Lupa jam

1001 Kata
Setelah selesai dari kegiatan melihat bagaimana serunya percakapan, atau lebih tepatnya ke adu argumen dua orang yang baru saja Keysa kenal, kini saatnya perempuan tersebut memfokuskan dirinya pada pekerjaan yang baru. Yaitu, merekap hasil data pemasukan penjualan perusahaan, yang dimiliki oleh Dion. Siapa sih yang tidak senang kalau, yang namanya kerja itu langsung dapat, bahkan sekalinya dapat itu langsung mendapatkan jabatan yang lumayan. Sama halnya dengan Keysa, dirinya juga tidak pernah berkhayal untuk bekerja seperti ini. Lebih tepatnya adalah kerja sampingan, apalagi dirinya saat ini masih berada di dalam fase menjalani kuliah. Tetapi mungkin ini adalah takdirnya, dipertemukan dengan laki-laki yang membutuhkan dirinya, juga sebagai pasangan pura-pura dan dengan timbal balik. Yaitu, Keysa menjadi pegawai perusahaan milik laki-laki tersebut. Pernah menebak jalan hidupnya seperti ini? Oh tentu saja tidak! Keysa bahkan berpikirnya hanya menjadi karyawan cafe, atau tidak itu hanya menjaga warung, untuk mengisi waktu luang jikalau tidak ada jam mata kuliah. Untuk bisa bertemu dengan pemilik perusahaan, itu tidak pernah dipikirkan oleh Keysa. Bahkan, sepertinya kalaupun dipikirkan itu terlalu tinggi sekali, karena Keysa juga sadar akan derajatnya, tetapi saat ini ia justru menjadi pasangan pura-pura dari laki-laki yang memiliki perusahaan cukup besar. Bahkan perusahaan tersebut sudah memiliki beberapa tingkat, lebih tepatnya itu memiliki empat lantai. Cukup lama Keysa berkutat dengan komputer, ia hanya berani untuk mengedipkan mata berkali-kali, tanpa bangun dari posisi duduknya itu. Entah untuk mencari toilet atau apa pun, meskipun dirinya itu sedang menginginkan sekali membuang air kecil, tetapi Keysa memilih untuk menahannya saja. Sampai akhirnya, suara teguran dari Dion masuk ke indra pendengaran Keysa. "Masih mau berkutat dengan komputer? Kerja boleh, tapi ingat waktu!" Teguran seperti itu dari Dion, langsung membuat Keysa menoleh dan mencari sumber suara tersebut, dan saat mengetahui Dion yang mengeluarkan suara, membuat Keysa mengeluarkan senyumnya, lalu menjawab, "Memangnya kenapa? Ada masalah ya sama pekerjaan? saya harus saya melakukan kesalahan atau bagaimana" "Ya! Kamu melakukan kesalahan, kamu itu nggak perduli sama dari kamu sendiri, di mana keadaan kantor itu sudah lumayan sepi dan kamu lebih memilih, untuk terus berkutat dengan komputer. Heran sekali," jawab Dion, menjelaskan mengapa ia tiba-tiba menegur karyawan barunya itu, atau lebih tepatnya adalah asisten pribadinya. "Memangnya jadwal pulang di perusahaan ini itu jam berapa?" tanya Keysa, karena memang dirinya itu belum tahu sama sekali dan bahkan tidak diberitahu oleh Dion sebelumnya. Dion terdiam sebentar, ia juga merasa dirinya salah tidak memberitahukan secara lengkap dan juga rinci tentang perusahaan miliknya itu terlebih dahulu kepada seseorang yang baru, tapi ia memilih untuk beralibi. "Kalau pun memang ia saya tidak memberitahukan kepada kamu, seandainya kamu itu melihat situasi sekitar dan memiliki rasa kasihan pada diri kamu sendiri." "Bayangin aja, kamu berjam-jam ada di depan komputer dan sampai saat ini, kamu belum memiliki rasa keinginan untuk pulang dari kantor ini?" jelas Dion, yang membuat Keysa diam, karena memang benar apa yang dikatakan oleh Dion. "Memangnya sekarang sudah waktunya untuk pulang ya?" tanya Keysa pada akhirnya, yang membuat Dion harus menghembuskan napasnya, karena sedikit heran dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh perempuan yang di depannya ini. "Pertanyaan saya itu cuma satu, kamu mau pulang sekarang, atau malah mau tinggal di sini?" jawab Dion. Detik itu juga, Keysa langsung mengeluarkan senyumannya dan menggerakkan kedua tangan, untuk membereskan semua peralatan yang ada di atas meja, lalu memasukkannya ke dalam tas yang ia bawa dan berucap, "Hehe. Iya, Pak, iya. Saya mau pulang sekarang kok, boleh kan ya?" Tak ada jawaban sama sekali yang keluar dari mulut Dion, laki-laki tersebut memilih untuk langsung melangkahkan kakinya menuju ke luar dari kantor miliknya itu. Sedangkan Keysa yang memiliki jabatan di bawahnya, hanya bisa menghembuskan napas dan berucap sabar berkali-kali, karena memiliki atasan seperti itu. Bahkan, sehari-harinya ia harus berada di dekat orang yang menyebalkan seperti itu. Namun, ada kalanya sifat menyebalkan milik Dion itu dan berubah menjadi seseorang yang tidak menyebalkan, bahkan sangat baik sekali, tetapi jika di saat Dion itu menyebalkan. Ya ... full, dia sangat menyebalkan dan Keysa hanya bisa mengikuti langkah kaki dari laki-laki tersebut, untuk segera menuju ke parkiran dan dapat pulang ke indekosnya itu. "Gak usah banyak gerutu, nggak usah banyak omong di dalam hati, karena saya tahu sifat kamu kayak gimana, saya tuh tahu kamu pasti ngomongin saya di dalam hati kamu itu!" tegur Dion, dengan suara yang sedikit keras. Mendapat teguran seperti itu, bahkan banyak sekali orang yang berlalu lalang di situ, membuat Keysa sedikit malu dan hanya dapat mengeluarkan cengirannya, tetapi langkah kakinya itu tidak berhenti, karena ia harus buru-buru mendekat ke arah Dion dan ikut masuk ke dalam mobilnya itu. "Kenapa diam aja? Enggak mau masuk?" tanya Dion, saat Keysa sudah berada di depannya. Namun, perempuan itu memilih untuk menundukkan pandangan dan tidak bergerak sama sekali. "Saya takut nanti salah lagi, Pak," jawab Keysa pada akhirnya, tapi itu memang benar-benar yang berada di dalam hatinya. Keysa memang jujur tentang apa yang ia utarakan itu. "Jangan takut pada sebuah kesalahan, karena percayalah yang namanya kesalahan itu, akan menjadi pengalaman dan kamu akan lebih banyak mengingat kesalahan daripada sebuah keberhasilan! Karena percaya deh, yang namanya keberhasilan itu sebelumnya pasti akan ada sebuah kegagalan. Bahkan, berkali-kali gagal baru kamu bisa berhasil!" "Hubungannya apa, Pak?" tanya Keysa, membuat Dion langsung diam dan memilih untuk menggaruk tengkuk yang sama sekali tak gatal itu. Karena memang apa yang menjadi pertanyaan Keysa memanglah benar, dan Dion itu menyadarinya. Makanya ia lebih memilih untuk berucap, "Ya udah, katanya mau pulang! Yuk pulang!" "Loh, Pak, kan tadi saya nanya, kok malah bahasnya yang lain?" Bukannya enggak boleh, tetapi dirinya juga pernah ditegur seperti itu oleh Dion, dan sekarang ia memanfaatkan kesempatan terebut. "Dan kamu, nggak boleh loh sama atasan kayak gitu! Enggak sopan!" balas Dion, yang memilih untuk kembali mengeluarkan alibinya, sehingga membuat Keysa kembali diam dan hanya menganggukkan kepala, saat atasannya itu menyuruh untuk membuka pintu mobil. "Padahal, Bapak sendiri yang bilang, kalau jawab pertanyaan itu yang selaras, nggak boleh belok! Kalau dikasih pertanyaan kayak gini, ya harusnya jawab kayak gitu! Kenapa malah Bapak sendiri yang kek gitu?" sindir Keysa, saat dirinya ingin masuk ke dalam mobil milik atasannya itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN