"Lo ikhlas mau beliin gue ponsel ini?" tanya Keysa, untuk memastikan terlebih dahulu, tapi jika Bimo tak ikhlas pun sebenarnya tak masalah sekali. Karena ia memiliki pikiran, jika Dion tak mungkin jika mengembalikan ponsel yang saat ini sudah berada di genggaman tangannya.
Dapat pertanyaan yang seperti itu dari perempuan yang sungguh-sungguh menyebalkan, tapi juga berpengaruh pada dirinya.Dion pun akhirnya menganggukkan kepalanya dan menjawab, "Ya ampun! Takut banget gue enggak ikhlas! Gini-gini gue juga ikhlas kalau ngasih barang atau apa pun ke orang lain. Jadi lu santai aja, tapi yang terpenting nanti itu barang dijaga, jangan sampai enggak dijaga. Kan itu bisa jadi kenangan pemberian gue, pertama kali loh itu!"
Dan yang dilakukan Keysa langsung menggerakkan tangan kanannya untuk menyerupai sebuah gerakan hormat kepada bendera merah putih yang biasanya dilakukan oleh anak sekolah, untuk mengibarkan bendera milik negara indonesia, lalu menjawab, "Siap, Pak!"
Apa yang dilakukan oleh Keysa tesebut, adalah hal yang sangat lucu menurut Dion, sehingga ia langsung menggerakkan kedua tangan untuk mengusap-usap pelan kepala milik Keysa, dengan wajah yang menunjukkan jika dirinya itu memang tengah sangat gemas. "Lebay banget jawabannya itu!"
Dan detik itu juga Keysa langsung mengeluarkan cengirannya. "Oh iya, kalau saya ada ponsel baru, ponsel lama punya saya kek gimana?" tanya Keysa, saat ia baru memiliki pikiran yang mengarah ke situ.
"Terserah lo, mungkin bakalan jadi kenang-kenangan, eits! Tapi jangan inget di bagian kalau gue itu jahat sama lo, loh, ya! Karena apa yang gue lakuin ke lo itu, adalah hal yang sangat positif," jawab Dion, sembari menatap wajah Keysa.
Sedangkan perempuan yang ditatap oleh Dion justru merasa grogi sendiri, Keysa sedikit salah tingkah, tetapi ia meminimalisir dengan mengeluarkan sedikit suara, lalu memilih untuk melihat ke arah karyawan yang tengah mencatat nota pembelian ponsel tersebut.
"Mau dipakai sekarang, atau nanti semuanya dipasang sendiri saja?" tanya karyawan tersebut.
Dan Keysa langsung menggelengkan kepalanya, lalu menjawab, "Enggak usah, nanti dipasang sendiri aja." Karena Keysa ingat jika semua perlengkapan ponselnya itu ada di dalam mobil milik laki-laki yang sangat menyebalkan itu.
"Baiklah, ini total keseluruhannya," ucap karyawan itu, sembari menyerahkan nota yang sudah selesai ia tulis.
Dion langsung menerima nota tersebut dan membaca sekilas, tangan kanannya langsung mengeluarkan dompet yang berada di kantong celana bagian belakang. Membuka dompet tersebut, dan mengeluarkan semua uang berwarna merah yang ada di dalamnya.
Sembari Dion menghitung uang tersebut, Keysa justru menelan ludah terus menerus. Karena sungguh, ia baru pertama kali ini melihat penampakan uang yang segitu banyaknya di depan mata. Dan Keysa tak dapat mengedipkan mata sama sekali.
"Terima kasih, Mas," ucap karyawan tersebut, setelah menerima uang yang sudah disodorkan oleh Dion tadi. Setelah itu, karyawan itu menyerahkan tote bag yang berisi ponsel pada Keysa, tetapi karena perempuan tersebut masih dalam keadaan melamun. Sehingga, Dion yang memilih untuk menerima tote bag tersebut.
"Hey! Keysa!" tegur Dion, sembari mengibaskan tangan kirinya di depan wajah Keysa, tetapi karena masih tak ada respon sama sekali, membuat Dion lebih memilih untuk menampar pelan pipi sebelah kanan milik Keysa itu.
"Aww!" Dan untungnya Keysa sudah tersadar terlebih dulu, tak sampai membuat Dion melakukan hal-hal yang lebih lagi.
