Novi?

1039 Kata
Keysa menganggukkan kepalanya, lalu bertanya, "Terus semua yang tadi bapak ucapin panjang lebar, intinya itu pekerjaan saya apa di sini? Saya ngapain aja?" "Perusahaan yang saya buat itu bergerak dalam bidang makanan, jadi saya itu butuh bantuan kamu buat merekap semua hasil data penjualan untuk hari ini, dan nanti di lain waktu jika ada peningkatan kita akan mencoba untuk berkolaborasi dengan brand yang lainnya." "Nah, saat kita berkolaborasi, saya juga butuh bantuan kamu untuk menyiapkan, eum ... misalkan dari presentasi, ataupun dari makanan juga untuk hidangan mereka. Jadi, yang namanya asisten pribadi itu selalu ada di samping saya, tapi buat kamu saya atur duduknya itu di luar ruangan saya!" "Mungkin ada satu lagi tugas buat kamu, yaitu mengontrol keluar masuknya orang. Jadi kalau akan ada orang yang mau masuk ke ruangan saya, itu kamu harus bertanya dulu kepada saya, minta izin ke saya. Tanyakan dia namanya siapa, dari bagian mana, dan ada keperluan apa buat nemuin saya. Kalau kata saya itu setuju, maka orang itu bisa masuk, tapi kalau kata saya jangan, sebisa mungkin kamu usir dia." Apa yang dijelaskan oleh Dion, itu cukup paham sekali dan langsung masuk ke dalam otak Keysa, karena bahasa yang digunakan oleh Dion juga bahasa sehari-hari dan tak banyak kata-kata yang membingungkan. "Ada pertanyaan? Kalau ada silahkan ditanyakan, kalau tidak ada silahkan bekerja!" tanya Dion, saat Keysa sedari tadi hanya menganggukkan kepalanya saja. "Ada, Pak, saya masih bingung sama mengoperasikan komputer, gimana caranya? Tampilannya itu bukan seperti komputer pada umumnya," ujar Keysa, dengan tangan kanan yang kembali menggaruk tengkuk bagian belakangnya. Dan detik itu juga Dion baru tersadar jika seluruh komputer yang dimiliki oleh perusahaan miliknya itu, memang sudah di-setting khusus untuk merekap data-data milik perusahaan. Jadi tidak bisa digunakan untuk selain keperluan kantor. "Maaf, saya baru ingat tentang itu. Ayo saya tunjukkan bagaimana caranya!" Dion melangkahkan kaki segera keluar dari ruangannya, dan menuju ke meja yang sudah disediakan oleh office boy yang tadi ia suruh untuk menyiapkan meja yang diperuntukkan Keysa. Cukup lama laki-laki itu menjelaskan semuanya, semua tentang sistem dan juga beberapa langkah-langkah untuk mengisi dan mengoperasikan komputer tersebut. Keysa memperhatikannya dengan sangat seksama dan tidak ada satu pun yang terlewatkan dalam otak ataupun memorinya. Sudah bisa melakukannya? tanya Dion, setelah ia merasa jika sudah menjelaskan semua yang perlu dijelaskan, tentang sistem pada karyawan barunya itu. Keysa menganggukkan kepalanya dengan sangat yakin dan menjawab, "Sudah, Pak, sudah. Saya sudah paham dengan apa yang tadi Bapak jelaskan dan sangat yakin kalau saya pasti bisa mengerjakan pekerjaan ini." Jawaban sederhana seperti itu dari Keysa membuat seorang Dion itu kagum, karena jarang sekali ada karyawan baru yang mau belajar dan juga langsung masuk ke dalam otaknya itu. "Bagus, kalau memang kamu udah paham. Jadi saya tidak perlu menjelaskan lagi dan saya harap, penjelasan saya itu bakal jadi permanen ya!" Keysa menganggukkan kepalanya, karena ia juga sudah yakin pada dirinya sendiri. Jika dirinya itu memang benar-benar sudah paham. "Ya udah kalau begitu, silahkan dilanjut lagi pekerjaannya, karena saya juga akan kembali pada kerjaan saya sendiri," ucap Dion, lalu membalikkan tubuhnya supaya kembali masuk ke dalam ruangan khusus miliknya itu. "Eh! Tunggu dulu, Pak. Ini saya