Nomor telepon kantor

1023 Kata
"Loh, kamu ngapain ada di sini?" tanya Dion, saat ia mendapati perempuan yang dulu pernah hadir, tetapi menyia-nyiakan kehadirannya itu, lalu Dion melihat ke arah Keysa dan meminta pendapat dari perempuan tersebut. Mendapat tatapan seperti itu dari atasannya tentu saja membuat Keysa sedikit bingung dan ada rasa takut, di dalam hatinya, lalu ia memilih untuk menggelengkan kepalanya, bersamaan dengan kedua bahu yang diangkat lalu kembali diturunkan. "Dion, kamu belum jawab pertanyaan aku! Kamu kenapa bisa ngangkat dia jadi asisten pribadi kamu, sedangkan aku aja nggak sama sekali diangkat jadi asisten pribadi kamu!" ucap Novi, yang kembali mengulang pertanyaan yang belum lama ia lontarkan, tetapi tak ada jawaban dari Dion. Dion langsung menggerakkan tangan kanannya, dan memindahkan kedua tangan milik Novi itu, langsung berada di tempatnya lagi. Dengan sangat tegas Dion pun berucap, "Enggak usah banyak drama! Kita udah nggak ada hubungan apa pun jadi silahkan keluar dari ruangan saya!" "Maksud kamu apa sih? Kan aku itu udah berkali-kali minta maaf sama kamu. Maafin aku, aku tau kalau aku salah, aku udah nyesel banget ngelakuin hal itu sama kamu. Aku mau kita balikan ya?" tanya Novi, lalu kedua tangannya kembali merangkul leher milik Dion lagi. Dan kali ini Dion merasa sangat tak nyaman, tanpa aba-aba sama sekali, ia langsung berdiri dan menatap penuh kebencian pada wajah Novi. Namun, yang ditatap seperti itu justru sangat berani dan tak ada rasa takut sama sekali. Bahkan ia sempat untuk mengeluarkan senyuman yang sangat lebar, ia berpikir Dion akan luluh dengan senyuman yang ia keluarkan itu. "Anda mempunyai telinga? Syukur kalo anda itu tidak saya pecat, terus kenapa anda masih saja di sini? Kita itu beda divisi, tidak usah mimpi untuk kembali bersama, karena hati saya terlanjur disakiti!" ujar Dion, yang membuat Novi justru semakin semangat untuk mendekat ke arah Dion. Dan tanpa permisi sama sekali, perempuan tersebut langsung masuk ke dalam pelukan Dion, tapi entah mengapa Keysa yang menyaksikan itu sedikit merasa perih di dalam hatinya. Namun, Keysa langsung tersadar, karena tak ada hubungan yang benar-benar nyata di antara mereka, maka Keysa sebisa mungkin untuk menahan perasaan tersebut. "Jangan lancang ya anda! Saya itu atasan anda, jika anda berbuat seperti ini, saya bisa dan tidak segan-segan untuk mengeluarkan anda dari kantor ini!" ujar Dion, dengan kedua tangan yang berusaha melepaskan pelukan yang dilakukan oleh Novi. Perempuan tersebut masih saja tidak memiliki rasa takut, ia justru semakin mengeratkan pelukannya pada pinggang Dion dan berucap, "Enggak apa-apa kalau aku itu bakal dipecat dari perusahaan ini, yang terpenting aku masih bisa untuk masuk ke sini dan nemuin kamu. Aku akan berjuang buat kita supaya bisa bersama lagi!" "Ish! Jangan menghayal!" ujar Dion, sembari meludah ke samping. "Dion, kamu itu nggak boleh bilang kayak gitu, kamu itu harus ingat bagaimana kebersamaan kita waktu dulu, bagaimana kenangan-kenangan yang kamu buat sama aku dulu," ujar Novi, yang masih saja berusaha untuk mendapatkan hati Dion kembali. "Kenangan anda bilang? Yakin anda bilang kenangan? Saya itu masih ingat betul bagaimana kenangan yang anda buat bersama saya, karena apa? Semua yang anda buat itu tentang kesakitan dan kepedihan yang ditorehkan ke dalam hati!" "Bukan! Bukan kenangan yang tentang kebahagiaan atau keharmonisan sebuah hubungan. Bukan tentang itu, tetapi justru kesedihan yang merajalela! Tidak ada ketenangan sama sekali, bahkan saya tidak akan pernah mengingat-ingat hal itu lagi, karena rasanya bagaimana? tentu saja sakit!" "Dan sekarang saya putuskan anda dipecat dari perusahaan ini! Tanpa ampun dan tanpa alasan, juga tanpa belas kasihan!" ujar Dion tegas, lalu ia melangkahkan kakinya kembali duduk di kursi kebesarannya itu. Sedangkan di situasi seperti ini, Keysa justru hanya dapat bertingkah diam dan melihat interaksi dua orang, yang saat ini berada di depannya itu. Bingung juga harus melakukan apa, tetapi sepertinya mereka berdua itu mengutarakan tentang kehidupan pribadi yang dulu. "Dion jangan kayak gitu, kamu itu cuma lagi kesal dan tolong jangan membuat keputusan di saat kamu itu sedang tidak bersahabat, dengan pikiran kamu sendiri!" ujar Novi, yang masih tetap berfikir positif, jika memang Dion itu masih memiliki rasa padanya. "Saya harap pendengaran anda itu masih baik, jadi saya berharap segera anda pergi dari sini, atau saya akan memanggil dua satpam untuk mengusir anda secara paksa!" tegas Dion sekali lagi, dengan wajah yang sudah penuh amarah sekali. "Tapi sayang--" "Pergi saya bilang! Pergi sana!" usir Dion, dengan nada yang sangat keras, hingga suaranya saja bisa terdengar dari ruangan yang berada di luar. Padahal, Novi tadi belum sempat menyelesaikan ucapannya itu, tetapi suara bentakan dari Dion justru membuatnya sedikit khawatir, dan juga takut. Sehingga perempuan tersebut memilih untuk segera melangkahkan kakinya keluar dari ruangan mantan kekasih, yang dulu pernah ia sia-siakan itu. "Dan kamu, ngapain masih di sini? Saya itu tidak membutuhkan kamu! Jadi, silahkan pergi dari sini dan jangan pernah masuk ke ruangan saya, kecuali kamu ada perlu dan saya juga ada perlu!" ujar Dion, yang langsung diangguki oleh Keysa. Namun, saat perempuan tersebut ingin meraih pintu yang akan segera ia buka, ingatannya langsung mengalun. Di saat bagaimana ia untuk mencegah seseorang masuk ke dalam ruangan atasannya itu, sehingga ia kembali berbalik badan dan berucap, "Maaf, saya mau nanya sekali lagi. Saya itu masih bingung bagaimana caranya saya, untuk menghentikan seseorang yang akan masuk ke ruang Bapak." "Maaf, saya juga hampir lupa. Di samping komputer, yang ada di meja kamu itu ada telepon, yang bisa difungsikan untuk menelpon ke telepon saya di sini. Jadi, silahkan gunakan nomor telepon yang sudah disiapkan oleh perusahaan!" ujar Dion, yang memang mengakui bagaimana keteledorannya, untuk membimbing seseorang yang baru menjadi karyawan di dalam perusahaannya itu. "Dan maaf lagi, Pak, untuk nomor teleponnya saya juga tidak tahu," ucap Keysa, lalu ia menggigit bibir bawahnya, karena takut apa yang tadi ia ucapkan itu salah. "Sebentar, ini ada beberapa list nomor telepon yang bisa kamu gunakan, untuk beberapa divisi yang mungkin saja akan kamu butuhkan suatu saat nanti. Silahkan disimpan dan jangan sampai hilang! Atau bila perlu ditempelkan, di suatu tempat yang tidak akan pernah hilang, dan juga bisa dilihat oleh kamu kapan saja!" ucap Dion, sembari mengambil satu lembar kertas yang berada di laci meja, lalu menyerahkannya pada asisten pribadinya itu. "Terima kasih, Pak," ujar Keysa, setelah menerima kertas tersebut dan membalikkan tubuhnya, untuk segera keluar dari ruangan khusus milik Dion.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN