"Tuh, udah sampai sekarang!' ujar Dion, setelah mobilnya terhenti tepat di depan kampus milik Keysa.
Setelah mendengar apa yang diutarakan oleh Dion, dengan sangat semangat sekali Keysa langsung membuka sealt belt yang menempel pada tubuhnya dan berniat untuk segera turun dari mobil milik Dion.
Namun, Dion buru-buru bertanya, "Eits! Mau turun di sini?"
Dengan sangat polosnya Keysa menganggukkan kepala, dengan tangan kanan yang bergerak untuk memasukkan ponsel miliknya itu. "Kan udah bener ini kampus gue."
"Kalau lo turun di sini, buat masuk ke dalam kampusnya itu masih jauh!" ujar Dion, yang baru disadari oleh Keysa, dan perempuan tersebut langsung menepuk pelan dahi miliknya.
"Atau enggak apa-apa mau turun di sini aja?" tawar Dion, tetapi lebih tepatnya adalah menggoda perempuan di sampingnya itu.
"Eh, eh enggak! Jangan, tanggung, bentar lagi kok. Hehe," sahut Keysa, dengan cengiran yang langsung ia tunjukkan .
Dion hanya bisa menggelengkan kepalanya saja, mendapati tingkah laku perempuan yang ada di sampingnya itu. Rasanya sangat lucu, apalagi melihat raut wajah Keysa yang tadi.
"Padahal, gue itu cuma ngasih tau ke lo, kalau kita udah sampai di kampus lo! BUkannya malah turun!" ujar Dion, yang kembali menjelaskan apa yang tadi ia ucapkan itu.
Keysa langsung mengibaskan tangan kanannya tepat di depan wajah. "Udah, ah! jangan dibahas mulu!"
"Eh! Gue berhenti di sini aja, dong!" pinta Keysa, setelah matanya menangkap Delon yang tengah berjalan.
Untung saja Dion lebih peka, ia tak menghentikan mobilnya terlebih dulu, melainkan melihat ke arah sekitar. Mencaritahu apa alasan perempuan di sampingnya itu ingin turun bukan di tempat tujuan, dan saat ia mendapati laki-laki yang pernah dekat dengan Keysa, maka Dion memilih untuk menambah kecepatan.
"Lo tuli ya? kan gue itu mintanya berhenti, bukan malah kecepatannya itu ditambah!" protes Keysa, dengan wajah kesalnya, juga bibir yang ia kerucutkan.
"Loh, emangnya gue itu supir pribadi lo? Kan bukan!" sahut Dion, dengan tatapan aneh yang ia lempar pada Keysa.
"Ish, nyebelin!" Keysa memilih untuk membuang pandangannya ke arah lain, karena ia sedikit kesal dengan apa yang dilakukan oleh laki-laki di sampingnya itu.
"Udah sampai, enggak mau turun? Atau emang betah ada di samping gue?" tanya Dion, sembari menaik turunkan kedua alis miliknya itu.
Mendapat pertanyaan seperti itu, membuat Keysa benar-benar merasa kesal. "Najis!" ucap Kiara, lalu segera membuka pintu mobil tersebut dan menutup lagi dengan sangat kasar.
Dion hanya bisa mengusap-usap pelan d**a miliknya, diiringi dengan tawa yang sangat gemas mendapat perlakuan seperti itu. "Semoga aja bukan jodoh gue beneran!"
Memilih untuk kembali menjalankan mobi miliknya itu menuju ke tempat parkir, karena rasanya sangat tidak mungkin sekali jika harus menunggu kekasih pura-pura itu di sini.
Tempat di mana para mahasiswa melintas, atau lebih tepatnya adalah pintu utama dari kampus yang ia datangi ini.
Setelah sampai di parkiran, Dion segera mengeluarkan ponsel miliknya dan mencari nama Kiara, untuk memberitahu jika dirinya menunggu di parkiran, dan juga ia menitip pesan supaya tak terlalu lama untuk menyerahkan tugas tersebut.
Saat Dion melihat Keysa yang juga tengah membuka aplikasi w******p, maka ia buru-buru menekan tombol yang berfungsi untuk melakukan panggilan telepon.
"Apaan?" tanya Keysa, saat panggilan telepon sudah terhubung. Sebenarnya untuk mengangkat telepon rasanya sangat ,alas sekali.
