Dion yang kembali membuat alibi.
"Hei! Kalau sama Mama itu enggak boleh ngeluarin alibi sama sekali! karena sekali lagi Mama ingetin, kalau Mama udah buat keputusan, itu bakalan dirancang semaksimal mungkin. Jadi kamu gak perlu sibuk dan repot minta cincin, karena Mama udah beliin cincin buat kalian berdua," ujar Reta, yang membuat Dion dan Keysa langsung beradu pandangan, tak dapat mengucapkan kata apa pun.
Dengan sangat percaya dirinya, Reta langsung menggerakkan kedua tangan kanannya untuk menggandeng dua sejoli yang berada di depannya itu. Masing-masing satu tangan miliknya, sembari berucap, "Udah, yuk! Kita ke situ, mulai acara pertunangannya!"
Sebenarnya Dion tengah berfikir keras untuk bagaimana caranya supaya dapat mencegah pertunangan ini, tetapi otaknya itu tiba-tiba saja buntu. Sama halnya dengan Keysa yang sebenarnya perempuan tersebut sedari tadi memikirkan sesuatu, tapi apa yang ingin ia pikirkan justru tidak bertemu jalan keluarnya.
Sehingga keduanya itu lebih memilih untuk pasrah akan takdir, jika memang sudah ditakdirkan untuk bertunangan dengan sangat lancar, ya ... mereka tidak bisa berbuat apa-apa selain melaksanakan semua itu.
Ternyata memang benar, takdir dari Dion dan juga Keysa adalah bertunangan, hingga akhir dari sebuah acara tidak ada gangguan sama sekali. Semuanya mulus mujur, ternyata dugaan Dion memanglah benar seluruh keluarga besarnya datang ke rumah, karena ada sesuatu yang terjadi, dan ternyata sesuatunya. Adalah dirinya, yang melakukan pertunangan, dengan perempuan yang sebenarnya tak sama sekali ia cintai itu.
"Selamat ya, Nak, sekarang kalian itu udah menempuh ke jenjang yang lebih serius lagi dalam perihal hubungan. Jadi, mama mohon sama kalian, hubungan ini itu jangan dibuat main-main. Kalau bisa, kalian itu lebih serius lagi hingga ke jenjang pernikahan," ucap Reta, dengan rasa yang tak sama sekali bersalah.
"Mama kenapa sih, kalau mau apa-apa itu harus? Padahal Dion belum sama sekali siap buat melaksanakan semuanya itu, apalagi dari mulai dekorasi sampai cincin aja itu yang nyiapin Mama!" protes Dion, dengan raut wajah yang sudah benar-benar kesal, karena ia itu merasa tak berguna sama sekali. Sehingga harus Reta yang melaksanakan semuanya.
"Mama ngelakuin itu, bukan karena hal yang negatif loh! Tapi karena emang semua itu adalah hal yang sudah sangat positif sekali, jadi kamu itu harus percaya sama Mama. Kalau apa pun yang menjadi keputusan Mama, itu pasti berakhir dengan indah!" jawab Rita, dengan sangat percaya diri, sedangkan Dion hanya dapat menghembuskan napas, karena tak dapat mengeluarkan protes sama sekali pada orangtuanya itu.
Mendengar kata protes tadi yang dilontarkan oleh Dion, membuat Keysa berfikir, takut nanti jika orangtua dari Dion itu justru curiga dengan hubungan mereka, yang hanya sebatas pura-pura. Sehingga Keysa lebih memilih untuk langsung menggandeng lengan milik Dion sembari berucap, "Ya ampun, Sayang! Sama aja kali, kita pasti bisa jalanin ini semua kok, apalagi kan ini juga uda jadi impian kita. Iya, kan?"