Saat baru setengah makanan masuk ke dalam perut milik Keysa, tiba-tiba saja tangan kanan Dion bergerak untuk menyerahkan kotak tisu, yang tadinya berada di tengah-tengah mereka dan mendekatkan ke arah Keysa.
"Ngapain dideketin sini? Gue lagi makan juga! Bikin ribet, enggak penting banget!" protes Keysa, lalu menggerakkan tangan kanannya lagi untuk menjauhkan kotak tisu tersebut. Supaya tak mengganggu pandangan matanya.
Tak ada suara apa pun yang keluar dari mulut Dion, karena ia tengah sibuk mengunyah makanan dan memilih untuk kembali menggerakkan tangan kanannya. Menggeser tempat tisu tersebut, sampai akhirnya ia mempercepat gerakan mengunyahnya itu, lalu menjawab, "Kalau makan itu yang bener, lo kan udah gede! Ya enggak mungkin dong kalau enggak bisa ngerasain yang namanya kerapihan di sekitar mulut."
Meskipun kata-kata yang dikeluarkan oleh Dion itu sedikit heran dan juga rumit untuk langsung dipahami, tetapi Keysa saat itu juga langsung paham dengan apa yang dimaksud oleh Dion. Ia buru-buru mengambil beberapa helai tisu dan mengusap pelan pada sekitar bibirnya, rasa malu terus saja menyelimuti hatinya. Apalagi laki-laki yang ada di depan itu, memiliki mulut yang tak bisa diam dan memang sangat-sangat menyebalkan.
"Bisa enggak? Kalau enggak bisa, ya biar gue bantuin sini! Kurang baik apa coba gue, tuh?" tawar Dion, yang langsung dijawab dengan gelengan kepala oleh Keysa.
"Ya udah, kalau kayak gitu mending lanjut makan aja," ucap Dion, saat mendapat jawaban seperti itu. Dan kini, ia benar-benar fokus pada makanannya, sama sekali tak peduli dengan apa yang dilakukan oleh Keysa saat ini.
Sangat berbeda sekali dengan apa yang dilakukan Keysa tadi sebelum makan, dengan setelah ditegur oleh Dion barusan. Kali ini Keysa lebih canggung untuk membuka mulut dan lebih sangat berhati-hati, supaya tak ada sisa makanan yang berada di sekitar mulutnya, karena itu benar-benar membuatnya malu. Bahkan sangat malu sekali.
"Udah santai aja, gak usah canggung gitu! Lagian gue tahu kok tipe orang kek lo itu pasti sering ngelakuin hal yang buat malu deh!" tegur Dion, tiba-tiba yang membuat kedua bola mata Keysa kembali membulat.
'Apa sih maunya laki-laki yang ada di depan gue ini? Kenapa punya mulut itu enggak bisa diem sebentar aja, tuh!' gumam Keysa, dengan mulut yang menerima makan, secara terpaksa.
Namun, berkali-kali Keysa ucapkan itu untuk sabar, sabar, dan sabar. Karena jika ada orang yang seperti itu, lalu digubris olehnya pasti tidak akan pernah selesai, justru orang yang memiliki tipikal seperti itu ada rasa puas tersendiri, jika lawan bicaranya itu menanggapi ucapannya.
Dan Keysa memang benar-benar tak menanggapi ucapan Dion, perempuan tersebut lebih memilih untuk fokus pada makanannya, berusaha supaya makanan yang ada di depannya itu cepat habis.
"Eh, ya ampun! Ponsel gue dimana sih? Masih ada di lo, kan? Atau jangan-jangan ... masih ada di dalam mobil?" tanya Keysa tiba-tiba, saat ia baru teringat jika dalam perjalanan tadi, ponsel miliknya itu dirampas oleh Dion dan diletakkan di tempat pijakan kaki.
Dan saat mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Keysa tersebut, ia langsung menepuk dahinya pelan, lalu raut wajahnya berubah menjadi tak enak dan menjawab, "Nanti kita beli ponsel yang baru aja, yang itu mungkin udah enggak bisa dipakai kali, ya? Tapi enggak tau juga, sih! Atau mau diliat dulu?"