belum tahu pekerjaan sekertaris itu apa, maksudnya sekarang itu saya mau ngerjain kerjaan apa gitu?" tanya Keysa lagi, karena ia belum dapat perintah sama sekali untuk melaksanakan apa pun . "Ya ampun, saya bilang itu di sini nih! Silahkan, di sini terus kamu rekap semuanya. Contoh, oke saya kasih contoh dulu ke kamu!" Setelah berucap seperti itu, Dion langsung menggerakkan tetikus untuk mencontohkan dan mengetik pada keyboard. Tentu dengan posisi dirinya yang duduk di kursi milik Keysa. "Jadi itu gini, terus gini, gini. Nih, seperti ini, nanti semua berkas yang sudah kamu kayak gini itu, nanti akan ke kirim ke komputer saya. Jadi ini itu otomatis, nggak usah ambil pusing, abis ini mau diapain gitu, pokoknya ini otomatis! Karena ini komputer yang ada di sini itu satu untuk semua. Paham?" ujar Dion, setelah menjelaskan panjang lebar dan juga mempraktekkan bagaimana cara kerjanya. "Oke gitu. Maaf ya, Pak, karena saya juga baru paham kek gimana ya, kalau kaya gini saya paham dan nanti kalau saya sudah selesai akan saya bilang lagi ke bapak. Terima kasih," ujar Keysa, sembari menganggukkan kepalanya pelan, sebagai tanda hormat. Namun, tanggapan yang dilontarkan oleh Dion justru tak menyahut sama sekali. Malah langsung melangkahkan kakinya untuk segera melenggang pergi dari hadapan Keysa dan masuk ke dalam ruangan miliknya itu, serta menutup pintu. "Astagfirullah! Untung aja atasan, kalau enggak mah udah tak hih! Mentang-mentang lagi ada di kantor, jadi bahasanya formal banget. Tingkah lakunya juga formal banget!" gerutu Keysa, seakan ada sesuatu yang berbeda dari dalam dirinya. Kalau diingat-ingat lagi jarak waktu dirinya itu berkenalan dengan Dion, sangatlah singkat. Baru beberapa hari, jadi tidak akan mungkin jika perasaan cinta itu langsung muncul. Lagipula Dion itu bukanlah kriteria dari Keysa. Dan juga sangat mustahil sekali, jika perasaan aneh yang menggelayuti hatinya itu memang benar-benar cinta. "Hai! Gue Novi, lo siapa?" tanya perempuan tersebut, yang tiba-tiba saja hadir di depan Keysa, sembari melihat tampilannya dari atas hingga ke bawah. Mendapat pandangan yang seperti itu dari orang yang baru saja ia kenal, membuat Keysa langsung tersenyum canggung dan menjawab, "Saya Keysa Anastasia dan saya di sini sebagai asisten pribadi dari Pak Dion." Mendengar jawaban yang dilontarkan oleh Keysa, perempuan yang bernama Novi tadi mengernyitkan dahi miliknya dan melempar tatapan heran. "Serius enggak bohong? Lo masih sehat, kan? Jangan ngadi-ngadi, deh! Bilang asisten pribadi dari Pak Dion. Tentu saja Keysa langsung menggelengkan kepalanya dan ia menjawab, "Tidak, Mbak. Saya memang asisten dari Pak Dion dan ini adalah meja kerja saya. Pak Dion menempatkan saya di sini, supaya dapat mengontrol orang yang akan masuk ke ruangannya dan itu harus melalui izin dari Pak Dion terlebih dahulu." "Halah, bacot kamu! Udah saya mau masuk! Mau ketemu sama Dion!" bentak perempuan tersebut, lalu melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam ruangan milik Dion secara paksa. Sedangkan Keysa tetap mengikuti perempuan tersebut dari belakang, meskipun langkahnya tertinggal dan ia hanya dapat menundukkan pandangannya saat perempuan yang baru ia kenal itu sudah berhasil masuk ke dalam. "Dion, kamu benar enggak sih? Kok kamu merekrut dia, sih? Sedangkan aku aja enggak tuh diangkat jadi asisten pribadi kamu," ujar Novi tadi, sembari mengalungkan kedua tangannya itu pada leher milik Dion.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN