Kalau saja Dion sudah tak membutuhkan Keysa, ia sangat yakin sekali untuk mengalah pada perempuan, tetapi untuk kali ini saja ia memilih untuk menurunkan egonya dan langsung membukakan pintu mobil miliknya, dengan tangan kiri yang menggenggam tangan perempuan tersebut.
"Cepetan masuk, gih! Enggak usah kebanyakan acara, enggak usah kebanyakan drama. Gue tahu lo itu butuh dan gue juga tahu kalau di sini itu enggak ada angkot yang lewat. Paham?" ujar Dion, dengan sangat tegas, sehingga ia menekankan di setiap kalimatnya itu.
Tanggapan dari Keysa justru melempar tatapan sedikit sinis pada laki-laki yang saat ini menggenggam tangan kirinya, dan ia langsung masuk ke dalam mobil tersebut, tanpa mengucapkan sepatah kata pun, terima kasih atau apa pun pada Dion.
Tetapi hal itu masih sedikit dimaklumi oleh Dion dan ia tidak ingin memicu keributan lagi dengan perempuan menyebalkan itu, sehingga ia lebih memilih untuk segera berjalan menuju ke tempat yang biasanya diduduki sebagai pengemudi mobil.
Tak ada percakapan apapun yang keluar dari mulut mereka berdua, hanya ada saling melempar tatapan sinis, tetapi mulut masing-masing itu masih terkunci. Sampai akhirnya Dion memilih untuk berucap, "Lo itu udah jadi karyawan gue, kalau lo ada yang enggak paham, atau apa-apa, tolong jangan cari tau ke gue. Karena banyak sekali sumber-sumber yang bisa lo dapet, mungkin dari orang sekitar."
"Tenang aja, gue juga enggak bakal kok nanya-nanya ke lo! Karena gue juga sadar, google itu masih butuh gue, jadi gak mungkin gue menyia-nyiakan google," jawab Keysa dengan sangat percaya dirinya, jika ia mengandalkan google itu adalah hal yang luar biasa.
"Gue tuh ngarepnya lo pintar dari otak lo sendiri, bukan dari google. Maksud gue gitu, coba lu berpikir keras, kerja sama, sama otak lo itu," ujar Dion, yang langsung mendapat lirikan tajam dari Keysa.
Maksudnya apaan? Lo pikir gue enggak punya otak? Gue juga punya, cuma ada waktunya gue bakal gunain otak itu, dan kalau di google itu masih ada kok jawabannya yang terpenting itu bisa paham kok!" protes Keysa, dengan wajah yang sangat tak bersahabat.
Sekali lagi tolong ingatkan pada Dion, jika dirinya itu memang tak ingin membuat keributan dengan perempuan yang menyebalkan itu. Sehingga ia lebih memilih untuk mengibaskan tangan kirinya tepat di wajah sendiri, dan setelah itu ia tetap fokus pada jalanan yang harus dilalui.
Karena rute di kota Jakarta, itu tidaklah mudah. Harus membutuhkan konsentrasi yang luar biasa, sehingga tidak membuat dirinya itu kesasar.
"Oh iya, gue mau nanya, sampai berapa bulan sih gue itu jadi pasangan pura-pura lo di depan mama lo itu?" tanya Keysa, dengan raut wajah yang sangat heran dan juga bertanya-tanya.
"Gini ya, gue juga enggak tahu sampai kapan, karena sampai saat ini juga gue gak tertarik sama perempuan. Gue itu lebih milih buat ngembangin usaha gue sendiri, daripada harus menghabiskan waktu gue itu cuma buat seorang perempuan," jawab Dion, lalu ia mengedikkan bahu. Pertanda jika dirinya memang tidak tahu, sampai kapan rencana pura-pura mereka itu akan berhenti.
"Ya elah, kalau kayak gini caranya yang ada gue yang repot, kenapa sih kita enggak ada perjanjian tertulis aja gitu? Terus kita tanda tangan di atas materai, supaya kalau ada yang melanggar janji itu kan ada denda, deh!" usul Kiara dan merasa jika apa yang ia utarakan itu memang sangatlah benar.