Namun, Keysa segera menerima tawaran Dion. "Yang pertama aja, kita beli hp baru ya! Keluaran terbaru loh! Awas kalau enggak!" Baru kali ini Dion menyesali ucapannya sendiri, seakan masuk ke dalam lubang yang dibuat olehnya itu.
'Kenapa juga sih, gue harus ngomong kayak gitu?' ucap Dion di dalam hatinya, sembari memejamkan mata. Masih menyesali kebodohannya, yaitu mengucap sembarang kata sehingga membuat Keysa memanfaatkan hal itu.
"Beneran ya? Abis pulang dari sini? Udah enggak sabar banget mau dapet ponsel, apalagi keluaran terbaru! Kek mimpi sih gue kalau benar-benar dapat hp yang kayak gitu!" ujar Keysa, dengan penuh semangat yang membara.
Lain halnya dengan Dion yang justru menghembuskan napasnya, mau tak mau, ia memang harus menuruti perempuan tersebut, karena mungkin dalam jangka waktu panjang perempuan itu akan menyelamatkan hidupnya.
Seperti sekarang ini, ia sedikit lebih menunda tentang pernikahan itu dan lebih tepatnya, Dion akan menikah dengan perempuan yang dipilih oleh kedua orang tuanya itu. Menyebalkan memang.
"Aduh Dion! Ayo cepetan, lama banget sih lo! Terus kalau udah beliin gue hp baru itu, jangan gerutu. Artinya harus yang ikhlas, biar sama-sama enak gitu," ujar Keysa, dengan tangan yang sedikit menarik pelan tangan kanan milik Dion, supaya laki-laki itu mau untuk berdiri dan segera melangkahkan kaki dan membayar makanan tersebut. Setelah itu, barulah mereka pergi dari restoran itu untuk membeli ponsel baru.
Menghembuskan napas dengan secara terpaksa, bahkan jika ia diizinkan oleh Tuhan, maka Dion lebih memilih untuk tidak bernapas lagi dalam detik ini. Namun, masalahnya keinginan itu tidak terkabul, ia masih beri kesempatan untuk bernapas di dunia dengan sangat terpaksa. Akhirnya Dion berdiri dari posisi duduknya tadi, lalu melangkahkan kaki bersama dengan Keysa menuju ke tempat untuk pembayaran makanan.
Melihat ke arah wanita yang berada di sampingnya itu, ia heran mengapa perempuan itu mengulas senyum dan kedua bola matanya itu terpancar akan kebahagiaan. Padahal hanya tentang ponsel saja, karena itu adalah hal yang menurut Dion sepele, tapi rasanya sangat ingin untuk memberikan benda tersebut pada perempuan aneh, yang menjadi pilihan orang tuanya itu. Atau lebih tepatnya mama dari Dion.
Yuk, pulang! ajak Dion, dengan tangan kanannya yang langsung dicekal oleh Keysa.
Setelah itu, perempuan tersebut pun berujar, "Ih kok malah pulang, sih? Kan tadi lo janji buat beli ponsel baru, jangan gitu ah! Udah seneng-seneng gini bakal dapet ponsel baru, masa enggak jadi!"
"Iya, maksud saya itu, yuk kita pulang! Keluar dari restoran ini dan masuk ke dalam mobil, terus kita cari toko ponsel. Yuk! Katanya mau nyari ponsel keluaran terbaru, sesuai apa yang lo mau tadi?" jelas Bimo, sembari menatap wajah milik Kiara.
Raut wajah Kiara kembali sumringah dan benar-benar terlihat sangat senang, lalu ia kembali bertanya, "Ini beneran, kan? Beneran kalau gue bakalan dibeliin ponsel baru sama lo?" Dengan tatapan yang masih tak percaya, mungkin.
"Ya Allah, jangankan buat beli ponsel yang lo minta! Buat beli mobil pun bisa gue kasih! Cuma ogah kalau buat yang itu!" sahut Dion, yang langsung membuat Keysa cemberut, tapi itu sebentar, karena perempuan tersebut langsung memikirkan bagaimana kehidupannya setelah mendapat ponsel baru yang lebih canggih, dan lebih segalanya.
Mereka berdua pun langsung melangkahkan kaki untuk keluar dari restoran tersebut dan melaksanakan keinginan dari Keysa. Yaitu, membeli ponsel baru dengan kriteria keluaran terbaru.