"Bengong mulu! Kesambet baru tau rasa," tegur Dion, setelah Keysa sudah merintih kesakitan, dengan tangan kanan yang mengusap-usap pipi sebelah kanan miliknya.
"Astaga! Lo kalau ngomong itu enggak pernah dijaga ya!" protes Keysa, dengan raut wajah yang sudah sangat tak bersahabat sama sekali.
"Loh, kenyataan padahal! jangan keseringan buat ngelamun," sahut Dion, lalu memilih untuk segera melangkahkan kakinya keluar dari dalam toko ponsel yang cukup besar itu.
Melihat Dion yang melangkahkan kakinya keluar dari toko ponsel, membuat Keysa juga mau tak mau harus mengikuti langkah kaki dari laki-laki tersebut. Ia buru-buru melangkahkan kakinya untuk segera menyusul Dion yang sudah terlebih dahulu keluar dari dalam toko ponsel yang mereka datangi.
"Ish! Kalau masuknya bareng-bareng, ya keluarnya juga harus bareng-bareng, dong! Masa iya masuk samaan, tapi keluarnya sendirian?" ujar Keysa, dengan nada yang sangat tak suka.
"Loh, kan gue mau keluar juga bilang dulu sama lo, tapi malah bengong terus!" jawab Dion, yang tak mau kalah sama sekali.
"Dasar cowok nyebelin!" Setelah itu, Keysa langsung memilih untuk melangkahkan kakinya terlebih dahulu, entah ke mana tujuannya pergi, yang terpenting perempuan tersebut lebih memilih untuk menghindar dari kejadian yang sangat menyebalkan itu.
"Hei! Mobilnya di sini, bukan di situ! Ngapain lo ke situ?" tanya Dion, dengan suara yang sedikit dikeraskan, sembari melambaikan tangannya ke arah Keysa.
Sedangkan perempuan yang bernama Keysa itu memilih untuk menunjukkan wajah dengan ekspresi datar. Ia melangkahkan kaki untuk mendekat ke arah Dion, yang belum masuk ke dalam mobil miliknya itu.
"Nungguin gue ya? Ngapain enggak langsung masuk aja? Susah nungguin gue? Sebenernya gue juga ogah banget ditungguin sama lo!" tanya Keysa yang langsung memberikan pertanyaan pada Dion. Sehingga membuat laki-laki tersebut, memilih untuk mengernyitkan dahinya heran pada perempuan yang ada di depannya itu.
"Hey! Kalau punya mulut itu dijaga! Lebih baik ngomongnya sedikit, dari pada ngomong banyak, tapi isinya itu kosong!" ujar Dion, yang membuat Keysa langsung memilih untuk diam.
"Iya udah, lebih enaknya sih gini aja, lo enggak usah masuk lagi dan terserah lo mau ngapain juga. Enggak usah masuk kerja lagi juga enggak apa-apa," ujar Dion, yang membuat Keysa langsung kelabakan, karena itu yang menjadi salah satu pekerjaan ya saat ini memang sangat dibutuhkan.
"Eh, eh! Kok malah gitu sih? bawa-bawa perasaan lo mah!" cegah Keysa, lalu segera menahan Dion supaya tidak meninggalkan dirinya.
"Hidup berdampingan sama lo itu ribet, gue tungguin protes! Enggak ditungguin, niatnya malah mau ditinggalin juga protes. Mau lo apaan sih?" tanya Dion yang sedikit kesal, dengan tingkah laku perempuan yang saat ini berada di sampingnya itu.
Namun jawaban Keysa justru mengibaskan tangan kanannya, lalu menjawab, "Udahlah enggak usah dibahas lagi, males enggak penting juga, kan? Tadi katanya mau pulang."
"Tuh udah nggak tahu diri, gak punya sopan santun lagi padahal kan gue itu tadi nanya, kenapa tiba-tiba ujungnya kayak gitu? Kalau ngeluarin jawaban itu yang selaras sama pertanyaannya!"
"Lo itu niat buat nganterin gue lagi enggak? kalau enggak, gue juga bisa kok cari angkot atau kendaraan yang lain! Gak usah belagu mentang-mentang punya mobil!" ujar Keysa, yang sudah sedikit kesal dengan Dion. Sehingga ia berani untuk mengeluarkan kata-kata seperti itu.