Bahkan, sudah setengah perjalanan mereka lalui, tetapi tak ada percakapan sama sekali yang keluar dari mulut keduanya. Membuat Dion sedikit merasa bosan dan juga kesal, lalu memutuskan untuk menghentikan mobil ke tepi jalan.
Setelah menghentikan mobil, saatnya Dion untuk meraih ponsel miliknya dan memainkan benda pipih miliknya itu.
"Loh, kok berhenti sih? Kenapa?" tanya Keysa, sembari melempar tatapan aneh pada laki-laki di sampingnya itu.
"Suka-suka gue, lo aja enak kok mainan ponsel. Masa iya gue fokus sama jalanan terus," jawab Dion, lalu pandangannya kembali fokus pada layar ponsel.
Keysa menggelengkan kepalanya, karena ia merasa heran dengan jawaban yang dikeluarkan oleh Dion. "Yaelah, jad lo maunya gue enggak mainan ponsel, gitu?"
Dengan sangat senang hati, Dion menganggukkan kepalanya, lalu menjawab, "Iya, dong! Kan biar adil, kalau gue diem ya lo juga diem!"
Keysa akhirnya menghembuskan napasnya dan meletakkan ponsel ke dalam tas, mengangkat kedua tangan, sembari berucap, "Tuh, udah! Gue enggak megang ponsel."
Dion melirik ke arah Keysa, lalu menganggukkan kepalanya, ia juga meletakkan ponsel kembali pada tempat semula. "Nah, gitu dong! Biar sama-sama adil juga, kan?"
Tak ada sahutan yang dikeluarkan oleh Kiara, karena perempuan tersebut lebih memilih untuk memfokuskan pandangannya ke arah jalan. Melihat beberapa kendaraan yang melintas, sampai akhirnya lampu merah membuat Dion harus menghentikan kendaraannya itu.
Sialnya, kedua bola mata milik Keysa justru menangkap satu orang yang sangat ia kenal. Yaitu, Delon, bahkan ia tengah bermesraan dengan seorang wanita yang duduk di sampingnya.
Mendapati Keysa yang melihat ke arah samping, tanpa bergerak sama sekali. Membuat Dion ingin tahu dan memutuskan untuk melihat ke arah di mana Keysa melihat. Detik itu juga ia langsung tertawa.
"Gila lo! Tiba-tiba ketawa kek gitu!" desis Keysa, sembari melempar tatapan aneh pada laki-laki di sampingnya itu.
"Loh, saya mah bukan gila, tapi emang lagi ketawa gara-gara liat laki-laki yang pernah deket sama kamu itu," jawab Dion, sembari tangan kiri yang menunjuk ke arah mobil d samping.
Detik itu juga, Keysa langsung diam dan harus mulai untuk melupakan Delon, karena pada kenyataannya adalah Delon sudah menjadi milik orang lain.
"Udah, enggak usah dipikirin! Laki-laki kek gitu mah enggak pantes banget buat dicintai sama kamu," ucap Dion, yang membuat Keysa langsung menatap wajah laki-laki di sampingnya itu.
"Terus, yang pantes dicintai sama gue itu siapa?" tanya Keysa, yang mencoba untuk membuka pertanyaan lain.
Sebelum menjawab, Dion terlebih dulu merapikan rambut, baru setelah itu ia menjawab, "Tentu gue dong! Udah jelas semuanya, bahkan keluarga gue aja kenal kok sama lo."
"Oh iya yah, hari ini kan mau ke rumah lo!" ujar Keysa, sembari menepuk pelan dahinya itu.
"Memangnya kenapa?" tanya Dion, melempar tatapan bertanya pada perempuan di sampingnya.
Tak peduli dengan pertanyaan yang tadi dikeluarkan oleh Dion, kini Keysa memiringkan tubuhnya supaya sepenuhnya menghadap ke arah Dion. "Penampilan gue hari ini, gimana?"
Pertanyaan seperti itu yang keluar dari mulut Keysa, justru membuat Dion langsung menaikkan satu alis miliknya itu, meskipun dengan rasa yang saat aneh, tetapi ia tetap menjawab, "Perfect!"
"Seriusan enggak? Jangan sampai boong loh ya! Karena kan bakalan ketemu sama keluarga besar lo juga, jadi keknya enggak mungkin banget, kalau gue dandannya itu asal," ujar Keysa, lalu ia memilih untuk merapikan semua yang ia kenakan itu.
Dion menganggukkan kepalanya dnegan mantap, lalu menjawab, "Seriusan, Key, lo itu perfect, pake banget malah!"
"Tapi kalau kamu emang enggak percaya diri, mending ke salon dulu aja!" ujar Dion, yang langsung dijawab gelengan kepala oleh Keysa.
"Repot banget, kan gue cuma minta pendapat lo doang, enggak sampai harus ke salon juga kali! Lagian cuma bentar kan?" sahut Keysa, yang membuat Dion harus menganggukkan kepalanya.
Sebenarnya ia juga sama sekali tak tahu apa yang akan diberitahukan oleh mamanya itu, karena seperti sangat aneh sekali, sampai-sampai semua keluarga besar mereka saja diundang.
Akhirnya, perjalanan yang cukup panjang pun berakhir, kala mobil milik Dion mulai masuk ke dalam halaman rumahnya yang cukup luas itu.
Mereka berdua sama-sama tengah mengontrol detak jantung yang berpacu lebih cepat dari biasanya, karena sama-sama penasaran akan apa yang terjadi jika mereka berdua itu masuk ke dalam rumah milik Dion.
"Ini kita beneran masuk ke dalam?" tanya Keysa, yang sedikit ragu, ketika akan masuk ke dalam rumah dari Dion.
"Iya, dong! Santai aja, lagian ada gue di samping lo kok," sahut Dion, sembari mengulas senyum. Meyakinkan perempuan di sampingnya itu, jika tak ada yang menakutkan di dalam rumahnya.
Namun, jantung milik Keysa sama sekali tak mau untuk diajak berkompromi, hingga Keysa menemukan cara untuk meredam detak jantung tersebut.
Perlahan, tangan kanan milik Keysa meraih lengan sebelah Kiri dan menggandeng dengan sangat erat. "Gue izin kek gini ya, biar enggak terlalu nervous," ucap Keysa, diiringi dengan senyuman yang kembali ia lukis setelah mengucapkan hal itu.
"Yee! Bilang aja lo nyaman sama posisi yang kek gini," sahut Dion, yang membuat Keysa langsung berniat untuk melepas gandengan tangannya itu.
Namun, Dion buru-buru langsung mencekal pergelangan tangan milik Keysa dan meletakkannya lagi pada lengannya. "Enggak apa-apa, santai aja. Tadi gue cuma bercanda kok."
Tak ada sahutan yang dikeluarkan oleh Keysa, tetapi tangannya tetap pada lengan milik Dion. Mereka akhirnya masuk ke dalam rumah milik Dion, tetapi keadaannya itu sangat sepi.
"Loh, ini ada tulisan," ungkap Keysa, sembari mengambil selembar kertas yang terdapat pada dinding pembatas yang akan menuju ke ruang keluarga.
"Silahkan naik ke atas, rooftop?" Dion dan Keysa sama-sama membaca tulisan yang terdapat pada kertas tersebut, dan mereka sama-sama melempar pandangan.
"Ikut gue, yuk!" ajak Dion, lalu menggenggam telapak tangan milik Keysa.
Tak ada kata penolakan yang keluar dari mulut Keysa, perempuan tersebut memilih untuk terus melangkahkan kaki, mengikuti gerakan Dion yang sama sekali tak berhenti.
Perjalanan yang Dion lalui itu menuju ke tingkat, yang saat melihat tingkat tersebut Keysa sudah terasa sangat kelelahan sekali.
"Seriusan kita naik ke situ?" tanya Keysa, yang sama sekali tak percaya.
"Serius, dong! Kan itu petunjuknya!" sahut Dion, lalu ia melangkahkan kakinya terlebih dulu, mau tak mau Keysa pun harus mengikuti langkah kaki Dion.
Ternyata jika dijalani, anak tangga yang terlihat sangat banyak itu sebenarnya hanya beberapa saja.
"Capek enggak?" tanya Dion, saat mereka sudah berada di anak tangga yang paling atas.
Keysa mengeluarkan cengiran khasnya itu, lalu menggelengkan kepalanya dan menjawab, "Hehe, ternyata enggak."