Kali ini mereka sudah sampai di kantor milik Dion dan tengah berjalan menuju ke ruangan milik Dion, masuk ke dalam perusahaan yang cukup besar ini, membuat Keysa merasa sangat deg-degan dan juga khawatir.
Bukan apa-apa, tapi karena dirinya tak pernah sama sekali bekerja apalagi bekerja di kantor. Kalaupun bekerja, ia akan mengincar di tempat cafe, atau apa pun itu. Yang sudah pasti sangat mudah untuk ia lakukan, tapi saat ini takdir hidupnya berkata lain.
Namun, ia percaya dan sangat yakin jika dirinya itu mampu untuk melewati ini semua, dan karena tentu saja ada bantuan dari google. jadi apa pun nanti yang tidak bisa dipahami dan mengerti, itu akan langsung ia tanyakan pada google.
"Oh iya, ponsel gue yang lama di mana?" tanya Keysa tiba-tiba, saat dirinya baru sadar jika yang berada pada pegangan tangan kanannya itu, hanyalah ponsel yang baru. Sedangkan ponsel yang lamanya, Keysa sendiri pun tidak tahu, mungkin masih tertinggal di dalam mobil.
"Ada, tapi di mobil. Lo mau ngambil? Ambil sendiri aja!" jawab Dion, lalu memberi tawaran pada perempuan yang berada di sampingnya itu. Dan Keysa harus menghembuskan napasnya, untuk menahan kesal pada laki-laki yang saat ini berada disampingnya itu.
"Mau ambil sendiri? Nih kuncinya!" tanya Dion lagi untuk memastikan, sembari tangan kanannya yang merogoh saku jas, untuk segera menyerahkan kunci mobil jika Keysa memang setuju.
Namun Keysa memutuskan untuk menggelengkan kepalanya dan menjawab, "Gak usah, nanti gue pinjem ponsel punya lo aja, misalkan ada sesuatu yang gak bisa dan gue bakalan langsung searching ke google."
"Ya elah, dasar b***k google!" ujar Dion, lalu melangkahkan kakinya lagi supaya cepat sampai ke dalam ruangannya itu.
"Eh, gue mau nanya lagi!" ujar Kiara, yang kembali menghentikan langkah kaki. Ia tak peduli sebanyak sekali karyawan yang melihat interaksi mereka berdua, tetapi Keysa terlihat sangat santai sekali.
Dengan sangat terpaksa sekali Dion harus menghentikan langkah kakinya itu dan berdiam diri, tetapi ia tak menoleh ke belakang. Membiarkan perempuan yang tadi memanggilnya itu segera melangkahkan kaki untuk mendekat ke arahnya.
"Ada apa lagi?" tanya Dion, saat Keysa sudah benar-benar berada di depan matanya.
"Eum ... gue itu baru inget, kalau gue kerja di sini itu punya meja gak sih gitu? Punya kursi gak? Kalau pun iya punya, tempatnya itu di mana?" jawab Keysa, sembari mengeluarkan beberapa pertanyaan yang cukup banyak dalam satu kalimat.
"Ada! Ada meja satu, tempatnya tuh di depan ruangan saya, nanti saya suruh office boy untuk membereskan semuanya, karena nanti kamu yang akan mengontrol siapa saja yang boleh masuk dan keluar dari ruangan saya itu," jawab Dion tetapi di telinga Keysa kenapa ada sesuatu yang aneh.
Detik itu juga Keysa langsung menepuk dahinya pelan, karena ia baru sadar jika sekarang itu sudah berada di ruangan kantor. Jadi tidak mungkin sekali untuk berbicara, dengan bahasa lo-gue, sehingga ia menjawab, "Oh! Baik, Pak, baik. Nanti saya akan tunggu office boy tersebut. Terima kasih ya, pak!"
Tak ada jawaban yang keluar dari mulut Dion, laki-laki tersebut langsung melangkahkan kakinya lagi hingga benar-benar masuk ke dalam ruangan dan meninggalkan Keysa yang bingung di tengah-tengah keramaian. Apa yang akan dilakukan saja pun tidak tahu.