"Jangan galak-galak dong, Sayang, sama kekasih sendiri juga," sahut Dion, yang berusaha untuk menggoda Keysa.
Namun, bukannya mengeluarkan tawa, Keysa justru semakin merasa kesal dengan laki-laki yang menghubunginya lewat telepon. "Cepetan, ada apa nelepon?" tanya Kiara lagi, yang benar-benar malas sekali untuk mengeluarkan canda dengan Dion.
"Gue ada di parkiran , jadi nanti lo langsung ke parkiran aja," ujar Dion mengutarakan apa yang sebenarnya sudah ia tulis di dalam pesan yang baru saja ia kirimkan itu.
"Hm." Hanya itu saja yang keluar dari mulut Keysa,karena ia memang malas sekali sebenarnya berurusan dengan laki-laki berstatus sebagai kekasih pura-pura itu. "Udah? Enggak ada lagi?" tanya Keysa lagi.
"Iya," jawab Dion, dan saat Keysa akan mematikan sambungan teleponnya, Dion buru-buru bersuara, "Eh, Key! Tunggu dulu!"
"Apa lagi,sih?" tanya Keysa, dengan sangat emosi.
"Jangan lama-lama, males gue nungguin," jawab Dion, dengan senyuman yang tersungging di bibirnya itu.
"Iya," jawab Keysa, lalu segera mematikan sambungan teleponnya itu.
Mendapati sambungan teleponnya langsung diakhiri secara sepihak, membuat Dion kembali menggelengkan kepalanya, lalu memilih untuk memainkan ponselnya. Membuka sesuatu yang berkaitan dengan bisnisnya itu.
"Dion! Bukain pintunya!" teriak Keysa, sembari mengetuk kaca mobil miliknya itu.
Namun, karena sangat fokus pada beberapa email yang masuk secara berangsur, membuat Dion tak sadar jika sedari tadi Keysa mengetuk kaca mobil miliknya itu.
Keysa juga baru terpikirkan, jika ada baiknya ia menghubungi laki-laki tersebut melalui sebuah telepon. Benar saja, setelah mendapat telepon dari perempuan yang tadinya itu bersama, membuat Dion langsung mengangkat dan meletakkan ponsel di dekat telinga.
"Udah selesai, Key?" tanya Dion, dengan tangan yang memainkan kemudi mobil.
"Liat ke kaca mobil!" titah Keysa langsung, dengan suara yang terdengar sangat kesal sekali.
Apa yang diperintahkan oleh Keysa, langsung dituruti oleh Dion, laki-laki tersebut segera menolehkan kepalanya dan melihat ke arah kaca mobil.
Seketika wajahnya langsung terkejut, saat mendapati perempuan yang sedari tadi ia tunggu itu berdiri di depan pintu mobil, dengan wajah yang sudah ditekuk.
Buru-buru Dion membukakan pintu mobil tersebut, lalu berucap, "Sorry ya, soalnya tadi gue terlalu fokus sama ponsel, jadi enggak ngeh ada lo!"
Tak ada jawaban yang dikeluarkan oleh Keysa, karena perempuan itu sudah terlanjur sangat kesal dengan laki-laki di sampingnya itu. Memilih untuk berpura-pura sibuk dengan ponsel barunya itu.
"Yaelah, gue minta maaf loh tadi, Key, kok enggak ada sahutan sama sekali?" ujar Dion, yang membuat Keysa langsung mengeluarkan kata 'hm' satu kali. Hanya itu saja, lalu kembali sibuk dengan benda pipih yang ia pegang.
"Dimaafin enggak?" tanya Dion lagi, ia sengaja untuk terus aktif, karena perempuan di sampingnya itu memiliki sifat yang sedikit cuek.
Mendapat pertanyaan yang seperti itu lagi, membuat Keysa memiringkan tubuhnya ke arah Dion, lalu menjawab, "Hadeuh! Iya, iya. Gue maafin lo kok, kan lagian enggak aneh juga kalau lo itu selalu nyebelin!"
"Haish! Sembarangan aja kalau ngomong! Padahal saya baru loh kek gitu tuh, kok malah bilangnya udah biasa?" protes Dion, yang sama sekali tak digubris oleh Keysa sama sekali.
Membuat Dion harus menghembuskan napasnya, lalu memilih untuk bungkam, persetan dengan keadaan yang sangat sepi. Toh, lawan bicaranya juga seperti tak memiliki gairah untuk berucap.