"Yakin, mau buat surat perjanjian kayak gitu? Yakin enggak keberatan?" tanya Dion terlebih dahulu, sebelum akhirnya ia memutuskan untuk membuat surat tersebut nanti, di saat sudah berada di kantor, karena sudah mendapatkan izin dari Keysa juga untuk membuat surat kesepakatan tersebut.
Meskipun ragu, tetapi Keysa tetap menganggukkan kepalanya dan menjawab, "Ya, deh! Masih mending dikasih surat perjanjian kek gitu, daripada enggak ada tujuan sama sekali. Nanti, kita enggak tahu sampai kapan dan kita juga enggak tahu peraturannya itu apa."
Dion menganggukkan kepalanya, pertanda paham tentang apa yang diutarakan oleh Keysa tadi. "Ya sudah, nanti kalau udah nyampe di kantor baru saya bakalan bikin surat perjanjian, baru nanti beli materai buat tanda tangannya."
Jawaban yang tadi dilontarkan oleh Dion, membuat perempuan tersebut hanya menganggukkan kepalanya, karena paham akan apa yang dilakukan oleh laki-laki di sampingnya itu. Lagipula Dion juga tengah fokus pada jalanan, yang menjadi rute mereka supaya cepat sampai pada tempat tujuan.
"Seandainya lo enggak kerja di perusahaan gue, apa yang lo lakuin sekarang?" tanya Dion tiba-tiba, sembari melihat ke arah wajah Keysa, tapi itu hanya sebentar, karena ia langsung fokus lagi pada jalanan.
"Ya ... gue manfaatin kondisi waktu luang gue itu buat belajar dan belajar, bahkan gue itu bakalan nyari beasiswa dan juga olimpiade, supaya gue bisa menang dan dapat bonus dari hadiah juara itu," jawab Keysa, yang ada di otak miliknya itu.
"Lo pernah enggak sih mikirin : pengen, deh bagian orang tua?" tanya Dion lagi.
Mendapat pertanyaan yang seperti itu, yang menurut Keysa sedikit sensitif. Hingga ia harus melihat Dion dengan jeli, "Kalau ngomongin hal itu, semuanya juga pasti punya impian ya enggak?"
"Tapi buat mewujudkannya itu mungkin punya cara masing-masing, tapi tetep aja tujuannya itu buat impian masing-masing. Jadi, semua anak itu pasti mau liat orang tuanya itu senang," sambungnya supaya lebih jelas lagi apa yang diutarakan tadi
Tak ada tanggapan apa pun dari Dion, karena laki-laki tersebut memilih untuk benar-benar fokus dalam hal menyetir, meskipun sebenarnya ia juga mendengarkan apa yang tadi diucapkan oleh Keysa, tetapi belum menemukan tanggapan yang cocok untuk ia keluarkan.
Sampai akhirnya Keysa sendiri yang bertanya, "Memangnya kenapa sih nanya kayak gitu?"
"Ya ... gue kan cuma nanya doang, yang namanya nanya itu kan terserah," jawab Dion, yang membuat Keysa setuju dan membenarkan apa yang menjadi jawaban Dion tersebut.
"Kenapa ya, gue itu ngerasa aneh sama lo? Sikap yang lo punya itu selalu berubah-ubah, gue juga belum tahu sifat asli Lo itu yang kek gimana," ujar Keysa, yang membuat Dion langsung melihat ke arahnya dan menatap dengan intens.
Namun, sebelum itu tentu saja dia menghentikan mobilnya terlebih dahulu ke tepi jalan, lalu bertanya, "Maksudnya gimana?"
Keysa menghembuskan napasnya terlebih dahulu, ternyata laki-laki yang ada di sampingnya itu tak sepintar yang ia bayangkan, bahkan untuk apa yang tadi diucapkan olehnya saja tidak sampai masuk ke dalam pikiran.
"Gue itu heran sama sikap yang lo punya, kadang nyebelin, kadang aneh, perhatian ketus, dan juga menyeramkan kek gini. Jadi, gue belum tahu sifat asli lo itu yang mana?" jelas Keysa.