Namun, apa yang dikatakan oleh Dion tadi memang benar, laki-laki tersebut segera mengambil telepon dan menghubungi salah satu office boy, untuk segera menyiapkan tempat duduk. Supaya nanti secepatnya dapat ditempati oleh Keysa.
"Oke, saya minta sekarang cepat! Karena perempuan itu akan segera bekerja," ujar Dion dengan sedikit tegas, karena ia itu paling tidak suka kalau melihat pekerjaan karyawannya yang sangat lelet.
Tak perlu menunggu jawaban dari office boy yang tadi ia hubungi, Dion langsung menutup sambungan teleponnya dan masa bodoh dengan apa yang diucapkan oleh office boy, setelah mendapat perlakuan seperti itu.
"Mbak, punya hubungan apa sama Pak Dion? Kok bisa sih sampai jadi sekertaris beliau?" tanya office boy, yang ternyata sudah menyiapkan semuanya untuk Keysa. Dengan sangat cepat.
Dapat pertanyaan seperti itu dari orang yang sama sekali belum dikenalnya, membuat heran dan sedikit kikuk. Dan Keysa memilih untuk hanya mengulas senyum dan menjawab, "Kita enggak ada apa-apa kok, sama sekali gak ada."
"Tapi kelihatan bohong banget, Mbak, kalau enggak ada apa-apa. Biasanya Pak Dion itu enggak pernah merekrut seseorang buat jadi asisten pribadinya, apalagi sampai yang direkrut itu cewek. Biasanya Pak Dion itu selalu ngerjain semuanya sendirian," ujar office boy bernama Ryan itu menjelaskan.
Kembali Keysa mengulas senyum dan memilih untuk berucap, "Terima kasih banyak ya, Pak, saya mau lanjut kerja dulu."
"Oh iya, hehe. Maaf ya, maaf menganggu. Oke saya permisi!" Setelah itu Ryan melangkahkan kakinya untuk segera menjauh dari tempat Keysa, supaya perempuan tersebut juga dapat melancarkan keinginannya untuk bekerja.
Setelah kepergian dari Ryan yang menjabat sebagai office boy tersebut, kini Keysa justru merasa bingung apa yang harus dilakukan dengan satu komputer yang berada di atas mejanya ini.
Dan mau tak mau, Keysa harus masuk ke dalam ruangan milik Dion untuk mengetahui dan juga bertanya apa yang harus dilakukan dengan satu komputer tersebut. Dengan keberanian, ia terlebih dahulu mengetuk pintu.
"Masuk!" Itu perintah dari Dion, yang saat ini laki-laki tersebut juga tengah fokus pada komputer di depannya, dengan jari yang terus saja mengetik pada keyboard.
Keysa memegang kenop pintu tersebut dan langsung menampilkan senyumannya, melangkah mendekat ke arah meja yang ditempati Dion, lalu berucap, "Maaf, Pak, saya mau bertanya, tugas saya untuk selanjutnya itu apa ya?"
Mendengar pertanyaan yang seperti itu, Dion langsung mengalihkan tatapannya. Yang tadi melihat komputer menuju ke wajah Keysa. "Bukannya kamu bilang itu sudah paham, tentang bagaimana cara kerja kamu di sini?"
"Maksudnya itu, bukan kayak gitu. Yang saya bilang paham itu mengenai tentang bagaimana cara kerjanya menjadi asisten pribadi, dan untuk mengawalinya itu saya belum pernah sama sekali," jawab Keysa yang sebisa mungkin sangat sopan.
"Apalagi materi dari google dan juga di dunia nyata itu jelas berbeda, Pak, karena beda perusahaan juga, kan?" sambung Keysa, dengan sangat jelas. Membuat Dion langsung menganggukkan kepalanya.
"Nah, itu tau! Makanya saya tuh tekankan ke kamu, jangan pernah terlalu bergantung sekali sama google. Karena google itu hanya standar biasa, emang ia suatu saat kita membutuhkan google, tapi enggak selamanya yang ada di google itu benar," ujar Dion, yang sudah cukup lama untuk memendam rasa mengutarakan hal seperti itu.
Dan Keysa menanggapinya dengan sebuah senyuman, diiringi dengan cengiran juga tangan kanan yang menggaruk tengkuknya, meskipun tak merasakan gatal.